Esensi dan inti dari kehidupan adalah manusia, begitu pula indeks dan inti sari semesta pun manusia. Manusia memegang kendali titik pusat kehidupan. Semua objek lain, baik yang hidup maupun mati, membentuk lingkaran-lingkaran saling bertautan di sekitarnya. Sehingga, Sang Pencipta Yang Maha Kuasa menghubungkan setiap kehidupan dengan manusia dengan cara menyuarakan titik tumpuan dan titik sandaran yang ada dalam sanubarinya ke dalam “daya tarik suci”-Nya. Dari aspek tampilannya, di antara semua makhluk, manusia adalah sebuah bahasa yang menyatakan Kekuasaan Yang Maha Kuasa di balik segala hal, peristiwa, serta alam semesta, dan sebuah hati yang memiliki keluasan seperti luasnya semesta.
Dengannya, makhluk hidup menemukan penafsirnya; materi diteliti dan makna diuraikan berkat pemahamannya. Pengamatannya terhadap benda benar-benar suatu kekhususan; caranya membaca dan menafsirkan kitab semesta adalah suatu keistimewaan; dan caranya mengaitkan segala sesuatu dengan Sang Pencipta adalah suatu makrifat pengetahuan. Berdasarkan cakrawala ini, diam dan merenungnya adalah tafakur, membuka mulut dan berbicaranya adalah suatu kebijaksanaan, menafsirkan segala sesuatu dan memberikannya kesimpulan adalah sebuah kasih sayang.
Dia yang diciptakan dalam posisi menguasai kehidupan dan berkuasa atasnya juga adalah dia yang mengungkap kekhususan semua makna yang ada dalam materi dan mempersembahkannya kepada Sang Pencipta. Dialah yang merasakan hubungan antara hamba, semesta, dan Tuhannya; menghayati, memahami dan menghubungkannya dengan makrifat. Dialah yang…







Discussion about this post