Rumah itu berbentuk kotak memanjang ke belakang. Tidak kecil, tidak pula besar. Cenderung sederhana dan tak ada kesan megah-megahnya. Bahkan bisa dibilang hampir tidak ada jendelanya. Lantas dari mana kami mendapat penganginan? Ya dari lubang-lubang kecil di sela-sela kayu yang sudah tidak lagi rata tentunya. Mungkin karena kayu itu sudah berumur tua, jadilah ia penuh lubang di sela-selanya. Rumah itu bahkan telah ada jauh sebelum aku dilahirkan. Entah berapa generasi yang pernah menempati dan memilikinya. Namun yang pasti, Mbah Putriku bilang kalau Mbah Kung membeli dari orang generasi kelima.
Setelah sekian lama tidak pulang kampung karena suatu alasan, pada mudik tahun ini aku berkesempatan menghirup kembali udara desa. Teduh menenteramkan. Di samping rumah, tumbuh pohon-pohon kelapa nyiur melambai juga bambu-bambu tinggi yang sesekali bergoyang saat angin sepoi membelai. Saat itu adalah musim panen padi, hingga sejauh kulayangkan pandangan mata, yang terlihat adalah hamparan padi kuning yang menundukkan tangkainya, seakan-akan menyiratkan pesan: “Fase hidup kami menginjak bumi telah usai. Tiba saatnya kami berpindah ke fase kehidupan lainnya: kalian panen, selep, masak, makan, dan menjadi bermanfaat bagi kehidupan.” Bagi padi, dipanen bukanlah akhir dari hidupnya, tetapi awal bagi perjalanan kehidupan yang baru: menjadi gabah, lalu diselep menjadi beras, dan dimakan menjadi nasi.
Seketika bayanganku menerawang pada kenangan beberapa tahun silam saat masih duduk di bangku SMP, di saat hidup kurasa tanpa beban dan betapa bahagianya aku bersama keluarga yang masih utuh saat itu.
***
Setelah ditinggal Mbah Kung dan Mbak Putri hijrah ke keabadian, kami tinggal berlima. Ada Bapak, Ibu, Abang, aku, dan Adik kecilku yang tinggal di rumah itu. Hari-hari kami lalui dengan pekerjaan yang menjadi tugas masing-masing. Bapak pergi ke ladang menggarap sawah, menanam padi dan sayuran untuk dibawa pulang saat telah matang; Ibu sebagai fondasi rumah tangga yang mengurus segala keperluan dan menjadi sekolah kami yang pertama; Abang duduk di bangku SMA; aku belajar di bangku SMP, dan adik perempuanku yang baru masuk TK. Sepulang sekolah, aku dan Abang sering ikut membantu Bapak di sawah. Terkadang kami memancing ikan di tambak samping sawah yang Bapak buat untuk budi daya ikan air tawar seperti nila, gurami, mujair, lele, dan lainnya. Kami juga membantu Ibu mengolahnya menjadi makanan yang siap kami santap bersama-sama.
Tak hanya itu, kami selalu membantu Ibu bebersih rumah. Bapak dan Ibu mengatakan bahwa pekerjaan rumah adalah basic life skill yang harus dimiliki setiap orang, tidak terkhusus hanya untuk pria ataupun wanita. “Memasak adalah kewajiban bagi mereka yang merasa perlu makan”, ucap Bapak saat kami semua tengah di dapur memasak tempe orek dan ayam kunit kesukaanku untuk makan malam. Pada akhirnya, bertahun-tahun setelahnya, semua ucapan mereka terbukti adanya. Saat kuliah, bisa dibilang aku satu-satunya yang tidak asing dengan dapur, suka memasak (meski rasa tergantung selera) di saat teman-temanku bahkan tidak tahu cara menyalakan kompor karena sama sekali tidak pernah masuk ke dapur semasa hidupnya; juga kamarku yang paling bersih dan rapi di antara kamar kost teman-teman kuliahku lainnya.
Kami membantu orangtua bukan karena terpaksa atau dipaksa, tetapi karena memang melakukannya sukarela. Kami melihat orangtua kami melakukan porsi tugas mereka masing-masing secara merdeka sehingga kami pun melakukan apa yang kami rasa perlu untuk dilakukan dengan penuh bahagia.
***
Malam hari setelah makan dan salat Magrib berjamaah, kami berkumpul di ruang keluarga. Ditemani temaram lampu teplok, bersama-sama kami mengeja Al-Qur’an ayat demi ayatnya. Setelah selesai setoran bacaan Al-Qur’an ke Bapak, Abang akan menyimak bacaan Al-Qur’anku. Dan setelahnya, aku yang akan mengajari Iqra’ adikku. Listrik masih belum masuk ke desa sehingga kalau mau lebih terang, Bapak perlu menyalakan lampu petromaks.
