Fiksi mini merupakan salah satu jenis karya sastra baru yang muncul di era internet sekarang ini. Jenis karya sastra baru yang booming seiring dengan munculnya media atau jejaring sosial di Indonesia terutama twitter. Berbeda dengan media sosial lain, twitter hanya menyediakan 140 karakter yang bisa dipakai, lebih dari itu teks tidak akan bisa dipasang di akun. Dengan keterbatasan karakter inilah salah seorang pengguna twitter Agus Noor membuat akun @fiksimini di twitter dan mempopulerkan istilah fiksimini ini dengan membuat tagar fiksimini untuk semua tulisan yang akan dishare di akun tersebut.
Fiksi mini yang dalam Bahasa Inggris dikenal dengan sebutan minifiction, nanofiction, microfiction dan flash fiction ini, mempunyai beberapa keunggulan yaitu lakon, atau kisah cerita bersifat fragmental, memadupadankan berbagai macam gagasan dan imajinasi, diwujudkan dalam satu wacana yang singkat, tetapi pembaca tidak kehilangan alur cerita, serta tentu saja adanya akhir cerita yang mengejutkan para pembacanya. Adapun karakteristik fiksi mini ini adalah menceritakan sebuah kisah dengan seminim mungkin kata.
Fiksi mini sebenarnya sudah dikenal di masyarakat dunia jauh sebelum istilah ini merebak sekarang. Jenis karya sastra ini mulai dikenal dengan munculnya tulisan Hemingway tahun 1920, selain itu sebelumnya masyarakat dunia sudah familiar dengan kisah-kisah sufi dari Nasrudin Hoja maupun Abu Nawas. Walaupun masyarakat dahulu belum mengenal istilah fiksi mini, tetapi karya-karya tersebut dikategorikan dalam bentuk karya sastra mini. Di Jepang jenis karya sastra ini disebut ‘cerita setapak tangan’, sedangkan di Amerika disebut ‘sudden fiction’ dan di Prancis disebut ‘nouvelles’.
Fiksimini dalam Sastra Sunda
Secara historis, keberadaan sastra Sunda sudah ada sejak 5 abad yang lalu dengan munculnya karya-karya sastra Sunda lama, seperti jangjawokan, sisindiran, pantun, dongeng, dan wawacan. Seiring perkembangan zaman, muncullah karya sastra Sunda yang baru seperti novel, cerita pendek dan lain-lain. Cerita pendek dalam bahasa Sunda sudah diterbitkan sejak tahun 1900-an, yaitu Dogdog pangrewog yang diterbitkan tahun 1930. Novel berjudul Baruang kanu Ngarora diterbitkan tahun 1914 dan sajak yang berjudul Lalaki di Tegal Pati diterbitkan pada tahun 1966.
Adapun fiksi mini Sunda, pertama kali dikenalkan pada tahun 2011 dengan munculnya satu akun di jejaring sosial facebook yang menampung tulisan-tulisan dari para penulis fiksi mini atau yang dikenal dengan istilah fikminer. Wadah ini merupakan salah satu upaya dari para pemerhati sastra Sunda khususnya dan bahasa Sunda pada umumnya untuk melestarikan bahasa dan sastra Sunda. Karena ada ketakutan bahwa bahasa dan sastra Sunda akan punah.
Pengertian fiksi mini dalam bahasa Sunda sebenarnya hampir sama seperti pengertian fiksi mini pada umumnya. Fiksi mini Sunda adalah tulisan dalam bentuk prosa yang menggunakan bahasa Sunda, terdapat plot dan panjang tulisan tidak lebih dari 150 kata.
Terkait dengan pengertian fiksi mini ini, salah satu penulis fiksi mini Sunda yang produktif, Ganjar Kurnia, dalam acara bedah buku fiksi mininya yang berjudul ‘Nu keur Neangan’, menyatakan bahwa hampir semua karya yang dihasilkannya selalu bersifat spontan, tanpa rancangan seperti karya sastra lain. Menurut Ganjar kurnia, spontan berarti didasarkan pada apa yang dilihat, didengar dan dirasakan pada saat mencari hal-hal yang dianggap unik dan langsung dicurahkan melalui fiksi mini atau yang disingkat Fikmin.
