• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Tuesday, May 26, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Spiritualitas Artikel Utama

Generasi yang Terasing dari Nilai-nilainya Sendiri

M. Fethullah Gulen

by M. Fethullah Gulen
8 years ago
in Artikel Utama
Reading Time: 7 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Saat ini, kita dan juga bangsa lain yang memiliki takdir serupa tengah berhadapan dengan salah satu periode sejarah yang paling kritis. Begitu kritisnya hingga sebelum salah satu dari goncangan pada masyarakat dapat dilewati, telah muncul goncangan lain di cakrawala. Satu perpecahan disusul dengan perpecahan lainnya, setiap sudut merintih dengan jeritan jiwa. Masyarakat tercengang dan gemetaran dengan berbagai krisis mengejutkan yang datang setiap harinya. Jika keyakinan kita terhadap Rahmat-Nya yang tak bertepi dan terwujudnya janji-Nya tidak benar-benar utuh dan sempurna, maka kemungkinan kita pun akan tergulung, musnah dalam guncangan yang tak berkesudahan dan tak ada habisnya ini. Tergulung dan mati sembari membawa pergi harapan generasi mendatang yang tatapannya senantiasa terpaku pada kita. Bisa dikatakan kita telah pula membawa pergi beberapa dari harapan mereka itu. 

Satu-satunya sumber bagi harapan dan penantian manusia pada Allah adalah keimanannya dan adanya hubungan terus menerus dengan-Nya setiap saat, terlebih lagi jika seiring berjalannya zaman hubungan tersebut pada akhirnya dapat menjadi karakter mendalam dari manusia tersebut. Sayangnya, sebagian dari kita yang telah berada di lapisan kegelapan selalu tidak acuh terhadap iman, belum dapat memahami kaitan antara kekuatan dan keajaiban dari hubungan dengan Sang Khaliq, terjebak pada pengaruh pemahaman jasmani dan material semata, serta tak kunjung terbebas dari jerat pertimbangan yang hanya berdasarkan berita-berita bohong yang didengarnya saja hingga terhalang dari makna amal ibadah yang begitu tinggi. Bahkan terkadang kita merasa enggan dan malu untuk berada di lereng dunia pemikiran dan amal kita sendiri ataupun bahkan sekedar untuk berjalan di atasnya, kadangkala sembari masuk ke berbagai fantasi dan khayalan, tanpa sadar kita telah mengesampingkan dan membuang banyak sekali norma atau nilai penting yang berhubungan dengan akar jiwa dan rohani kita layaknya barang usang tak berguna. Dalam ruang lingkup kebangsaan, kita telah menggunakan semua semangat dan kemampuan berkembang yang kita miliki -yang seharusnya dapat digunakan untuk menaklukkan dunia- justru menuju ke arah keterasingan; dan setelah bertahun-tahun berselang, kini kita terasing bahkan dari dunia kita sendiri. Kita menjadi asing dari keimanan yang sesuai dengan kehendak-Nya, kita asing dari kepercayaan kita kepada-Nya, dan juga pada Nabi kebanggaan umat manusia yang dengannya kita mengenal apa itu dunia dan akhirat. Sangat disayangkan, bahkan sebagian kita mengambil posisi sebagai musuh baginya. Kita pun terasing dari Kitab Suci yang bertindak sebagai penghubung antara langit dan bumi, yang menjadi firman keselamatan bagi manusia dan jin, yang menjadi interpretasi terakurat bagi kitab alam semesta, sebagai derap-nafas Lauhil Mahfudz1 dan Baitul Ma’mur2, dan sebagai satu-satunya sumber bagi prinsip-prinsip tasyri’3.

