Sejak masa Ibnu Sina dengan bukunya Qanun fi al-Thibb yang menginspirasi banyak ilmuwan kedokteran, kini dunia kesehatan dan kedokteran telah mengalami perkembangan pesat yang memunculkan kemudahan dan ketepatan dalam analisis serta tindakan bagi segala permasalahan yang ada di bidang kesehatan. Lihatlah bagaimana seseorang yang memiliki penyakit flu kini dengan sangat mudah dapat disembuhkan hanya dengan beberapa obat dengan dosis tertentu, padahal 100 tahun yang lalu saat wabah flu melanda dunia, penyakit tersebut pernah sangat menyeramkan dan mematikan. Ingat juga saat penyakit Polio mewabah di Amerika tahun 1954, hingga puluhan ribu anak mengalami cacat permanen. Kini, hal itu dapat dengan mudah dicegah dengan vaksin. Begitu pula pandemi Covid-19 yang baru saja kita lalui, akhirnya dapat cepat diatasi berkat kecanggihan perkembangan teknologi kesehatan.
Jika kita renungi, kemudahan-kemudahan yang kita dapatkan sekarang tidak lepas dari janji Allah ﷻ
dalam surat Ali Imran ayat ke-190.1 Dengan anugerah kemampuan berpikir yang diberikan-Nya, manusia berakal dapat membaca dan menafsirkan apa yang telah disiratkan-Nya. Dalam dunia kesehatan, obat-obatan yang saat ini dikonsumsi manusia telah melalui serangkaian uji, pra-klinis maupun klinis. Di sinilah Allah ﷻ menunjukkan kemahakuasaan-Nya dengan memberikan keistimewaan fitur-fitur yang dimiliki organisme tertentu, yang dengannya manusia dapat dengan mudah melakukan pengujian dengan risiko seminimal mungkin.
Seiring berkembangnya kemampuan manusia dalam mengembangkan obat, metode pengujian obat tersebut pun semakin berkembang. Sejak dahulu, hewan telah banyak digunakan sebagai model untuk mempelajari anatomi dan penyakit. Pada masa sebelum masehi, Aristoteles (384-322 SM) dan Erastitus (304-258 SM) telah melakukan eksperimen pada hewan untuk memahami fisiologi. Pada masa Abad Pertengahan, Avicenna (Ibnu Sina) menggunakan hewan untuk ….







Discussion about this post