Embriologi modern mulai berkembang sejak ditemukannya mikroskop pada abad ke 17. Sebelumnya, manusia belum mengetahui bahwa embrio tercipta dari sperma yang bergabung dengan ovum. Sementara itu, kaum muslim telah memiliki pengetahuan ini sejak abad ke-7 dan sabda Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallâm telah menjelaskan perihal kejadian kelahiran dan pasca kelahiran. Di dalam Al Qur’an terdapat deskripsi tentang asal, perkembangan, serta tahap demi tahap dari kehidupan di dalam rahim.1
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan ia mendengar dan melihat” (QS.76:2).
Ketika berbagai informasi terkait embriologi yang berasal dari Al Qur’an dikumpulkan, diterjemahkan dalam bahasa Inggris, dan dipresentasikan kepada Prof. Dr. Keith L. Moore, yang merupakan seorang Profesor di bidang Embriologi dan Kepala Department of Anatomy, University of Toronto, Kanada, beliau membaca dan memeriksa dengan seksama, lalu menyimpulkan bahwa sebagian besar informasi terkait embriologi yang disebutkan dalam Al Qur’an sesuai dengan temuan modern di bidang embriologi.2 Temuan ini mengagetkan para ahli Anatomi dan Embriologi dan membuat mereka mempercayai kebenaran atas pengetahuan yang diberikan pada Nabi Muhammad.1
Reproduksi Manusia
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar, yang keluar dari antara tulang punggung (sulbi) dan tulang dada” (QS.86:6-7).

Organ reproduksi pada laki-laki dan wanita, yakni testis dan ovarium, memulai perkembangannya di dekat ginjal, yaitu di antara tulang punggung dan tulang dada pada level iga ke 11 dan 12. Selanjutnya, kedua organ tersebut mengalami perubahan posisi, turun menuju ke lokasi anatomisnya. Testis melewati sebuah saluran di lipat paha (canalis inguinalis) menuju skrotum, sementara ovarium menetap di rongga panggul. Meskipun melalui proses penurunan, secara anatomis pembuluh darah untuk testis dan ovarium merupakan cabang dari aorta abdominalis, sebuah pembuluh darah besar yang berada di rongga perut.3
Sperma dan Ovum
Cairan semen (air mani) yang dikeluarkan saat terjadi hubungan mengandung sperma beserta cairan lain yang dihasilkan oleh glandula seminalis, prostat, dan glandula bulbourethralis. Sperma-sperma tersebut akan melalui saluran rahim dengan pergerakan ekornya. Enzim vesiculase yang dihasilkan oleh prostat, membantu mengurangi kekentalan cairan semen yang terbentuk segera setelah dikeluarkan. Ketika terjadi ovulasi, lendir pada leher rahim akan menjadi lebih encer hingga memudahkan sperma untuk digerakkan. Prostaglandin, salah satu senyawa aktif fisiologis, di dalam cairan semen diperkirakan merangsang motilitas (kemampuan untuk bergerak atau berkontraksi) rahim saat terjadi hubungan seksual dan membantu pergerakan sperma menuju lokasi fertilisasi, yaitu di ampulla tuba uterina. Fruktosa yang dihasilkan oleh glandula seminalis, merupakan sumber energi bagi sperma.4
“yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari (sulalah) saripati air yang hina (air mani)” (QS.32:7-8).
‘Sulalah’ diartikan sebagai saripati, yakni bagian esensial dari suatu zat. Dalam hal ini, sperma merupakan bagian esensial dari air mani yang akan bersatu dengan ovum. ‘Sulalah’ juga dapat diartikan sebagai bagian terbaik dari keseluruhan. Ilmuwan telah membuktikan bahwa dari jutaan sperma yang diejakulasikan, sebagian besar sperma mengalami degenerasi. Sekitar 200 sperma akan berhasil sampai di lokasi fertilisasi.4 Pada akhirnya, hanya satu sperma terbaik yang akan membuahi ovum.
Wanita mulai mengalami siklus reproduksi saat mereka masuk usia pubertas karena proses ini melibatkan aktivitas hormon dan organ reproduksi. Ovum dihasilkan oleh ovarium sesuai siklus reproduksi yang umumnya terjadi setiap 28 hari sekali, dengan pengaruh hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone).4 Apabila tidak terjadi fertilisasi, kadar hormon estrogen dan progesteron akan menurun dan mengakibatkan luruhnya lapisan terdalam dari dinding rahim yaitu endometrium sehingga terjadilah apa yang kita kenal sebagai menstruasi.
“Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu, kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan”. (QS.39:6).
Apabila terjadi fertilisasi, janin akan berkembang di dalam rahim. Tiga kegelapan yang dimaksud pada ayat di atas adalah lapisan-lapisan yang melingkupi janin dari luar ke dalam, yaitu kegelapan dalam perut (lapisan dinding depan perut), kegelapan dalam rahim (lapisan dinding rahim), dan kegelapan dalam selaput yang menutup janin dalam rahim (the amnio-chorionic membrane).
Fertilisasi
Pembuahan atau yang dalam istilah medisnya disebut fertilisasi merupakan proses bersatunya sperma dan ovum. Saat fertilisasi terjadi, sperma akan melalui corona radiata, lalu menembus zona pellusida. Bagian kepala dari sperma selanjutnya menempel pada permukaan ovum. Hal ini menimbulkan reaksi ovum berupa perubahan pada zona pellusida dan membran sel ovum yang mencegah adanya polisperma. Oosit sekunder melanjutkan proses pembelahan meiotik keduanya, mengeluarkan badan polar kedua, dan membentuk pronukleus betina. Sperma selanjutnya kehilangan ekornya, sementara bagian kepalanya membesar membentuk pronukleus jantan. Kedua pronukleus jantan dan betina saling mendekat di bagian tengah ovum dan melebur membentuk zigot.4

Fertilisasi akan menghasilkan jumlah kromosom diploid (sel atau individu yang berisi dua set lengkap kromosom) pada zigot, variasi spesies, determinasi jenis kelamin, serta inisiasi pembelahan zigot. Zigot bersifat unik secara genetik karena separuh dari kromosomnya berasal dari ibu dan setengahnya dari ayah. Zigot mengandung kombinasi kromosom yang berbeda dibandingkan sel pada ibu atau ayah. Mekanisme ini merupakan dasar dari konsep biparental inheritance dan variasi spesies manusia. Meiosis atau salah satu cara pembelahan sel memungkinkan adanya independent assortment (hukum berpasangan secara bebas) dari kromosom maternal dan paternal pada sel germinal. Sel germinal adalah sel telur, sperma dan asal muasalnya yang disebut juga sebagai sel nutfah. Adanya crossing over atau pindah silang kromosom, dengan relokasi segmen kromosom maternal dan maternal akan men-‘shuffle’ gen, sehingga menghasilkan rekombinasi material genetik.4
“Dan sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan, dari mani apabila dipancarkan” (53: 45-46).

Ayat ini menyebutkan bahwa jenis kelamin laki-laki dan perempuan ditentukan dari air mani. Fakta luar biasa yang ditunjukkan ayat ini baru diketahui ilmuwan modern setelah mikroskop ditemukan, bahwa jenis kelamin ditentukan oleh sperma yang terkandung dalam air mani, bukan ovum. Adapun kromosom seks pada zigot ditentukan saat fertilisasi oleh jenis sperma (X atau Y) yang membuahi oosit. Fertilisasi oleh sperma yang mengandung kromosom X menghasilkan zigot berjenis 46XX, yang berkembang menjadi wanita, sementara fertilisasi oleh sperma yang mengandung kromosom Y menghasilkan zigot berjenis 46XY, yang berkembang menjadi laki-laki.
Proses fertilisasi dan perjalanan zigot menuju uterus berlangsung sekitar 6 hari. Pada masa tersebut, zigot terus membelah menjadi sejumlah blastomer. Sekitar tiga hari setelah fertilisasi, sebuah massa yang mengandung 16 blastomer (disebut sebagai morula) memasuki rahim dan mengawali tahapan selanjutnya, yaitu implantasi.4
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal dari) tanah. Kemudian Kami menjadikannya nutfah (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, nutfah itu Kami jadikan alaqah (sesuatu yang melekat), lalu alaqah itu Kami jadikan mudghah (segumpal daging), dan mudghah itu Kami jadikan izam (tulang belulang), lalu izam itu Kami bungkus dengan lahm (daging/ otot). Kemudian, kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, pencipta yang paling baik” (QS. 23: 12-14).
Menurut Prof. Moore, klasifikasi modern terhadap tahapan perkembangan embrio yang digunakan di seluruh dunia tidak dapat dengan mudah dipahami karena identifikasi tahapan dilakukan dengan penomoran. Sementara itu, pembagian dalam Al Qur’an dapat dengan mudah diidentifikasi karena didasarkan pada tiap bentuk berbeda yang dilalui embrio selama perkembangannya sehingga menyajikan deskripsi ilmiah yang elegan dan mudah dipahami.2
Pada abad ke 7, bangsa Arab hidup tanpa alat-alat canggih atau teknologi yang dapat digunakan untuk mempelajari berbagai tahap kehidupan dalam rahim. Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallâm tidak dapat membaca dan tidak memiliki pendidikan formal, tetapi dari Beliau-lah kaum muslim mendapat pengetahuan terkait konsepsi, morfologi, dan berbagai fase kehidupan di dalam rahim yang baru beberapa dekade lalu diketahui oleh para ilmuwan modern.
Dari manakah ilmu pengetahuan itu berasal, jika bukan dari Sang Pencipta? Wallahu a’lam.
Penulis : dr. Rima Mustafa
Referensi
1 Saadat S. Human Embryology and the Holy Quran: An Overview. International journal of health sciences. 2009 Jan;3(1):103.
2 Naik Z. The Qur’aan and Modern Science: Compatible or Incompatible?. Peace Vision; 2007.
3 Moore KL, Dalley AF, Agur AM. Clinically oriented anatomy. Lippincott Williams & Wilkins; 2013 Feb 13.
4 Moore KL, Persaud TV, Torchia MG. The developing human: clinically oriented embryology. Elsevier Health Sciences; 2015 Apr 6.







Discussion about this post