 

Terlebih lagi, kita juga terasing dari adat istiadat, karakter bangsa, dan bahkan kebiasaan serta fitrah bangsa yang terpancar dari sumber suci, atau setidaknya yang tumbuh dan berkembang dalam atmosfer penuh berkah dan subur itu. Kita kehilangan kegigihan dan semangat untuk memperbaharui diri sehingga kita pun berubah menjadi segerombolan orang yang kehilangan gairah dan semangat. Kebanyakan dari kita tidak memahami Iman dan Islam yang benar-benar sesuai dengan Al-Qur’an, ikatan dengan Allah yang sesuai dengan arahan Rasul, jiwa dan dinamika prinsip-prinsip agama yang keberadaannya merupakan sebuah Generasi yang Terasing dari Nilai-nilainya Sendiri Generasi yang Terasing dari Nilai-nilainya Sendiri harusan dan juga inti dan esensi yang disuarakan dengan risalah kenabian. Tak ada keinginan untuk mempelajari hal-hal tersebut, kegigihan untuk menguji diri, serta rasa penasaran untuk mengetahui meski sedikit sekalipun, pada mereka yang tak pernah mengindahkan nilai-nilainya sendiri sebagaimana besarnya keingintahuan terhadap hobi maupun kegemaran lain yang tak penting. 

RelatedArticles

Cinta Hakikat

Manusia dengan Kedalaman Batinnya

Menghadapi kenyataan seperti ini, sebagian dari yang sedikit berilmu pun berkata: “Terkadang diam adalah adab’’, lalu mereka tenggelam dalam kebisuan, hingga segalanya berubah menjadi tak tertolongkan lagi di tangan orang-orang yang tak tahu diri ini. Angin keraguan kan senantiasa berdesir dalam diri jiwa-jiwa yang enggan untuk mencari kebenaran, dalam kesibukannya, mereka berada dalam keadaan seakan memasukkan dirinya ke dalam kekosongan masa fatrah4, mereka tak melihat bumi, tak mendengar langit, dan sibuk menghabiskan hidupnya dengan kata-kata kosong tak bermakna. Penentu bagi keunggulan dan masa depan yang menjanjikan bagi sebuah bangsa adalah warisan agama dan nilai-nilai kebangsaan yang diwarisinya dari masa lalu. Masyarakat yang tak menaruh hormat dan menjaga nilai-nilai ini akan berakhir dalam kefrustasian, frustrasi dan tak seorang pun yang akan mampu merubah takdir yang buruk ini. Sebaliknya bagi mereka yang masih mampu menjaga nilai-nilainya dan terus menjaga kelanggengan ikatan dengan akar rohaninya sendiri, akan mendapatkan kedalaman yang lebih pada dirinya dan masyarakat serta orang-orang yang membentuknya dapat mulai merasakan hal tersebut. Para ilmuwan, pemikir, dan juga para seniman sesuai dengan bidangnya masing-masing berusaha untuk menulis, memahat, merajut dan mengukir pemikiran, keyakinan, serta perasaan mereka; seraya menegakkan monumen jiwa di setiap bidang, mereka menyiapkan lingkungan bagi kumpulan jiwa-jiwa yang masih polos, untuk membaca dan memahami diri mereka sendiri. Mereka menjadi titik sandaran bagi kumpulan jiwa polos itu, melindungi kehormatan dan kejernihan pemikiran mereka sebagaimana mereka melindungi kehormatan mereka sendiri. 

Ya, jika para penulis dengan buku, tulisan dan artikel mereka; para pelukis dengan coretan gambar; kaligrafi maupun lukisannya, arsitek dengan perencanaan dan projek yang dapat merefleksikan pemikiran dan keyakinannya; penyair dengan kekuatan bahasa sastranya; musisi dengan gubahan lagu yang tercurahkan dari sanubari dan mengalir ke jiwanya; tidak mampu menegakkan monumen jiwa dan pemikiran yang sesuai dengan akar nilainya sendiri maka kumpulan jiwa polos yang akan menikmati karya-karya tersebut pun akan terdorong menuju arus yang berlawanan dengan diri, masa lalu, dan juga akar maknawi dan ruhaninya sendiri. Sebenarnya, jika saja kita mau memikirkannya, kita tidak mempunyai daya dan upaya cukup untuk tidak khawatir akan akhir dan akibat dari generasi terasing yang tumbuh dalam lingkungan yang seperti ini. 

