Hujan gemericik sejak pagi, mengetuk genting secara bergantian dan membasahi jendela kamar yang penuh barang tak tertata. Di meja belajar, secangkir kopi terlanjur dingin, buku-buku terbuka tanpa disentuh. Nafi’, seorang mahasiswa tingkat akhir duduk di kursi belajarnya sembari menatap halaman yang sama di bukunya selama berjam-jam, membaca baris pertama berulang kali tanpa pernah sampai ke baris selanjutnya.
Lampu belajar terus menyala, memancarkan cahaya putih pucat yang menyoroti tumpukan buku dan lembar tugas berserakan, yang seolah-olah tak pernah berkurang meski waktu terus berjalan. Coretan pena memenuhi halaman: sebagian dicoret ulang, sebagian lainnya dibiarkan kosong, menunggu pikiran yang tak kunjung menemukan kejernihan. Di luar jendela, hujan turun rintik-rintik, memantul menari-nari di aspal dan menyanyi riang di atas genting menyuarakan simfoni bercampur suara orang-orang berlalu-lalang. Tawa mereka pecah di antara derasnya air, ringan dan lepas, seakan-akan dunia di luar kamar itu berjalan tanpa beban. Suara langkah kaki, obrolan singkat, dan bunyi kendaraan yang terdengar samar-samar melintas membentuk hiruk-pikuk yang terasa begitu jauh.
Di kamar, yang terdengar hanya keheningan yang berat, menggantung di udara dan perlahan menekan dada. Waktu terasa berjalan lebih lambat, meninggalkan Nafi’ sendirian bersama pikiran-pikirannya yang belum menemukan jawaban. Ia menarik napas panjang, membuka ponsel, lalu kembali menutupnya; melakukannya tanpa ada makna. Kotak pesannya penuh notifikasi, tetapi semua percakapan terdengar asing. Dunia yang dulu penuh ambisi dan rencana, kini terasa kabur, seperti tulisan di kaca yang terhapus embun, kian pudar melebur.
Ada kalanya ia menatap ke luar jendela, melihat cahaya lampu jalan yang berpendar di genangan air. Di situ, dilihatnya bayangan dirinya sendiri, lelah, tetapi tidak tahu apa yang membuatnya merasa demikian. Setiap hari terasa sama: bangun, kuliah, kembali ke asrama, dan tidur lagi, seolah-olah hidup terus berjalan, tetapi ia sendiri berhenti di satu titik yang tak bisa dijelaskan. Pernah suatu malam, ia berjalan sendiri menuju taman. Hujan baru saja reda. Dia duduk di bangku lusuh di bawah pohon beringin besar yang telah dimakan usia; tak ada tujuan, tak ada kawan bicara, hanya suara serangga dan detak jantungnya sendiri yang terdengar lebih keras dari biasanya.
Ditatapnya langit tanpa bintang, lalu di antara kabut tipis, ada sesuatu yang sejak lama mengendap di benaknya, sebuah kegelisahan yang tak pernah benar-benar menemukan ruang untuk disuarakan. Dalam diam yang memanjang, perlahan Nafi’ menyadari bahwa kegelisahan itu bukan sekadar rasa lelah, melainkan pertanyaan yang terus menuntut jawaban: “Siapa aku? Mengapa aku diciptakan menjadi ‘aku’, bukan dia atau mereka? Mengapa aku di sini, di dunia, dan apa tujuanku dilahirkan ke dalamnya?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu sering kali datang saat dia menyepi, ketika dunia terasa begitu bising, tetapi hatinya justru sunyi tak bertepi. Namun, justru dari kesunyian itulah pencarian makna hidupnya dimulai. Dari kesunyian itulah dia perlahan menyadari bahwa kegelisahan yang dia rasakan bukanlah sesuatu yang asing. Dia tak sendiri ternyata. Di lingkungannya, banyak yang memendam pertanyaan serupa tentang arah hidup dan maknanya. Sering terngiang-ngiang di telinganya kalimat yang sering mereka dengungkan, “Hidup hanya sekali, lakukan saja apa pun sesukamu, semaumu!”
