• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Thursday, January 15, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025New!!!
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025New!!!
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Budaya Resonansi

Merawat Generasi Muda Kita

Marwajih, M.Ed.

by Marwajih
9 months ago
in Resonansi
Reading Time: 7 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Seiring dengan pesatnya perkembangan inovasi di bidang sains dan teknologi, sayangnya kecerdasan manusia dalam mengelola tantangan sosial masih tertinggal. Sering kali kita menyaksikan keputusan politik dan ekonomi diambil tanpa dukungan data memadai. Beberapa kebijakan bahkan dibuat tanpa landasan ilmu pengetahuan yang kokoh, tapi lebih mengandalkan kepentingan politik, serta memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat.1 Sebagian pemimpin masa kini memberikan keputusan berdasarkan pendidikan dan pengalaman hidup yang telah mereka jalani. Suka-duka kehidupan akan membentuk cara pandang mereka dalam mengambil keputusan yang bisa saja bersifat idealis, pragmatis, atau bahkan terkadang sayangnya individualis.2

Mereka adalah hasil dari proses pembelajaran dan pematangan di masa lalu. Remaja dan pemuda hari ini sangat berpotensi menjadi agen perubahan bagi masa depan.  Syaratnya mereka harus mendapat akses pendidikan dan bimbingan yang tepat. Kecerdasan dan semangat inovatif yang selama ini mendorong kemajuan teknologi juga perlu diarahkan demi menjawab tantangan sosial. Tugas ini bukan tanggung jawab sekolah semata. Keluarga, teman, dan komunitas yang sadar dan berjiwa altruistis juga berperan penting dalam pembentukan generasi masa depan yang lebih baik.

 

Mengapa Generasi Muda?

RelatedArticles

Tiada yang Seindah Rumah

Ibadah Kurban Sebagai Paratonnere

Mendukung pendidikan dan perawatan anak muda jauh lebih efektif ketimbang memperbaiki masalah setelah manusia masuk usia dewasa. Renovasinya akan lebih mudah dibandingkan jika mereka nanti sudah menua sebagai orang dewasa yang tidak memiliki keterampilan, pengangguran, mengalami depresi, serta bersifat keras atau kasar. Merawat generasi muda merupakan elemen utama modernisasi peradaban manusia yang mendorong terjadinya sebuah kohesi.3

Pemuda, seperti halnya kopi, penuh energi dan potensi. Dengan arahan yang tepat, energi itu bisa menjadi karya. Sebaliknya, tanpa bimbingan, mereka bisa berubah menjadi kekuatan yang merusak. Masa muda adalah fase transisi biologis, psikologis, dan sosial yang penuh tantangan. Periode ini adalah masa ketika mereka membutuhkan pengakuan, menginginkan penghargaan, mengharapkan penerimaan dalam kelompok, serta mendambakan pengakuan atas eksistensinya. Yang mereka lakukan sebenarnya merupakan upaya mengirimkan pesan kepada kelompok di luar mereka.4

Pada masa pertumbuhannya ini, remaja memiliki waktu luang yang cukup banyak. Dalam kondisi normal, kelompok usia ini tidak memiliki tanggung jawab untuk menyokong anggota keluarga lainnya. Dengan demikian, mereka memiliki ruang dan kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan meraih banyak pengalaman. Apa yang mereka pelajari di waktu ini akan membentuk persepsi mereka saat dewasa nanti. Menurut Albert (2011), pengalaman langsung dengan suatu perilaku tanpa konsekuensi negatif yang serius dapat menyebabkan penurunan persepsi risiko.5 Dengan demikian, sebagai hasil kebalikan dari pengamatan Albert tersebut, maka jika saat mudanya manusia telah berhasil diajak untuk belajar berempati dan memiliki persepsi yang proporsional terhadap beragam risiko, maka keputusan yang mereka ambil saat dewasa kelak akan lebih bijak. Di masa mudanya ini, para remaja bisa menghabiskan jatah gagal mereka.