Sesungguhnya, hal positif yang akan atau telah dibuat dan dihasilkan oleh manusia di masa kini, akan menjadi hadiah terbesar bagi generasi setelahnya di kemudian hari nanti. Generasi malang yang tak memiliki sandaran dan yang terhalang dari hadiah besar yang seharusnya datang dari kakek moyang mereka ini akan berada dalam pengaruh berbagai macam pemikiran bandit murahan dan entah hari ini atau esok, pemikiran itu pasti akan mencelakai diri mereka sendiri. Dikarenakan tidak adanya kepekaan yang seharusnya ditunjukkan seperti ini, maka dari dulu hingga sekarang begitu banyaknya nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan kita yang akhirnya terlupakan dan lenyap; mereka yang tetap bertahan pun mengambil sikap diam tak berkutik, bahkan luntur seiring berjalannya waktu; sedangkan generasi yang sebelumnya telah patah arang pun pada akhirnya akan kehilangan semangat. 

Kini, di negara-negara besar yang malang ini, keimanan dan perkara yang sebenarnya dapat membuat kehidupan mereka benar-benar hidup menjadi tidak benar-benar bisa dirasakan sesuai dengan kedalamannya lagi. Kekuatan mukjizat Islam yang bersumber dari Sang Maha Besar itu tak diketahui dengan takaran yang semestinya dan hal-hal yang dijanjikannya pada jiwa-jiwa pun tak terlihat dengan keutamaan besar yang ada padanya. Padahal, peradaban dengan dimensi keakhiratan yang telah diwujudkan oleh kakek moyang kita pada periode tertentu sebelumnya telah kita dengar, baik warna, bentuk, corak, maupun jiwanya dan telah pula mereka praktekkan dalam setiap lini kehidupan sesuai dengan takaran yang diketahuinya, hingga menjadi petunjuk bagi para pengikutnya tentang jalan yang seharusnya ditempuh agar berhasil menuju ke tingkatan samawi. 

Lantas bagaimana dengan sekarang? Apakah kita mengetahui arti dari nilai-nilai, warna, dan juga garis dari atlas pemikiran kita sendiri? Sayangnya, pada masa yang malang ini kita justru menyingkirkan dan membuang seluruh khazanah berharga dari masa lalu yang teruji ribuan tahun lamanya ini layaknya sebuah rongsokan usang tak berguna dan akibatnya kitalah sendiri yang memunculkan kekosongan dalam hati nurani masyarakat, yang tempatnya takkan tergantikan dengan apapun. 

Meski kelakuan tak bertanggungjawab dari sekumpulan jiwa polos yang masih belum mampu menghayati kedalaman Iman dan Islam masih dapat diterima dan ditoleransi, namun susah untuk dapat menerima hal tersebut dari mereka yang dikatakan sebagai para pembelajar, penulis, maupun orang-orang yang seharusnya dapat merasakan dan menghayati hal tertentu, meski sedikit sekalipun. Tidak bisakah mereka sedikit lebih sensitif berkaitan dengan hal ini? Tidakkah mereka yang jiwanya tumbuh dan berkembang dalam rangkulan agama setidaknya dapat menjelaskan pada sekitarnya tentang keindahan dari inti dan esensi agama serta hal-hal yang dijanjikan agama baik demi masa kini maupun masa mendatang? Anggap saja sebagian dari mereka masih belum dapat sampai pada tahapan merasakan dan menghayati nilai-nilai ini; namun tidakkah orang-orang yang melihat diri mereka sebagai representasi nomer satu pekerjaan ini dan juga orang-orang yang selalu berlagak dengan pemikiran keunggulan atas nama agama harus memperdengarkan pemikiran emas ini dengan menggunakan bahasa kalbu, kepiawaian sastra, dan -jika ada- dengan bakat seni yang mereka punya? 