Namun, semakin dia renungkan, muncul keraguan dalam diri, “Apa benar aku bisa melakukan apa pun sesukaku, semauku? Atau hanya sedikit hal yang bermakna, yang memiliki guna?” Dalam perenungannya, dia menyadari bahwa di lingkungannya banyak orang yang sudah mencoba segala hal dalam hidupnya, tetapi masih merasakan kehampaan dalam rongga hatinya dan tersesat dalam kesibukan tanpa arti.
Dalam perjalanan kembali ke kamarnya setelah renungan di malam yang sunyi itu, matanya terpaku pada sebuah kalimat yang tertulis indah di dinding asrama yang telah ada sedari dulu, namun luput dari perhatiannya, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya.” Ditatapnya lekat-lekat tulisan itu dengan penuh perhatian, seakan itulah jawaban dari berbagai pertanyaan yang bercokol dalam kepalanya akhir-akhir ini.
Hidup Bermakna, Hidup yang Berguna
Di tengah budaya sering memuja pencapaian besar, jabatan tinggi, dan pengaruh yang luas, banyak orang lupa bahwa kebermanfaatan tidak selalu datang dalam bentuk yang terlihat megah. Kadang ia hadir dalam tindakan kecil yang nyaris tak diperhatikan, bahkan oleh pelakunya sendiri. Dalam agama, keimanan tidak hanya berkaitan dengan keyakinan yang tersembunyi dalam hati antara hamba dan Tuhannya. Keimanan juga menjelma dalam tindakan nyata yang menyentuh kehidupan orang lain. Menariknya, dari cabang iman yang Nabi kita ﷺ ceritakan, kebanyakannya bersifat muta‘addi, yakni kebaikan yang dampaknya melampaui diri sendiri, yang mengalir keluar, yang memberi manfaat bagi orang lain.
Mungkin itulah alasan mengapa menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan juga termasuk cabang iman.1 Tindakan itu mungkin terlihat sederhana, hanya memindahkan batu kecil atau ranting yang menghalangi jalan. Namun tanpa disadari bisa menimbulkan dampak sangat besar: mencegah orang lain mengalami kecelakaan, memudahkan perjalanan seseorang yang bahkan tidak kita kenal. Dengan demikian, iman tidak selalu hadir dalam peristiwa besar, seringkali ia muncul dalam bentuk perhatian kecil terhadap sesama.
Jika merenungkan kehidupan di semesta, kita dapat melihat bahwa semua makhluk hidup saling terhubung dan saling membantu: Matahari memberi cahaya dan energi yang sangat penting bagi kehidupan di bumi. Cahaya Matahari dimanfaatkan bunga dan tumbuhan untuk berfotosintesis sehingga dapat tumbuh dan menghasilkan nektar. Nektar itu lalu menarik lebah dan kupu-kupu untuk datang. Saat lebah dan kupu-kupu hinggap di bunga untuk mengambil nektar, secara tidak langsung mereka membantu proses penyerbukan bunga. Dari proses penyerbukan itu, bunga dapat berkembang menjadi buah dan menghasilkan biji. Buah dan biji lalu dimakan burung atau hewan lain yang membantu menyebarkan biji ke berbagai tempat. Dari biji yang tersebar itu, ditumbuhkan tanaman baru yang kembali memanfaatkan cahaya Matahari untuk hidup. Dan puncak dari rantai kebermanfaatan itu, manusialah yang paling membutuhkannya untuk keberlangsungan hidupnya. Dengan demikian, terlihat bahwa dari Matahari, tumbuhan, serangga, hingga hewan, semuanya saling berkaitan dan saling membantu dalam menjaga kelangsungan kehidupan.
