Semburat jingga mentari perlahan-lahan hilang ditelan selimut malam, tetapi anak-anak masih asyik berlarian bermain gobak sodor, nekeran, lompat tali, juga benteng-bentengan di pelataran langgar yang berada tepat di sebelah hamparan sawah dipenuhi rentetan pohon bambu yang tersusun rapi bagai prajurit kerajaan yang sedang berbaris. Angin sepoi musim kemarau yang berdesir lembut disertai goyangan pohon bambu membersamai tawa-canda mereka yang telah memakai peci di kepala tetapi mengalungkan sarungnya di pundak untuk sementara. Azan Magrib telah berkumandang tepat saat masuk waktunya dan seketika mereka pun membubarkan diri bersiap-siap masuk ke langgar untuk mendirikan salat Magrib bersama-sama.
Banyak aktivitas yang dilakukan oleh umat muslim kala azan usai dikumandangkan, yang dilanjutkan dengan menunggu ikamah dan menanti para jemaah datang ke langgar atau masjid. Tak luput pula bagi anak-anak, mereka begitu antusias ikut pergi ke masjid, berduyun-duyun berdatangan bersama orangtuanya. Berbagai kegiatan persiapan salat jemaah yang membawa kita menyelam pada makna kedalamannya pun dilaksanakan, ada yang berzikir, ada yang melaksanakan salat sunah rawatib, ada anak-anak yang berlari-berkejaran di pelataran langgar, ada tetes percik air yang mengalir dari tempat wudu yang penuh dengan keberkahan, serta ada pula anak-anak yang memegang pengeras suara dan menyenandungkan pupujian yang sarat akan makna dan hikmah pelajaran.
Mari menelisik senandung pupujian yang berisi tidak sekadar nyanyian semata, tetapi juga menjadi media pendidikan bagi anak-anak. Dengannya mereka membaca, mengingat, dan menghafal syair-syair berisi kebaikan yang kelak akan mereka terapkan dalam kehidupannya.
Setiap daerah di Indonesia memiliki karakteristik tersendiri dalam menamai atau meyenandungkan pupujian. Ada juga perbedaan pada waktu pelaksanaannya. Ada yang melakukannya setelah azan menunggu ikamah, ada pula yang melakukannya sebelum azan berkumandang sembari menunggu datangnya waktu salat. Di beberapa daerah pupujian dikenal dengan istilah nadzoman, puji-pujian atau sholawatan. Adapun di Sunda, ia lebih dikenal dengan nama pupujian yang secara makna berarti pujian atau sanjungan. Dalam hal ini, setiap daerah memiliki versi dan kekhasannya masing-masing.
Pelafalan pupujian selepas azan bisa sangat bervariasi. Ada yang disampaikan dengan bahasa Arab, ada pula yang yang dilantunkan dalam bahasa Jawa, Sunda, atau bahasa daerah lain sesuai asal daerah tersebut. Biasanya pupujian berisi tentang nasihat yang juga diiringi dengan selawat.