Sulit untuk menemukan seorang pun selain beberapa pengecualian yang mampu menyampaikan dan membahas tentang keindahan yang kita miliki itu dengan bahasa kalbu, keaslian samawi, serta kemurnian yang terdapat padanya. Tidak pula kita jumpai langgam yang suara dan nafasnya melegakan sanubari pada mereka yang senantiasa bersuara lantang dan menyuarakan “kehidupan jiwa dan kalbu’’, yang bahkan karenanya senantiasa terpompa dengan kebencian dan kemarahan pada apa yang dilihatnya sebagai lawan. Terlebih lagi saya tidak pula menemukan banyak jiwa-jiwa pengabdi di antara sosok-sosok yang menempati posisi sebagai representasi dari tugas mulia ini yang memiliki prinsip bahwa hidup ini adalah untuk menghidupkan orang lain, dan yang kalbunya penuh dengan keikhlasan hingga mampu berucap: “Jika tujuanku menjalani pemikiran luhur ini adalah untuk menegakkan Kalimatullah, maka setimpal dengan keberadaanku di dunia ini, karena jika tidak, lantas apa bedanya diriku dengan makhluk lainnya?” 

Sudah pasti bahwa kita tidak akan menggantungkan harapan dan penantian pada mereka yang menafsirkan agama hanya menurut pemikiran menyelewengnya sendiri serta pada mereka yang memasukkan agama ke dalam pakaian yang berbeda dengan pakaian samawinya, biarlah jika ada yang mengatakan ‘’Agama ini adalah agamaku, budaya ini adalah budayaku, sejarah ini adalah sejarahku!’’ tidakkah mereka seharusnya marah penuh gelora di hadapan kelunturan dan kematian seluruh nilai-nilai ini? 

 

Keterangan :

  1. Segala sesuatu sejak awal terciptanya Qalam sampai tiba hari Qiyamat telah tertulis di Lauh Mahfudz, Dari Ibnu abbas, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “sesungguhnya Allah menciptakan Lauh mahfudz dari mutiara putih, lembaran lembarannya dari yaqut merah, penanya adalah cahaya, tulisannya juga cahaya, bagi Allah dalam Lauhil mahfudz terdapat 360 pandangan, menciptakan dan memberi rizki, mematikan dan menghidupkan, meluhurkan dan menghinakan, dan melakukan yang dikehendaki-Nya.” (kitab Al bidayah wan nihayah imam ibnu katsir)
  2. Baitul Makmur adalah bangunan yang sangat mulia, berada di langit ketujuh. Di sanalah para Malaikat beribadah, sebagaimana manusia beribadah di sekitar Ka’bah.
  3. Tasyri’i adalah prinsip-prinsip syariat atau aturan dalam Islam.
  4. Masa fatrah adalah masa antara Nabi Isa ‘alaihissalam dan masa Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Ada pula pengertian bahwa fatrah adalah masa ketika tidak ada Rasul dan tidak ada Kitab. Dan termasuk ahlul fatrah juga, orang-orang yang hidup terisolasi dari ulama Islam, atau jauh dari kaum Muslimin, serta dakwah Islam tidak sampai kepada mereka.
Tags: fatrahfrustasiGenerasivolume 5 nomor 18
Previous Post

Keseimbangan Luar Biasa pada Gerhana Matahari

Next Post

Konstruksi Baja dalam Sel

M. Fethullah Gulen

M. Fethullah Gulen

Related Posts

Cinta Hakikat
Artikel Utama

Cinta Hakikat

3 weeks ago
Manusia dengan Kedalaman Batinnya
Artikel Utama

Manusia dengan Kedalaman Batinnya

7 months ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1392 shares
    Share 557 Tweet 348
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1069 shares
    Share 428 Tweet 267
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    1016 shares
    Share 406 Tweet 254
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    995 shares
    Share 399 Tweet 249
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    906 shares
    Share 362 Tweet 227

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Tanya Jawab Edisi 49

Tanya Jawab Edisi 49

May 11, 2026
Pusat Energi Tubuh

Pusat Energi Tubuh

May 12, 2026
Hikmah Gerbang Hadamard pada Teknologi Kuantum

Hikmah Gerbang Hadamard pada Teknologi Kuantum

May 11, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin