Suatu ketika seorang ayah dari keluarga dengan latar belakang ekonomi kurang mampu berkata pada anaknya. “Nak, kamu jangan jadi seperti ayah yang hanya tamatan SD ini, kamu harus sekolah tinggi agar bisa sukses hidupmu”. Adakah yang salah pada kata-kata penuh harap dan asa dari sang Ayah ini? Sebelum buru-buru kita tarik kesimpulannya, mari kita ikuti kelanjutan kisah anak tersebut. Si anak miskin yang dikaruniai kecerdasan tersebut ternyata berhasil sekolah tinggi dengan bekal beasiswa yang didapatkannya, persis seperti harapan ayahnya dahulu. Anak itu berhasil tidak hanya secara pendidikan namun juga kemudian mendapatkan jabatan dan posisi baik hingga keluarga kecil baru yang dibentuknya dapat hidup amat layak bahkan berlebihan. Kesibukan yang menyita membuatnya sering meninggalkan keluarga. Namun sebagai gantinya anak-anak serta istrinya diberikan fasilitas berlebihan hanya agar jangan sampai mereka merasakan ‘hidup sulit’ seperti dirinya dahulu. Tidak perlu menunggu terlalu lama keadaan ini memberikan kegetiran yang amat pahit tidak hanya pada dirinya namun juga pada generasi sebelumnya. Satu persatu anak-anaknya membawa kabar buruk bagi keluarga mereka, seorang anaknya terkena dampak narkoba sementara anak yang lain hanyut dalam kehidupan hedonis bebas ala barat. Tak hanya sang ayah dan ibunya yang bersedih namun kakek, nenek bahkan seluruh keluarga besar merana. Lalu siapa yang patut dipersalahkan? Apakah sang ayah yang hanya ingin membuat kenyamanan bagi anak-anaknya agar tak mengalami kepahitan hidup seperti dirinya? Ataukah sang kakek yang terlupa memberikan pesan pada anaknya bahwa kesuksesan yang sebenarnya adalah jika ia berhasil tidak hanya di dunia namun juga di akhirat kelak dan berhasil pula mengajak orang di sekelilingnya pada kebaikan yang sama?
Itulah sekelumit potret kehidupan yang sering kita dengar di sekeliling kita tentu saja dengan versi-versi yang berbeda. Berapa banyak biografi orang-orang sukses dengan latar belakang kesulitan ekonomi keluarga sebelumnya namun kemudian setelah generasi kedua berhasil tidak bisa diikuti oleh keberhasilan dari generasi-generasi berikutnya. Begitu banyak orang-orang besar namun tak terdengar jejak kebesaran mereka pada anak-cucu keturunannya. Hal ini membuat orang tua seolah tak ‘naik kelas’, karena bukankah saat seseorang berprestasi dan bereputasi baik maka akan naik pula reputasi orang tua dan para pendahulunya. Lalu apa yang harus dilakukan agar orang tua bisa naik kelas bukan justru turun?
Pendidikan bisa menjadi salah satu kuncinya baik pendidikan di rumah maupun di sekolah. Melalui pendidikan, berbagai keberhasilan dapat diraih. Bahkan, secara umum negara-negara yang memberikan perhatian yang lebih di bidang pendidikan memiliki tingkat kehidupan yang lebih baik bagi masyarakatnya. Namun yang patut diingat adalah pendidikan tidak boleh hanya memiliki orientasi pada peningkatan hidup secara materi semata, tetapi melalui pendidikan ini haruslah pula berdampak baik bagi kualitas hidup seseorang dan memberikan kontribusi bagi suatu bangsa dan negara.
Melihat perkembangan yang ada pada masyarakat kita, pada umumnya orientasi pendidikan pada saat ini adalah: diterima di perguruan-perguruan tinggi terkemuka untuk masa depan yang cerah, mendapatkan pekerjaan yang bagus dan menerima gaji yang besar untuk memenuhi gaya hidupnya serta mendapatkan strata sosial yang lebih dihormati. Namun adakah tujuan lain yang lebih mulia? Jika seorang ayah dan ibu diminta memilih apakah anaknya akan berhasil hidup mapan dan berstatus sosial terhormat ataukah anaknya kelak akan mempunyai kemampuan melahirkan generasi penerus yang lebih berkualitas dari dirinya agar kebahagiaan hidup yang lebih tinggi bisa dicapai? Secara ideal tentu saja semua orang tua menginginkan gabungan antara kedua pilihan itu. Akan tetapi jika memang harus memilih salah satu tentu saja pilihan kedua adalah yang lebih bijak. Pada pilihan pertama, hasil dari kesuksesan anak tersebut mungkin hanya akan berhenti pada dirinya saja. Namun hasil dari pilihan kedua adalah keluarga yang lebih berkualitas dan bahagia, anak-anak atau keturunan yang lebih baik dari generasi sebelumnya, serta kebahagiaan besar dan naik kelasnya generasi sebelumnya dikarenakan integritas anak dan cucunya. Dalam hal ini kebahagian keluarga tidak hanya terbatas di satu generasi namun akan terus pada anak cucu seterusnya. Orientasi pada pilihan kedua pada akhirnya justru akan memberikan sebuah hasil yang jauh lebih baik. Hal ini disebabkan karena orientasi tersebut menjadikan peningkatan kualitas individu seseorang berjalan secara berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dari seorang kakek pada anaknya hingga ke cucunya.
