Suara takbir menggema dari MP3 ponsel polifoniknya. Suaranya mengalun sendu ditemani angin khamsin yang panas, kering, dan berdebu dibawa oleh Sahara yang mencapai puncaknya di bulan April. Angin musim semi memang terasa lebih panas, apalagi ketika pipi itu telah basah oleh air mata, lebih hangat terasa. Dia hanya bisa menikmati takbir itu dari balkon apartemennya. Tidak seperti dahulu yang selalu digemakan di langgar samping rumahnya, bersama saudara dan teman-teman mengaji TPQ-nya. Telah 2 kali dia tidak merayakan Iduladha bersama keluarga, dan ini yang ketiga. Di tiga tahun itu pula dia hanya bisa mendengarkan dengung takbir hanya dari balkon dengan teman-teman serumahnya yang saat itu berada di dapur untuk menyiapkan opor ayam dan lontong dengan bahan dan alat seadanya. Perayaan Iduladha di negara dia berada sekarang teramat berbeda dengan yang ada di kampung halamannya. Tidak ada gema takbir yang terdengar dari luar masjid, tidak ada takbir keliling dan pawai obor yang mengitari seluruh kampung, tidak ada pula kerja bakti membuat sate setelah prosesi penyembelihan hewan kurban usai. Maka mereka pun mengupayakan semampu yang mereka bisa, sebagaimana yang sedang mereka lakukan saat ini. Opor yang seharusnya menggunakan santan, mereka ganti pakai susu. Lontong yang seharusnya menggunakan daun pisang, terpaksa mereka ganti pakai plastik ala kadarnya. Apa dikata, daripada sama sekali tidak ada.
Seberat apa pun kesedihan yang dia rasakan, tidak ada yang bisa dia lakukan. Mau pulang, jauh. Harga tiket melintasi dua benua sangatlah mahal dan tidak mudah dijangkaunya. Dia jauh dari keluarga, dari orang-orang yang menyayanginya, bukan untuk menjauh dari mereka, tetapi untuk mencari ilmu, mendekat pada jalan surganya1. Dan demi mendapati kedekatan itu, dia harus mengorbankan kedekatannya pada orang-orang terkasihnya. Kerinduannya pada yang terkasih laksana tanah yang lama dilanda kemarau menanti turunnya hujan. Ia tidak selalu gaduh, tetapi diam-diam menyimpan retakan yang hanya dapat dipulihkan oleh kedatangan yang dinanti. Kerinduan itu juga menyerupai kapal di tengah samudera. Sejauh apa pun ia berlayar, hatinya tetap tertambat pada satu pelabuhan tempat ia ingin kembali. Bahkan, kerinduannya seperti ufuk yang menunggu fajar. Ia tahu Matahari akan datang pada waktunya, tetapi setiap detik penantian tetap terasa panjang dan penuh pengharapan. Merindukan yang terkasih adalah fitrah yang Allah titipkan dalam hati manusia. Ia ibarat kompas yang selalu mengarah ke utara. Ke mana pun kompas itu dibawa, jarumnya akan kembali menunjuk ke utara, ke arah yang menjadi tujuan. Demikian pula dengan hatinya yang telah mengenal cinta dan kedekatan. Dia akan terus mencari jalan menuju sosok yang dirindukan.
Seketika pandangannya teralihkan oleh perenungan pada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihima salam. Pengorbanan yang dilakukannya saat ini tidaklah sebanding dengan apa yang kedua nabi besar itu lakukan. Seketika ayat Al-Qur’an yang berisi dialog dua nabi mulia itu terpajang tepat di depan pandangannya: “Ketika anak itu sampai pada (umur) dia sanggup bekerja bersamanya, dia (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu’.”2
Dia tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya menjadi Nabi Ibrahim ‘alaihi salam saat itu. Perintah itu seperti sambaran petir yang datang tiba-tiba, tanpa aba-aba, tanpa persiapan sebelumnya. Orang yang telah menunggu-nunggu dikarunia keturunan sepenuh hidupnya diminta untuk menyembelih, mengorbankan yang telah lama didamba untuk terlahir ke dunia.
