Sirah nabi adalah salah satu hal penting yang belakangan ini tidak mendapatkan perhatiaan serius dari banyak orang, termasuk para pengkaji Islam. Padahal dalam sirah terdapat banyak hal yang bisa ditimba, bukan hanya sejarah semata. Banyak ilmu-ilmu keislaman lain yang bisa digali dan dipelajari dari membaca sirah nabi.
Dengan belajar sirah nabi, maka secara tidak langsung kita akan belajar banyak hal dalam studi Islam seperti fikih, tafsir, dan akhlak-keteladanan. Menelaah sirah nabi berarti belajar fikih dikarenakan banyaknya ilmu-ilmu terkait hukum Islam di dalamnya. Belajar sirah juga berarti belajar memahami makna Al-Qur’an sebab tidak sedikit dari ayat Al-Qur’an yang turun sebagai respons dari dinamika hidup para Sahabat dan orang yang hidup pada masa itu. Belajar sirah juga berarti mempelajari akhlak-keteladanan sebab dakwah nabi tidak berhenti hanya dalam ucapan semata tetapi lebih sering tertuang ke dalam tindakan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Oleh karenanya, tidak heran jika seorang ulama fikih terkemuka, Imam Abu Hanifah radiyallahu ‘anhu, pernah berkata:
“Sejarah (perjalanan hidup) seorang tokoh lebih kusenangi daripada (memperbanyak belajar) fikih.”1
Al-Quran menjadikan metode penyampaian kisah atau sejarah sebagai salah satu teknis penyampaian ayatnya. Dalam Al-Qur’an, terdapat kisah orang-orang atau kaum terdahulu yang dapat diambil pelajaran bagi mereka yang hidup di hari ini. Imam Fakhruddin al-Razi menyampaikan dalam tulisannya:
“Ketahuilah bahwa ketika Allah subhânahu wa ta’âla menjanjikan ampunan dan Surga bagi orang yang melakukan ketaatan dan pertobatan dari kemaksiatan, maka Dia mengiringinya dengan menceritakan sesuatu yang bisa memotivasi mereka untuk melakukan ketaatan dan bertobat dari kemaksiatan, yakni dengan merenungi keadaan orang atau kaum masa lalu, baik mereka yang melakukan ketaatan maupun kemaksiatan”.2
Itulah mengapa menelaah sirah nabi menjadi sesuatu yang sangat penting bagi keislaman kita. Secara sederhana, saya membagi buku-buku sirah nabi menjadi beberapa kategori berikut ini:
Pertama, naratif deskriptis universal. Maksudnya adalah sebuah buku yang isinya bersifat narasi atau penggambaran sebuah peristiwa dalam sirah nabi secara umum. Contoh dari buku jenis ini adalah buku “Sirah Ibnu Hisyam”, sebuah buku sejarah awal yang tersusun dan ada hingga zaman kita saat ini.
Kedua, naratif deskriptif analisis. Secara umum, bagian kedua ini tidak terlalu berbeda dengan bagian pertama di atas. Hanya saja yang membedakannya adalah adanya analisis terhadap sebuah peristiwa dalam sirah nabi. Buku dalam kategori ini penuh dengan analisis dan tidak hanya sekadar naratif deskriptif3, riwayat satu akan dibandingkan dengan riwayat lain yang ada. Contoh dari buku jenis ini adalah buku “Khatamun Nabiyyin” karya Muhammad Abu Zahrah.
Ketiga, naratif deskriptif personal. Buku jenis ini berisi tentang narasi dan penggambaran perihal sosok Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja perspektif yang digunakan adalah aspek personal Beliau, misal bentuk fisik, akhlak, perilaku, dan seterusnya. “Al-Syamail al-Muhammadiyyah” karya Imam Tirmidzi bisa dijadikan contoh dari buku jenis ini.
Keempat, naratif deskriptif tematis. Jenis ini merupakan model penulisan sirah nabi secara tematik atau berdasarkan tema tertentu. Contoh dari buku jenis ini adalah buku yang ditulis oleh Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah yang berjudul “al-Rasul al-Mu’allim” (Rasul yang Seorang Guru), serta buku yang penulis sendiri susun berjudul “Teladan Kebahagiaan dari Rumah Tangga Kenabian: Sirah Keluarga Nabi”.
