• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Friday, April 24, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Budaya Filsafat

Tanya Jawab Edisi 25

M. Fethullah Gulen

by M. Fethullah Gulen
6 years ago
in Filsafat
Reading Time: 10 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Ada yang menganggap bahwa ketika manusia tak mampu menerangkan dan menafsirkan sejumlah fenomena alam, ia menciptakan konsep agama. Lalu, apakah kemajuan peradaban menghapus kebutuhan manusia akan agama?

Para musuh agama menganggap bahwa konsep agama dibuat oleh manusia sebagai hasil dari ketidakmampuan dan ketidakberdayaannya. Kesimpulan pernyataan mereka adalah sebagai berikut: Sejumlah peristiwa alam tidak kita ketahui hakikatnya dan tidak mampu kita jelaskan dengan berbagai hukum fisika atau kimia. Maka untuk memecahkan kerumitan itu, sebagaimana dilakukan pada masa dahulu, manusia menisbahkan berbagai kejadian itu kepada Sang Pencipta. Ia juga menisbahkan kesucian kepada sejumlah hewan yang memberikan manfaat kepadanya. Selanjutnya, hal ini berkembang hingga akhirnya mereka melekatkan sifat Tuhan pada hewan tersebut. Sungai Gangga dianggap suci oleh bangsa India, sungai Nil dianggap suci oleh bangsa Mesir, serta kaum Hindu yangmemuliakan sapi, semua itu mengacu kepada kemanfaatannya bagi manusia. Sikap manusia terhadap rasa takut juga tidak berbeda. Rasa takut yang besar terhadap sesuatu mendorong manusia untuk mengultuskannya agar ia merasa aman dari sesuatu itu. Pada beberapa agama terdapat dua Tuhan: Tuhan kebaikan dan Tuhan keburukan. Dengan kata lain, rasa cinta dan rasa takut terbagi di antara dua Tuhan tersebut. Bagi mereka konsep neraka dan surga pun bersumber dari prinsip itu. Agama dijadikan pelarian dan hiburan bagi kaum borjuis, rekaan para tokoh agama, candu yang membius masyarakat, dan seterusnya.

Demikianlah anggapan dan penyataan mereka. Lalu, apakah benar agama adalah rekaan yang dibuat untuk menerangkan berbagai persoalan rumit atau untuk menjadi pelarian dan hiburan, seperti yang mereka katakan? Tentu saja tidak sama sekali. Al-dîn (agama) adalah kosakata Arab yang mengandung sejumlah makna, antara lain ketaatan, balasan, atau jalan. Secara definisi, agama berarti jalan yang di dalamnya ada ketaatan kepada Allah serta balasan bagi yang taat dan hukuman bagi yang membangkang. Adapun dari sudut pandang syariat, aldîn (agama) adalah ketetapan Tuhan yang mengantar kaum yang berakal lewat pilihan mereka yang terpuji menuju kebaikan. [1]. Agama memberi kehendak apa yang menjadi haknya tanpa melumpuhkannya. Jalan yang diarahkan agama adalah jalan menuju kebaikan mutlak, bukan kebaikan menurut si polan atau siapapun, melainkan kebaikan hakiki itu sendiri. Agama memberikan arahan tersebut pertama-tama dari sisi akidah. Dengan akalnya, manusia bisa sampai kepada eksistensi Sang Pencipta alam. Namun, iman yang benar dan dalam tingkat yakin muncul setelah ia mendengar suara kenabian menggema. Suara itu memantul pada nuraninya yang tercipta dalam kondisi siap merespon panggilan yang menyebut Allah. Selanjutnya, ketika Nabi Muhammad shalallâhu ‘alaihi wasallam datang, Beliau datang dilengkapi dengan berbagai dalil yang membuktikan bahwa dirinya adalah utusan Allah Subhânahu wa ta’âla. Ketika Nabi shalallâhu ‘alaihi wasallam telah diutus bersama dengan kitab suci yang tetap akan menjadi mukjizat hingga Hari Kiamat (di samping mukjizat-mukjizat lainnya), maka apakah sesudah semua ini masih ada celah untuk meragukannya? Ketika itu manusia menjadi tahu bagaimana cara beriman kepada akhirat, takdir, dan perkara lain yang harus diimani sesuai dengan penjelasan dan keterangan dari Rasulullah tentang hal-hal yang sebelumnya masih samar dari segala perkara yang harus diimani itu.