Fikmin-fikmin karya Ganjar Kurnia bukan fikmin yang susah untuk dipahami alur dan maksudnya. Karyanya tidak dipenuhi istilah atau kata asing, bukan pula fikmin yang dari awal kalimat sampai akhir kalimat yang dipenuhi oleh metafor, ataupun yang dibuat secara perlahan dengan merekayasa diksi dan alur cerita. Tapi fikmin yang ditulis oleh Ganjar kurnia adalah yang ditulis dengan spontan, dari ide yang lewat masih segar dan renyah untuk dibaca. Sejak awal menulis fikmin sampai sekarang, Ganjar Kurnia tetap dalam gayanya yang mandiri. Tidak tergiur untuk berubah dengan gaya baru ataupun bentuk yang berbeda. Walaupun fikminnya ditulis dengan spontan, tapi isinya mengungkapkan berbagai macam persoalan. Baik persoalan yang tidak terlihat maupun persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang mengajak berpikir, ada yang mengajak tertawa bahkan ada yang mengajak menangis merenungi diri tapi tidak kehilangan esensi fiksi mini yaitu imajinatif, mengajak berpikir pembacanya serta mengungkap makna yang luas dalam kata dan kalimat yang singkat.
Pada akhirnya, fiksi mini Sunda merupakan karya sastra digital yang lahir mengikuti perkembangan zaman. Kemunculannya merupakan salah satu alternatif untuk menyalurkan para penulis Sunda agar terus menulis. Serta memberikan ruang bagi para pemula yang ingin menulis dalam bahasa Sunda tanpa takut dengan semua aturan kepenulisan dan tata bahasa. Maka tidaklah mengherankan sampai saat ini grup FBS ini sudah mempunyai anggota yang jumlahnya ribuan, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.
Berikut adalah beberapa fikmin yang ditulis oleh Ganjar Kurnia:
Fikmin #Tibra#
Ngalekik peureum benta, terus tibra. Hudang-hudang kageurewahkeun ku Munkar Nakir.
Nyenyak
Minum langsung dari botolnya. Merem melék, lalu pulas. Bisa siuman, dibangunkan Munkar Nakir.
Fikmin #Ayeuna-Ayeuna#
Umur ge karek genep taun, tapi mereketkeun maneh, sangkan puasa teu bocor. Komo deui ku Bapa dijangjian, lamun tama trek dipangmeulikeun baju anyar. Waktu beuki nyerelek, lebaran tinggal sabarah poe, baju anyar angger can nyampak. Babaturan mah geus paagul-agul. Ari ditaroskeun, Bapa ngan ukur ngusapan, “Sing sabar we, teu acan aya artosna”
Unggal sore, lengo deui-lengo deui nungguan Bapa mulang, bari sugan mawa bungkusan. Ti kajauhan keneh biasana tos kakuping sora sepedahna. Niliktrik. Sepedah kameuemeutna, merk Raliegh anu make perseneleng.
Poe kadalapan likur, ngabuburit rada jauh. Barang datang ka imah, baju lebaran geus nyampak, lengkap jeung sapatuna. Atoh kacida. Tapi sepedah Bapa duka ka mana? Poho deui kumaha perasaan kuring harita, waktu nyaho sapedah dijual keur lebaran. Ngan ayeuna-ayeuna, unggal asup tanggal lilikuran, tuluy inget kana eta kajadian, teu karasa cimata maseuhan lahunan. Rabbigh firlii waliwalidayya warhamhumaa kamaa Rabbaayani shogiro.
Sekarang-sekarang ini
Umur baru 6 tahun, tapi memaksakan diri untuk tidak batal puasa. Terlebih lagi bapak berjanji, kalau tidak batal akan dibelikan baju baru. Waktu bergerak cepat, tidak terasa lebaran tinggal beberapa hari lagi. Baju baru belum juga ada, padahal teman-teman sudah pada pamer baju lebaran. Ketika ditanyakan kepada bapak, beliau hanya mengelus kepala: “Yang sabar ya, belum ada uangnya”. Setiap sore menunggu bapak pulang sambil berharap membawa bungkusan. Biasanya, dari kejauhan sudah terdengar suara sepedanya. Sepeda kesayangan bapak merek Raliegh. Hari ke-28 puasa, “ngabuburit” agak jauh. Ketika pulang ke rumah, baju lebaran sudah ada, lengkap dengan sepatunya. Senang bukan kepalang. Tapi sepeda bapak entah ke mana? Lupa, entah bagaimana perasaan waktu itu, ternyata sepeda kesayangan Bapak dijual.
