Beban berat hamper tak pernah terpisahkan dari kehidupan kita. Terkadang kita mengalahkannya, terkadang pula, kita yang dikalahkannya. Terkadang ia melemahkan kita, tak jarang ia pula yang menguatkan kita. Kita mengabaikannya atau bahkan pura-pura melupakannya. Sering kali kita melihatnya sebagai sebuah kekurangan, ancaman, dan kesusahan. Namun ada pula orang yang melihatnya sebagai sebuah ujian dan pemurnian jiwa. Bahkan ada pula di antara mereka yang menceritakan pada kita tentang kenikmatan tersembunyi di balik kesusahannya. Itulah rasa sakit, yang senantiasa menyertai kehidupan kita, kita mengetahui hal ini, namun sering mengingkarinya. Siapa yang tidak pernah merasakan dan tersiksa oleh rasa sakitnya?!
Setiap yang datang ke kehidupan ini memulainya dengan jeritan. Waktu demi waktu, kita tumbuh. Bersama kita, tumbuh pula rasa sakit dengan berbagai rupa, jenis, dan penyebabnya; rasa menyakitkan di dalam perut yang membuat kita menangis, rasa lapar, hawa dingin yang menusuk, sakit dalam tubuh, rasa tidak dikenali, kesendirian, rasa rindu, rasa takut yang tidak biasa, serta tangisan yang dibarengi sebab maupun tanpanya. Kita tumbuh, dan rasa sakit pun tumbuh bersama kita. Pemahaman terhadapnya pun semakin berkembang. Segera kita sadar bahwa -dengannya- setiap kelezatan dan kesenangan ada batasnya. Bagaimana pun kita menangis dan merengek, tidak akan kita dapatkan segala yang kita inginkan dan kita pinta. Rasa sakit adalah sebuah kenikmatan hakiki, yang mengalir dalam jaringan saraf dan sampai hingga ke ujung jari-jemari manusia. Ia melindungi manusia dari berbagai bahaya yang mungkin mengancamnya, baik dari sekitar atau pun dari dalam tubuhnya sendiri. Rasa sakitlah yang mendorong kita untuk mengangkat tangan menjauhi benda panas, sehingga kita tidak akan mengulanginya lagi. Denyutan rasa sakitlah yang mengalir dari jari menuju lapisan otak kita, sehingga ia pun meninggalkan jejaknya di sana sebagai sebuah pengingat yang melindungi kita dari api sejauh-jauhnya, selagi kesadaran kita masih ada. Mungkin rasa sakitlah yang pertama kali memperingatkan adanya radang pada usus buntu kita sebelum ia meledak, sehingga kita pun dapat menuntaskan hal-hal buruk sebelum ia meluap hingga ke akar-akarnya.
Kebanyakan manusia -atau bahkan semuanya- membenci rasa sakit, lari darinya menuju kehidupan yang lebih nyaman dan bahagia. Namun tidak seyogianya kita mengingkari bahwa rasa sakit ternyata memikili banyak sekali faedah tersembunyi, baik bagi yang merasakannya, orang di sekitarnya, bagi keilmuan, maupun alam keseluruhan. Itu semua karena nafsu manusia akan lebih terbuka dan sensitif ketika ia berada dalam kondisi sakit daripada ketika dalam kondisi bahagia, nyaman, dan gembira. Sebagaimana rasa sakit juga merupakan bukti adanya kesensitifan dan kehidupan. Organ tubuh yang mati tidak akan merasakan rasa sakit. Sebaliknya, organ yang hidup akan merasakannya.
Lantas apa manfaat sebenarnya rasa sakit? jika memang tanpa manfaat itu tentu Allah tidak akan membiarkannya ada? Apakah semua rasa sakit berbahaya? Ataukah ada sisi baik yang dapat dimanfaatkan darinya? Apakah hubungan antara rasa sakit dengan berbagai keutamaan sosial dan personal? Sebenarnya inilah yang akan kita bahas pada pembahasan ini.
Setiap orang memiliki kesensitifan yang berbeda dalam merasakan rasa sakit. Sebagaimana beberapa organ tubuh seperti wajah, mulut, dan dua tangan akan lebih sensitif merasakan rasa sakit dibandingkan organ lainnya. Kita bisa melihat dua tipe orang yang berbeda saat terkena tusukan jarum. Yang satu berteriak kesakitan, dan yang satunya diam membisu seribu bahasa. Lantas apakah rasa sakit itu jahat? Pandangan datar dan pemikiran yang tergesa- gesa akan menyampaikan kita kepada jawaban yang salah, yakni anggapan bahwa rasa sakit memang sesuatu yang murni jahat. Akan tetapi, pandangan penuh kehati-hatian dan pemikiran yang dalam (dengan memasukkan segala aspek perkara dan mencari hakikat dari segala sisinya) justru akan menyatakan hal yang sebaliknya. Allah menciptakan segalanya, dan rasa sakit pun termasuk di dalamnya. Di antara sifat yang dimiliki- Nya adalah Mahamengetahui dan Mahabijaksana. Dia tidak akan menciptakan sesuatu dengan sia- sia tanpa adanya manfaat. Jika demikian, maka kemanfaatan di balik rasa sakit bagi manusia akan diketahui oleh mereka yang memahami dan akan terabaikan oleh orang yang tidak mengacuhkannya. Tugas kita tak lain adalah mentafakuri rasa sakit ini dan mempelajarinya dengan penuh ketekunan dan kedalaman, sehingga kita pun akan dapat mengetahui buah, faedah, dan hikmah yang tersembunyi darinya.
