Bumi kita merupakan sebuah bahtera layar sempurna yang mengarungi samudera angkasa dengan penuh harmoni, adalah sebuah rumah bagi umat manusia sekaligus cermin serta titik fokus dari semua asma dan sifat Ilahi. Sembari melihat setiap benda dan peristiwa melalui kesadaran iman, mereka yang menyadari keberadaan Sang Pemilik Bumi dan langit, saat berusaha menjadikan umurnya sebagai benih dari kebahagiaan abadi, maka di saat itulah mereka akan duduk dan berdiri dengan pemikiran untuk membuat tempat tinggal mereka indah dan bersih serta menghirup napas ketenangan. Mereka pun selalu bersyukur pada Allah yang telah menghilangkan dan mengangkat segala bentuk duka-nestapa dari dirinya.1
Sayangnya, perbuatan penduduk bumi saat ini terhadap planet tua yang telah lama menjadi tempat tinggalnya ini, dengan menggaungkannya sebagai “perubahan iklim” dan seakan-akan menjelma menjadi sebuah jeritan yang terpekik terpaku pada dinding-dinding ekosistem. Perubahan iklim perlu ditangani bersamaan dengan peningkatan populasi, migrasi, urbanisasi yang cepat dan tak terencana, kelangkaan sumber daya dan pangan, kemiskinan, ketimpangan sosial-ekonomi, serta wabah dan penyakit menular. Semua hal ini berubah menjadi serangkaian permasalahan yang tidak dapat diprediksi dan sulit untuk diatasi oleh umat manusia, sebagaimana terlihat saat wabah COVID-19 melanda, pola perilaku sosial yang telah mapan dan tertata pun menjadi berantakan.2
Apa itu Perubahan Iklim?
“Negara-negara yang menghadiri Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-26 di Glasgow, Skotlandia, menandatangani sebuah konvensi berisi langkah-langkah pencegahan terhadap perubahan iklim. Isi konvensi ini mencakup keputusan-keputusan penting seperti pengurangan penggunaan bahan bakar batu bara secara bertahap, evaluasi rutin terhadap rencana pengurangan emisi, serta dukungan finansial tambahan bagi negara-negara berkembang.” Meski kutipan berita yang terbit pada November 2021 ini bisa menjawab sebagian pertanyaan pada judul subbab, tetapi perubahan iklim secara lebih jauh dapat dijabarkan sebagai “Perubahan yang terjadi selama puluhan tahun atau pada dekade yang lebih lama, pada keadaan iklim rata-rata dan pada variabilitas perubahan iklim, terlepas dari apapun alasannya”.3
Bahaya Terbesar yang Mengetuk Pintu Kita
Pada tahun 2021, WHO mengumumkan perubahan iklim sebagai “ancaman kesehatan terbesar yang dihadapi umat manusia.”3 Perubahan iklim dan meningkatnya jumlah emisi karbon dioksida telah menjadi penyebab bagi terjadinya peningkatan suhu ekstrem, kerusakan lingkungan, serta keterbatasan persediaan bahan pangan dan air bersih. Penggunaan bahan bakar fosil yang merupakan penyebab sebenarnya terjadinya gas rumah kaca, telah pula menyebabkan terjadinya polusi udara dan kematian dini. Peningkatan kadar karbon monoksida, timbal, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, ozon, dan partikel-partikel lebih kecil dari 2.5 mikron yang dapat terhirup pernapasan merupakan unsur-unsur utama dari polusi udara. Siklus lingkaran kerusakan yang terbentuk dari perubahan iklim dan polusi udara sangat berhubungan erat dengan kasus penyakit-penyakit reproduksi, pernapasan, dan kardiovaskular, serta masalah kesehatan masyarakat seperti diabetes, kanker, penuaan dini, dan penyakit kejiwaan. Perubahan iklim juga menjadi sebab bagi terjadinya suhu panas ekstrem, banjir, kekeringan, kebakaran hutan, badai debu, angin topan, dan pencemaran udara dalam bentuk emisi limbah gas. Selain itu, perubahan iklim juga mendorong munculnya penyakit menular yang menyebar melalui hewan vektor4 berupa nyamuk dan kutu dikarenakan semakin banyaknya habitat baru bagi perkembangan mereka, meningkatnya wilayah yang mengalami krisis pangan yang menyebabkan malnutrisi, serta semakin panjangnya musim semi yang memperpanjang masa penyebaran serbuk sari dan alergen5 luar ruangan lainnya.6
Temperatur Udara dan Kekeringan
Meski umat manusia tidak menyadari bahwa mereka tengah berada dalam ambang bencana, tetapi laporan-laporan yang ada menyampaikan sisi genting kondisi yang dihadapi dan menerangkan bahwa Eropa kini sedang mengalami periode paling kering dalam 500 tahun terakhir dan lebih dari setengah daratan Benua Biru berada di bawah ancaman kegersangan.7 Yang mengkhawatirkan adalah bahwa kekeringan tidak hanya mengancam Eropa, tetapi juga seluruh penjuru dunia, selain menyebabkan krisis pangan dan air bersih, kekeringan ini juga mengakibatkan kebakaran hutan. Sekitar 2,3 miliar orang tinggal di wilayah rawan kekeringan, dan dalam 50 tahun terakhir, 650.000 manusia meninggal dunia karena terdampak kekeringan. Pada hari ini, jutaan anak berada di bawah ancaman kekeringan berkepanjangan yang mengerikan. Selain itu, dalam 50 tahun ke depan diperkirakan 3,5 miliar manusia terancam menghadapi panas yang semakin tak tertahankan sebagai dampak dari perubahan iklim akibat perbuatan kita sendiri. Oleh karena itu, dikhawatirkan akan terjadi migrasi global dari daerah atau negara yang didominasi kekeringan, kemiskinan kronis, perang atau kekacauan ke wilayah geografis yang beriklim lebih sedang.8
Pencemaran Laut dan Pengaruhnya terhadap Ekosistem Samudera
Kualitas lingkungan laut juga merupakan hal vital bagi penjagaan kesehatan masyarakat. Polusi lingkungan, bahan-bahan kimia, juga mikrob-mikrob penyebab penyakit yang mengancam kelestarian hewan-hewan laut dan kesehatan manusia tak kalah berbahayanya dengan polusi laut yang berakibat buruk terhadap ekosistem laut. Perubahan iklim global turut berpengaruh negatif terhadap ekosistem-ekosistem ini, polutan berbasis bahan bakar minyak menyebabkan penyusutan jumlah organisme penghasil oksigen.
Meningkatnya penyerapan karbon dioksida di lautan menjadi penyebab bagi meningkatnya derajat keasaman yang berdampak negatif pada terumbu karang. Situasi tersebut juga merusak tumbuh-kembang kerang-kerangan, mengurai mikroorganisme yang mengandung kalsium di dasar rantai makanan laut, serta meningkatkan efek toksik yang bersumber dari polutan. Sementara itu, polusi plastik yang terakumulasi dalam pusaran besar di tengah lautan dan mengancam mamalia laut, ikan-ikan, dan burung-burung laut, akan meluruh menjadi partikel plastik mikro dan nano yang dapat masuk ke jaringan banyak organisme laut, termasuk spesies yang dikonsumsi oleh manusia. Di saat limbah industri menambah kepadatan alga berbahaya, polusi bakteri, dan resistensi antimikroba9, maka di sisi lain organisme-organisme berbahaya seperti Vibrio sp10 dan faktor-faktor ekologi penyebab degradasi lingkungan lainnya mengakibatkan penurunan stok ikan secara global.11
Dampak Polusi Udara