Orientasi pendidikan yang pertama tadi hanya akan menghasilkan anak yang berhasil hidup mapan dan berstatus sosial terhormat tetapi belum tentu dapat melahirkan generasi yang lebih baik dari dirinya karena tidak dipersiapkan. Pendidikan seperti ini membuat anak berhasil dalam karir namun tidak dalam kehidupannya. Inilah mengapa ada yang harus di reorientasi dari pemahaman kita akan pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang baik memampukan anak melahirkan generasi penerus yang jauh lebih baik. Anak akan tau apa yang harus dilakukannya saat menjadi seorang ayah atau ibu bahkan sebelumnya ia mampu merencanakan bentuk keluarga yang akan dibinanya. Dalam hal ini diberikan pemahaman pada anak tersebut tentang konsep keluarga yang baik. Pada sebuah keluarga yang baik harus terdiri dari setidaknya tiga komponen utama. Komponen yang pertama adalah seorang laki-laki yang pandai menjadi suami sekaligus seorang ayah. Komponen kedua adalah seorang wanita yang pandai menjadi istri dan menjadi seorang ibu. Sementara komponen yang ketiga adalah kesepakatan keduanya untuk berkomitmen dalam menghasilkan generasi yang unggul. Kedudukan orang tua, baik dari ayah atau ibu memiliki peranan yang signifikan sesuai tugas dan perannya masing-masing dalam keluarga. Peran ayah sebagai pemimpin dalam keluarga bertugas melindungi, mendidik sekaligus menjadi teman bagi seluruh anggota keluarga. Ayah harus pula menjadi contoh dalam keluarga serta mengarahkan kemana bahtera sebuah keluarga akan berlayar. Seorang ibu, memiliki peranan yang lebih langsung terhadap perkembangan anak. Bagaimanapun ibu adalah sekolah dan guru utama dalam membentuk kepribadian anak agar menjadi anak yang berkualitas. Kedua orang tua yang fasih menjalankan peran masing-masing akan menjadi semakin kuat dalam komitmen bersama dalam mendidik generasi unggul, maka apapun keputusan dan aktivitas keluarga ini akan diambil berdasarkan kesepakatan ini. Dari keluarga seperti ini, anak-anaknya akan berkualitas lebih baik dari orang tuanya dan cucu lebih berkualitas dari si anak tadi.
Untuk melahirkan hasil pendidikan seperti ini maka sebuah institusi sekolah tidak lagi hanya menargetkan hasil pendidikannya hanya berdasarkan penguasaan materi pelajaran saja namun siswa akan pula dibekali ilmu serta keterampilan penunjang agar ia mampu menjadi ayah dan suami yang pintar ataupun ibu dan istri yang pandai. Komitmen reorientasi pendidikan semacam ini tidak hanya dibebankan pada sekolah namun juga pada semua lembaga formal maupun non-formal yang bersentuhan dengan kehidupan anak tersebut harus pula memikirkan usaha menuju lahirnya generasi yang lebih baik ini. Usaha-usaha ini harus benar-benar nyata dan sistematis bahkan jika perlu masuk dalam kurikulum pendidikan formal, agar sekolah-sekolah bergiat mengajarkan kemampuan sebagai ibu dan bapak kelak pada anak dalam format utama di kelas dalam bentuk praktek nyata.
Untuk mewujudkan hal tersebut tentu saja ada satu elemen penting yang akan memegang peranan, yaitu sosok guru ideal bagi anak. Guru sebagai panutan di sekolah tentunya diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi anak didiknya untuk menjadi generasi yang lebih baik lagi. Untuk itu ada filosofi dari bahasa Jawa untuk kata Guru, yaitu digugu lan ditiru. ‘Digugu’ artinya perkataan dari seorang guru bisa menjadi panutan dan ‘ditiru’ artinya perbuatan yang dilakukan oleh guru dapat menjadi contoh bagi anak didiknya. Untuk itu, guru memiliki tanggung jawab yang cukup besar bagi pembentukan kualitas anak bangsa. Guru juga memiliki fungsi yang amat penting, karena guru adalah akar pendidikan, akar semua profesi, akar terciptanya peradaban dan akar kemajuan bangsa. Maka wajar jika Kaisar Jepang setelah terjadinya kejadian bom atom di Hiroshima dan Nagasaki justru bertanya, “Berapa guru yang masih hidup?” Sebuah pertanyaan sederhana namun bermakna dalam karena berapapun jumlah guru yang masih hidup saat itu akan menjadi tolak ukur bagi bangkitnya Jepang dari kehancuran akibat bom mengingat guru adalah penggerek kualitas bangsa. Tentu saja hal ini tidak mudah, paling tidak seorang guru akan lengkap jika ia memenuhi syarat menjadi individu yang cerdas, amanah dan bertalenta bagi peserta didiknya. Tiga kualifikasi utama ini wajib ada pada sosok seorang guru sebagai pembentuk karakter dan kepribadian siswa. Menjadi sebuah keniscayaan semua elemen bersinergi dalam membentuk generasi yang berkualitas. Sehingga orientasi pendidikan yang sebelumnya bagi sebagian masyarakat hanya sekedar pada prestige dan kemapanan dapat diubah menjadi suatu orientasi yang berfokus pada kualitas hingga nantinya terbentuklah suatu generasi berbudi dan berprestasi yang selama ini kita harapkan sebagai “Generasi Emas” bagi bumi pertiwi.
Penulis : Ir. Abdul Kadir Baraja







Discussion about this post