Dalam istilah tasawuf, kata jadzbah dapat dinyatakan dengan kata-kata menarik, menawan, memikat, memautkan sesuatu pada diri, tidak sadarkan diri, dan antusias jiwa. Allah membuat seorang salik mendekat pada-Nya, kondisi wajd1 yang muncul dari hal ini, berperilaku dan berperangainya seorang salik dengan sifat-sifat Ilahi (atau yang bisa kita sebut dengan akhlak mulia Al-Qur’an) dengan cara meluluhkan diri dari sifat-sifat manusiawi, serta merasakan atau menyaksikan tajali (penampakan manifestasi) dan wahdah (kesatuan) sehingga orang yang mendapat pantulan manifestasi ini menjadi sebentuk jiwa yang jernih dan terampil, membuat dirinya ikut hanyut pada pasang-surutnya gelombang yang datang dari alam baka, persis seperti seorang perenang andal yang telah bersenyawa dengan gerakan renangnya, tiada kekhawatiran, tiada ketakutan, tiada terburu-buru dan dengan sebuah rasa penyerahan diri mendalam, ia senantiasa berenang dan berhenti dalam rasa keinginan yang teramat dalam dan suka cita.
Ketika Jadzbah berarti sebuah tarikan dari kekuatan suci sentripetal2 yang terhubung dengan esensi jiwa manusia menuju tujuan penciptaan dan menuju cakrawala yang ditunjukkan oleh jarum penunjuk jati dirinya, dan sesuatu yang memikat, adapun injidzab berarti menyerunya jiwa yang datang pada panggilan ini tanpa ada paksaan dengan ucapan: “Aku datang dengan suka hati dan …







Discussion about this post