Penulis buku Towards the Heart of Islam: A Woman’s Approach and Prayer in Islam, Prof. Eva de Vitray Meyerovitch, adalah seorang yang amat beruntung yang jatuh cinta pada Allah melalui Rumi. Eva lahir dari sebuah keluarga Kristen aristokrat yang taat menjalankan agamanya. Beliau lahir pada 5 November 1909 di Boulogne-Billancourt, Prancis. Pada awalnya, ia belajar di sekolah dasar keagamaan yang siswa-siswanya berasal dari keluarga-keluarga elit di Prancis. Selanjutnya beliau mendapatkan gelar sarjana hukum, gelar doktoral (Ph.D.) dalam filsafat Islam, dan melanjutkan karir akademisnya sebagai ahli dan administrator di Pusat Penelitian Ilmiah Nasional (CNRS), Prancis.
Ia mulai mempertanyakan pemikiran keagamaan di bawah pengaruh ilmu filsafat yang ia pelajari ketika ia berusia delapan belas tahun. Ia mencoba mencari jawabannya namun gagal meyakinkan dirinya sendiri. Karena neneknya mengajarinya untuk “selalu jujur” di setiap waktu, maka ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan gereja dan berkata, “Saya tidak punya keimanan tapi saya masih terus pergi ke gereja; ini tidak benar.”
Suatu hari di perpustakaan Universitas Sorbonne, ia menemukan sebuah teks setengah halaman yang menggambarkan pandangan Rumi dan ditulis oleh Dr. Muhammad Iqbal. Ia menjadi bingung setelah membaca artikel itu. Yang mana yang benar, apakah Rumi atau filsafat Yunani yang selama ini telah ia baca dan yakini kebenarannya. Ia kemudian mencari publikasi mengenai Rumi untuk meneliti masalah itu secara komprehensif. Tapi, ia gagal menemukan catatan apapun yang berkaitan dengan topik itu di seluruh perpustakaan. Ia membaca buku Muhammad Iqbal berjudul The Reconstruction of Religious Thought in Islam dalam bahasa Inggris, dan berharap bisa memahami pendapat Rumi melalui penulis itu. Dalam buku tersebut ia menemukan banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya selama ini. Sebagai hasil dari pencerahan ini, ia menjadi seorang Muslim pada tahun 1954, dan mengubah namanya menjadi Hawwa.
Hawwa sangat terkesan dengan karya-karya Rumi, dan menganggap Rumi sebagai pemandunya. Ia menerjemahkan hampir semua karya Rumi dan Iqbal ke dalam bahasa Prancis. Ia bekerja selama sepuluh tahun untuk menerjemahkan mahakarya Rumi yang berjudul Matsnawi. Melalui karya terjemahan, kajian-kajiannya di radio, dan kuliah-kuliah yang ia berikan, Hawwa menginspirasi banyak intelektual Prancis menemukan dan tumbuh lebih dekat dengan Islam. Ia sering berkunjung ke Turki dan menghadiri program-program yang berkaitan dengan Rumi.
Dalam sebuah siaran langsung, Hawwa memberi jawaban panjang untuk pertanyaan-pertanyaan seperti, “Mengapa Anda memilih Islam? Apa yang telah Anda temukan dalam karya Rumi?”
Media Barat telah melancarkan serangan terhadap agama Islam. Ketika Anda mendengarkan televisi dan radio Prancis atau Jerman, Anda akan mendengar pernyataan-pernyataan mengerikan tentang agama Islam. Anda akan mendengar bahwa Islam penuh dengan kekerasan, teror, fanatisme, dan sebagainya. Meskipun serangan-serangan itu terus berlanjut, namun ada banyak orang di negara-negara Barat yang mengadopsi Islam. Saya mengenal banyak orang yang telah memeluk Islam di Prancis, Inggris, Jerman, dan Spanyol.
Menurut data yang saya peroleh dari otoritas Prancis, sebagian besar mualaf adalah orang-orang dari kalangan intelektual. Mereka mencari sesuatu, dan menemukan sesuatu yang dicari dan dirindukan itu dalam Islam. Hal ini karena interpretasi mereka tentang penciptaan dan eksistensi tidak lagi bisa memenuhi perasaan-perasaan tersebut, dan materialisme telah sepenuhnya mengecewakan mereka.
Saya telah menemukan Islam yang sangat berbeda dari yang diajarkan di sekolah atau universitas, atau yang digambarkan dalam surat kabar dan televisi. Saya bangga mengatakan bahwa terjemahan karya Rumi yang terakhir saya kerjakan membutuhkan waktu sepuluh tahun. Itu adalah buku yang luar biasa. Menurut pendapat saya, dunia Barat sedang haus akan spiritualitas. Saya juga berpikir bahwa hal ini sangat signifikan bagi era kita. Saya pergi ke Konya setiap tahun dan sangat suka berada di sana karena itu adalah kota Rumi. Ketika berada di sana, saya merasa seolah-olah saya berasal dari Konya. Dalam Matsnawi, saya temukan sebuah agama yang menolak cara-cara radikal agama, kaidah-kaidah yang ketat, fanatisme, dan pendekatan konservatif; sebuah agama yang sepenuhnya tulus, toleran, dan sesuai untuk keyakinan saya.
Kebutuhan spiritualitas di era sekarang tidaklah memuaskan. Tapi, saya juga tidak berpikir bahwa manusia dapat memuaskan kebutuhan itu dengan menarik diri dari kehidupan sosialnya. Selain itu, perkembangan dunia ilmiah telah menunjukkan alam semesta yang menakjubkan. Yang luar biasa dari Rumi (namun ini bukan yang menjadi alasan bagi saya untuk memeluk Islam) adalah proyeksinya tentang masa depan dan ini membuat orang-orang terkesan, terutama generasi muda yang memiliki kecintaan pada ilmu pengetahuan. Contohnya, Rumi pernah berkata, “Jika Anda membedah sebuah atom, Anda akan menemukan sebuah tata surya.” Dia berbicara tentang planet yang mengorbit di dalam dan di luar diri kita, tetapi juga memperingatkan kita untuk berhati-hati. Karena ketika atom-atom ini membuka mulut mereka, mereka dapat mengeluarkan api yang dapat menghancurkan seluruh dunia. Seperti yang kemudian terbukti, ia berbicara tentang bahaya bom atom pada abad ketiga belas. Ia juga menyebutkan adanya sembilan planet, sementara ilmu pengetahuan modern baru bisa membuktikan hal ini pada tahun 1930- an. Sebelumnya, hanya tujuh planet yang diyakini ada. Nomor delapan ditemukan oleh seorang peneliti Prancis pada tahun 1840-an, dan planet kesembilan ditemukan oleh seorang ilmuwan Amerika pada tahun 1930. Namun, pada zamannya, Rumi sudah mengetahui bahwa ada sembilan planet. Sementara orang Barat meyakini bahwa matahari mengelilingi bumi, Rumi mengatakan bahwa bumi, seperti planet-planet lain, adalah planet kecil yang berputar mengelilingi matahari. Ia juga menjelaskan hal-hal luar biasa lainnya.
Saya sering menerima panggilan telepon, biasanya dari kaum intelektual, bahkan profesor, penulis, dan wartawan, dan mereka mengatakan bahwa, “Apakah Anda tahu, Madame, saya sudah memeluk Islam dan ini mungkin terjadi melalui Rumi.”
Sekarang saya sudah menerjemahkan semua karya beliau termasuk Majales-e Sab’a (Tujuh Majelis) dan Fihi Ma Fihi (Ada di dalamnya, Segalanya ada di dalamnya). Yang paling penting adalah Matsnawi. Saya benar-benar merasa bahagia. Selain itu, saya pikir inilah waktu yang sangat tepat untuk mempublikasikan karya-karya tersebut, karena dunia sedang hancur oleh perang, konflik, kebencian, dan agresi. Karya-karya Rumi penuh cinta, perdamaian, dan toleransi, yang menjadi pesan penting untuk hari ini. Islam yang sejati adalah sebuah agama universal dengan pesan sempurna tentang toleransi. Ajaran para nabi sebelum Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم diterima sebagai ajaran yang valid. Karena itulah, Islam memberi jawaban memuaskan bagi mereka yang mencari jawaban yang lebih jelas, universal dan umum dibandingkan dengan agama-agama mereka sebelumnya. Namun, saya ulangi sekali lagi bahwa kasus-kasus perpindahan agama benar-benar berbeda satu sama lain. Misalnya, saya mengenal orang-orang yang menerima Islam dengan tiba-tiba. Orang-orang ini mengalami sesuatu, melihat sesuatu, kemudian memeluk Islam. Namun, beberapa orang seperti saya menerima Islam setelah melakukan banyak penelitian, melewati banyak tahapan, menyelesaikan disertasi tentang filsafat Islam, tetapi hasil akhirnya sama. Spanyol adalah wilayah Muslim selama 800 tahun; di sebelahnya adalah Prancis, namun Spanyol jelas lebih maju, lebih intelektual, dan lebih beradab dibandingkan Prancis dan negara-negara lain di Eropa Utara.
