Kita telah mengakhiri pembahasan tentang wajd1 dan tawajud2 dengan hayrah dan hayman. Kita tidak akan membahas tentang hayrah karena sudah pernah dibahas di pembahasan sebelumnya. Meski begitu, kita akan sedikit membahas tentang dahsyah yang merupakan bentuk lain darinya, juga hayman yang meski bukan sebuah maqam, tetapi ia dianggap sebagai sebuah “tempat pemberhentian” bagi seorang salik3 dalam beberapa hal atau kondisi.
Dahsyah, yang berarti ketakutan atau khauf yang dirasakan karena mengalami kejadian atau melihat pemandangan yang menakutkan dan menggentarkan, diartikan sebagai tercenungnya seorang peniti jalan kebenaran di tengah-tengah perjalanan rohaninya dan di hadapan tajali keindahan Sang Mahbub. Meski tidak terdapat nash sharih4 dalam Al-Qur’an maupun Sunah tentang dahsyah, tetapi kita dapat menghubungkan makna yang tengah kita bahas ini dengan ayat: فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُن “Ketika perempuan–perempuan itu melihatnya, mereka terpesona oleh (keelokan paras)-nya dan tanpa sadar melukai tangannya sendiri.”5
Mereka juga mengartikan dahsyah sebagai sebuah kondisi terpaku saat berhadap-hadapan dengan peristiwa apa pun yang tidak dapat dinalar akal manusia, tidak dapat dihadapi dan bersabar atasnya, serta tidak dapat dipahami dengan ilmu dan pemahamannya. Kita juga bisa menamai hal sebagai kemenangan “syuhud” atas akal, pemaksaan mahabah atas batas-batas kesabaran, dan kondisi perubahan talwin6 pada “hal” yang melampaui pemahaman manusia. Saya berpendapat bahwa pendekatan semacam ini berkenaan dengan topik ini sangat lah tepat:
Dalam kondisi ketika “hal” menekan ilmu dan kesadaran salik, wajd melampaui batas kemampuannya, kasyf mengungguli himmah-nya, maka seorang salik akan sering kali merasakan dahsyah. Hal-hal di bawah ini mungkin bisa menjadi contoh bagi penjelasan tersebut: didobraknya hudu’ dan khusyuk dengan gelora yang melampaui iradat manusia. Saat Al-Qur’an dibacakan, ketika salat didirikan, tentunya dengan memenuhi dasar-dasar hudu’ dan khusyuk; masuknya wajd dan mawajid yang berlebih pada diri seorang salik dari berguncangnya kuantitas tamkin dan muwazanah ke dalam aritmia7 rohani kalbu; serta terjatuhnya seorang pencari Sang Haqq ke dalam ketergesa-gesaan di setiap saat karena meminta kepatuhan dan kesetiaan dengan daya tarik syuhud itu sendiri… adalah beberapa kekhususan yang dapat menjadi contohnya.
Ketika “azal” seorang salik melewati cakrawala zamannya, jiwanya mencapai titik musyahadah dengan musyahadah Sang Haqq, dengan segala sisinya merengkuh talwin “al-jam”, serta gambaran dan potret yang ada di cakrawala pemikirannya akan terhapus dari saksi perasaan dan hal-nya. Dalam sebuah Hadis Qudsi, maqam ini diisyaratkan dengan: فَبيَ يَسْمَعُ وَبيَ يُبْصِرُ “Dengan–Ku dia mendengar, dan dengan–Ku dia melihat,”8 hingga seorang peniti jalan kebenaran akan menemukan dirinya berada di dalam gelombang dahsyah.
Ketika seorang salik dan muhib tercenung atas limpahan Waridah Subhaniyah lereng-lereng kalbu dan Lathifah Ilahiyah dengan cara yang tak terduga-duga, atau ketika segala penjurunya terliputi oleh pendar kedekatan, atau ketika yang tersembunyi menjadi jelas dan cakrawala ihsan muncul dalam arti paripurna, maka dahsyah akan merengkuh keegoannya secara keseluruhan, dan dia pun akan melepaskan dirinya secara sepenuhnya kepada luasnya ghaibubah (kegaiban) serta berserah diri pada pemikiran dahsyah. Puisi berikut ini merupakan salah satu ungkapan indah dan lugas yang diungkap perihal maqam ini:
Aku tak tahu ternyata begitu diriku
Apakah dia aku, ataukah aku ini dia?
Inilah napas para perindu
Semakin kuterbakar, semakin kuberkobar.
Berikan air padaku!
– Gedai –
Perasaan dan firasat yang berkaitan dengan yang ada di jalan ini terkadang bisa menjadi wasilah bagi…







Discussion about this post