Kita tidak dapat melukiskan rasa sakit dengan satu kalimat. Yang jelas ia merupakan sebuah rasa nyeri yang tidak diketahui kecuali oleh penderitanya saja. Dia juga tidak dapat dirasakan, kecuali oleh yang mengalaminya. Bagaimana pun usaha kita untuk melukiskan sebuah rasa sakit akibat luka lambung, maka kita tidak akan bisa menggambarkan sebelum kita sendiri yang merasakannya. Ibarat kata, apakah orang yang kehilangan nikmat penglihatan dapat melukiskan warna sinar mentari?!
Terkadang seseorang bisa saja terkena radang di dalam lambungnya, dan rasa sakit adalah pengingat bagi adanya bahaya. Jika bukan karena nikmat rasa sakit, maka lambung di tubuhnya akan meledak tanpa ia tahu, dan penyakit itu akan menyebabkan bahaya tanpa diketahui sumbernya. Rasa sakit akan menunjukkan kita tempat penyakit berada dan menjadikan kita dapat ikut campur dengan cara membedahnya sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.
Rasa sakit merupakan sebuah sirine peringatan yang melindungi kita dari serbuan para penyerbu. Bila dia tidak memperingatkan bahaya dari jauh, maka bahaya itu akan meledak dengan kuat dan menghancurkan dermaganya dengan kekuatan seperti besi, serta menyebar dari sumber penyakit tanpa henti. Jika bukan karenanya, maka kita bisa terbunuh oleh berbagai penyakit. Dan inilah rahasia penyebaran berbagai penyakit keji yang tidak memberikan peringatan rasa sakit terlebih dahulu kepada penderitanya. Bila saat itu tiba, maka kemahiran bedah dan seninya tidak akan lagi berguna, dan seseorang akan beranjak menuju kehancuran dirinya. Terima kasih kepada rasa sakit dan Penciptanya. Selamat kepada para ahli bedah berpengalaman yang turut serta membedahnya di waktu yang tepat, serta mengakhiri rasa sakit yang membuat penderitanya merasakan penderitaan dan menghalanginya dari lezatnya minuman dan makanan.
Rasa sakit merupakan sebuah guncangan yang membangunkan orang tidur, mengingatkan orang yang lupa, membimbing orang yang tersesat, dan menunjukkan jalan kepada orang yang kebingungan. Dia merupakan rahmat dari Tuhan yang terkadang kita pahami namun diabaikan. Betapa banyak penyakit tak tersembuhkan yang pada akhirnya memperkenalkan penderitanya pada hakikat kehidupan, sehingga dia pun mulai merasakan kebahagiaan di setiap hari, jam, dan detik kehidupannya; bisa jadi di sore sebelumnya dia telah tertipu dengan berbagai janji semu kebahagiaan; yang orang-orang sebelumnya telah kehilangan umur karenanya. Betapa banyak musibah dan perpisahan pedih yang menyadarkan penderitanya dari kegalauan dan mengungkap kebohongan orang-orang di sekitarnya, sehingga mengetahui siapa kawan dan siapa lawannya.
Rasa sakit adalah pendidikan bagi jiwa, pelajaran bagi perasaan dan pendalaman bagi kemanusiaan. Barangsiapa yang tidak mengetahui rasa sakit, maka tidak akan mengetahui rahasia yang tersembunyi dalam jiwa dan segala hal yang meliputi kehidupan. Rasa sakit merupakan kenikmatan yang harus disyukuri. Jika bukan karenanya, maka orang yang sakit tidak akan mengetahui penyakitnya, bahkan ia dapat kehilangan nyawa disebabkan penyakitnya yang diam tak bersuara. Dari sisi spiritualitas pun, jika kita tidak pernah mencicipi pahitnya rasa sakit sama sekali, maka kita tidak akan mengetahui manisnya rasa nyaman, dan hidup pun hanya akan terlihat seperti kanvas yang pucat pasi. Kita akan kehilangan ibadah syukur karena tidak adanya perasaan nikmat yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita.
Dr. Muhammad Saqa ‘Id adalah seorang Konsultan Medis dan Ahli Bedah Mata di Mesir.







Discussion about this post