Pertama-tama, perubahan iklim membuat tiga pilar dasar kesehatan (pangan, papan, dan air bersih) berada dalam risiko yang besar. Bencana-bencana alam dapat menghancurkan tanaman di ladang dan hunian manusia, juga mencemari sumber air bersih. Dengan demikian pada kondisi malnutrisi dan munculnya waterborne disease (penyakit bawaan air), di dunia setiap tahunnya ada sekitar 12,6 juta kematian yang sebenarnya dapat dicegah namun terjadi akibat perubahan iklim. Dikarenakan lebih dari separuh kematian ini terjadi karena polusi udara, maka tak dapat dipungkiri bahwa terdapat hubungan erat antara perubahan iklim dan polusi udara serta faktor-faktor lain yang dihadapi lingkungan. Di saat kebakaran hutan berkepanjangan menyebabkan paparan asap yang lebih banyak, perubahan iklim justru memicu peningkatan kadar reaksi kimia di atmosfer yang memengaruhi ozon dan pembentukan partikulat12, juga memperpanjang musim penyerbukan yang menyebabkan konsentrasi serbuk sari di udara bertambah. Efek langsung dari setiap sebab di atas adalah terjadinya kerusakan paru-paru dan peradangan saluran pernapasan akibat produksi oksidan reaktif. Akumulasi partikulat kronis dalam sel-sel sistem imun (yakni dalam makrofag-makrofag13) yang biasa memakan mikrob-mikrob dalam alveolus (yang berada di kantung paru-paru) dan ozon yang berada di lingkungan, lalu gangguan fagositosis14, stres oksidatif, dan buruknya klirens mukosiliar15 pada akhirnya memicu terjadinya radang pada saluran pernapasan.
Pada kondisi semakin parahnya penyakit-penyakit paru-paru, seperti asma dan bronkitis kronis, ada peran dari kian melemahnya pertahanan antioksidan serta perubahan-perubahan imunologis dan epigenetik16. Efek toksik yang terjadi pada saluran pernapasan dan paru-paru seiring berjalannya waktu juga akan memengaruhi sistem kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) serta menyebabkan gangguan otonom dan meningkatkan terjadinya peradangan. Pada akhirnya, polusi udara yang disebabkan oleh perubahan iklim memengaruhi hampir semua sistem organ, termasuk paru-paru, jantung, ginjal, otak, dan sistem saraf melalui interaksi yang rumit antara peningkatan stres oksidatif, peradangan sistemik, dan disregulasi sistem kekebalan tubuh.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Perubahan iklim memberikan dampak negatif bagi banyak faktor sosial seperti kesetaraan, mata pencarian, akses terhadap pelayanan kesehatan dan sosial. Dampak-dampak ini dirasakan secara tidak proporsional oleh mereka yang paling rentan dan memiliki kondisi kurang beruntung, termasuk di antaranya kelompok-kelompok perempuan, anak, etnis minoritas, masyarakat miskin, penduduk migran, serta lansia. Di saat layanan kesehatan menjadi hal yang paling dibutuhkan ketika terjadi perubahan iklim, ia justru menjelma menjadi fasilitas yang paling banyak terdampak. Dalam menghadapi tantangan ini, para ahli mengusulkan berbagai kegiatan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim dan mengurangi dampak buruk dari perubahan tersebut.
Beradaptasi dengan perubahan iklim berarti mempersiapkan masyarakat untuk melakukan tindakan-tindakan “pencegahan sekunder”. Hal ini berarti kemudahan akses terhadap pelayanan-pelayanan kesehatan serta perkembangan kemampuan untuk mengatasi beban kesehatan seperti kejadian penyakit asma dan malaria atau penyakit-penyakit mental yang timbul akibat migrasi terpaksa17. Namun, yang paling penting dari itu semua adalah perjuangan mengatasi sebab utama dari hal-hal negatif ini dan mempraktikkan langkah “pencegahan primer”.
Tugas kaum mukminin yang menjadi khalifah Allah di muka Bumi atau yang oleh para cendekiawan muslim disebut sebagai “kitab alam semesta” adalah menghormati dan menjaga amanah yang diberikan kepadanya dengan sikap saksama. Pendekatan Rasulullah yang menanami kota Madinah dengan pepohonan, membuka ruang hijau terbuka bagi publik, mengadakan konservasi hutan dan hewan sehingga dengannya tercipta wilayah-wilayah serupa taman nasional di Madinah merupakan sebuah hal yang perlu ditelaah dengan baik oleh para praktisi lingkungan karena ditekankan bahwa penghijauan merupakan langkah yang sangat efektif untuk menanggulangi perubahan iklim dan bahwa hutan mampu mengurangi gas rumah kaca hingga darinya.18 Perintah-perintah Rasulullah untuk menjaga kebersihan kota, menjaga keragaman flora dan fauna, membersihkan Masjid Nabawi, menggunakan wewangian, dan tidak membuang sampah di dekat sumber air minum sungguh sangat menarik perhatian kita semua.
Prinsip penting Islam yang lain tentang lingkungan adalah larangan berbuat israf (boros) dan mubazir.19 Setiap tahun ada sekitar 2,5 juta ton makanan dibuang menjadi sampah yang berkontribusi hingga 10% dari total emisi gas rumah kaca. Untuk itu, kita harus menjauhi sifat israf dan perlu mengelompokkan sampah sesuai kategorinya agar dapat diolah kembali.
Insan kamil menyanggupi dirinya untuk senantiasa siap memberi kemanfaatan bagi masyarakat di tempatnya tinggal dan memberikan solusi bagi permasalahan-permasalahan umum sebagai bagian dari tanggung jawab sosialnya. Manusia-manusia yang mengambil hikmah dan meneliti seluruh kegiatan pembersihan, manifestasi dari asma Al-Quddus yang dapat disaksikan dan terjadi di seluruh semesta ini, akan melihat dirinya sebagai bagian dari keluarga besar umat manusia sehingga selalu berupaya untuk menemukan solusi bagi persoalan-persoalan masyarakat. Oleh karena tanggung jawab sosial inilah, maka mereka pun mengemban sebuah misi untuk mewariskan dunia dan seluruh ekosistem yang ada di dalamnya kepada generasi berikutnya dalam keadaan bersih dan sebisa mungkin tanpa masalah, berkontribusi untuk menjaga lingkungannya sehingga terbentuklah dunia yang layak ditinggali oleh individu, keluarga, dan masyarakat. Melalui perilaku yang perlu ditunjukkan sebagai cerminan dari dimensi ketakwaan ini, maka kita pun kembali diingatkan pada tugas sesungguhnya, berupa antisipasi terhadap perubahan iklim dan kerusakan keseimbangan lingkungan. Dari segi kesehatan individu dan masyarakat, kita perlu senantiasa bersemangat untuk mengambil tanggung jawab dalam upaya memerangi perubahan iklim.
Referensi :
- Fethullah Gülen, “Müslüman Ufkundan Dünya ve İçindekiler”, majalah Çağlayan, edisi Mei 2021.
- Churruca-Muguruza, “The Changing Context of Humanitarian Action: Key Challenges and Issues”, judul makalah “International Humanitarian Action”, New York: Springer, 2018, hal. 3-18.
- World Health Organization, “COP26 Special Report on Climate Change and Health: The Health Argument for Climate Change”, Geneva: WHO, 2021.
- Indonesia merupakan negara tropis yang paling berisiko terhadap penyakit menular vektor nyamuk. Setiap tahunnya terjadi kasus penyakit yang ditularkan nyamuk seperti Demam Berdarah Dengue, Malaria, Chikungunya, Demam Kuning, Filariasis, dan masih banyak lagi.
- Substansi yang dapat menyebabkan alergi atau hipersensitivitas spesifisik substansi, baik protein maupun memprotein yang dapat menyebabkan alergi
- Keswani ve ark. “Health and Clinical Impacts of Air Pollution and Linkages with Climate Change”, NEJM Evid, 2022;1(7).
- Toreti ve ark. “Drought in Europe August 2022”, Luxembourg: Publications Office of the European Union, 2022, edo.jrc.ec.europa.eu/documents/news/GDO-EDODroughtNews202208_Europe.pdf
- Xu ve ark. “Future of the Human Climate Niche”, Proc Natl Acad Sci USA, 2020;117(21):11350–11355.
- Resistensi antimikrob atau antimicrobial resistance (AMR) adalah sebuah kondisi saat bakteri, virus, jamur, dan parasit mengalami perubahan sehingga kebal terhadap obat-obatan yang diberikan. Jika dibiarkan, risiko penyebaran penyakit dan kematian menjadi semakin tinggi. Resistensi antimikroba menyebabkan manfaat antimikrob dalam pengobatan menjadi berkurang dan infeksi semakin sukar disembuhkan. Laporan yang dikeluarkan oleh Program Lingkungan PBB (UNEP) menyebut adanya dampak polusi, perubahan iklim, dan hilangnya keanekaragaman hayati dalam berkembangnya resistensi antimikroba (https://www.mongabay.co.id/2023/02/25/studi-resistensi-antimikroba-meningkat-karena-polusi-dan-perubahan-iklim/).
- Vibrio adalah salah satu jenis bakteri yang tergolong dalam kelompok marine bacteria yang pada umumnya memiliki habitat alami di laut.
- J. Landrigan ve ark. “Human Health and Ocean Pollution”, Ann Glob Health, 2020;86(1):151.
- Partikulat adalah partikel mikroskopis dari materi padat atau cair yang tersuspensi di udara.
- Makrofag adalah sel fagosit terpenting dalam sistem imun yang berasal dari sel monosit dewasa yang menetap di jaringan.
- Fagositosis merupakan proses eliminasi dari penelanan dan sampai penghancuran partikel asing yang masuk ke dalam tubuh.
- Secara normal, sistem pernapasan memiliki sistem pertahanan khusus untuk perlindungan dari berbagai benda asing dan mikroorganisme penyebab penyakit yang mungkin masuk bersama udara yang dihirup. Sistem pertahanan tersebut berupa sekresi mukus/lendir dan klirens mukosiliar. Mukus diproduksi oleh sel-sel mukosa di epitel permukaan jalan napas dan kelenjar-kelenjar submucosa yang kemudian diantarkan dari saluran napas bagian bawah ke faring melalui aliran udara dan klirens mukosiliar. Adapun klirens mukosiliar merupakan rambut-rambut halus dan lendir di dinding jalan napas yang dapat melakukan pembersihan/klirens. Selain itu, saluran pernapasan juga memiliki kemampuan refleks batuk untuk memindahkan benda asing keluar serta sel-sel darah putih berupa makrofag di paru yang siap “menelan” mikroorganisme penyebab penyakit yang masuk. Jadi, paru-paru secara alami telah memiliki mekanisme pembersihan dan pertahanan sendiri (https://www.alodokter.com/komunitas/topic/paru-12) .
- Epigenetik adalah studi yang mempelajari bagaimana perilaku dan lingkungan seseorang dapat mengubah gen di dalam tubuh. Perubahan cara kerja gen ini tidak sama dengan perubahan gen yang dikenal juga dengan sebutan mutasi gen. Epigenetik bersifat reversibel, yakni tidak mengubah urutan DNA, akan tetapi mengubah cara tubuh membaca urutan DNA.
- Migrasi terpaksa dalam arti yang luas tidak hanya meliputi pengungsi dan pencari suaka tetapi juga orang-orang yang terpaksa berpindah karena faktor eksternal seperti bencana alam atau proyek pembangunan (seperti pembangunan pabrik baru, jalan atau bendungan).
- Kadir Namlı, “İklim Değişiminden Korkuyorsanız Ağaç Dikin”, majalah Çağlayan, edisi September 2019.
- Fethullah Gülen, “Mü’min Ufkunda Çevre” 17/11/2008, herkul.org/bamteli/mu-min-ufkunda-cevre/







Discussion about this post