8.000 Langkah per Hari Membuat Dokter Menjauh Pergi
Sebuah studi terbaru yang dilakukan sejumlah peneliti tidak hanya menentukan jumlah langkah harian yang optimal untuk mendapat manfaat kesehatan, tetapi juga menggarisbawahi manfaat dari berjalan cepat. Data yang ada menunjukkan bahwa untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian dini, target jalan yang disarankan adalah sekitar 8.000 langkah per hari. Angka 8.000 ini kira-kira setara dengan berjalan 6,4 km/hari, jika mempertimbangkan panjang langkah rata-rata manusia (76 cm untuk pria dan 67 cm untuk wanita). Studi ini menekankan bahwa berjalan cepat lebih baik daripada berjalan lambat, terutama untuk mengurangi risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular, yang jika ingin mendapat manfaat optimalnya adalah sekitar 7.000 langkah. Studi komprehensif ini didasarkan pada tinjauan sistematis terhadap 12 penelitian internasional yang melibatkan lebih dari 110.000 partisipan, yang hasilnya tidak tampak perbedaan antara pria dan wanita. Studi ini juga menyoroti bahwa berjalan dengan kecepatan lebih tinggi sangat berkaitan dengan penurunan risiko kematian, terlepas dari jumlah total langkah harian yang ditempuh. Menariknya, metode yang digunakan untuk menghitung langkah—baik dengan jam tangan pintar, alat pelacak aktivitas di pergelangan tangan, maupun ponsel pintar—tidak memengaruhi target langkah yang direkomendasikan. Para peneliti bersikeras menegaskan bahwa meningkatkan jumlah langkah tidak akan pernah membuat kita rugi. Bahkan berjalan hingga 16.000 langkah per hari akan bisa memberi manfaat tambahan, meski perbedaan dalam penurunan risiko relatif lebih kecil. Peneliti juga mengingatkan agar jumlah langkah yang ideal sebaiknya disesuaikan pada usia, dengan target yang lebih tinggi bagi anak muda dibandingkan orang yang lebih tua. Pada akhirnya, studi ini bertujuan memberikan target langkah harian yang jelas dan mudah diukur, sebagai pelengkap dari rekomendasi aktivitas fisik internasional yang menganjurkan kita untuk melakukan 150-300 menit olahraga dengan intensitas sedang per minggunya. Kemudahan menghitung langkah—yang didukung dengan penggunaan ponsel pintar atau jam tangan pintar yang semakin meluas—membuat pendekatan ini lebih mudah dijangkau oleh banyak orang. Studi ini menunjukkan bahwa bahkan peningkatan kecil pada jumlah langkah harian akan dapat memberi manfaat kesehatan yang besar, sehingga mendorong orang-orang yang memiliki aktivitas fisik rendah dapat menetapkan tujuan yang sederhana, realistis, dapat digapai, dan dilakukan secara bertahap.
Stens NA et al. Relationship of Daily Step Counts to All-Cause Mortality and Cardiovascular Events. Journal of the American College of Cardiology, October 2023.
Mungkin Tikus juga Punya Imajinasi
Manusia dan hewan tampaknya memiliki kemampuan yang sama dalam hal berimajinasi dan berpikir melampaui lingkungan di sekitar mereka. Dalam sebuah temuan ilmiah terbaru, para peneliti menemukan bahwa tikus, mirip dengan manusia, memiliki kemampuan untuk membayangkan tempat dan benda yang tidak hadir secara fisik di depan mereka. Dengan memanfaatkan kombinasi unik antara teknologi realitas virtual (VR) dan mesin antarmuka otak (Brain-Machine Interface/BMI), para ilmuwan menemukan bahwa tikus dapat menghasilkan pola aktivitas saraf yang berkaitan dengan lokasi dan objek tertentu, bahkan ketika objek tersebut tidak benar-benar berada di hadapan mereka. Kemampuan untuk membayangkan tempat yang jauh ini penting guna mengingat peristiwa masa lalu dan membayangkan kemungkinan kejadian di masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa hewan, sebagaimana manusia, memiliki suatu bentuk imajinasi. Para peneliti mengembangkan sebuah “pendeteksi pikiran” secara real-time melalui BMI, yang membangun hubungan langsung antara aktivitas saraf dan sebuah arena realitas virtual 360 derajat. Kerangka kerja ini memungkinkan para peneliti untuk mengukur dan menafsirkan proses kognitif yang terjadi di dalam otak tikus secara lebih efektif. Selain menyoroti mental hewan, penelitian ini juga berpotensi mendorong kemajuan dalam bidang neuroprostesis yang berkembang pesat. Neuroprostesis mencakup pemanfaatan fungsi otak untuk mengoperasikan dan mengendalikan berbagai perangkat teknologi seperti anggota tubuh buatan, lengan robotik, atau implan pendengaran. Penelitian ini selanjutnya membuka peluang baru untuk mengeksplorasi kerumitan kognisi hewan serta kemungkinan penerapannya dalam pengembangan teknologi ilmu saraf mutakhir.
Lai et al. Volitional activation of remote place representations with a hippocampal brain–machine interface. Science, November 2023.
Sisa-Sisa Sebuah Planet Kuno Theia Terletak Jauh dalam Perut Bumi
Pada tahun 1980-an, para ahli geofisika membuat sebuah penemuan luar biasa yang berada jauh di dalam perut Bumi, yakni dua struktur raksasa sebesar benua yang terdiri dari material misterius yang terletak di bawah benua Afrika dan Samudera Pasifik. Struktur yang dikenal sebagai Large Low-Velocity Provinces (LLVPs), merupakan anomali besar —yang masing-masing berukuran sekitar dua kali ukuran Bulan—memiliki komposisi unsur yang berbeda dari mantel Bumi yang ada di sekitarnya. Sebuah studi terbaru mengajukan hipotesis menarik mengenai asal-usul formasi yang membingungkan ini. Para peneliti menyatakan bahwa LLVPs merupakan sisa-sisa dari sebuah planet purba yang bertabrakan dengan Bumi miliaran tahun lalu, bertepatan dengan tumbukan besar yang juga melahirkan Bulan. Penelitian ini juga menawarkan pemecahan bagi misteri lama dalam ilmu planet. Selama ini, pembentukan Bulan setelah tabrakan besar antara Bumi dan sebuah planet yang lebih kecil bernama Theia telah banyak diperkirakan. Namun begitu, bukti keberadaan Theia pada sabuk asteroid maupun dalam meteorit tidak pernah berhasil ditemukan. Studi baru ini menyatakan bahwa sebagian besar materi Theia terserap ke dalam Bumi muda yang kemudian membentuk LLVPs, sementara sisa-sisa puing dari tabrakan tersebut berkumpul dan membentuk Bulan. Simulasi menunjukkan bahwa tumbukan tersebut dapat menyebabkan terbentuknya LLVPs juga Bulan. Mantel atas Bumi menyerap sebagian besar energi dari tumbukan yang menyebabkan mantel bawah Bumi menjadi lebih dingin daripada yang sebelumnya diperkirakan. Akibatnya, material kaya besi dari Theia tetap bertahan dan mengendap di dekat dasar mantel. Temuan ini memiliki implikasi penting guna memahami bagaimana pembentukan awal Bumi, termasuk proses seperti pergerakan lempeng tektonik. Penelitian ini menunjukkan bahwa LLVPs memiliki asal-usul purba dan kemungkinan besar telah memengaruhi perkembangan awal planet ini, seperti awal mula terjadinya subduksi dan pembentukan benua-benua pertama.
Yuan et al. Moon-forming impactor as a source of Earth’s basal mantle anomalies. Nature. November, 2023







Discussion about this post