Pada tahun 2002, saya menjadi Dekan di FISIP-UI. Saat memimpin Fakultas tersebut saya mulai berkenalan dengan para pemuda Turki yang tergabung dalam gerakan Hizmet1 di Indonesia, yang berada dalam naungan sebuah Yayasan Pendidikan dan Sosial, PASIAD2.
Kesan pertama saya pada waktu itu tentang para pemuda Turki tersebut bahwa mereka adalah para pemuda muslim yang sopan, ramah, toleran, tulus, pekerja keras, kompak, dan bersemangat. Kesan tersebut tentu saja masih melekat dalam ingatan saya hingga kini.
Tidak terlalu banyak informasi yang saya ketahui tentang Hizmet pada saat itu. Seiring berjalannya waktu, saya semakin sering berjumpa dengan banyak para pemuda Turki tersebut, beberapa diantara mereka menjadi mahasiswa di UI dan beberapa yang lain mengelola sekolah-sekolah di Jabotedabek.
Melalui aktivitas seminar yang diselenggarakan PASIAD, saya mulai mengenal selintas pemikiran-pemikiran Hocaefendi3 Fethullah Gülen. Saya kagum akan pengaruh beliau terhadap para pemuda Turki yang tergabung dalam gerakan Hizmet ini sehingga bekerja bersemangat dan penuh keikhlasan untuk berkarya agar bermanfaat untuk umat manusia dalam rangka meraih Ridho Allah Subhânahu wa ta’âla. Hizmet berarti pengkhidmatan atau beramal saleh dengan ikhlas. Mengerjakan sesuatu semata hanya mengharap berkah dan Ridho Allah. Hizmet mempunyai gerakan pendidikan, sosial dan amal yang luar biasa. Mereka mempunyai jalinan kerjasama dengan hampir seluruh negara penting dunia di bidang perdamaian, pendidikan dan terutama pengembangan sains.
Kekaguman ini semakin bertambah, saat saya berkesempatan diajak PASIAD berkunjung ke beberapa kota di Turki seperti Istanbul, Ankara, dan Antalya. Di sana saya mengunjungi sekolah-sekolah Hizmet, Stasiun TV yang juga berkaitan dengan Hizmet, dan beberapa kegiatan bisnis mereka.
Saat di Turki, kami diajak mengunjungi keluarga-keluarga Turki yang merupakan partisipan Hizmet untuk sarapan pagi dan bercengkrama dengan mereka dari dekat. Saya benar-benar terpesona dengan keramahan dan ketulusan mereka dalam menerima tamu yang sama sekali tidak dibuat-buat. Saya dan istri adalah penyayang bayi dan anak-anak, di mana pun kami berada. Kami sering menggendong beberapa bayi dan balita lucu keluarga-keluarga tersebut dan bahkan ada diantaranya yang begitu lengketnya dengan kami hingga saat kami akan pulang ke Indonesia. Sungguh suasana sangat Islami kami rasakan ketika bersama keluarga-keluarga Hizmet tersebut.
Dalam perjalanan ke Turki di atas, saya semakin paham mengenai inspirasi dan semangat gerakan Hizmet. Pada dasarnya sosok pemikir Islam moderat Hocaefendi Fethullah Gülen melalui ratusan buku dan banyak ceramahnya demikian kuat mengakar di hati masyarakat Muslim Turki. Jadi, meski Turki merupakan negara sekuler, paling tidak secara kesan historis, namun empiris ditandai oleh bangkitnya pengamalan Islam sebagai Rahmatan lil’alamin yang mengakar kuat pada masyarakatnya.
Pada tahun 2009, kembali saya diajak beberapa kawan dari PASIAD untuk mengadakan perjalanan ke Amerika. Kami tiba di Texas untuk menghadiri pekan olimpiade sains tingkat internasional yang diadakan di sana. Beberapa sekolah dari banyak negara di dunia mengikuti ajang bergengsi tersebut. Pada perjalanan itu pula kami kemudian mengunjungi Texas University. Di Turkish Cultural Center yang ada di Universitas tersebut saya didapuk untuk berbicara mengenai ‘Islam and Democracy in Indonesia’ dalam seminar yang dihadiri berbagai kalangan di Texas. Kemudian kami diantar pula ke George Washington University, di Washington DC untuk berbicara mengenai ‘Interfaith Dialog for Poverty Alleviation’.