Ibadah menjaga keimanan ini agar tetap cemerlang dalam hati hingga tidak pudar, tak lenyap, dan tidak lapuk. Iman tanpa ibadah akan kehilangan cahaya, kemilau, kerinduan, dan kecintaannya hingga seseorang hanya bisa berbangga dengan para tokoh pendahulu mereka yang telah dikubur di bawah tanah. Ia hanya menyebut-nyebut sejarah hidup mereka sebagai sosok besar dan ulama saleh. Tentu saja menyebut kebaikan mereka adalah sesuatu yang baik, terutama saat sekarang ini ketika banyak celaan ditujukan kepada para pendahulu kita. Namun, itu tidak cukup dan tidak menjamin keimanan akan konsisten dan tetap. Salat lima waktu yang di dalamnya kita berusaha untuk berdiri di hadapan Allah akan memperbarui iman serta menguatkan ikatan kita dengan Allah Subhânahu wa ta’âla. Namun, dengan syarat bahwa ketika membaca ayat-ayat Al- Qur’an dan tasbih di setiap rukun salat, kita meresapi dan menghayatinya. Apabila salat kita jatuh nilainya menjadi rutinitas dan kebiasaan belaka, maka salat kita telah kehilangan ruhnya, tidak akan bermakna. Salat seperti itu tak lain sekadar menggugurkan kewajiban tanpa mendapatkan limpahan karunia di dalamnya. Karena itu, ketika seorang ulama suatu saat dalam sujudnya sampai pada kondisi merasakan nikmatnya salat, beliau berkata, “Andai saja aku bisa salat seperti salat itu lagi.” Ia menambahkan, “Salat Para Sahabat seluruhnya seperti itu.” Setiap rukunnya membawakan kepada mereka risalah baru dari Allah Subhânahu wa ta’âla.

RelatedArticles

Topeng Baru Ateisme

Fenomena Kajian Relasi Teknologi dan Agama

Rasa hambar dan perasaan biasa-biasa saja tidak terdapat dalam salat mereka. Ibadah mereka lainnya juga terwujud dalam kondisi spiritual yang sama. Karena itu, setiap orang yang berhaji, menunaikan zakat, berpuasa, atau melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar haruslah menyerap kekuatan rohani yang mendorong, menggerakkan, dan menguatkan imannya. Sisi lain agama adalah muamalah. Aktivitas ekonomi seorang mukmin harus ditata sesuai rida Allah. Dengan kata lain, Al-Qur’an dan sunah harus menjadi ukuran dalam menetapkan prinsip dan landasan bisnisnya. Hal ini akan menjadi kekuatan yang menunjang keimanan, karena komitmen terhadap prinsip ini terwujud dengan mengendalikan nafsu dan segala kecenderungannya, serta dengan tunduk kepada kehendak dan semua perintah Allah. Misalnya ketika seorang mukmin ingin menjual dagangannya, ia harus menjelaskan cacat yang terdapat pada dagangannya. Walaupun ia menyadari bahwa jika cacat itu disebutkan, labanya akan berkurang dan mungkin merugi. Meskipun demikian, hatinya tetap merasa lapang karena telah taat kepada Allah. Ketika ia berdiri di hadapan Allah dalam salatnya, kelapangan hati yang dirasakannya itu akan menjadi faktor positif meraih limpahan karunia spiritual dalam salatnya. Demikianlah imannya akan terus diperbarui dan semakin bersinar. Itulah sarana yang mengantarkan kita menuju rida-Nya.

Allah memerintahkan kita untuk mencari sarana guna sampai kepada-Nya. Rasulullah menegaskan pentingnya hal tersebut ketika bercerita tentang tiga orang
yang terkurung di dalam gua. Mereka menyebutkan amal saleh mereka sebagai sarana untuk bisa keluar dari gua. Di antara mereka ada yang berbakti kepada kedua orangtua, ada yang menjaga kehormatan diri dalam keadaan sulit sekalipun, serta ada yang memelihara hak dengan sekuat tenaga. Mereka bermunajat kepada Allah agar menerima amal saleh mereka itu sebagai sarana untuk bisa keluar. Ternyata Allah memang menyelamatkan mereka. Batu besar yang menutup mulut gua sedikit demi sedikit bergeser hingga akhirnya mereka keluar dengan selamat. 2 Bagi seorang muslim, sangatlah penting meneladani akhlak Rasulullah sekuat tenaga serta mengikuti sikap dan perilaku beliau dalam segala hal, baik dalam hal makan, minum, bangun, duduk, maupun tidur. Apabila Allah telah mengharamkan riba, kita harus menjauhinya walau mereka memberi kita laba seribu kali lipat. Kita harus melakukan hal yang sama terhadap semua dosa, baik kecil maupun besar, karena pada Hari Kiamat dosa akan kembali pada kita sebagai api yang menyalanyala. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa agama bersifat menyeluruh dan sempurna, tidak parsial dan tidak terpisah-pisah. Dengan kata lain, apa yang terpisahpisah bukanlah agama. Agama tak ubahnya sebuah pohon besar. Akidah adalah akarnya, ibadah adalah ranting dan dahannya, muamalah adalah bunganya, hukuman adalah penjaganya, wirid dan zikir adalah makanannya, baik yang masuk dari bawah maupun dari atas. Agama yang sempurna ini berasal dari Allah Subhânahu wa ta’âla dan disampaikan oleh Rasulullah shalallâhu ‘alaihi wasallam.

Naluri setiap manusia mungkin mengarah kepada Tuhan untuk menerima ruh agama secara langsung dari-Nya tanpa perantara. Namun, karena ruh kebanyakan orang tidak bisa sampai pada tingkat kesucian yang seharusnya, Allah memilih di antara hamba-hambanya sejumlah nabi: “Allah memilih para utusan dari kalangan malaikat maupun dari kalangan manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.” [3]. Allah memberikan tugas risalah kepada para hamba-Nya yang Dia kehendaki, baik dari kalangan malaikat maupun manusia. Di antara para malaikat, yang jumlahnya hanya diketahui oleh Allah saja, serta berada dalam kondisi rukuk, sujud, dan bertasbih sejak diciptakan, Dia memilih Malaikat Jibril untuk menyampaikan risalah-Nya kepada Rasulullah Selama 23 tahun, Malaikat Jibril ‘Alaihi salam melaksanakan tugas menyampaikan wahyu kepada Rasul. Beliau pun memerhatikan Jibril dengan segenap raganya disertai penghormatan yang penuh. Sepanjang tahun-tahun tersebut, terjalin persahabatan hangat antara Rasulullah dan Malaikat Jibril. Ketika Jibril ‘Alaihi salam mengunjungi beliau untuk terakhir kalinya, Rasul pun menangis. Allah telah memilih mereka untuk menyampaikan risalah-Nya. Pemilihan nabi-nabi lain juga berlangsung sama, yakni memilih manusia-manusia terbaik dan yang paling siap menyampaikan risalah. Mereka semua bagaikan emas murni. Sebagaimana Rasul shalallâhu ‘alaihi wasallam adalah pilihan, Para Sahabat yang belajar pada Beliau pun orang-orang pilihan. Lewat rantai emas inilah, agama ini sampai kepada kita. Sebagaimana Rasul menghadapi gangguan ketika berdakwah, para nabi lain juga menghadapi penganiayaan dan gangguan. Mereka harus menghadapi segala macam kesulitan. Mereka tidak berdakwah untuk mendapatkan keuntungan duniawi. Bahkan, sekiranya Rasul meninggalkan dakwahnya, tentu Beliau sudah menjadi orang kaya, mendapatkan berbagai kenikmatan dunia yang diinginkan manusia, menikah dengan wanita tercantik, serta menjadi raja Makkah. Namun, apalah nilai semua ini jika dibandingkan dengan kenabian? Beliau telah dinaikkan ke langit. Bintang-gemintang bertebaran seperti butiran pasir di bawah kakinya saat Beliau dinaikkanmenuju Allah. Setelah di sana, Beliau menyaksikan berbagai keindahan yang tak pernah disaksikan satu pun manusia sebelumnya, serta tidak akan pernah disaksikan oleh siapa pun, namun Beliau memilih kembali kepada umatnya guna meninggikan dan memuliakan derajat mereka. Manusia manakah yang rela meninggalkan tempat-tempat itu sesudah ia menyaksikan langsung segala keindahan dan merasakan kedekatan dengan- Nya? Ya, Beliau tetap kembali.

