• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Friday, July 24, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Spiritualitas Tanya Jawab

Tanya Jawab Edisi 50

Admin

by admin
19 hours ago
in Tanya Jawab
Reading Time: 3 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Hubungan Dosa dan Kehendak Manusia

 

Pertanyaan:

Apakah ketika melakukan dosa, manusia bertindak berdasarkan nafsunya, dan bukan kehendaknya? Bagaimana seharusnya sikap kita terhadap dosa?

 

RelatedArticles

Tanya Jawab Edisi 49

Tanya Jawab Edisi 48

Jawaban:

Sikap tak berdaya manusia di hadapan kehendaknya (iradat) harus ditinggalkan. Manusia harus menggunakan petunjuk Ilahi untuk melawan hawa nafsu. Segala sesuatu bersumber dari tuntunan Ilahi sesuai dengan rida-Nya atau merupakan pengaruh dari dorongan hawa nafsu manusia. Hawa nafsu berarti kegemaran, keinginan, kecenderungan terhadap hal-hal yang bersifat nafsani, serta kenikmatan syahwati atau sebutan lain bagi sikap tak disiplin, rasa tak peduli terhadap perintah dan larangan, serta kehidupan tanpa prinsip. Oleh karena dosa dilakukan sebab mengikuti hawa nafsu, maka setiap kali kata dosa disebut, yang terlintas seketika dalam pikiran kita adalah “hawa nafsu”. Leyla Hanım1 mengatakan: “Aku mengikuti hawa nafsuku dan telah melakukan banyak dosa. Dengan wajah apa daku ‘kan datang ke hadapan-Mu, ya Rasulullah!” Ya, jika dosa telah dilakukan, itu berarti ia dilakukan karena mengikuti hawa nafsu; yang berarti ia dilakukan karena mengikuti keinginan, hasrat, dan kemauan nafsu yang tidak terkendali, tidak dapat didisiplinkan, tidak menerima standar dan kriteria apa pun, sehingga terjatuh dalam dosa.

Ketika perkataan hanya didasarkan pada nafsu, kesesatan menjadi tak terelakkan, dosa pun tak terhindarkan. Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Apakah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya!”2, yang menunjukkan bahwa manusia yang menyimpang dari jalan kebenaran pada akhirnya akan mulai memandang hawa nafsunya sebagai sembahannya. Dalam sebuah hadis juga disebutkan, “Tiada sembahan di bawah langit yang lebih dibenci Allah daripada hawa nafsu yang diikuti.”3

Jika seseorang tidak teguh berdiri kukuh di tempatnya, yakni jika dia tidak terus bersujud dan rukuk di hadapan Allah I, tak bersikap seperti penjaga yang waspada untuk melindungi rahmat-rahmat Ilahi-Nya sembari berdoa, “Jangan sampai aku terlepas dari Rahmat-Nya!”, maka ia bisa patah dengan mudah dan kehidupan batinnya bisa rengat dengan cepat. Terkadang, manusia terjerumus ke dalam kesalahan sedemikian rupa hingga satu menit kelalaian dapat menguasainya, membangkitkan perasaan-perasaan buruk dalam nafsunya. Dan jika manusia tidak segera melepaskan diri dari atmosfer tersebut dengan satu gerakan atau langkah, maka dia akan terseret ke titik yang akan membuatnya tidak dapat kembali lagi. Oleh karenanya, ketika seorang hamba terjerumus ke dalam hawa nafsu semacam itu, dia harus segera berbalik kepada Allah I dan berkata, “Ya Allah, selamatkanlah aku!” sembari bertarung melawan nafsunya.

Terkadang sebuah inayat luar biasa datang menyelamatkan seseorang. Tepat ketika hendak melangkah ke arah keburukan, ia merasa seolah-olah ada yang menendang lututnya hingga ia berbalik, melepaskan diri dari keadaan buruk yang menjeratnya, menjauh dari zona bahaya. Namun, penyelamatan yang luar biasa semacam itu tidak selalu terjadi. Semoga Allah melindungi. Jika pandangan kita menyimpang ke arah yang salah, kesesatan itu akan berubah menjadi titik pertama dari sebuah lingkaran kerusakan. Ia dapat membawa kita ke lingkaran kedua, lingkaran ketiga, dan seterusnya. Seiring berjalannya waktu, bertambahlah jumlah dan kedalaman lingkaran-lingkaran itu. Hingga di satu titik, manusia mendapati dirinya berada di hadapan laut yang siap menenggelamkannya sepenuhnya, tak mampu berpegangan hingga tenggelam di antara dahsyatnya gelombang.

Ada nasihat yang berkata: “Tatkala nafsu menguasai dirimu, segera menjauhlah dari keadaan itu!” Ketika kalian menarik selimut ke atas kepala, ketika kalian sendirian di suatu tempat, atau ketika kalian tenggelam dalam kelalaian bersama seorang teman, segera hancurkan atmosfer itu dan menjauhlah dari sana. Pergi, menjauhlah sejauh-jauhnya dari atmosfer itu hingga kalian sampai di titik yang membuat kalian tidak akan mampu untuk kembali lagi.

Ada dosa yang mirip zat adiktif (narkoba). Sehingga ada unsur kecanduan yang ketika terbiasa, sangat sulit melepaskan diri dari kebiasaan buruk itu. Setelah sekali saja memulai, untuk berhenti meninggalkannya dibutuhkan tekad sepuluh kali lipat lebih kuat daripada menahan diri dari usaha yang pertama. Namun, ada pula dosa yang sementara, meski tetap saja dapat menenggelamkan manusia. Betapa banyak keputusan diambil dalam kondisi batin sesaat semacam ini hingga berujung pada kematian rohani seseorang. Ketika mengambil keputusan dalam kondisi batin seperti ini maka hancurlah semuanya.

Saat menjelaskan ayat ke-14 surat al-Muthaffifin4, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya, apabila seorang mukmin melakukan suatu dosa, maka akan muncul noktah hitam pada hatinya. Jika dia bertobat, berhenti dari dosa itu, dan memohon ampunan, maka akan dibersihkan noktah itu. Namun jika dia terus menambah dosa, maka noktah itu akan semakin bertambah hingga menutupi seluruh hatinya. Itulah ‘ran’ (karat) yang disebutkan Allah dalam ayat-Nya: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka’.”5

Ya, noktah atau karat yang muncul di kehidupan spiritual kita akan sepenuhnya menghalangi tercerminnya tajali (manifestasi) dari Allah dalam diri kita, sehingga…

 

 

Tags: majalah mata airmata air magazineVolume 13 Nomor 50
Previous Post

Benarkan Kita Bisa Multitasking?

Next Post

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 50)

admin

admin

Related Posts

Tanya Jawab Edisi 49
Tanya Jawab

Tanya Jawab Edisi 49

2 months ago
Tanya Jawab Edisi 48
Tanya Jawab

Tanya Jawab Edisi 48

10 months ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1406 shares
    Share 562 Tweet 352
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1073 shares
    Share 430 Tweet 268
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    1030 shares
    Share 412 Tweet 258
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    1002 shares
    Share 401 Tweet 250
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    919 shares
    Share 368 Tweet 230

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 50)

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 50)

July 23, 2026
Tanya Jawab Edisi 50

Tanya Jawab Edisi 50

July 23, 2026
Benarkan Kita Bisa Multitasking?

Benarkan Kita Bisa Multitasking?

July 23, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin