Pukul 23.12 lampu kamar masih menyala. Notifikasi di HP-nya terus masuk. Kalender hari itu penuh dengan kegiatan. Rizky baru saja menutup laptopnya, menghela napas panjang penuh lelah. “Seharian aku kerja..” ucapnya lirih. Sejenak ia berhenti, lalu pelan menambahkan, “tapi kerjaan yang paling penting belum kusentuh sama sekali.” Kalimat itu terasa biasa. Terlalu biasa. Namun justru di situlah masalahnya.
Rizky tidak menunda dengan cara klasik. Ia tidak bermalas-malasan, tidak bermain gim, tidak tidur sepanjang hari. Namun, ia membaca jurnal tambahan, merapikan dokumen penelitian, dan memperbaiki tampilan presentasi. Semua terlihat benar, terlihat produktif, tetapi sayangnya laporan yang menjadi inti pekerjaannya tetap kosong. Fenomena ini semakin umum, tetapi jarang dibahas secara jujur. Kita hidup di zaman ketika kesibukan dipuja, tetapi arah sering dilupakan. Dalam kajian psikologi, kondisi ini dikenal sebagai productive procrastination—menunda pekerjaan utama dengan mengerjakan pekerjaan lain agar terlihat tetap produktif.1
Masalahnya adalah ‘tampak produktif’ tidak selalu berarti ‘benar-benar produktif’. Pertanyaan yang perlu diajukan sebenarnya tidak berhenti pada “mengapa menunda?”, tetapi lebih jauh dari itu: “mengapa kita menunda dengan pola yang tampak produktif seperti ini?” Maka, jawabannya tidak cukup dijelaskan dari sisi individu semata. Ada pengaruh yang lebih luas, yaitu budaya yang membentuk cara kita bekerja, berpikir, dan menilai diri sendiri.
Budaya yang Mendorong Kita Terlihat Sibuk
Kita hidup dalam ekosistem yang secara halus tetapi konsisten menggeser makna produktivitas. Kecepatan lebih dihargai daripada kedalaman, aktivitas lebih mudah diukur dibanding dampak yang dirasakan. Kesibukan diberi panggung, sementara arah sering kali luput dari perhatian. Dalam situasi seperti ini, seseorang tidak hanya didorong untuk bekerja, tetapi diapresiasi saat “terlihat bekerja”.
Media sosial memperkuat kecenderungan tersebut dengan produktivitas yang direduksi menjadi sesuatu yang dilihat dan mudah dipamerkan: meja kerja yang rapi, jadwal yang padat, serta daftar tugas yang panjang dan terus diperbarui. Secara tidak sadar, representasi ini membentuk standar baru, sehingga kita mulai percaya bahwa selama terlihat aktif dan sibuk, maka kita sudah berada di jalur yang benar. Di titik inilah terjadi pergeseran yang tidak kentara, tetapi bermakna. Kita tidak lagi sekadar mengejar kemajuan, tetapi mengejar citra sebagai orang yang punya kesibukan. Kesibukan menjadi semacam…





Discussion about this post