Ada kemanfaatan yang hadir terang di hadapan kita, seperti pohon yang berbuah atau matahari yang menebarkan cahaya. Namun ada pula manfaat yang bekerja dalam hening, tanpa riuh, tanpa pujian. Mikroorganisme yang tak terlihat mata menjaga kesuburan tanah, bakteri baik dalam tubuh juga diam-diam membantu pencernaan kita. Meski tidak selalu terlihat, keberadaannya menjaga keseimbangan kehidupan. Hakikat hidup ternyata adalah simbiosis: hubungan saling memberi dan menerima yang membuat ekosistem tetap ada. Tanpa kontribusi kecil dari makhluk-makhluk yang tidak terpandang, keseimbangan alam bisa runtuh. Mungkin karena itulah Nabi ﷺ mengingatkan agar tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun.2 Kebermanfaatan tidak dilihat dari besar-kecilnya hal yang dilakukan, melainkan dari hati yang tulus tanpa pamrih dalam melakukan. Perlu disadari bahwa terkadang kita merasa telah melakukan suatu hal yang besar, tetapi pada akhirnya kita dapati bahwa hal itu tidak memberi manfaat apa pun selain memenuhi ego kita semata.
Pesan dari hadis tersebut menggeser cara kita menakar nilai seseorang. Ukuran kebaikan tidak selalu ditentukan oleh besarnya kekuasaan atau luasnya pengaruh, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang ia berikan. Masalahnya, manusia seringkali terjebak dalam perlombaan untuk selalu berada di atas, menjadi yang paling menonjol, paling terlihat, paling dipuji. Padahal, dalam banyak situasi kehidupan, justru perlu ada yang berada di bawah agar yang lain dapat berdiri tegak, seperti fondasi bangunan yang tidak pernah terlihat, tetapi menopang seluruh struktur di atasnya. Tanpa fondasi itu, kemegahan bangunan tidak akan bertahan lama.
Oleh karenanya, kebermanfaatan tidak diukur dari mulianya posisi seseorang, tetapi dari ketulusan dalam memberi. Seseorang bisa saja memiliki pengaruh besar namun memberi sedikit, sementara orang lain yang hampir tidak dikenal justru memberi banyak dalam diam. Ada anak bertanya pada ayahnya, “Apakah tujuan hidup hanya untuk hidup?” Ayahnya tersenyum lalu mengajaknya berjalan ke taman. Mereka duduk di bawah pohon besar yang rindang. “Pohon ini hidup”, kata sang ayah, “Tetapi tak sekadar hidup, ia memberi teduh, menyuguhkan oksigen, menjadi tempat burung-burung bersarang. Kehidupannya menjadi berarti karena ia memberi sesuatu kepada yang lain.”
Untuk sejenak, anak itu terdiam, memandangi daun-daun yang bergerak pelan tertiup angin. Saat itulah dia memahami bahwa hidup bukan sekedar bertahan dari hari ke hari, tetapi hidup akan menjadi bermakna ketika keberadaan kita membuat dunia menjadi lebih baik meski sedikit saja. Mungkin itulah makna terdalam dari kebermanfaatan: bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri, tetapi tentang seberapa banyak yang dapat berdiri tegak karena keberadaan kita.
Eksperimen Ke-13
Dalam satu perenungannya, Nafi’ meyakini bahwa kebaikan hanyalah cerita yang manusia buat agar hidup terasa lebih indah dari kenyataannya. Baginya, setiap bantuan pasti menyimpan motif tersembunyi: ingin dipuji, ingin dihargai, atau sekadar ingin merasa dirinya baik. Keyakinan itu Nafi’ sampaikan kepada dosennya saat sesi diskusi di kelas.
Dosennya hanya tersenyum dan berkata bahwa dirinya tengah menjalankan sesuatu yang mungkin dapat menguji keyakinannya, sebuah penelitian kecil yang diberi nama ‘Eksperimen ke-13’. Nafi’ tidak terlalu peduli dan mengabaikannya. Hidupnya berjalan biasa saja sampai suatu pagi saat tengah berada di halte depan kampus untuk pulang, dia melihat seorang remaja terjatuh di depannya. Tanpa berpikir panjang, ia membantunya mengambil tas yang terjatuh, mengumpulkan buku-buku yang tercecer, memasukkannya kembali ke dalam tas. Tak lupa, ia juga membantunya menyeberangi jalan sebelum menaiki bus ke arahnya pulang. Dia melupakan kejadian itu secepat orang melupakan hujan yang sudah berhenti.