Malam itu langit lumayan gelap. Namun kedap-kedip api teplok tetangga mengedipkan cahayanya, mengisyaratkan bahwa ada kehidupan di sana. Suara jangkrik bersahut-sahutan dari balik rumpun pisang, dan semilir angin masuk dari celah-celah dinding rumah kayu. Di ruang tengah yang beralas tikar anyaman pandan, kami berlima duduk melingkar. Lampu teplok menyala sendu, menggantung di ujung paku, dengan cahaya kecilnya yang menari-nari di wajah kami. Aku kesulitan membaca karena kondisi yang gulita. Bapak tidak sempat menyalakan petromaks sore tadi. Dalam gelap yang membuatnya kesulitan membaca, Adik bertanya padaku:
“Abang, kenapa lampunya kecil banget?” tanyanya sedikit mengeluh.
“Karena Bulan belum turun ke botol lampu, Dek.” jawabku santai sambil tetap mengeja ayat.
Kulihat bibirnya yang mengguratkan senyuman setelah sebelumnya terlihat cemberutan. Bersama-sama kami tertawa kecil sembari lanjut mengaji dengan cahaya yang seadanya, tetapi dengan hati yang terang. Agar bisa membaca lebih jelas, besoknya Bapak menyalakan lampu petromaks. Tak jarang aku terkagum dan bergumam bagaimana bisa dengan sebuah kain putih rancang-rancang itu, cahaya terang keluar memancar menerangi seluruh ruangan hingga tak jarang serangga-serangga kecil beterbangan mengitarinya dan berakhir terperangkap di sela-sela jaringnya.
Bapak duduk bersila membaca Al-Qur’an yang ada di tangannya. Suaranya pelan namun tegas, membaca setiap baris firman Tuhan. Abang membersamai bacaanku yang sampai di juz 29, surat al-Mulk tepatnya. Kami mengulang bersama-sama. Ibu duduk tak jauh dari kami, juga sibuk dengan Al-Qur’an di tangannya. Semua berlangsung dalam diam yang penuh makna. Tak ada televisi. Tak ada gawai. Hanya kami, lampu petromaks, dan ayat-ayat Tuhan yang menerangkan. Tiba-tiba cahaya petromaks memancar lebih terang. Cahayanya memantul di mata adikku. Beberapa serangga kecil beterbangan mengitarinya. Dia menatap makhluk-makhluk kecil itu dengan takjub.
“Bang, kenapa serangganya malah datang ke api? Nanti gosong, lho!” katanya polos namun jujur.
“Mungkin mereka pikir itu Bulan beneran, Dek,” jawabku lirih sembari memandang cahaya petromaks yang seakan-akan terperangkap dalam mata kecilnya.
Bapak tertawa pelan mendengar percakapan kami sembari menimpali, “Terkadang cahaya yang memikat, justru menghanguskan.” Kami diam. Kata-kata Bapak menggantung di udara, karena kalimatnya belum cukup sempurna, seperti doa yang tak jadi terucapkan. Dan kami belum bisa memahaminya. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang jernih. Di luar, angin berembus, sawah merintih pelan. Aku melihat wajah-wajah keluargaku dalam cahaya petromaks itu. Terlihat jelas kerut lelah Bapak, kelembutan tatapan Ibu, sorot cerdas Abang, dan pipi tembam adikku yang bersinar hangat.
Dan malam itu, di bawah cahaya petromaks yang tak seterang neon, aku sadar: di sinilah cahaya sebenarnya. Di tengah gelap, hati kami menyala —oleh cinta, oleh doa, oleh kedekatan yang bahkan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Malam itu begitu hening, hingga suara detik jam dan detak jantung terasa seperti gemuruh. Tak ada bunyi mesin, tak pula kelap-kelip layar ponsel. Yang ada hanya nyala petromaks yang menggelepar seperti sayap serangga yang terbakar.
***
Meski listrik belum ada di zaman itu, dan lampu petromaks juga tidak seterang lampu LED di masa sekarang, tetapi jangan dikira hidup kami gelap-gelapan dan sangat membosankan. Bisa dibilang justru hidup kami lebih berwarna daripada generasi sekarang. Sehabis menunaikan salat Isya, anak-anak langgar akan berhamburan keluar, bermain penuh keseruan di halaman depan rumah Mbah Putri karena langgar itu tepat bersampingan dengannya. Ada yang bermain gobak sodor (belakangan kuketahui jika katanya permainan ini berasal dari Belanda dengan nama asli Go Back to Door), ada yang bermain permainan benteng-bentengan, ada yang bermain perang-perangan, ada pula yang bermain petak umpet di tengah kegelapan malam. Bayangkan, di dalam kegelapan itu, kami melakukan permainan yang bahkan anak masa kini tidak memainkannya meski dalam cahaya terang. Bila kuingat masa-masa itu, betapa beruntungnya diriku bisa hidup dan merasakan masa peralihan dari sebelum ada listrik dan sesudahnya.
Sesudah listrik masuk ke desa kami, perlahan-lahan pola hidup masyarakat di sana menjadi berbeda. Anak-anak yang dahulunya bermain-main bersama, perlahan-lahan setelah salat Isya mulai berdiam di rumah menonton televisi bersama keluarga. Namun menonton TV bersama keluarga masih lebih baik daripada asyik sibuk dengan gawai sendiri-sendiri. Dalam kegelapan itu, malam-malam kami jauh lebih berwarna daripada malam-malam anak sekarang yang penuh gemerlap warna di layar monitor dan gawai mereka.
Ada satu kebiasaan yang kami lakukan saat bulan purnama tiba. Bukan, bukan cerita horor yang akan kusampaikan, bukan pula ritual ilmu hitam sebagaimana digambarkan di film-film tentang arwah gentayangan dan jin-jin yang keluar saat rembulan menampakkan parasnya secara sempurna, akan tetapi sebuah atmosfer kehangatan keluarga di bawah terangnya cahaya purnama. Ya, orang-orang di desa kami akan berkumpul bersama keluarga, menggelar tikar di depan rumah mereka, menikmati “ninis”, semacam piknik yang dilakukan di malam hari di malam-malam terang bulan. Dalam ninis itu, kami saling bercerita, makan malam bersama, tidur-tiduran memandangi indahnya purnama, dan menikmati keseruan anak-anak yang berlarian bermain penuh ceria. Cahaya terang Bulan menularkan kehangatannya kepada kami yang menikmati keindahannya.
***
Angin sepoi sawah kembali menampar tipis pipi keringku, membawa memori-memori masa lalu kembali berkelebat dalam ingatanku. Hamparan kuning sawah menjadi saksi betapa aku rindu masa-masa itu. Betapa aku sangat ingin angin menyampaikan salamku pada masa lalu, betapa aku berterima kasih atas segala kenangan yang pernah hadir di masa kecilku.
Pandanganku seketika teralihkan pada gunung yang dipenuhi pepohonan lebat nun jauh di sana. Saking jauhnya pepohonan itu, yang tampak hanya warna kelabu, bukan rimbun pepohonan warna hijau. Terbayang seketika kepolosanku di waktu kecil yang ingin pergi ke gunung itu hingga kususuri “jalan dangir” setapak demi setapak. Saat terasa sudah cukup jauh kulangkahkan kaki, tergetar hati berkata, “mengapa belum juga sampai”. Aku pun lelah hingga putar balik arah, pulang ke rumah. Kini akhirnya kusadari bahwa gunung itu amatlah jauh, sejauh diriku kini dari rumah. Pernah satu kali aku berkata pada Bapak saat kami berteduh di gubuk sawah,
“Pak, aku mau jalan ke gunung itu, ya!”
Bapak hanya tersenyum mengelus rambutku, “Gunung itu jauh, Le. Kelihatannya memang dekat, tapi perjalanan ke sana butuh waktu. Sama seperti cita-cita.
“Tapi aku mau mencoba, Pak. Siapa tahu sampai.”
“Coba saja. Mencoba itu bagus. Tapi kalau capek, pulang! Rumah kita gak ke mana-mana, seperti gunung itu yang diam saja di sana.”
Kata-kata Bapak benar. Gunung itu tidak berpindah, tidak bergeming dari tempatnya. Tetap di sana, mematuhi titah Tuhannya untuk bergeming, seolah-olah mengisyaratkan ucapan, “Aku tidak ke mana-mana. Selalu di sini. Bersedia mengingatkanmu pada kenangan masa lalu saat kau pulang. Kau akan bisa menemukanku di sini, setia menantimu pulang!”
Rumah akan selalu menjadi rumah. Rumah bukan sekadar bangunan berdinding dengan genteng di atas dan ubin di bawahnya, dengan furnitur yang memenuhi interiornya. Rumah adalah siapa yang berada di dalamnya, yang menjalani hari-hari bersama penuh kehangatan bernama keluarga, yang menjadi sudut surga, yang di sana para malaikat membentangkan sayap rahmatnya, dan yang memanggil kita untuk kembali pulang sejauh apa pun kita mengembara. Tak peduli seberapa ribu kilo meter kita melangkah, rumah akan tetap membuka diri saat kita ketuk pintunya. Rumah bukan hanya tempat untuk sekadar istirahat sebentar, tetapi tempat untuk kita benar-benar pulang. Cerita-cerita kehidupan di dalamnya akan selalu membisikkan panggilan kehangatan, “Ayo pulang!” Tak peduli sejauh dan selupa apa kita dengan waktu, rumah akan selalu mengingatkan kita pada jalan pulang karena pulang kampung bukan hanya sekadar pergi ke tempat kita tumbuh, tetapi adalah perjalanan untuk mempertemukan manusia dengan sejarahnya.







Discussion about this post