Berikut ini adalah salah satu kutipan pupujian yang ditemui disenandungkan oleh anak-anak dan orang dewasa di masjid atau langgar di pedesaan, di daerah berbahasa Sunda:
Anak adam, anjeun di dunya ngumbara Wahai anak adam, kamu di dunia ini mengembara
Umur anjeun di dunya téh moal lila
Umurmu di dunia ini tidaklah lama
Anak adam, umur anjeun téh ngurangan Wahai anak adam, umurmu berkurang
Saban poé saban peuting dicontangan Setiap hari, setiap malam, dikurangi
Anak adam, paéh anjeun téh nyorangan… Wahai anak adam, matimu itu sendiri…
…cul anak cul salaki jeung babandaan
…meninggalkan anak, pasangan, dan harta benda
Anak adam, paéh euweuh nu dibawa
Wahai anak adam, mati tak ada yang dibawa
Ngan asiwung jeung boéh anu dibawa Hanya kapas dan kain kafan yang dibawa
Anak adam, pasaran téh lolongséran,
Wahai anak adam, keranda itu menangis
Saban poé, saban peuting gegeroan
Setiap hari, setiap malam, terus memanggil
Anak adam, anjeun kaluar ti imah…
Wahai anak adam, kamu keluar dari rumah…
…digarotong dina pasaran tugenah
…digotong di keranda tidak enak
Aduh bapa, aduh ibu abdi keueung…
Aduh bapak, aduh ibu, aku takut…
…rup ku padung rup ku lemah abdi sieun ditutup potongan papan penutup mayat di liang kubur dan ditutup tanah, aku takut
Anak adam, di kubur téh poék pisan…
Wahai anak adam, di kubur itu sangat gelap…
…nu nyaangan di kubur téh maca Qur’an yang menerangi di kubur itu adalah Al-Qur’an.2
Ketika mencoba meresapi makna pupujian di atas, kita akan meresapi kembali makna dari kehidupan dan kematian, bahwa pada akhirnya kita semua akan mati meninggalkan dunia ini dan meninggalkan segala sesuatu yang kita miliki, yang kita cari-cari tanpa kenal waktu dan tiada henti. Sehingga dengannya, jiwa kita seolah-olah merasakan ketenangan karena pada akhirnya kehidupan ini memiliki penghujung dan tidaklah hampa karena suatu saat nantinya apa yang diusahakan -baik itu kebaikan maupun keburukan- akan mendapat balasannya; menyadari diri bahwa betapa lemahnya manusia dan tidak ada yang perlu disombongkan; memahami perasaan karena pada hakikatnya manusia di dunia hanyalah sementara; mengendalikan amarah dan menguasai gejolak emosi karena hidup ini terlalu singkat jika hanya digunakan untuk keburukan; menjalin hubungan yang hangat dengan orang lain karena sekecil apapun kebaikan yang dilakukan kepada sesama akan memiliki nilai yang amat besar di sisi Tuhan; serta memiliki kesehatan mental dan kecerdasan spiritual yang baik dikarenakan makna dari pupujian tersebut mengajak pada introspeksi diri, pengendalian diri, serta tafakur atas kehidupan yang kita jalani.
Pupujian setelah azan sembari menunggu didirikannya salat dan menunggu para jemaah datang adalah sebuah seni senandung yang sering diperdengarkan di masjid dan musala yang di dalamnya berisi kalimat tayibah3, lantunan selawat, serta berbagai nasihat dan doa. Ia merupakan amalan yang baik dan memiliki banyak manfaat dalam dakwah, terutama sebagai media untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan kehidupan kepada anak-anak dan dapat menarik minat masyarakat untuk berbondong-bondong menuju masjid. Selain itu, hal paling penting yang perlu kita perhatikan adalah adab dan etika dalam pelaksanaan lantunan pupujian adalah: perlu dipilih siapa yang berhak melantunkannya, sekiranya suaranya merdu dan enak didengar telinga; diperhatikannya pengaturan volume pengeras suara agar tidak menyakiti pendengaran masyarakat di sekitar masjid atau musala; serta diaturnya durasi dan waktu pelantunannya. Semua syarat ini sangat perlu diperhatikan agar pupujian menjadi lebih khidmat, tepat sasaran sebagai media dakwah dan pesan yang disampaikan pun lebih mengena kepada siapa pun yang mendengarnya.
Pupujian juga memiliki kaitan dengan kecerdasan spiritual, yakni kemampuan seseorang untuk meyakini dan berpegang teguh pada nilai-nilai spritualitas Islam agar senantiasa berperilaku sesuai dengannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurut sejarah asal-usulnya, pupujian terinspirasi dari pola dakwah Wali Songo yang dilakukan demi menarik perhatian masyarakat yang belum mengenal ajaran salat agar berbondong-bondong mempelajarinya sehingga sedikit demi sedikit mereka berkenan datang ke masjid untuk mengikuti salat berjamaah. Lambat laun hal itu menjadi sebuah tradisi yang dilakukan hingga saat ini, yang kemudian menjadi sebuah tradisi lisan (oral tradition) dan memiliki persamaan dengan folklor lisan.
Pupujian merupakan budaya warisan dari para ulama dan Wali Songo. Lirik lir Ilir yang diciptakan Sunan Kalijaga dan lirik Tombo Ati yang diciptakan Sunan Bonang berisi tentang nasihat-nasihat kebajikan yang akan sering kita temukan disenandungkan di musala-musala atau masjid-masjid di Tanah Jawa.
Syair-syair Kebajikan
Jika kita mencari dalil yang secara langsung membahas tentang diperbolehkannya membaca pupujian setelah dikumandangkannya azan, mungkin tidak akan kita temukan. Namun begitu, terdapat banyak hadis yang menganjurkan membaca doa antara azan dan ikamah. Baginda Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الدُّعَاءَ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ، فَادْعُوا «.
“Sesungguhnya doa yang dibaca di antara azan dan ikamah tidak akan ditolak (dikabulkan oleh Allah), maka berdoalah kalian!”.4
Dari perspektif ini, maka pupujian yang dilantunkan antara azan dan ikamah yang berisi tentang ajaran-ajaran kebaikan dan nilai-nilai kebajikan guna memberikan pelajaran untuk dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari juga bisa terhitung sebagai sebuah doa.
Berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat bernama Hassan bin Tsabit radiyallahu ‘anhu yang mendapatkan julukan “Penyair Rasul” juga pernah melantunkan syair-syair pujian di Masjid Nabawi di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya. Diceritakan dari Sa’id bin Musayyab bahwa beliau berkata:
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ، حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ ، قَالَ : مَرَّ عُمَرُ فِي الْمَسْجِدِ وَحَسَّانُ يُنْشِدُ، فَقَالَ : كُنْتُ أُنْشِدُ فِيهِ، وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ. ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ : أَنْشُدُكَ بِاللَّهِ، أَسَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : « أَجِبْ عَنِّي، اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ « قَالَ : نَعَمْ
“Suatu ketika Umar berjalan di masjid lalu bertemu dengan Hassan bin Tsabit yang sedang melantunkan syair di sana. Umar pun lalu menegur Hassan, tetapi Hassan menjawab, ‘Aku melantunkan syair di masjid yang di dalamnya ada seseorang yang lebih mulia daripada Anda’. Dia lalu menoleh ke arah Abu Hurairah dan bertanya, ‘Aku bersumpah demi Allah, apakah engkau pernah mendengar Rasulullah bersabda: ‘Kabulkan doaku, ya Allah. Kokohkanlah Hassan dengan Malaikat Jibril?’ Abu Hurairah menjawab, ‘Ya, aku mendengarnya’.”5
Dalam memahami hadis ini, Syekh Isma’il al-Zain, dalam bukunya yang berjudul Irsyad al-Mu’minin ila Fadha’il al-Dzikr Rabb al–‘Alamin, menjelaskan tentang adanya kebolehan melantunkan syair berisi puji-pujian, nasihat, pelajaran kebaikan dan ilmu yang bermanfaat di dalam masjid.6
Terdapat pula kaitan pupujian dengan kecerdasan spiritual, yakni kemampuan seseorang untuk yakin dan berpegang teguh pada nilai-nilai spritualitas Islam agar senantiasa berperilaku sesuai dengannya dalam kehidupan, serta mampu untuk menempatkan diri dalam kebermaknaan diri dengan perasaan ihsan, selalu merasa dilihat dan diawasi Tuhan sehingga dapat hidup dengan mempunyai jalan dan kebermanfaatan yang akan membawanya kepada kebahagiaan dan keharmonisan hakiki. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Mukminun yang artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, serta orang yang menunaikan zakat.”7 Berdasarkan ayat tersebut, pupujian berfungsi sebagai media menunggu dan menyiapkan diri untuk salat dengan khusyuk, khusus dengan mendengar atau melafalkan nasihat-nasihat baik serta selawat Nabi.
Pupujian sebagai Media Pembelajaran
Secara garis besar, pupujian berfungsi sebagai media pendidikan anak, media zikir guna mempersiapkan rohani masuk ke dalam dimensi salat yang khusyuk dengan mengingat Allah. Hakikat kita sebagai manusia memerlukan sebuah pengingat untuk terus menjadi orang yang baik, beriman, dan beramal saleh. Bacaan pupujian mempunyai arti keagamaan yang tinggi yang di dalamnya terdapat makna tauhid, tawakal, istigfar dan selawat kepada Nabi, terkandung zikir, seruan, dan nasihat. Dengan menghayati maknanya, maka manfaat yang didapatkan akan sangat besar dan berperan bagi kecerdasan spiritual.
Pupujian menjelang salat lima waktu memiliki banyak hikmah, di antaranya:
Mengajak masyarakat untuk berkumpul demi menjalankan salat berjamaah.
Menyiapkan diri untuk memasuki dimensi salat yang khusyuk dengan diingatkan tentang kehidupan juga kematian dan nasihat-nasihat kebajikan.
Media pendidikan bagi anak-anak yang berisi tentang berbagai nasihat positif bernilai keagamaan guna diterapkan di kehidupan sehari-harinya.
Mengingat bahwa salah satu doa yang mustajab adalah yang dipanjatkan di antara azan dan ikamah. Dalam bait syair pupujian pun banyak ditemukan panjatan permohonan dan harapan yang menjadi doa di waktu paling mustajab.
Seiring berjalannya waktu, sayangnya kini pupujian telah mulai ditinggalkan oleh anak-anak. Mereka lebih tertarik dengan gawai pintar yang memutar lagu-lagu di dalamnya sehingga tidak lagi bersemangat untuk pergi salat berjamaah di musala dan masjid. Dalam hal ini kita perlu berhati-hati karena tidak jarang ditemui lirik dari lagu-lagu tersebut yang berisikan kata-kata tidak pantas dan tidak patut didengar, yang sayangnya kini telah menjadi santapan sehari-hari generasi masa kini.
Kita perlu mengisi dan memperdengarkan telinga anak-anak kita dengan kalimat-kalimat yang baik sehingga akan berpengaruh baik bagi kehidupan. Kita perlu mendidik anak-anak dan menjaga mereka dari sesuatu yang diharamkan atau mendengar hal-hal yang diharamkan karena hal tersebut dapat merusak jiwa atau rohani anak yang masih halus. Betapa indahnya para ulama terdahulu memberikan nasihat-nasihat positif dalam bentuk syair yang disenandungkan di kehidupan sehari-hari yang bisa menjadi pengingat dan sandaran dalam menjalani kehidupan.
Penulis adalah seorang pengajar PAI di Sekolah Semesta Semarang yang aktif menulis tema-tema pendidikan.
Referensi :
- Pupujian merupakan puisi berisi puja-puji, nasihat, doa, dan pelajaran yang berisi tentang kehidupan yang bernapaskan ajaran Islam.
- Pujian yang sering disenandungkan di masjid dan langgar.
- Kalimat tayibah adalah kata-kata baik, baik bersumber dari Al-Qur’an maupun tidak. Kalimat tayibah yang bersumber dari Al-Qur’an di antaranya adalah la ilaha illallah, bismillah, alhamdulillah, astaghfirullah, a’uzu billahi minas syaitanirrajim, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Allahu akbar.
- Ahmad bin Hanbal, Musnad Anas bin Malik, no. 13668.
- Bukhari, Bad’ul Khalq, no. 3212; Muslim, Fadhail Shahabah, no. 2485.
- Irsyad al-Mu’minin ila Fadha’il al-Dzikr Rabb al-‘Alamin, hal. 16.
- Al-Mukminun, 23/1-4.







Discussion about this post