Beberapa bulan berlalu, dosennya itu memanggilnya ke ruangannya, memperlihatkan sebuah peta jaringan aneh yang tertempel di dinding, sebuah peta yang menggoreskan garis-garis kecil yang saling terhubung seperti akar pohon di tanah. Singkat cerita, dosennya kembali mengingatkannya pada kejadian itu. Beliau menyampaikan bahwa remaja yang Nafi’ tolong di hari itu sebenarnya sedang dalam perjalanan menuju sekolah barunya untuk mengumpulkan berkas pendaftaran. Dia datang bersama kakaknya yang berjalan lebih dulu karena terburu-buru. Di dalam tasnya ada beberapa dokumen penting seperti formulir pendaftaran, fotokopi rapor, juga kartu keluarga. Ketika tasnya jatuh dan kertas-kertasnya berserakan, dia sempat panik karena takut ada dokumen yang tercecer dan hilang. Bantuan Nafi’ membuat semua kertas itu bisa dikumpulkan kembali sebelum tertiup angin atau terinjak orang lewat. Berkat Nafi’, remaja itu bisa menyerahkan berkas pendaftarannya tepat waktu.
Nafi’ menyimak cerita itu dengan wajah biasa saja tanpa mencoba mengingat-ingat detailnya. Baginya, itu hanya bantuan kecil yang pasti akan dilakukan orang-orang tanpa diminta. Dosennya masih belum selesai. Ada satu hal yang akan membuat rona muka Nafi’ berubah seketika itu juga. Dosennya menunjukkan foto koran lama di ponselnya, foto seorang anak kecil yang duduk di bangku ruang tunggu sebuah stasiun kereta sekitar 12 tahun yang lalu.
Ya, anak itu adalah Nafi’ kecil. Dosennya menjelaskan bahwa pada hari itu, Nafi’ sempat terpisah dari orang tuanya di tengah keramaian stasiun. Dia terlihat kebingungan dan menangis sejadi-jadinya. Orang yang pertama kali menghampirinya, menenangkannya, lalu membawanya ke petugas stasiun agar orang tuanya bisa ditemukan… adalah dosen yang sekarang duduk di hadapannya.
Nafi’ terdiam lama. Saat itulah dia menyadari sesuatu yang sederhana tetapi dalam, bahwa kebaikan tidak datang sebagai peristiwa besar yang mengubah dunia. Ia hadir dalam bentuk tindakan kecil yang dilakukan tanpa banyak dipikirkan: membantu mengumpulkan buku yang jatuh, menenangkan anak yang tersesat, atau sekadar berhenti sejenak untuk menyingkirkan kerikil yang ada di tengah jalan. Dan seringnya, kebaikan-kebaikan kecil itu saling terhubung, bergerak diam-diam dari satu kehidupan ke kehidupan lain membentuk kebermanfaatan bagi sesama.
Rangkaian peristiwa yang saling terhubung itu akhirnya menyingkap sedikit dari misteri yang lama mengusik pikirannya. Tidak semua pertanyaan hidup terjawab hari itu memang, tetapi yang pasti, satu hal menjadi terang baginya: barangkali alasan dirinya hadir di dunia ini teramat sederhana: menjadi bagian dari kebaikan, sekecil apa pun, yang memberi manfaat bagi makhluk lainnya dalam bentuk dan porsi sesuai bakat yang dipunyai.
Referensi:
- HR. Bukhari, Kitab al-Iman, no. 9: الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ “Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan lā ilāha illallāh, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman.”
- HR. Muslim, no. 2626: لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْق “Jangan sekali-kali meremehkan kebaikan sekecil apa pun.”







Discussion about this post