Saya hanya menilai situasi ini dengan sudut pandang Barat dan saya tidak menyebutkan baik Turki atau Saudi Arabia. Saya berbicara tentang Barat. Saya berbicara tentang toleransi yang tinggi di Spanyol, di mana para menterinya adalah orang Yahudi, para dokternya Kristen, dan para khalifahnya adalah Muslim. Di negeri yang diatur oleh Muslim ini, bisnis maju lebih pesat daripada di negara-negara lain. Ini adalah ancaman besar bagi negara-negara, kerajaan, dan Kepausan Kristiani. Seperti yang Anda ketahui, untuk menyingkirkan sesuatu yang mengganggu, hal yang mengganggu itu harus dikalahkan. Dunia Barat melakukannya. Mereka memulai perang imperialisme dengan meruntuhkan Islam. Mereka memperluas propaganda dan kampanye-kampanye mereka dengan informasi yang salah tentang Islam. Sebagai contoh, jika Anda bertanya kepada seseorang di jalan, “Apa pendapat Anda tentang agama Buddha?” Mereka akan menjawab, “Saya tidak tahu,” tapi ketika pertanyaan itu adalah tentang ‘agama Islam’, mereka akan menjawab dengan ungkapan-ungkapan seperti, “Ah, ya, menikahi empat wanita, membuat para istri itu tetap di rumah, memiliki tenda.” Seperti yang Anda lihat, ada bagian-bagian informasi yang hilang, ada kata-kata klise yang ditemukan di televisi dan surat kabar; simbol-simbol kongkret memang ada dan semua itu mendistorsi Islam seluruhnya.
Saat ini Islam tidak dikenal dengan baik dan orang-orang mendengar ide yang benar-benar tidak akurat. Sayangnya, saya pikir semua itu timbul dari kegagalan negara-negara Muslim membentuk citra Islam yang baik. Selain itu, informasi yang salah, yang tertanam sebagai akibat dari perang imperialisme, juga memberi kontribusi dalam hal ini. Sayangnya, ada perpecahan yang terjadi antara negara-negara Muslim, dan ini menghambat solusi yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut dan banyak masalah lainnya. Umat Muslim memiliki Kitab, Nabi dan tradisi, budaya, dan bahasa Al Quran yang sama, yaitu Arab. Namun, negara-negara itu sering berselisih dan tidak memperhatikan warisan bersama yang mereka miliki. Menurut pendapat saya, alasan utama bagi orang Barat untuk tidak menerima Islam adalah kurangnya persatuan di kalangan umat Islam. Sebenarnya, ini adalah masalah yang terpisah. Islam sebagai agama tidak boleh diadopsi melalui alasan politik dan sosial, tetapi melalui sudut pandang dan paradigma bahwa agama itu akan membawa kita kepada Sang Pencipta, kehidupan, manusia, dan alam semesta.
Untuk menggambarkan Islam yang sesungguhnya, penting bagi kita untuk membaca Rumi, Ibnu Arabi, dan singkatnya, karya-karya semua pemikir besar Islam. Setelahnya orang-orang akan menjadi sangat terkejut. Kemarin, saya pergi ke dokter; mereka adalah orang-orang yang sangat terdidik. Istri dokter itu, yang menelepon saya di malam hari, bertanya kepada saya, “Apa yang sedang kau lakukan sekarang?” Saya katakan kepadanya bahwa saya baru saja menyelesaikan terjemahan Matsnawi. Ia bertanya apa Matsnawi itu. Saya kemudian memberitahunya bahwa Matsnawi menjelaskan tentang penguraian nuklir dan bom atom. Mereka tidak percaya. Seperti yang Anda lihat, orang-orang tidak tahu alasan utama terjadinya perkembangan ilmiah di abad pertengahan.
Sekolah kedokteran pertama di Prancis didirikan oleh orang-orang Arab. Dokter terhebat dari era itu berada di Spanyol. Ada banyak ilmuwan sukses yang sangat maju di zaman mereka, tapi tak ada yang menyadari hal itu. Ketika saya sedang menempuh studi doktoral tentang filsafat Islam di Universitas Sorbonne, saya menemukan Islam. Akan tetapi selama belajar di universitas sebelum memulai disertasi saya tentang Rumi, tidak seorang pun mengajarkan kami tentang para pemikir Muslim. Mereka hanya mengajarkan tentang para filsuf Jerman, Inggris, Latin, dan Yunani.
Ada jalan panjang yang harus ditempuh dan banyak hal yang harus dilakukan. Sekarang ada banyak intelektual yang mencintai dan memeluk Islam. Merekalah yang harus memberitakan kepada dunia tentang semua esensi Islam.
Dalam wasiat yang dituliskan kepada putra angkatnya, Prof. Dr. Abdullah Ozturk, Ibu Hawwa meminta untuk dimakamkan di dekat makam Rumi, di Konya. Setelah beliau meninggal dunia pada 24 Juli 1999, Dr. Ozturk berusaha keras untuk memenuhi kehendak itu. Ibu Hawwa dimakamkan di tanah pemakaman Üçler, di dekat makam Rumi, pada tanggal 17 Desember 2008, tepat pada “Şeb-i Arus” atau hari perjumpaan, seperti yang digambarkan Rumi tentang kematian.
Penulis : Abdullah Aymaz







Discussion about this post