Perhatikanlah, bagaimana berbagai hal khusus seperti perangkingan kualitas perguruan tinggi, perolehan penghargaan Nobel, indeks pembangunan internasional, pendapatan nasional per kapita dan jumlah hak paten yang diberikan atas penemuan baru diterapkan dengan berbagai tujuan menggunakan bermacam-macam analisa di berbagai negara. Hal-hal tersebut di atas dapat dimanfaatkan saat kita melakukan sebuah perencanaan, ide dan proyek tertentu demi masa depan kemanusiaan atau kelompok tertentu. Jika kita ingin melihat berbagai penemuan dan inovasi yang dilakukan pada bidang-bidang seperti matematika, astronomi, kedokteran, dan geografi di masa yang kita sebut sebagai “Abad Pencerahan Dunia Islam” dahulu, maka kita bisa berkunjung ke Museum Ilmu dan Teknologi Islam yang terdapat di Taman Gülhane – Istanbul. Cukup dengan meneliti karya-karya Prof. Dr. Fuat Sezgin kita akan dapat memahami bahwa ternyata dunia Islam telah mencapai tingkatan tertentu di saat negara-negara Barat yang kita kenal saat ini masih berada pada keterpurukannya pada abad pertengahan (saat itu negara Amerika Serikat masih belum ada) dulu.
Sambil menyerahkan perdebatan mengapa dunia Islam bisa jatuh seperti sekarang ini kepada para ahli sejarah peradaban, mari kita mencoba untuk melihat permasalahan ini dari satu sisi penting: seharusnya kita melihat alam semesta ini seperti sebuah ‘Kitab’ yang harus dibaca dengan menelitinya secara rinci. Secara khusus Ustad Badiuzzaman Said Nursi amat menonjolkan perihal bagaimana melihat dan membaca alam semesta seperti sebuah Kitab atau buku. Pada beberapa bagian yang berbeda dari karya-karyanya, beliau menggambarkan alam semesta sebagai “sebuah pameran”, “sebuah ladang”, “sebuah ruang tamu” dan “sebuah istana”, sambil juga menjelaskan bahwa alam semesta adalah “sebuah kitab” yang selalu dapat dibaca. Saat beliau melihat Al-Quranul Karim sebagai manifestasi dari sifat “Kalam” yang dimiliki Allah Subhânahu wa ta’âla maka alam semesta pun dihargai sebagai perwujudan dari sifat “Iradah” Allah Jalla Jalâluhu. Beliau mengatakan bahwa dua buku ini tidak akan pernah saling bertentangan. Badiuzzaman menarik perhatian kita pada hubungan antara kitab alam semesta yang merupakan manifestasi dari sifat “Iradah” dengan Al-Qur’an yang merupakan manifestasi sifat “Kalam”.
Menurut Badiuzzaman, Al-Qur’an adalah satu-satunya sumber peradaban yang hakiki dan kemajuannya, karena dapat menjelaskan hukum-hukum yang berlaku di alam semesta. Sebuah Kitab yang dengan kandungan pesan-pesannya menjadi sebuah petunjuk yang dikirimkan kepada umat manusia melalui kaidah-kaidahnya, penciptaan alam semesta serta proses berlakunya takdir dan pena hikmah. Sebagaimana Al-Qur’an menunjukkan hukum-hukum yang berlaku di alam semesta, dijelaskan pula hal-hal khusus yang harus dilakukan agar manusia mencapai jalan menuju ketentraman manusia. Kitab ini merupakan kumpulan hukum-hukum yang berlaku sepanjang zaman berkaitan dengan keteraturan dan keseimbangan yang perlu dibangun dalam masyarakat demi kemajuan umat manusia yang sebenarnya.
Ketika Badiuzzaman melihat alam semesta dengan teropong ilmu dan ilham Al-Qur’an, beliau melihat alam semesta sebagai sesuatu yang amat sangat teratur dan penuh dengan makna, yaitu bentuk kongkrit dari sebuah kitab yang disucikan (mujassam kitab-ı subhânî) dan sebuah perwujudan bentuk fisik dari Qur’ân-ı Rabbânîyah.