Kemana? Ke dunia, tempat orang-orang telah menebar duri di sepanjang jalannya, melemparkan kotoran kepadanya, serta melemparinya dengan batu hingga kedua kaki Beliau berlumuran darah… Ke kota tempat Beliau mendapatkan penghinaan keji. Jadi, tidak ada kepentingan pribadi atau rasa takut saat menghadapi berbagai penderitaan dalam berdakwah dan menyampaikan risalah. Manusia yang hatinya tidak tertawan oleh pemandangan surga dan justru memilih kembali kepada umatnya, tidak mungkin seorang oportunis. Allah Subhânahu wa ta’âla tidak butuh apa-apa. Dia tidak membutuhkan ibadah kita. Sebaliknya, kitalah yang butuh beribadah kepada-Nya. Agar manusia yang Dia pilih untuk menjadi khalifah- Nya di muka bumi di antara sekian banyak makhluk lain dapat hidup dengan seimbang dan nyaman, Dia memerintahkan untuk hidup dengan cara yang digariskan Al-Qur’an. Dengan kata lain, Dia menganugerahkan dan mempersembahkan pada kita sebuah pedoman hidup yang terang bernama agama karena ketidakmampuan kita dalam mengatur diri kita secara benar. Agar kita tidak tersesat di jalan yang menyimpang dan keliru, Dia memerintahkan kita untuk menata diri kita sesuai dengan ajaran dan ukuran yang Dia tetapkan sehingga kita bisa mempergunakan seluruh potensi diri kita untuk naik ke atas. Ya… Kita membutuhkan agama. Seandainya manusia mampu mengetahui kebutuhan hakikinya dan menyadari bahwa ia diciptakan tidak lain untuk mendapatkan kebahagiaan abadi, serta seandainya ia mampu mempergunakan dan mengembangkan seluruh anugerah dan potensinya, tentu ia akan berdoa semacam ini meski dengan bahasa berbeda-beda: “Wahai Tuhan, kirimkanlah kepada kami sebuah sistem dari-Mu agar kami bisa mengatur diri kami serta menjaga diri kami dari kekeliruan dan jalan yang salah.