Meski kesalahan di masa muda perlu dimaklumi dan dimaafkan, tetapi akan lebih baik jika kita dapat mengarahkan mereka agar tetap berhati-hati dalam melangkah dan membimbing mereka menjadi orang pintar yang digambarkan oleh salah satu pemikir Islam, Fethullah Gülen: “Orang pintar adalah ia yang mampu menemukan solusi untuk menghilangkan bahaya-bahaya sebelum potensi bahaya-bahaya itu muncul. Dia adalah sosok yang meletakkan sesuatu pada tempatnya.”6

Rasa ingin tahu di usia muda adalah potensi besar untuk mendorong pembelajaran jangka panjang. Anak-anak balita sering bertanya: “ini apa?” lalu tumbuh dengan pertanyaan: “kenapa begitu?”, sebuah cara untuk membangun nalar dan logika mereka. Rasa penasaran ini merupakan fondasi bagi proses belajar dan penemuan. Studi menunjukkan bahwa anak dengan rasa ingin tahu yang tinggi cenderung meraih prestasi akademik lebih baik, terutama mereka yang berasal dari latar belakang sosial ekonomi rendah.7 Ini menunjukkan bahwa rasa ingin tahu bisa menjadi jembatan untuk mengatasi keterbatasan. Oleh karenanya, pendampingan dari seorang pembimbing yang sejati sangat penting di fase kritis ini.

 

Tantangan yang Dihadapi Generasi Muda

Energi besar, waktu luang, dan rasa ingin tahu yang kuat adalah potensi berharga sekaligus tantangan bagi pemuda. Ketiganya ibarat pisau bermata dua. Tanpa arahan yang tepat, mereka rentan terpengaruh hal-hal negatif seperti tekanan teman sebaya, penurunan moral, dan paparan ideologi berbahaya yang mengganggu perkembangan logika, mental, dan spiritual. Studi menunjukkan bahwa remaja lebih mudah dipengaruhi oleh teman sebaya daripada oleh orang tua atau guru. Ini berkaitan dengan perkembangan otak, khususnya bagian prefrontal cortex (otak depan) yang belum matang, sehingga membuat mereka cenderung impulsif dan mencari penerimaan sosial melalui imitasi perilaku kelompok.8

Perkembangan teknologi digital turut memperbesar risiko ini. Meski memberi banyak kemudahan, dunia digital nyatanya juga membuka banyak ruang bagi kejahatan siber, penyebaran konten tidak bermoral, serta kemerosotan nilai etika. Tanpa bimbingan, rasa ingin tahu remaja akan bisa diarahkan ke jalur yang salah. Interaksi maya yang intens juga bisa menumpulkan empati sosial. Untuk itu, diperlukan pendidikan karakter, pengawasan orang tua, regulasi pemerintah terkait akses digital, serta dukungan lingkungan yang membentuk komunitas ramah remaja dan mendukung pertumbuhan moral mereka.9

Remaja rentan terhadap ideologi yang merusak akhlak, mental, dan spiritualitas seperti hedonisme, sekularisme, radikalisme, nihilisme, individualisme, dan materialisme. Ideologi-ideologi ini mendorong pencarian kesenangan sesaat, mengabaikan nilai moral, dan menjadikan materi sebagai tujuan hidup. Dampaknya, banyak remaja mengalami krisis identitas, kehilangan pegangan moral, dan terjerumus dalam perilaku menyimpang. Pandangan seperti anarkisme moral dan relativisme nilai turut mengaburkan batas benar-salah, mengikis penghormatan terhadap norma sosial dan agama. Tanpa fondasi nilai yang kuat, mereka mudah terseret arus pemikiran yang menyesatkan. Maka, dalam hal ini peran orangtua, pendidik, dan masyarakat sangat penting dalam memperkuat pendidikan berbasis agama, etika, dan karakter. Remaja harus diajak berpikir kritis, bijak menggunakan teknologi, dan berpegang pada nilai kebajikan. Mereka perlu disadarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya berasal dari materi, tetapi juga dari spiritualitas, tanggung jawab sosial, dan komitmen terhadap kebaikan.