Sekarang-sekarang ini, setiap menjelang akhir Ramadan, selalu teringat lagi kejadian itu. Air mata pun menetes, membasahi pangkuan. Rabbighfirlii waliwalidayya warhamhumâ kamâ Rabbayani shogiro.
Fikmin # Mun Teu Dipindingan
Jam ngélénéng dualas kali. Cenah ngélingan, ganti taun ngurangan umur. Tapi kapan unggal detik ogé umur téh dicontangan, naha kudu diélingan ku pésta, ku seloki, ku hura-hura taunan. Patoja’iyah! Diri matwa sorangan.
Kembang api mimiti diseungeut. Seuneuna mancawura. Kaéndahan ukur sapisan, kawas hirup nu masih kénéh nyeungeutan dosa. Sora tarompét kadéngé raéng. Rada inget ka Isrofil, hirup aya tungtungna, aya alam séjén anu kudu disorang.
Kalénder heubeul dibébékkeun. Tanggalna racleng persis konta anu dibesatkeun ku Arjuna, neumbag kana karumasaan. Pésta lekasan. Peuting ngolotan. Ti masjid hawar-hawar, anu ngaderes keur maca surat Al Isro. Palebah ayat “Iqro kitaabaka kafaa binafsika, al yauma ‘alika hasiba”, awak karasa muriang. Kalakuan diilo dibulak-balik. Kurusétra teu bisa ngabohongan. Haté jeung laku tempat Baratayuda, dimeunangkeun deui ku Kurawa. Lalakon belewuk tina catetan buku balitungan, nonggéngan. Gusti, saupami salira henteu mindingan, abdi pasti wirang.
Kalau Tidak Ditutupi
Jam berdentang dua belas kali. Katanya memberi peringatan: “ganti tahun — umur berkurang”. Tapi bukankah setiap detik juga, umur berkurang? kenapa malah harus diperingati dengan pesta, dansa dan minuman keras? Kontradiktif, kata hati berfatwa kepada diri.
Kembang api mulai dinyalakan. Apinya melukis langit. Keindahan sesaat, seperti hidup yang masih menebar dosa.
Terompet ramai ditiup. Suaranya memekakkan. Ingat Israfil, bahwa kehidupan ada ujungnya.
Kalender tahun lama disobek, dilemparkan. Tanggalnya berloncatan, seperti konta yang dilesakkan Arjuna. Tepat menghantam rasa kealpaan.
Pesta berakhir. Malam semakin tua. Dari pengeras suara masjid terdengar orang yang sedang membaca surat Al–Isro. Pada ayat yang berbunyi: “Iqro kitaabaka kafaa binafsika, al yauma ‘alika hasiba” (Bacalah kitabmu, cukuplah hari ini engkau menjadi penghisab atas dirimu sendiri), sekujur badan meriang, panas dingin. Benar, salah ditimbang. Padang Kurusetra tidak bisa berbohong. Hati dan kelakuan sebagai perang Baratayudha dimenangkan lagi oleh Kurawa. Lakon hidup yang penuh daki menungging sinis. Ya Allah, kalau aib-aib yang dilakukanw tidak kau tutupi, betapa malunya diri ini.
Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA adalah seorang guru besar sosiologi pertanian dan budayawan yang menjabat sebagai rektor Universitas Padjadjaran periode 2007 – 2015. Beliau pernah menjadi atase pendidikan dan kebudayaan Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia Prancis dan turut berkontribusi dalam mempromosikan kebudayaan Sunda.
Pena dan Tinta
Bila pohon-pohon di bumi jadi pena
Bila semua samudera jadi tinta
Ditambah lagi tujuh lautan dunia
Kalimat Allah tak akan habis-habisnya
Dituliskan untuk dibaca manusia
Ma nafidat kalimatullah
Kalimat Allah adalah ilmu-Nya
Kalimat Allah adalah hikmah-Nya
Rabbana, kurniakan kiranya
Ilmu dan Hikmah pada kami semua.
Pohon jadi pena
Samudera jadi tinta
Ilmu dan hikmah-Nya
Tak habis-habisnya
Ma nafidat kalimatullah







Discussion about this post