Dalam dunia pendidikan, upaya menaikkan kualitas pendidikan adalah suatu hal yang terus dilakukan agar hasil yang diharapkan dapat dicapai secara maksimal. Ketika membahas tentang kualitas pendidikan, pada umumnya kita lebih sering menekankan pada perbaikan fasilitas infrastruktur fisik seperti gedung sekolah, sarana laboratorium, teknologi pembelajaran yang canggih, atau sarana nonfisik berupa kurikulum dan metode pendidikan yang digunakan. Semua aspek tersebut memang sangat krusial dan fundamental, tetapi ada satu faktor penting yang kerap luput dari perhatian, yaitu Modal Sosial.
Modal sosial bukanlah sesuatu yang dapat dilihat dalam bentuk bangunan atau diukur dengan angka-angka anggaran, melainkan ia hadir dalam bentuk kepercayaan, kerja sama, kepedulian, dan jejaring hubungan yang terbangun di antara semua elemen internal dan eksternal sekolah. Ketika guru, siswa, orang tua, dan masyarakat saling mendukung serta memiliki tujuan bersama, maka akan tercipta sebuah atmosfer belajar yang tidak hanya nyaman dan inklusif, tetapi juga mampu mendorong peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan. Di tengah berbagai tantangan pendidikan saat ini, modal sosial menjadi kekuatan tak kasatmata yang dapat menentukan apakah sebuah sekolah sekadar berjalan atau benar-benar bertumbuh menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas.
Aset Pendidikan yang Sering Terlupakan
Modal sosial muncul dari pemikiran bahwa satu individu tidak mungkin dapat mengatasi berbagai masalah yang dihadapi secara perseorangan, melainkan diperlukan kebersamaan dan kerja sama dengan anggota komunitas lain yang berkepentingan dalam mengatasi masalah tersebut. Teori modal sosial pada awalnya dikemukakan oleh Bourdieu dan Coleman. Keduanya memiliki gagasan tentang teori modal sosial secara sistematis dan menawarkan istilah kemandirian antarsesama.1 Selain modal ekonomi, Bourdieu menjelaskan bahwa ada dua bentuk modal lainnya, yaitu (1) modal budaya dan (2) modal sosial.
Modal sosial berada dalam ranah hubungan sosial dan lahir dari keterikatan seseorang dengan kelompok tertentu. Melalui hubungan tersebut, seseorang dapat memperoleh sumber daya, dukungan, dan manfaat. Oleh karena itu, modal sosial dapat menjadi sumber kepercayaan, pengaruh, status, dan nilai yang membantu seseorang mencapai tujuan yang diinginkan.2
Dalam bukunya Foundation of Social Theory,3 Coleman mendefinisikan modal sosial sebagai manfaat dan sumber daya yang bisa seseorang dapatkan melalui hubungan sosial. Modal sosial bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia terdiri atas berbagai unsur yang memiliki kesamaan, yaitu tumbuh dalam hubungan sosial dan membantu individu bertindak, bekerja sama, serta mencapai tujuan melalui hubungan yang dimilikinya. Ia bersifat produktif karena memungkinkan tercapainya tujuan yang tidak dapat diraih tanpa keberadaannya.4 Secara umum, modal sosial dapat dimaknai sebagai jaringan kerja sama dan hubungan timbal balik yang….







Discussion about this post