Awas, jangan sentuh aku jika tidak mau tanganmu tertusuk, Budi! Seperti yang bisa kautebak, aku adalah landak, sang pengelana ladang, taman, dan kebun buah, yang melakukan pengembaraan di antara pepohonan, tetumbuhan, dan semak-belukar di kegelapan malam demi mengais rezeki, mencari “sesuap makanan” dari hamparan rerumputan di muka bumi.
Aku dianugerahi sejenis pakaian yang melindungiku dari bahaya dan hewan pemangsa. Ya, sebagai ganti dari rambut yang ada di tubuhmu, Budi, Tuhan menghadiahiku kulit yang penuh duri. Atau dengan kata lain, Dzat Yang Maha Mengetahui, yang menumbuhkan bulu lembut dan halus di kulitmu, telah membekaliku dengan sebuah gen yang mengandung sistem biokimia khusus yang telah dikodekan untuk menghasilkan duri tebal dan tajam di kulitku. Sehelai duriku panjangnya mencapai 2-3 cm dan seluruhnya berjumlah sekitar 5000 duri. Adapun duri-duri ini awalnya berwarna hitam atau cokelat pada sisi pangkalnya, lalu berakhir dengan warna putih yang condong krem di sisi ujungnya. Duri ini bersifat keras namun ringan karena berongga dan berisi penuh udara. Ia juga ditopang dengan lingkaran-lingkaran grommet di bagian dalam guna menambah daya tahannya. Adapun akar duri yang terbagi menjadi pelat-pelat tipis dilengkapi dengan simpul kecil yang mampu mengurangi dampak tekanan eksternal dan mencegah duri tertusuk ke dalam tubuhku.
Aku melindungi diriku dengan fasikulus otot[1] kecil yang ada pada akar duri. Otot-otot itu mengaktifkan duri-duri menembakkannya ke berbagai arah untuk membuatnya saling silang dan membentuk penghalang yang tidak dapat ditembus oleh lawan. Tentunya aku melakukannya ketika merasa berada dalam bahaya.
Keajaiban pada Diriku
Budi, jangan pikir jika rahasiaku hanya tersimpan pada duri-duriku ini saja. Bahkan setiap bagian dari tubuhku adalah sebuah keajaiban mengagumkan. Saluran otot yang terdapat pada kulit yang menutupi tubuhku dari berbagai sisinya ibarat sebuah pakaian yang memudahkanku melipat badan saat merasa dalam bahaya. Aku menggigit ekorku dengan gigi dan menggulung diriku hingga menjadi seperti bola duri yang menyakitkan. Ujung saluran otot bagian bawah perut kuikatkan dengan otot merah yang disebut “orbicularis[2]”. Setelahnya, aku akan berubah bentuk menjadi seperti sebuah kantong yang terikat dari mulut. Dengannya, aku menutup bagian-bagian tubuhku yang lemah dan menjaga bagian perutku yang tak berduri agar berada di bagian dalam bola. Tidakkah menurutmu ini cara pertahanan diri yang luar biasa menakjubkan, Budi?!
Ada satu hal yang harus kusampaikan kepadamu, Budi, agar engkau tidak menyalahkanku nanti. Aku adalah tempat berlindung bagi berbagai parasit seperti kutu, tungau, dan tuma. Ini karena aku tidak dapat membersihkan pakaian duriku dan menggaruk-garuk area di sela-selanya. Mungkin ini yang menjadikanku sebagai salah satu hewan yang paling banyak membawa parasit di badannya. Faktanya, masing-masing dari kami menyimpan sekitar 1000 kutu pada durinya. Untuk alasan inilah aku memiliki penyakit menular yang kalian sebut sebagai…







Discussion about this post