Selamatkanlah kami agar tidak tersesat di antara sekian jalan terjal dan berkelok yang buntu.” Bahkan, para tokoh filosof dan para intelektual meniti jalan dengan terhuyung-huyung dan tidak pernah mampu mencapai hakikat. Adapun orang awam di antara kita yang mengikuti jejak Rasulullah melangkahkan kakinya tidak dalam kehampaan, tetapi ia hidup dalam setiap fase kehidupannya sebagai manusia yang mengenal dirinya dan mengetahui hak-hak orang lain. Itu karena ia mencari rida Allah dan meneladani Rasulullah yang merupakan teladan utama dari-Nya. Karena itu, ia mempergunakan setiap detik umurnya sebagai benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Agama bukanlah ciptaan akal manusia sebagai respon atas segala tuntutannya. Tampilan agama yang tampak bersumber dari keberadaannya sebagai sebuah sistem fitri yang sesuai dengan tabiat manusia dan sebagai perasaan yang tertanam dalam fitrah manusia sejak awal. Manusia diciptakan dengan tabiat membutuhkan agama. Hanya dengan agama, manusia mampu menjangkau hakikat dan kebenaran dalam akidah dan muamalah. Hanya dengan agama, manusia menjadi layak masuk surga. Dalam wadah agama, sedikit demi sedikit manusia menjadi matang hingga akhirnya ia dikenali, dituntun, dan dimasukkan oleh Rasul ke dalam barisan umatnya di bawah panji kemuliaan pada Hari Kiamat nanti. Ketika ditanya bagaimana Beliau akan mengenali umatnya pada Hari Kebangkitan yang agung, Rasul shalallâhu ‘alaihi wasallam menjawab, “Aku pasti mengenali setiap orang dari umatku pada Hari Kiamat.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana Engkau mengenali mereka, wahai Rasulullah, di tengah-tengah makhluk yang demikian banyak?” Beliau menjawab, “Bagaimana pendapat kalian jika seseorang memiliki kuda putih yang berada di antara sekian banyak kuda hitam, tidakkah Ia akan mengenalinya?” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau melanjutkan, “Mereka akan datang pada Hari Kiamat dalam keadaan putih ceria karena bekas wudu.” 4 Maka kita perlu dikenali dengan cara demikian. Kita membutuhkan agama dan aroma wanginya yang mengembuskan kehidupan.

Agama datang dengan membawa sendi-sendi positif yang mengatur kehidupan secara sempurna. Pandangan yang melihat agama sebagai sesuatu yang cacat adalah pandangan sempit. Orang-orang yang berusaha memisahkan agama dari kehidupan dan meletakkannya di atas rak, suatu saat akan menyadari kejahatan historis yang mereka lakukan dan akan menyesal. Kesalahan dan kejahatan semacam ini terjadi di banyak negara, baik di Timur maupun Barat, dan telah diakui. Agama adalah ruh kehidupan dan tidak seorang pun bisa menyangkalnya. Agama memiliki pokok dan cabang. Pokokpokok agama tidak tersentuh oleh perubahan apa pun. Tidak ada perbedaan antara agama kita dan agama Adam ‘alaihi salam dalam hal pokok dan prinsip utamanya, karena prinsip-prinsip akidah sama pada seluruh agama samawi. Pokok-pokok agama yang sama juga berlaku bagi malaikat. Artinya, seluruh malaikat mengimani apa yang kita imani. Mereka beriman kepada Allah, malaikat, kitab suci, rasul, takdir, dan kebangkitan setelah kematian. Perbedaan hanya pada tingkat dan derajat keimanan. Hal yang sama juga berlaku dalam hal ibadah. Tidak satu pun agama samawi yang benar datang tanpa mewajibkan para pengikutnya untuk melaksanakan ibadah. Cara melaksanakannya bisa jadi berbeda sesuai dengan kondisi masyarakat dan zamannya, karena Allah menetapkan untuk setiap umat bentuk ibadah yang sesuai dengan tabiat, kondisi, dan zamannya. Ya. Bentuk ibadah bisa berbeda, namun keberadaan ibadah sebagai pokok yang permanen tidak akan berubah. Kita ambil keyakinan akan akhirat sebagai contoh. Ternyata keyakinan ini terdapat dalam seluruh agama samawi. Akhirat adalah salah satu perkara penting dijelaskan setiap nabi kepada umatnya secara rinci atau secara garis besar saja.