Secara teknis, dalam menuliskan sebuah sirah, baik sirah nabi maupun sirah sahabat, terdapat beberapa tips yang mungkin dapat dipraktikkan berikut ini. Hal pertama yang penulis harus lakukan adalah melakukan telaah atau riset pustaka kepada sumber-sumber primer. Setelah itu, penulis perlu melakukan inventarisasi data temuan sembari dilanjutkan dengan melakukan pengecekan dan pemeriksaan kembali atas validitas atau keabsahan sebuah sumber, bersamaan dengan penentuan sudut pandang dari tulisan. Setelah itu, baru kemudian penulis dapat memulai menyusun kepingan-kepingan data menjadi sebuah gambaran utuh, yang setidaknya menggambarkan tentang kehidupan Nabi, meski hal itu sebenarnya mustahil untuk dicapai.
Dalam kitab Maulid Simthud Durar yang sering dibaca umat Islam Indonesia, disebutkan sebuah kalimat berikut ini:
“Demikian luhur perangai akhlak Nabi hingga kitab-kitab terasa sempit untuk merangkum semuanya.”4
Hal yang perlu kita perhatikan dalam menulis sirah nabi adalah adanya rambu-rambu yang harus dipenuhi oleh seseorang -selain rambu yang memang sudah secara otomatis masuk dalam konsekuensi logis, seperti ilmiah-referensial. Rambu itu adalah bahwa menulis tentang Rasulullah haruslah dengan prinsip penuh penghormatan. Sikap ini tentu tidak perlu dikhawatirkan akan mengurangi keilmiahan tulisan seseorang.
Imam Qadhi ‘Iyadh dalam kitab “al-Syifa bi ta’rifi Huquqi al Musthafa” menulis kalimat berikut ini:
“Ketahuilah bahwa kemuliaan-kehormatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Beliau telah wafat, begitu pula menghormati dan mengagungkan Beliau adalah tetap wajib sebagaimana halnya pada saat Beliau masih hidup. Hal itu seperti halnya ketika menyebut nama Beliau, sabda-hadisnya, mendengar nama-kisahnya, berinteraksi dengan keluarga-keturunannya, juga menghormati keluarga dan Sahabatnya.”5
Alasan darinya adalah karena sejak awal Nabi telah mendapat “garansi” kesempurnaan yang langsung didapatkan dari Allah subhânahu wa ta’âla. Dalam Al-Quran, disebutkan:
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung.”6
‘Ala kulli hal, menulis tentang kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para Sahabatnya lalu menghadirkannya bagi kehidupan manusia hari ini amatlah penting sehingga perlu digelorakan. Jangan sampai umat Islam jauh dari Nabi justru dikarenakan kisah-kisah tentang Beliau yang tidak masif dibicarakan -atau dibicarakan tetapi terhenti hanya pada konsepsi yang universal semata. Di tengah gelombang zaman dan derasnya dekadensi moral saat ini, keluhuran akhlak Nabi perlu hadir menyapa kita semua sebagai jawaban.
Penulis adalah seorang yang peduli pada isu-isu keislaman, salah satunya sirah nabi. Beberapa buku yang telah diterbitkan adalah “Dan Arsypun Berguncang: Sirah Unik Sahabat Nabi”, “Teladan Kebahagiaan dari Rumah Tangga Kenabian dan Suluk Teladan: Keulamaan, Kearifan, dan Keteladanan Ulama Ushul Fikih”. Penulis menyelesaikan pendidikan di Ma’had Aly Situbondo dan dapat disapa di @husain_fahasbu.
Referensi :
- Kitab Durus Syekh Ali al-Qarny karya Syekh Ali al-Qarny.
- Kitab Tafsir al-Wasith karya Imam Fakhruddin al-Razi.
- Naratif deskriptif adalah penulisan sejarah dengan penyampaian yang mengedepankan kronologis atau runutan sebuah peristiwa sesuai urutan waktunya. Penulisan ini menggunakan cara berpikir diakronik yang dilakukan untuk menyampaikan urutan jalannya sebuah peristiwa saja.
- Kitab Maulid Simthu Durar karya Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi.
- Kitab Al-Syifa Bita’rifi Huquqil Musthafa Imam Qadhi ‘Iyadh.
- Al-Qalam, 68/4.






Discussion about this post