Badiuzzaman mengungkapkan bahwa kitab alam semesta menyuarakan makna-makna dari setiap hurufnya sebagai seratus baris, setiap barisnya adalah seratus halaman, setiap halamannya setara dengan seratus bab dan setiap babnya bermakna bagaikan ratusan buku. Beliau pun menambahkan bahwa seluruh bab, halaman, baris, kata, dan huruf-hurufnya tersebut saling memandang satu sama lain serta saling menunjukkan antara satu dengan yang lainnya. Beliau menyimpulkan bahwa dengan berbagai ragamnya, alam semesta adalah sebuah kitab besar yang penuh hikmah. Jika dilihat makna dari potongan berbagai ayat dalam Al-Qur’an seperti: “Mungkin mereka akan berpikir dan mendapatkan pelajaran darinya”,”Apakah mereka tidak memikirkan mukjizat-mukjizat seni Ilahi yang ada pada dirinya?”,”Pada yang seperti itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpikir” ditunjukkan pada kita sebuah cara untuk membaca kitab alam semesta. Dengan memikirkan makna dari hadis: “Bertafakur satu jam itu lebih baik daripada ibadah nafilah selama satu tahun”, beliau menekankan bahwa alam semesta hanya akan bermakna dengan Al-Qur’an dan untuk dapat memahami hubungan erat antara Al-Qur’an dan alam semesta maka umat manusia dan para ilmuwan membutuhkan Al-Qur’an. Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa ayat-ayat kauniyah (penciptaan) yang berjalan dengan teratur dan dijalankan berdasarkan sebuah hikmah tertentu yang disebut sebagai peristiwa-peristiwa alam atau hukum-hukum alam yang berlaku hanya dapat dibahas, ditafsirkan, dan diterjemahkan di bawah naungan cahaya Al-Qur’an.
Ustad Badiuzzaman menekankan bahwa di setiap abad, Al-Qur’an dapat ditafsirkan secara komprehensif oleh dewan ulama terpilih yang terdiri dari para ahli pada beberapa bidang keilmuan, yang berada pada cahaya keilmuan yang berkembang dengan pengetahuan, penemuan ilmiah dan inovasi yang ada pada masa itu. Beliau menegaskan bahwa sebagian hakikat Al-Qur’an baru dapat ditafsirkan secara benar pada sorotan cahaya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan dunia fisik dan ada sebagai perkembangan dari ilmu pengetahuan. Kemudian pada usaha yang diharapkannya menjadi sebuah model dari tafsir-tafsir yang akan dibuat selanjutnya, khususnya pada tafsir ayat yang mengacu pada alam semesta dan mahluk hidup, alih-alih menunjukkan adanya pertentangan antara ayat-ayat Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan sebaliknya tafsir tersebut justru akan menunjukkan betapa selarasnya Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan.
Hal khusus lain yang menjadi tujuan Ustad Badiuzzaman ketika beliau berusaha menunjukkan bagaimana cara untuk membaca kitab alam semesta ini adalah untuk meluruskan pemikiran keliru dari orang-orang yang mengklaim bahwa ilmu pengetahuan dan Islam bertentangan satu sama lain dan menempatkan ilmu-ilmu pengetahuan terutama biologi dan kedokteran serta ilmu lain seperti fisika dan matematika yang merupakan manifestasi dari Asma “Al-Hayyu” dan puluhan Asma Allah lainnya pada tempat yang sebenarnya. Prinsip-prinsip yang benih-benihnya telah ditaburkan oleh Badiuzzaman ini, diterima sebagai sebuah tugas kewajiban yang harus diteruskan oleh para pengikutnya.
Alasan dasar dari kekhususan upaya beliau yang menginginkan agar kitab alam semesta ini dibaca adalah karena hal tersebut dapat memperkuat iman pada keberadaan Allah Subhânahu wa ta’âla yang telah menulis dan menghiasi kitab alam semesta ini dengan ornamen dan hikmah-hikmahnya. Tujuan yang kedua adalah agar manusia setelah beriman kepada Allah Jalla Jalâluhu mereka juga menghasilkan hal baik atas nama keilmuan dan penemuan-penemuan dari baris-baris dan paragraf-paragraf yang dibacanya di kitab semesta ini. Membaca alam semesta dengan cara pandang ibrah seperti inilah yang seharusnya menjadi daya tarik bagi para ilmuwan. Ketika ada beberapa ilmuwan barat yang tidak hanya beriman pada keberadaan Allah namun juga meneliti secara detail baris-baris kitab alam semesta, memasukkannya ke dalam labolatorium dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kemanusiaan, namun sebagian yang lain justru mengomentari dengan sudut pandang materialis dan positivist dengan menutup mata pada sisi ke-Ilahi-an alam semesta. Walaupun demikian, mereka tetap tidak pernah berhenti berusaha melakukan pencerahan pada rahasia-rahasia alam semesta dengan memasukkannya ke dalam laboratorium dan meneliti seluruh permukaan bumi secara mendetail.
Menyuguhkan dalil-dalil keberadaan dan keesaan Allah Subhânahu wa ta’âla dengan memberikan contoh-contoh dari kitab alam semesta di dalam pembelajaran yang di dalamnya hakikat tentang keimanan dijelaskan merupakan hal yang sangat penting bagi orang-orang awam yang telah mencapai tingkatan tertentu. Namun ada satu hal khusus yang sama pentingnya yaitu pemikiran seperti: “Apakah yang coba dikatakan ayat ini kepadaku?” “Bagaimana aku bisa mengambil kesimpulan atas pelajaran yang diberikan tumbuh-tumbuhan, hewan, mineral, atom-atom ataupun langit ini yang merupakan bagian dari bidang penelitianku dan bagaimana aku dapat menyuguhkannya demi kemaslahatan umat manusia?”, dalam topik-topik yang berkenaan dengan bidang pengetahuan masing-masing individu.
Coba kita ambil beberapa contoh ide pemikiran: Apakah dengan meneliti perbedaan fisiologis dan genetik yang terdapat di antara pohon-pohon yang menggugurkan atau tidak menggugurkan daun-daunya di musim dingin, bisa menjadi solusi untuk mengatasi kerontokan rambut manusia? Apakah dengan mempelajari informasi-informasi penting berkenaan dengan molekul biologis dari perbedaan-perbedaan antara pohon yang berumur panjang dan yang pendek, bisa menguak rahasia memiliki umur panjang pada manusia? Apakah ada hikmah tertentu di balik gigitan nyamuk yang menancapkan bagian mulutnya yang membentuk probosis panjang ke kulit dan membuat kulit tersebut menjadi bengkak? Tidakkah gigitan yang akan bergerak menuju sistem kekebalan dan menghancurkan limfosit B dan T yang diciptakan secara khusus, hingga menjadi penyebab serangan terhadap sel-sel kanker yang baru terbentuk? Kenapa tikus-tikus got yang hidup di dalam air limbah yang kotor tidak sakit dan mati, padahal di dalamnya terdapat beraneka macam kuman penyakit? Apakah sistem yang sama dengan sistem yang telah membuat tikus-tikus itu dapat bertahan dan terlindung dari mikroba-mikroba, dapat diaplikasikan pada manusia? Ribuan pertanyaan serupa dapat dilontarkan dan di bawah naungan cahaya dari pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan dihasilkan berbagai proyek penelitian. Semua bentuk pemikiran seperti ini hanya akan didapat dengan membaca kitab alam semesta melalui kacamata hikmah atau ibrah.
Untuk alasan inilah manusia yang merupakan bentuk mikro dari alam, terlihat sebagai sebuah salinan kecil dari kitab alam semesta ini. Rambut manusia diumpamakan sebagai hutan, pembuluh darahnya mirip seperti sungai-sungai, sementara tulang-tulangnya umpama gugusan pegunungan yang ada di alam. Ketika benda-benda dan kejadian-kejadian tersebut ditafakuri secara teliti, berbagai hal khusus yang mungkin tak pernah terlintas di kepala kita akan muncul dan menghasilkan hal menarik yang mungkin dapat disuguhkan bagi kemaslahatan umat manusia. Seorang ilmuwan beriman yang melihat alam semesta layaknya seperti sebuah kitab kemudian berkelana di antara baris-barisnya, harus benar-benar membuka lebar akal, hati, jiwa, dan nuraninya seraya berkata, “Apakah yang ingin disampaikan oleh Rabb-ku melalui sulaman indah yang terdapat pada peristiwa dan entitas ini?” Jika tidak, sebaliknya kita hanya akan menjadi seseorang yang menguasai informasi teknis tentang topik tertentu dan terkurung dalam satu bidang sempit, namun ternyata informasi tersebut pun jauh dari sintesis dan pembacaan alam semesta dengan pandangan yang menyeluruh.
Ada ribuan jalan menuju Allah Subhânahu wa ta’âla pada setiap ilmu pengetahuan. Betapa banyak ilmuwan yang menghabiskan umurnya di jalan ini, menghabiskan bertahun-tahun hidupnya dalam labolatorium namun dikarenakan ketidakmampuan kebanyakan dari mereka untuk membaca kitab alam semesta ini, maka pada hakikatnya mereka tidak dapat menaikkan kedudukannya dari sekedar menjadi seorang teknisi. Para ilmuwan seperti Ibnu Sina, Biruni, Ali Kuşçu, Descartes, Newton, Pascal, Gallileo, Einstein, Copernicus, dan Jean telah memandang alam semesta secara komprehensif. Oleh karenanya mereka dapat menyaksikan kekuasaan dan hikmah dengan lebih terbuka. Mereka dapat mengambil pelajaran dari apa yang telah dilihatnya dan merekalah yang telah menorehkan tanda tangannya pada penemuan-penemuan yang dapat membuka cakrawala umat manusia.
Diterbitkan di SIZINTI edisi Maret 2016
Penulis: Prof. Dr. Arif Sarsilmaz







Discussion about this post