Seandainya keyakinan yang mendorong manusia kepada kebaikan dan mencegahnya dari keburukan ini tidak ada, tentu lenyaplah ciri agama yang membedakannya dari sistem ekonomi atau sistem sosial. Seandainya tidak ada iman kepada akhirat, tentu ibadah, penderitaan yang dihadapi manusia di jalan Allah, pengorbanan yang dipersembahkannya, serta akidah yang diyakininya menjadi tidak bermanfaat. Ia pun akan membuang sejumlah kebaikan yang melekat pada dirinya. Jadi, iman kepada akhiratlah yang mendorong kita untuk konsisten melakukan kebaikan, sebab kita yakin bahwa jika kita melakukan kebaikan atau keburukan meskipun seberat biji atom, pasti kita akan melihat balasannya di sana. Selanjutnya, dengan segala kesabaran, kita pun menanti saat-saat ketika kita bisa melihat indahnya Tuhan. Kesempatan melihat Tuhan tidaklah tergantikan, bahkan oleh seluruh kehidupan surga sekalipun. Mendambakan karunia agung itu dengan kerinduan yang membara dalam diri kita, ruh kita menjadi bersinar sekaligus mendorong kita untuk meniti jalan lurus yang mengantar kita menuju pertemuan tersebut. Dengan perintah Allah, para nabi menghapus sejumlah syariat terdahulu terkait dengan hal-hal cabang sekaligus membatalkan hukumhukumnya. Begitulah sunatullah berlaku. Hal ini terkait dengan tingkat majunya kesadaran dan kematangan manusia. Umat manusia pada masa Adam ‘alaihi salam ibarat hidup dalam periode kanak-kanak, sedangkan Nabi shalallâhu ‘alaihi wasallam laksana mentari zaman. Artinya, umat manusia pada masa Beliau telah mencapai periode matang dan sempurna. Kebenaran mulai terpisah dari kebatilan secara jelas. Karena itu,mereka berpegang teguh pada kebenaran yang datang meskipun sebelumnya berpegang kuat pada kebatilan. Dengan segala hikmah-Nya yang luas, Allah membuat cabang-cabang agama sesuai dengan periode zaman. Karena itu, kita melihat ratusan kemaslahatan dan hikmah dalam berbagai bentuk ibadah agama ini. Bentuk ibadah agama ini sesuai dengan masyarakat yang telah matang dan sadar, sementara agama-agama lain telah mengalami penyimpangan dan perubahan serta telah kehilangan identitas awalnya. Kalaupun mereka memelihara keasliannya, agama-agama itu tentu tidak sesuai dengan masa sekarang, sebab Allah Subhânahu wa ta’âla telah menetapkan Islam sebagai agama yang diridai-Nya.

Kesimpulannya, agama sama sekali bukan hasil dari ketakutan manusia terhadap bencana alam, seperti banjir dan petir. Agama juga bukan sistem sosial atau ekonomi yang bertujuan menyelesaikan berbagai problem sosial dan ekonomi yang dialami manusia guna mengantarkannya kepada kesejahteraan dan kebahagiaan. Agama pun bukan untuk membedakan tabiat manusia seperti anggapan Renan dan Rosseau. Namun, agama adalah sejumlah hukum Ilahi yang menjamin kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Kebahagiaan dan ketenteraman kita terkait dengan agama. Dengan agama, kita akan selalu terikat dengan hukum. Dengannya pula, kita bisa sampai ke surga dan melihat indahnya Allah Subhânahu wa ta’âla. Betapapun majunya, peradaban tidak mampu menjamin kebahagiaan di dunia sekalipun. Jadi, bagaimana mungkin peradaban dapat menggantikan posisi agama?

Referensi :
1. Al-Ta‘ârîf, h. 344.
2. H.R. Bukhari dan Muslim.
3. Q.S. al-Hajj: 75.
4. H.R. Bukhari, Muslim, dan Ahmad.

Tags: Volume 7 Nomor 25
Previous Post

Seekor Burung Pencari Hakikat

Next Post

Mengukir Aksara, Merengkuh Kalbu

M. Fethullah Gulen

M. Fethullah Gulen

Related Posts

Topeng Baru Ateisme
Filsafat

Topeng Baru Ateisme

1 year ago
Fenomena Kajian Relasi Teknologi dan Agama
Filsafat

Fenomena Kajian Relasi Teknologi dan Agama

4 years ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1387 shares
    Share 555 Tweet 347
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1067 shares
    Share 427 Tweet 267
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    1006 shares
    Share 402 Tweet 252
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    993 shares
    Share 398 Tweet 248
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    902 shares
    Share 361 Tweet 226

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

March 3, 2026
Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

March 3, 2026
Sahabat Sejati

Sahabat Sejati

March 3, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin