Qabdh dan basth, yang masuk ke dalam orbit kehidupan berbagai manusia dalam aneka dimensi yang memengaruhinya, pasti akan bersinggungan dengan hampir setiap individu, yang berkesadaran dengan apa yang dialami dan yang menjalani hidupnya dengan penuh perenungan nurani.
Qabdh berarti tertahan, tertangkap, berada dalam genggaman, keadaan seakan jiwanya hampir tercerabut; atau terputusnya limpahan keberkahan rohani manusia dan pada kekosongan esensinya, merenggangnya hubungan manusia dengan sumber anugerah abadi yang seharusnya dijaga erat, serta terjatuhnya manusia dalam kehampaan meski hanya sebagian saja. Sebaliknya, basth berarti kondisi menyebar, membuka, menampakkan, pencapaian jiwa dalam mereguk derajat yang luang-lapang. Atau bisa pula dimaknai sebagai melejitnya manusia ke titik menjadi wasilah bagi dilimpahkannya rahmat bagi entitas hingga menggapai derajat sanggup merangkul segala sesuatu, kalbu menjadi lapang kala bergembira, serta terangkatnya akal ke tingkatan mampu untuk memecahkan segala persoalan yang paling rumit sekalipun.
Jika khauf dan raja’ (takut dan harap) merupakan sikap ikhtiari, yang bagi para salik di jalan kebenaran menjadi persinggahan pertama dan titik awal, maka qabdh dan basth adalah sebuah transaksi rahasia di batas akhir perjalanan rohani —di luar sebagian sebab ikhtiari manusia— yang terkadang menghentikan langkah sang peniti jalan hakikat atau justru yang mengangkat dan memberinya sayap untuk melesat.
Jika khauf dan raja’, berkaitan dengan masa depan, berarti kekhawatiran terhadap hal-hal yang dibenci dan kegembiraan penuh harap terhadap yang dicintai, maka qabdh dan basth...







Discussion about this post