Mimpi seorang nabi adalah wahyu3, yang berisi perintah tanpa ada kompromi untuk tidak dijalankan. Tiada yang dapat memahami perasaan Nabi Ibrahim ‘alaihi salam saat itu selain orang yang mencintai suatu hal lalu datang satu kondisi yang dia harus merelakan kepergiannya. Nabi Ismail ‘alaihi salam bukan sekadar anak baginya. Beliau adalah jawaban atas doa yang dipanjatkan selama puluhan tahun, bunga yang mekar setelah musim penantian yang panjang, dan cahaya yang hadir ketika kegelapan menyelimuti setiap penjuru. Karena itu, perintah untuk menyembelih Nabi Ismail ‘alaihi salam bukanlah sekadar perintah mengorbankan seorang putra, melainkan perintah untuk meletakkan sesuatu yang paling dicintai hati manusia di atas altar penghambaan. Allah tidak meminta Nabi Ibrahim ‘alaihi salam kehilangan Nabi Ismail ‘alaihi salam tetapi Allah meminta Nabi Ibrahim ‘alaihi salam membuktikan bahwa Nabi Ismail ‘alaihi salam tidak pernah menggantikan posisi Allah I di dalam hatinya.
Meski tidak sebanding, dia juga pernah merasa kehilangan. Orang yang begitu tulus menjadi temannya di saat anak-anak lain bahkan tidak mau berbicara dengannya meninggal di depan matanya karena leukimia, di waktu ketika mereka tengah bersemangat untuk bersama-sama mempersiapkan studi keluar negeri. Pada akhirnya dia harus merelakan pergi seorang diri, meninggalkan temannya terlelap dalam tanah basah yang menjadi peristirahatan terakhirnya. Hatinya diliputi duka yang mendalam. Orang yang dahulunya sangat sehat, tampak kuat, dan yang menjadikannya bersemangat menjalani hidup kini telah lebih dahulu berjalan menuju cakrawala yang tidak dapat dia ikuti. Adapun dirinya, kini telah berhasil menjejakkan kaki di bumi para nabi, sendiri tanpa teman yang dahulu selalu menyemangatinya meraih cita. Apakah rasa kehilangan yang disadarinya akan selama-lamanya itu seperti perasaan Nabi Ibrahim ‘alaihi salam saat diperintah menyembelih sang putra. Mungkin. Namun tidak sepenuhnya. Tentu rasanya berbeda, dan jauh lebih sakit pastinya. Namun Nabi Ibrahim ‘alaihi salam begitu tegar menerima titah Sang Tuhan. Tidak sedikit pun beliau goyah. Dengan tulus beliau mengajak diskusi putranya, bukan untuk mencari validasi perasaan hatinya, tetapi untuk menguatkan mental sang anak saat eksekusi perintah nantinya.
Siapa yang menyangka bahwa jawaban Nabi Ismail ‘alaihi salam pada akhirnya lebih meyakinkannya untuk menjalankan perintah Ilahi tanpa kompromi: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”4 Jawaban itu sungguh menguatkan hatinya. Jawaban yang melampaui pikiran anak biasa. Tidak mengherankan sebenarnya karena beliau adalah seorang nabi, yang juga adalah putra dari nabi yang menjadi moyang bagi para nabi termasuk Sang Nabi Kebanggaan Semesta, Rasulullah ﷺ.
Keteguhan mereka berdua begitu membuat takjub siapa pun yang membaca kisahnya. Mereka pasangan ayah-anak yang begitu cinta pada Tuhannya, cinta yang mengalahkan cinta pada apa pun yang dipunya. Sejatinya manisnya iman memang baru akan didapatkan bila kita menempatkan cinta kepada Sang Maha Kuasa lebih dari apa pun dan mendasari cinta itu dengan cinta kepada-Nya.5
Pada akhirnya, pengorbanan mereka tidaklah sia-sia. Di detik-detik ketika bilah pisau telah siap untuk menjadi pemutus antara kehidupan dan kematian, Allah I menggantikan Nabi Ismail ‘alaihi salam dengan domba yang didatangkan dari surga. Perintah itu adalah untuk menguji sejauh mana cinta mereka kepada Tuhannya. Dan mereka pun lulus karena menjadikan cinta kepada Allah I di atas segala-galanya sehingga menganugerahi mereka kedekatan kepada-Nya. Pengorbanan mereka begitu tulus sehingga Allah I menerimanya. Bukankah pengorbanan terbaik yang akan diterima, sedangkan yang buruk akan tersisihkan? Itulah mengapa kurban Habil diterima, sementara kurban Qabil ditolak. Di situlah keadilan Ilahi bekerja: bukan pada besarnya persembahan, melainkan pada dalamnya ketulusan6. Allah I tidak membutuhkan apa pun dari kurban manusia. Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada-Nya, melainkan yang sampai adalah ketakwaan.7 Kurban pada akhirnya bukan tentang apa yang diberikan, melainkan tentang hati yang rela memberikan.