Di Washington, saya berkesempatan diajak untuk mengunjungi beberapa keluarga Turki yang tinggal di sana dan juga di Virginia. Saya juga diajak untuk melihat usaha-usaha yang dirintis oleh para pemuda Turki di sana, mulai dari toko marmer, karpet, hingga restoran. Bahkan saya berkesempatan pula meninjau beberapa sekolah yang pengelolanya adalah partisipan Hizmet.
Pengalaman di Washington mengajarkan 3 hal berikut, yaitu: Pertama, para pemuda Hizmet yang berbisnis pada umumnya mengalami kesuksesan pada usahanya. Saat saya menanyakan hal ini, menurut mereka salah satu kuncinya adalah menginfakkan dan memberikan sedekah sebagian dari pendapatan mereka untuk tujuan penting dalam masyarakat dan kemanusiaan seperti pendidikan. Kedua, mereka menjalin hubungan kuat ke dalam dan keluar komunitas Turki. Dan yang ketiga, mereka menjadi duta muslim yang berakhlak baik sehingga diterima secara luas oleh berbagai kalangan di Amerika Serikat dan di seluruh dunia pada umumnya. Terkait hal ini, setelah kejadian 9/11, mereka masuk dan diterima di berbagai gereja di Amerika untuk memberikan penjelasan mengenai Islam yang banyak menjadi sorotan pada masa itu.
Saya pribadi sempat diundang beberapa senator AS (diantaranya dari negara bagian Missouri di kantor mereka sebelum melanjutkan perjalanan ke New York. Dalam kunjungan ke Kongres/Senat tersebut saya berjumpa seorang wanita Amerika yang menikah dengan pemuda Hizmet. Wanita tersebut bercerita mengenai aktivitasnya di Jalaluddin Rumi Foundation. Hal ini memperkuat pengetahuan saya bahwa masyarakat Hizmet berintegrasi dengan sangat baik dengan masyarakat umum di Amerika dengan identitas muslim soleh dan moderat yang berkiprah produktif secara positif. Di seluruh dunia seperti halnya di Amerika dan Eropa, Hizmet tidaklah menimbulkan masalah. Karena pada dasarnya mereka moderat, pro perdamaian, gandrung ilmu dan teknologi. Mereka dikenal sebagai Muslim rendah hati dan bekerja keras karena keinginan memperoleh pahala dan Ridho Allah. Jadi, Hizmet bukan gerakan politik ideologis anti kemapanan seperti yang sering disalah fahami oleh sebagian kalangan.
Lalu, kami melanjutkan perjalanan melalui jalan darat ke New York. Di Philadelphia kami tidak dapat mampir ke kediaman Hocaefendi di sana, karena menurut kabar, beliau sedang sakit. Kemudian kami ke New Jersey, untuk bermalam dan mengunjungi Universitas Princeton serta meninjau Stasiun Televisi besar milik Hizmet. Karena jarak ke New York dekat, maka saat itu kami bolak-balik ke sana.
Pada saat makan malam bersama di rumah salah satu keluarga Turki, saya mengutarakan keinginan untuk berjumpa Hocaefendi Fethullah Gülen di Philadelphia. Tuan rumah kemudian menelepon asisten Hocaefendi untuk menyampaikan keinginan kami tersebut. Namun sayangnya jawaban yang kami terima adalah permohonan maaf bahwa Hocaefendi sedang sakit sehingga tidak bisa menerima tamu. Setelah itu asisten beliau bertanya siapa yang meminta berkunjung. Setengah jam kemudian kami mendapat kabar bahwa ada telepon dari asisten Hocaefendi. Beliau menyampaikan bahwa meskipun sakit Hocaefendi berkenan menerima kami jam 10 pagi keesokan harinya.
Saat pada akhirnya saya dapat dipertemukan dengan beliau, saya terpana dengan kesahajaan, kerendahhatian, dan keramahan beliau. Beliau dengan lirih mengatakan, gembira dan berterima kasih telah dikunjungi, meskipun sesungguhnya menurut beliau, dirinya bukanlah sosok yang pantas untuk dikunjungi dan mendapat perhatian besar seperti ini. Beliau menanyakan mengenai keadaan negara dan masyarakat Indonesia. Beliau menyesalkan bahwa Kekhalifahan Utsmani (Ottoman Empire) di masa silam tidak berbuat banyak saat Indonesia dijajah imperialis Barat. Dengan berlinang air mata, Beliau mendoakan umat Islam di dunia yang tengah banyak mengalami ujian dan cobaan.
Pertemuan tersebut menambah pemahaman saya mengenai Hizmet, sosok inspiratornya, dan pemikiran Hocaefendi yang sangat kokoh mengakar pada Qur’an dan hadis namun implementatif dengan konteks abad 21 saat ini. Beliau adalah intelektual muslim salah satu pengagum Badiuzzaman Said Nursi. Sepanjang hidupnya beliau aktif menulis dan mengajar serta berceramah, menjadi tokoh inspirator di mata pendengarnya. Jumlah buku yang ditulis oleh beliau mencapai ratusan buku.
Begitu sibuk dalam pengabdian bagi umat hingga beliau tidak sempat menikah. Kehidupan sehari-harinya ditandai dengan berpuasa, bangun setiap jam 1 malam untuk shalat tahajjud bermunajat kepada Rabb Maha Agung untuk keselamatan umat Islam di seluruh dunia yang banyak dalam posisi terzalimi, dilanda fitnah, dan kesulitan. Linangan air mata beliau selalu mengundang isak tangis jamaah yang mengamini doa-doa khusyu’ beliau di malam-malam yang hening dan terkadang begitu dingin membeku.
Hocaefendi Fethullah Gülen sudah sepuh dan sering sakit-sakitan. Karena kondisi ini beliau sudah amat jarang bepergian. Namun tulisan dan seruannya sangat menggetarkan semua yang mendengarkan beliau begitu pula komitmennya pada Al Qur’an dan Sunnah begitu tinggi.
Saat ada tuduhan bahwa beliau adalah dalang kudeta 2016 di Turki, saya merasa bingung. Hocaefendi yang saya kenal adalah sosok anti kekerasan dan cinta damai sementara kondisi fisiknya pun telah tua dan sakit-sakitan. Saya rasa tuduhan di atas tidak masuk di rasio dan akal fikiran saya. Tentu saja, saya tidak anti pada Pemerintah Turki, sudah barang tentu saya menghormati pula pemimpinnya. Saya juga bukan pengikut Hizmet hanya saja saya mengagumi dedikasi dan kesungguhan mereka. Jadi, singkatnya saya tidak mempunyai urusan dan kepentingan apa-apa atas politik internal mereka. Namun, mengenal pemikiran sosok inspirator Hizmet, membawa saya pada keyakinan bahwa terlalu membingungkan dan tidak masuk akal untuk menempatkan beliau dalam kaitan langsung pada gerakan politik berdarah.
Madinah 2 April 2017
Penulis : Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Somantri
Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri dikenal sebagai seorang sosiolog dan dosen di Universitas Indonesia, pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Indonesia untuk masa jabatan 2007-2012.
Keterangan:
- Hizmet berarti khidmat, sebuah kata yang dimaksudkan sebagai dasar pengabdian seorang muslim bagi kemaslahatan umat manusia dengan hanya mengharapkan Ridho Allah. Secara umum Hizmet adalah sebuah gerakan masyarakat sipil yang terinspirasi dari keimanan, terbentuk dalam kerangka nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal yang terdiri dari para relawan yang bertujuan untuk membentuk budaya hidup bersama. Hizmet tidak terlibat dalam pemerintah, politik ataupun menjadi agenda dari kepentingan manapun.
- Pasiad adalah singkatan dari Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association, merupakan organisasi nirlaba yang dibentuk untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan sosial dan pendidikan di negara-negara Pasifik.
- Hocaefendi (baca: Hojaefendi) adalah sebutan yang digunakan di Turki untuk memanggil seorang guru atau orang yang amat dihormati karena pemahaman agama dan atau ilmu yang dimilikinya. Secara harfiah berarti Tuan guru yang terhormat, dapat disamakan seperti istilah Syaikh dalam bahasa Arab.







Discussion about this post