Saat ini, di era ketika aneka macam teknologi tersedia dalam genggaman tangan, sering kali kita berusaha untuk menjadi lebih efisien saat melakukan suatu pekerjaan atau saat berada di suatu tempat. Kita juga sering berpikir untuk memaksimalkan waktu luang dengan menikmati berbagai bentuk hiburan secara bersamaan. Oleh karenanya, kebanyakan dari kita pun melakukan multitasking, atau setidaknya mengklaim telah melakukannya demikian. Secara sederhana, multitasking atau multitugas adalah melakukan beberapa tugas atau pekerjaan secara bersamaan, seperti mendengarkan berita sembari membaca buku. Saat melakukan multitasking, kita sering merasa bangga, karena hal ini biasanya dianggap sebagai salah satu tanda kecerdasan tinggi. Oleh karena fenomena ini menjadi begitu populer, akhirnya muncul pertanyaan penting yang cukup menggelisahkan: apakah multitasking itu benar-benar mungkin untuk dilakukan?
Secara teknis, artikel ini menghindari pembahasan aspek-aspek yang terlalu ilmiah dalam topik neurologis yang kompleks, dengan tujuan agar dapat menjawab pertanyaan di atas dengan cara yang mudah dipahami oleh orang awam. Dengan pendekatan ini, istilah multitasking dalam artikel ini digunakan untuk merujuk pada pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan pikiran sadar. Berjalan sambil berbicara tidak dianggap sebagai multitasking karena berjalan tidak memerlukan pikiran sadar, melainkan dilakukan dengan “memori otot”. Definisi ini juga tidak mencakup aktivitas yang tidak terjadi secara bersamaan, dilakukan secara terpisah dalam rentang waktu tertentu seperti dalam satu hari, satu minggu, atau satu bulan. Oleh karenanya, membagi waktu dalam satu hari untuk berbagai aktivitas, misalnya satu jam untuk membaca, satu jam untuk menonton TV, satu jam untuk menulis, atau mengulang aktivitas-aktivitas tersebut di waktu yang berbeda di hari yang sama juga tidak dianggap sebagai multitasking.
Kembali ke pertanyaan utama kita: apakah multitasking itu benar-benar mungkin untuk dilakukan? Dengan kata lain, dapatkah kita dengan mudah menangani banyak pekerjaan dan berpindah di antara tugas-tugas tersebut tanpa mengorbankan waktu dan ketepatan yang dibutuhkan?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu terlebih dahulu memahami kontrol eksekutif otak terhadap proses kognitif. Kontrol eksekutif otak ini dapat dianalogikan sebagai menara pengendali yang mengatur berbagai operasi kognitif otak saat menyelesaikan sebuah pekerjaan. Moralis dan Dinan (2022) menyebutkan bahwa proses ini mencakup namun tidak terbatas pada perencanaan, pemantauan diri, akses ke memori kerja, manajemen waktu, dan pengorganisasian.2 Dalam penelitiannya, Rubinstein, Meyer, dan Evans (2001) mengusulkan sebuah model teoretis yang membagi proses-proses kontrol ini menjadi dua tahap utama dalam pergantian tugas: (1) pergeseran tujuan (goal shifting) dan (2) aktivasi aturan (rule activation)4. Mereka mendefinisikan ‘pergeseran tujuan’ sebagai tahap yang melacak tugas-tugas individu dan memberi tahu komponen lain dalam sistem tentang tugas apa yang sedang dilakukan. Dengan kata lain, ini adalah….







Discussion about this post