 

Saatnya Membimbing Penerus Kita

Badiuzzaman Said Nursi menuliskan dalam bukunya: “Mereka bertanya kepadaku, ‘Mengapa Anda begitu peduli?’ Saya tidak memahami maksud pertanyaan ini. ‘Perhatikanlah! Di hadapanku sedang terjadi kebakaran yang begitu dahsyat. Apinya berkobar hingga ke langit. Di dalamnya anakku, demikian juga dengan imanku, sedang terbakar. Keduanya hampir hangus terbakar. Aku pun berlari untuk memadamkan api itu demi menyelamatkan anak dan imanku. Lantas jika di tengah jalan ada orang yang mencoba menghalangi dan tanpa sengaja kakiku terjegal karenanya, apakah itu sesuatu yang penting?’ Di hadapan kobaran api dahsyat yang mengerikan itu, apakah kejadian kecil seperti itu masih memiliki arti?”10

Dari pernyataannya tersebut, dapat kita pahami bahwasanya bahaya yang mengancam anak-anak dan iman kita demikian dahsyat layaknya kobaran api. Besarnya kobaran api menuntut kita untuk bersegera memadamkannya sebelum semuanya terlambat. Dalam mengerjakannya, diperlukan pengorbanan besar yang terkadang kita pun akan terbakar oleh kobaran apinya. Di hadapan api yang berkobar sangat besar ini, kita harus segera menelurkan solusi kolektif meski terkadang apa yang akan kita kerjakan tidak mendapat apresiasi, atau bahkan dianggap aneh oleh orang lain. Ya, kita perlu bekerjasama dalam amal kolektif dengan harapan akan terlahir generasi emas dengan keindahan akhlak, keluasan ilmu yang bermanfaat, serta kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Kuantitas dan kualitas anak-anak muda yang kita bimbing pada hari ini menjadi referensi penting bagi terukirnya masa depan yang bahagia.

Kita harus membimbing generasi muda kita. Al-Qur’an dan Sunah Nabi menyelaraskan metode pengajaran dan bimbingan kita sesuai dengan fitrah mereka. Kita bisa memulainya dengan menghabiskan waktu dan energi mereka dengan aktivitas yang positif dan bermakna, baik itu olahraga, seni, akademik, jelajah alam, dan lain sebagainya. Kita harus mengisi waktu mereka sebaik dan sepenuh mungkin sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk memikirkan dan penasaran dengan hal-hal yang negatif dan tidak bermanfaat.

Hopper & Iwasaki menulis: “Melalui keterlibatan (orangtua) dalam waktu luang yang bermakna, dimungkinkan untuk membantu remaja “berisiko” agar dapat terhubung dengan masyarakat arus utama sekaligus dengan komunitas di luar masyarakat arus utama (misalnya, subkultur remaja). Menyediakan ruang yang di sana remaja dapat menghabiskan waktu luangnya secara mandiri dan bersosialisasi dalam lingkungan yang aman dan ramah merupakan salah satu cara untuk mewujudkan keterlibatan yang bermakna ini. Selain itu, mendorong remaja “berisiko” untuk bergabung dengan kelompok aktivis sosial yang sejalan dengan keyakinan dan nilai-nilai mereka dapat dipandang sebagai alat berbasis waktu luang untuk melibatkan mereka dalam suatu tujuan yang bermakna bagi diri mereka sendiri.”11

Di saat koneksi positif telah berhasil terbentuk melalui aktivitas-aktivitas yang bermakna, menyenangkan, dan sesuai fitrah, para remaja akan mulai membuka ruang pribadinya. Saat mereka merasa aman dan percaya, perlahan-lahan “kotak harta karun” dalam diri mereka akan terbuka. Dan di saat itulah waktu yang tepat untuk mengenalkan mereka pada Sang Pencipta melalui Al-Qur’an sebagai mikrokosmos, Sunah Nabi sebagai contoh nyata, dan alam semesta sebagai makrokosmos yang menceritakan keagungan dan kebesaran-Nya. Dari situ, mereka akan mulai menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar mereka seperti: “siapa aku”, “dari mana asalku”, dan “ke mana aku menuju”.

Untuk itu, kita perlu bersinergi. Kita perlu menyediakan komunitas, ruang belajar, akses pendidikan, dan tempat aman untuk anak-anak tumbuh dan berkembang. Jika seluruh elemen masyarakat yang terdiri dari orangtua, guru, petani, buruh, pengusaha, pedagang, dan elemen-elemen lainnya bersatu-padu dalam misi ini, rasanya tak akan ada tantangan yang terlalu besar. Sinergi ini bisa kita wujudkan dalam bentuk penyediaan beasiswa, pembangunan asrama bagi siswa atau mahasiswa di perantauan, atau terkadang berupa pemberian kepercayaan untuk mereka berkontribusi langsung dalam suatu program pengabdian masyarakat. Dengan semangat gotong-royong dan keyakinan bahwa “Tangan Allah ada bersama jamaah (atau usaha bersama)”12 maka kita percaya bahwa pertolongan Ilahi akan hadir saat kita bersama-sama mengemban amanah ini.

 

Referensi:

  1. Moore, H. H. (1921). Our Complex Civilization and the Genius of Its Youth. The School Review, 29(8), 617-627. http://www.jstor.org/stable/1077469
  2. Green, M. T., Chavez, E., Lopez, D. M., & Gonzalez, F. Y. (2011). The impact of education, gender, age and leadership experience on preferences in leadership. Journal of Business & Leadership: Research, Practice, and Teaching (2005-2012), 7(1), 102-115.
  3. (2007). Investing in Youth: from Childhood to Adulthood. Marcel Canoy, Graça Carvalho, Christer Hammarlund, Agnès Hubert, Frédéric Lerais, Anna Melich. Horizons stratégiques, n° 4(2), 91-110. https://doi.org/10.3917/hori.004.0091
  4. Tepe, M. İ., & Dalmış, M. (2023). Bediüzzaman Said Nursi ve Gençlik. EREN, 2(3), 23-37.
  5. Albert, D. and Steinberg, L. (2011), Judgment and Decision Making in Adolescence. Journal of Research on Adolescence, 21: 211-224, hlm. 10-11.
  6. Fethullah Gülen, 2011, Ölçü veya Yoldaki Işıklar, Istanbul: Nil Yayınlari, hlm. 217.
  7. Gruber MJ, Fandakova Y. Curiosity in Childhood and Adolescence – What Can We Learn From The Brain. Curr Opin Behav Sci. 2021 June; 39:178-184. doi: 10.1016/j.cobeha.2021.03.031. PMID: 34435085; PMCID: PMC8363506.
  8. Gardner M, Steinberg L. Peer Influence on Risk Taking, Risk Preference, and Risky Decision Making in Adolescence and Adulthood: An Experimental Study. Dev Psychol. 2005 July; 41(4):625-35. doi: 10.1037/0012-1649.41.4.625. Erratum in: Dev Psychol. 2012 Mar;48(2):589. PMID: 16060809.
  9. Muttaqin, M.I. et al. (2023) ‘Facing The Challenges of Youth Moral Degradation in The Digital Age’, MA’ALIM: Jurnal Pendidikan Islam, 4(1), pp. 54-70. doi:10.21154/maalim.v4i1.6417.
  10. Bediüzzaman Said Nursi, 2014, Tarihçe-I Hayat, Istanbul: Şahdamar Yayınları, hlm. 615.
  11. Hopper, T. D., & Iwasaki, Y. (2017). Engagement of ‘At-Risk’ Youth Through Meaningful Leisure. Journal of Park and Recreation Administration, 35 (1), hlm. 25.
  12. HR. Tirmidzi, 2167 – Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Hendaknya kalian bersama jamaah karena tangan Allah bersama jamaah.”; HR. Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya: Ahmad 1/137; HR. Abu Daud, 4597 (dengan redaksi yang mirip).
Tags: majalah mata airmata air magazineMendidikpemudavolume 12 Nomor 46
Previous Post

Huruf-Huruf yang Bercerita

Next Post

Orangtua Depresi, Anak Tak Percaya Diri

Marwajih

Marwajih

Related Posts

Tiada yang Seindah Rumah
Resonansi

Tiada yang Seindah Rumah

3 months ago
Ibadah Kurban Sebagai Paratonnere
Resonansi

Ibadah Kurban Sebagai Paratonnere

9 months ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1356 shares
    Share 542 Tweet 339
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1055 shares
    Share 423 Tweet 264
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    987 shares
    Share 395 Tweet 247
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    982 shares
    Share 393 Tweet 245
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    878 shares
    Share 351 Tweet 220

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 47)

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 47)

November 5, 2025
Tanya Jawab Edisi 47

Tanya Jawab Edisi 47

November 5, 2025
Gigi, Hikmah Bermahkota

Gigi, Hikmah Bermahkota

November 5, 2025
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin