Apakah kehidupan seseorang akan tertimpa kemalangan atau tidak akan sangat bergantung pada adanya pengetahuannya tentang tujuan hidup. Bahkan bisa dikatakan bahwa pemikiran tentang manusia dan makhluk hidup yang terkadang mengingatkan kita pada teka-teki kehidupan, lambat laun pada takaran tertentu akan menjadi lebih jelas dan semakin terasa sembari mendengar, merasa, serta menjalaninya sendiri.
Sebenarnya, tujuan pertama fitrah dan keseluruhannya sangat jelas; yakni agar manusia dapat mencapai cakrawala iman, makrifat dan kenikmatan ruhani di hadapan hakikat sebenarnya dari semesta dan Allah, sehingga ia pun menyadari perbedaan dirinya sebagai manusia. Maka merealisasikan sebuah rencana yang sangat penting dan besar seperti ini, hanya dan hanya akan sangat bergantung pada sebuah pemikiran yang tersistem dan tindakan yang penuh kedisiplinan. Jika kita masih terkunci pada pemikiran dengan penjelasan terperinci, maka harus dipahami bahwa hal ini baru dapat dimulai dengan sebuah rencana awal dan tindakan pertama, pemikiran dan tindakan pada ‘lingkaran kesolehan (siklus kesuburan) dibentuk dari lingkaran awalnya, lalu kemudian berbagai lingkaran kesalihan akan mulai hidup di antara kalbu yang memiliki wawasan keIlahian dan akal dengan hikmah ketimurannya. Dengan ini, tindakan atau aksi akan menuju pada pemikiran yang lebih kompleks, mencapai tingkatan yang lebih luas lagi, dan pemikiran-pemikiran pun akan berlanjut menjadi proyek atau program yang lebih besar.
Tak diragukan lagi bahwa tuan yang paling hebat, pemandu yang paling kuat, dan karakter yang paling tangguh pada masa seperti sekarang adalah iman yang kokoh, amal yang berkesadaran, dan setiap amal yang dilakukan dengan pemahaman muraqabah1 mendalam. Dengan hal inilah maka, segala kelalaian, bahkan begitu banyak orang yang terlanjur terjerumus pada kehidupan yang tampak melenakan dan memabukkan dapat berubah menjadi individu yang sadar pada kewajibannya, masing-masing berubah menjadi seperti sebuah ‘observatorium’ yang memungkinkannya untuk menemukan makna sesungguhnya dari kehidupan. Oleh karena mereka berpikir, lalu pemikirannya dibuktikan menjadi sebuah aksi atau tindakan; tindakan tersebut kemudian menjadi lebih dalam lagi dengan adanya kesulitan-kesulitan yang dihadapi dari pemikiran baru dan setiap harinya dilewati dengan rintihan nyeri kontraksi yang berbeda; terus merasakan sakit dan nyeri ini karena mereka meyakini bahwa hanya dengan menanggung derita inilah otak hampa akan menjadi produktif kembali. Ya, mereka memiliki keyakinan bahwa walaupun keadaan teramat sulit, meski rasa sakit semakin menghujam, cinta dan jiwa berada dalam kepedihan sekalipun, namun ide-ide pemikiran yang ada dalam rahim sangatlah kuat, sangat konsisten, dan begitu berpengaruh.
Dengan pertimbangan ini pula mereka akan duduk-berdiri dengan pedihnya pemikiran. Sekali lagi, setiap harinya memintal kembali dari awal keberadaannya dari tempatnya membacanya seperti sebuah buku, dari tempatnya berkontemplasi dengan suka cita bagai sebuah Mahsyar. dan dari tempatnya menghiasi renda pemikiran yang telah dirajutnya dari sehelai benang demi benangnya. Memang, hikmah yang ada pada jiwa kitab semesta selalu mengacu pada hal ini dan tujuan penciptaan manusia pun senantiasa menunjukkan hal ini.
Maka, yang harus selalu ditekankan di atas segala sesuatu adalah bahwa keberadaan adalah sebuah tangga nikmat penting yang mutlak harus diketahui kehormatannya. Ya, jika ternyata kita ada dan bersama kita ada banyak kenikmatan yang terkait dengan keberadaan kita ini, maka memanfaatkan serta menjadikannya pada tingkatan kenikmatan yang lebih baik pun adalah pula kewajiban kita pula.
Jika demikian, di atas segalanya kita harus menggunakan semua kemampuan dan kecakapan kita, bahkan hingga batas yang paling akhirnya sekalipun, untuk digunakan pada niatan ini sehingga masing-masing dari kita dapat menjadi pengundang atau pengajak bagi yang lainnya agar mampu memohon hanya pada Sang Maha Berkuasa, dengan segenap kemampuan suara dan panggilan yang mampu kita perdengarkan, kita harus meletakkan keberadaan kita secara sukarela. Memang sebenarnya kewajiban kita juga adalah menyampaikan bahwa dalam kemuliaan dari keberadaan berbagai entitas penciptaan ini, posisi kita, tanggung jawab kita sendiri, hubungan kita dengan alam semesta dan alam sesudahnya, pemikiran dan nalar jiwa kita menjadi sesuatu yang mencari tahu akan nilai-nilai yang ada di balik keberadaan entitas agar menjadi sebuah sumber hikmah tiada tara. Jika pada akhirnya kita mampu melakukan hal ini, maka kita akan dapat mendengar dan memandang diri kita sendiri dengan cara yang berbeda, akan merasakan lebih dalam, sembari mampu memecahkan bahasa semua entitas dan peristiwa, bahkan akan mampu menyaksikan mereka menjelaskan segala sesuatu dan berdialog dengan kita.
Jika tidak keliru, maka inilah cakrawala yang harus kita tangkap atas nama kehidupan yang sesungguhnya. Manusia adalah makhluk hidup penghias semesta yang paling penting, bahkan kita adalah jiwa, ruh, inti dan dasarnya; kumpulan entitas adalah perkembangan dan perluasan dari intisari ini. Kalau begitu bisa dikatakan bahwa tanggung jawab kita yang sebenarnya adalah ketika membaca semua baris dan paragraf yang ada pada segala entitas penciptaan dari posisi kita yang seharusnya, maka kemudian harus mampu pula mengevaluasinya, untuk mengeluarkan semua potensi aktivitas hikmah yang ada di kedalaman jiwa kita mengeluarkan dan memisahkannya dari derau kehidupan jasad yang jika dilihat kasat mata diibaratkan seperti perjuangan derita antara kelahiran-kematian, serta mengantarkannya menuju kehidupan ruh yang telah dijanjikan pada kemuliaan maknawinya dan juga untuk menangkap kelezatannya.
Sesungguhnya, yang menjadikan kehidupan penuh derita ini layak untuk dijalani pun tentunya adalah tercapainya beraneka kebahagiaan dan mendapatkan curahan berbagai rahmat di tiap tingkatan perjalanan yang fana ini. Siapa pun yang berhasil menjalaninya dengan cara ini, maka setiap detik akan dilaluinya dengan keadaan terpesona pada berbagai manifestasi luarbiasa; ruhnya bagai puisi, seperti loncatan sebuah melodi yang terdengar pada semangat alunan frekuensi penuh keriangan, sembari mereguk dengan penuh kenikmatan, sambil menghirup napas dalam kegembiraan, untuk selalu berlari menuju pada-Nya.
Ya, kebahagiaan yang sesungguhnya bagi kita bergantung pada kepuasaan dari luar, kebahagiaan tidaklah pasang-surut ataupun datang dan pergi. Bagi kita kebahagiaan hakiki adalah yang tercurah dari jiwa yang menjadi semakin dalam bersama hubungan kita dengan Allah, dan disempurnakan dengan kebahagian abadi di Janah-Nya. ya, kesenangan inilah yang menyelimuti seluruh keberadaan kita dan ditanggung di dalam diri kita yakni kesenangan bagi kita. Kedalaman kalbu kita adalah sebuah rute perjalanan bagi manifestasi Ilahi, nurani adalah fajar yang mencoba menangkap manifestasi-manifestasi ini, umur kita selalu menunggu di pembaringan dan mata berada pada cakrawala nasib kita yang ketika dengan formalitasnya akan mengarahkan pandangan pada tanda-tanda terkecil sekalipun, jiwa kita pun akan selalu menyenandungkan untaian kalimat “Telah Kau tapaki tahta kalbuku Sultanku selamat datang wahai Tuan”2 yang akan menyuarakan gelora cinta yang besar kepada Sang Maha Pencipta.
Saat ini, kita membutuhkan para pembimbing yang mampu meninggikan semangat dan pendapat seperti ini pada generasi muda masa sekarang, agar mereka pun dapat memiliki iman dan pemahaman seperti ini. Para generasi muda hanya akan dapat menghidupkan masa mudanya itu sepenuhnya pada garis tujuan dan arah ini, ketika mereka berderap di belakang para ksatria yang memiliki ufuk pemikiran ini… Jiwa-jiwa mereka terintegrasi sepenuhnya dengan keabadian pada cakrawalanya, kefanaan dan kemusnahan akan terdengar bagaikan kebakaan.Detik dan menit usianya dengan rasa heran akan menyentuh alam secukupnya saja… dan mereka menatap segala sesuatu dengan sebuah pengaruh dari keabadian pada sisi yang berbeda, lebur pada kekekalan yang berbeda pula. Serta mereka akan mengerti betapa berartinya hidup ini untuk dijalani, mengerti sambil memperhatikan betapa segala sesuatu terbit dan tenggelam pada langit jiwanya sendiri, mereka akan pulang-pergi di antara lubang-lubang sempit yang bersentuhan dengan keabadian, seperti melakukan perjalanan di antara galaksi-galaksi, selalu berada dalam kedalamannya sendiri, sehingga mereka selalu berusaha hidup dengan berbagai dimensi dari kehidupan fana ini secara bersamaan.
Penulis adalah seorang ulama dan cendekiawan muslim yang dinobatkan sebagai 100 orang paling berpengaruh versi Majalah Foreign Policy, aktif menulis buku dan artikel di berbagai media internasional. Hingga kini tercatat lebih dari 70 buku telah beliau tulis dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
Referensi:
- Muraqabah adalah usaha sungguh-sungguh di bawah naungan kehendak Allah dan menjalani hidup dan suluk kita dengan cara terbaik melalui keselarasan antara isi hati dengan penampilan di bawah pengawasan Allah subhânahu wa ta’âla. Kondisi ini hanya dapat terwujud dengan meyakini bahwa Allah selalu melihat segala kondisi manusia; atau bahwasannya Dia selalu mendengar dan mengetahui ucapan mereka, mengetahui keadaan mereka lalu menetapkan takdirnya, dan selalu melihat perbuatan yang mereka lakukan lalu mencatatnya.
- Kalimat ini adalah salah satu kutipan dari seorang ulama besar Passinler, Hassankale, Erzurum bagian timur Anatolia yang bernama Muhammed Lütfi, atau yang lebih dikenal sebagai ‘Alvarlı Efe’.







Discussion about this post