Hubungan Dosa dan Kehendak Manusia
Pertanyaan:
Apakah ketika melakukan dosa, manusia bertindak berdasarkan nafsunya, dan bukan kehendaknya? Bagaimana seharusnya sikap kita terhadap dosa?
Jawaban:
Sikap tak berdaya manusia di hadapan kehendaknya (iradat) harus ditinggalkan. Manusia harus menggunakan petunjuk Ilahi untuk melawan hawa nafsu. Segala sesuatu bersumber dari tuntunan Ilahi sesuai dengan rida-Nya atau merupakan pengaruh dari dorongan hawa nafsu manusia. Hawa nafsu berarti kegemaran, keinginan, kecenderungan terhadap hal-hal yang bersifat nafsani, serta kenikmatan syahwati atau sebutan lain bagi sikap tak disiplin, rasa tak peduli terhadap perintah dan larangan, serta kehidupan tanpa prinsip. Oleh karena dosa dilakukan sebab mengikuti hawa nafsu, maka setiap kali kata dosa disebut, yang terlintas seketika dalam pikiran kita adalah “hawa nafsu”. Leyla Hanım1 mengatakan: “Aku mengikuti hawa nafsuku dan telah melakukan banyak dosa. Dengan wajah apa daku ‘kan datang ke hadapan-Mu, ya Rasulullah!” Ya, jika dosa telah dilakukan, itu berarti ia dilakukan karena mengikuti hawa nafsu; yang berarti ia dilakukan karena mengikuti keinginan, hasrat, dan kemauan nafsu yang tidak terkendali, tidak dapat didisiplinkan, tidak menerima standar dan kriteria apa pun, sehingga terjatuh dalam dosa.
Ketika perkataan hanya didasarkan pada nafsu, kesesatan menjadi tak terelakkan, dosa pun tak terhindarkan. Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Apakah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya!”2, yang menunjukkan bahwa manusia yang menyimpang dari jalan kebenaran pada akhirnya akan mulai memandang hawa nafsunya sebagai sembahannya. Dalam sebuah hadis juga disebutkan, “Tiada sembahan di bawah langit yang lebih dibenci Allah daripada hawa nafsu yang diikuti.”3
Jika seseorang tidak teguh berdiri kukuh di tempatnya, yakni jika dia tidak terus bersujud dan rukuk di hadapan Allah I, tak bersikap seperti penjaga yang waspada untuk melindungi rahmat-rahmat Ilahi-Nya sembari berdoa, “Jangan sampai aku terlepas dari Rahmat-Nya!”, maka ia bisa patah dengan mudah dan kehidupan batinnya bisa rengat dengan cepat. Terkadang, manusia terjerumus ke dalam kesalahan sedemikian rupa hingga satu menit kelalaian dapat menguasainya, membangkitkan perasaan-perasaan buruk dalam nafsunya. Dan jika manusia tidak segera melepaskan diri dari atmosfer tersebut dengan satu gerakan atau langkah, maka dia akan terseret ke titik yang akan membuatnya tidak dapat kembali lagi. Oleh karenanya, ketika seorang hamba terjerumus ke dalam hawa nafsu semacam itu, dia harus segera berbalik kepada Allah I dan berkata, “Ya Allah, selamatkanlah aku!” sembari bertarung melawan nafsunya.
Terkadang sebuah inayat luar biasa datang menyelamatkan seseorang. Tepat ketika hendak melangkah ke arah keburukan, ia merasa seolah-olah ada yang menendang lututnya hingga ia berbalik, melepaskan diri dari keadaan buruk yang menjeratnya, menjauh dari zona bahaya. Namun, penyelamatan yang luar biasa semacam itu tidak selalu terjadi. Semoga Allah melindungi. Jika pandangan kita menyimpang ke arah yang salah, kesesatan itu akan berubah menjadi titik pertama dari sebuah lingkaran kerusakan. Ia dapat membawa kita ke lingkaran kedua, lingkaran ketiga, dan seterusnya. Seiring berjalannya waktu, bertambahlah jumlah dan kedalaman lingkaran-lingkaran itu. Hingga di satu titik, manusia mendapati dirinya berada di hadapan laut yang siap menenggelamkannya sepenuhnya, tak mampu berpegangan hingga tenggelam di antara dahsyatnya gelombang.
Ada nasihat yang berkata: “Tatkala nafsu menguasai dirimu, segera menjauhlah dari keadaan itu!” Ketika kalian menarik selimut ke atas kepala, ketika kalian sendirian di suatu tempat, atau ketika kalian tenggelam dalam kelalaian bersama seorang teman, segera hancurkan atmosfer itu dan menjauhlah dari sana. Pergi, menjauhlah sejauh-jauhnya dari atmosfer itu hingga kalian sampai di titik yang membuat kalian tidak akan mampu untuk kembali lagi.
Ada dosa yang mirip zat adiktif (narkoba). Sehingga ada unsur kecanduan yang ketika terbiasa, sangat sulit melepaskan diri dari kebiasaan buruk itu. Setelah sekali saja memulai, untuk berhenti meninggalkannya dibutuhkan tekad sepuluh kali lipat lebih kuat daripada menahan diri dari usaha yang pertama. Namun, ada pula dosa yang sementara, meski tetap saja dapat menenggelamkan manusia. Betapa banyak keputusan diambil dalam kondisi batin sesaat semacam ini hingga berujung pada kematian rohani seseorang. Ketika mengambil keputusan dalam kondisi batin seperti ini maka hancurlah semuanya.
Saat menjelaskan ayat ke-14 surat al-Muthaffifin4, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya, apabila seorang mukmin melakukan suatu dosa, maka akan muncul noktah hitam pada hatinya. Jika dia bertobat, berhenti dari dosa itu, dan memohon ampunan, maka akan dibersihkan noktah itu. Namun jika dia terus menambah dosa, maka noktah itu akan semakin bertambah hingga menutupi seluruh hatinya. Itulah ‘ran’ (karat) yang disebutkan Allah dalam ayat-Nya: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka’.”5
Ya, noktah atau karat yang muncul di kehidupan spiritual kita akan sepenuhnya menghalangi tercerminnya tajali (manifestasi) dari Allah dalam diri kita, sehingga…







Discussion about this post