Angin khamsin musim semi kembali menyapu pipinya yang kini sudah tidak lagi basah. Renungan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihi salam menyadarkannya bahwa harus ada yang dikorbankan demi sebuah kedekatan. Demi mencari ilmu di pusat dunia (ummu dunya), sebagaimana warga sana menyebut negaranya, demi menjadi dekat dengan pusat ilmu, demi mendekat pada jalan surganya, dia harus mengorbankan kehangatan keluarga, kedekatan dengan para kinasihnya.
Pada akhirnya, momentum kurban setahun sekali menjadi semacam pengingat bagi kaum muslimin bahwa akan selalu ada pengorbanan untuk menggapai kedekatan. Di saat kedekatan itu telah digapai, maka Dia Yang Maha Kuasa akan menganugerahi kita dengan banyak hal yang bahkan tidak pernah terlintas dalam benak manusia.8,9 Kurban juga mengajarkan bahwa segala yang dipunya: rumah, tanah, kendaraan, anak, atau apa pun yang ada pada diri kita, hanyalah titipan, yang kelak saat Allah I minta, kita akan dengan lapang dada harus menyerahkannya. Kurban menjadikan kita lebih fokus dan bersyukur dengan apa yang dipunya, bukan mempersoalkan yang tidak diterima. Karena di saat semua itu kembali diminta oleh si empunya, yang akan kita lakukan hanyalah meratapinya. Mata yang dapat melihat, telinga yang dapat mendengar, lisan yang dapat berbicara, kaki yang dapat melangkah, sejatinya adalah hal-hal yang setiap hari perlu disyukuri dan menjadi alasan untuk kita mengungapkan rasa terima kasih atas kehidupan yang telah dianugerahkan.
Keterangan:
- Muslim, bab Fadhlu al-Ijtima’ ‘ala Tilawah al-Qur’an wa ‘ala al-Dzikr, no. 2699: مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
- al-Shaffat, 37/102.
- Bukhari, kitab Bad’u al-Wahyi, no. 3: أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنَ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ، فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ “Permulaan wahyu yang diterima Rasulullah ﷺ adalah mimpi yang benar ketika tidur. Tidaklah Beliau melihat suatu mimpi melainkan datang seperti cahaya subuh yang nyata.”
- al-Shaffat, 37/102.
- Bukhari, kitab al-Iman, bab Halawah al-Iman, no. 16: ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ “Tiga perkara yang apabila ketiganya ada pada diri seseorang, makad ia akan meraih manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selainnya, (2) tidak mencintai, melainkan hanya karena-Nya. (3) benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan sebagaimana benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.”
- al-Ma’idah, 5/27: وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ ۖ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah satu dari mereka (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia berkata (Qabil): ‘Aku pasti membunuhmu!’. Berkata Habil: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertakwa’.”
- al-Hajj, 22/37: لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
- Bukhari, kitab al-Riqaq, bab al-Tawadhu’, no. 6502: وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا “Tidaklah hamba-Ku mendekati kepada-Ku dengan yang lebih Kucintai daripada yang Kuwajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi telinga yang dengannya dia mendengar, mata yang dengannya dia melihat, tangan yang dengannya dia menjamah, dan kaki yang dengannya dia melangkah.”
- HR. Muslim, kitab al-Jannah wa Shifati Na’imiha, no. 2824: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ “Telah Kusiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.”







Discussion about this post