Pada berbagai penelitian, aku tertarik untuk memahami bahasa batu. Setelah berjibaku dengan berbagai penelitian geologi, aku termenung mencari tahu makna di balik lisan mereka dengan mengerahkan segala kekuatan akal dan panca indra yang kumiliki. Sering kali seakan ia menyapaku dalam kesunyian yang pekat hingga pada akhirnya aku sadar dan terilhami bahwa sesungguhnya ia tengah menceritakan kepadaku sebuah kisah, kisah yang sulit diungkapkan dengan bahasa manusia, seakan-akan ia berkata:
“Wahai manusia, segala yang kau ketahui dengan panca indra dan akalmu, sesungguhnya aku lebih memahaminya juga memahami dirimu, karena aku melingkupi dirimu. Namun ada yang melingkupi diriku, yakni sesuatu yang dengannya kau melambung tinggi (ruh). Karena ia mengitariku dan segala sesuatu. Tidakkah kau pernah mendengar sebuah syair Syaikh Al-Buzidi saat ia menyifati ruh: “Dan rahasianya (ruh) adalah ia mengitari segala sesuatu, meskipun segala sesuatu mengitari jasad.1
Batu dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
Manusia telah mendengar bahwasanya aku bertasbih di atas telapak tangan Baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka menganggap bahwa hal itu sebagai sebuah mukjizat. Akan tetapi tasbihku ini bukanlah hal yang luar biasa, bahkan aku telah, sedang, dan akan terus bertasbih hingga tiba saat di mana Allah menguasai seluruh permukaan bumi dan segala sesuatu yang ada di atasnya yakni hari Kiamat. Maka hendaknya kau cari tahu rahasia di balik tasbihku ini di dalam buku Al-Washaya karya Ibnu ‘Arabi2: “Diriwayatkan dalam kitab shahih bahwasanya sebuah batu bertasbih di atas telapak tangan Rasulullah. Kemudian orang-orang menganggap hal tersebut luar biasa, padahal mereka sebenarnya salah, karena sesungguhnya hal yang luar biasa bukanlah sebuah batu yang dapat bertasbih, melainkan kemampuan manusia yang dapat mendengar tasbihnya batu itu. Sesungguhnya batu itu tetap bertasbih seperti apa yang Allah ceritakan, akan tetapi ia bertasbih dengan cara yang khusus atau dengan cara pengucapan tasbih yang tidak biasa batu itu lakukan sebelumnya. Jika dilihat dari konteks itu letak keajaiban memang terdapat pada sang batu dan bukan pada kemampuan orang yang mendengarnya. Dan dalam hal manusia yang dapat mendengar kejadian tersebut, pada hakikatnya itu merupakan kemampuan manusia untuk dapat mendengarkan ucapan yang tidak biasanya dapat didengarkan.”3
Hal ini merupakan bukti yang menjelaskan kepadamu wahai manusia, bahwa mukjizat bukanlah pada tasbihku, melainkan pada kemampuan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendengar tasbih ini, karena sesungguhnya aku terus menerus bertasbih, dan tasbihku adalah bukti eksistensi dan sisa napak tilasku. Kau tak akan bisa memahami tasbihku ini sebagaimana firman Allah: “Dan tak ada suatu apapun (di semesta ini) melainkan ia bertasbih dengan memuji-Nya, akan tetapi kalian semua tidak memahami tasbih mereka.”4 Namun kalian dapat merasakannya melalui teori-teori keilmuan yang ditunjang oleh energi internal yang kumiliki atau reaksi-reaksi yang terjadi padaku. Inilah yang ditunjukkan oleh perkembangan risetmu mengenai komponenku yang selalu berubah karena faktor erosi, perpindahan, dan pengendapan. Di mana faktor tersebutlah yang akan menentukan hubungan antara unsur komponenku dan bentuk luarnya, juga dengan adanya reaksi kimia yang terjadi pada bentuk luarku. Pada saat aku tengah stabil akan terjadi regenerasi pada susunan sistem nasihat yang bertasbih padaku setelah berpindahnya unsur komponen melalui air atau angin dengan bentuk yang seimbang dan sesuai, serta karakteristik bentuk lingkarku. Kemudian yang terakhir efek yang ditimbulkan oleh batu, hewan, dan dirimu wahai manusia kepadaku yang disebabkan oleh hubungan timbal-balik secara terus menerus antara aku dan organisme-organisme ini. Tak ada bukti kuat terhadap reaksiku dalam memancarkan cahaya, melainkan apa yang ilmu sainsmu klasifikasikan sebagai inframerah, di mana satelitmu sangat bergantung padanya untuk mengamati permukaan bumi.
Untuk memahami keberadaanku dan mengenali sifat-sifat komponen unsurku yang sering berubah seiring bergantinya zaman dan tempat, maka kau harus menghadirkan semua komponen-komponen tadi yang sudah berbentuk residu dan merupakan hasil dari hukum-hukum fisika, kimia, dan biologi. Hal ini banyak berkontribusi dalam proses perubahan komponen unsurku dan perkembangannya dalam ekosistem lingkungan hidup yang sering berubah seiring bergantinya zaman dan tempat. Unsur komponen batu dapat hidup berdampingan dengan organisme lainnya, termasuk dengan manusia, menjadi bukti reaksi dan responku terhadap manusia dan lingkungan tempatku hidup. Jika kau mampu memecahkan rumus dan teka-teki yang tertanam dalam diriku, maka akan terlihat apa yang selama ini aku serap dan keluarkan dari aktivitas segala hal, saat kalian hidup di atas punggungku. Tak ada aktifitas yang terjadi di atas hamparan punggungku ini melainkan kusimpan pada unsur komponenku dan kusembunyikan dalam diriku, hingga saatnya nanti Allah menetapkan ajalku, maka akan kukeluarkan isi beban yang terkandung di dalamnya dan kuceritakan apa yang terjadi seperti apa yang telah Allah wahyukan kepadaku: “Pada hari itu ia (bumi) menceritakan kabarnya, bahwa sesungguhnya Tuhannya telah memerintahkannya demikian”.5
Batu dan Interaksinya dengan Alam Jika aku sebuah batu padat, maka sebenarnya aku terus berinteraksi dengan perubahan-perubahan bentuk eksternal tempatku hidup. Kau dapat melihat interaksi ini pada kristalku melalui analisis mikroskopis. Kristal pada tekstur batu memiliki bentuk yang bermacam-macam. Ibarat cermin, ia memancarkan cahaya gemilang yang berasal dari reaksi kimia di tempat tinggalku. Sehingga menggunakan mikroskop akan terlihat bentuk-bentuk mengagumkan dan warna-warni cerah berdasarkan struktur logam yang membentuknya, maka akan nampak jelas bahwa cahaya yang berasal dari kristalku ini merupakan refleksi dari rahasia yang disembunyikan oleh sistem atom yang dengan reaksi kimianya inilah struktur logamku terbentuk. Apabila kau meneliti sistem yang atom-atomnya terkumpul dalam molekul-molekul kristal harmonis yang stabil ini, maka unsur komponenku akan bercerita padamu tentang cahaya penyusunnya. Kau akan teringat dengan makna dari firman-Nya yang berbunyi: “Allah adalah cahaya langit dan bumi”.6 Dan kau juga akan tertegun saat memahami firman Allah: “Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya terdapat pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon (pohon zaitun) yang berkahnya ia tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh oleh api.7
Dengan apa yang Al Qur’an telah ceritakan padamu tentang makna penyebutan kaca yang bersinar dikarenakan komponen kristal yang berada di dalamnya, penyebutan minyak yang menerangi meskipun tidak disulut api sekalipun, serta dalil mengenai pengaruh reaksi tersembunyi yang Allah ciptakan dalam bintang yang bersinar, yang juga Allah ciptakan dalam diriku dan organisme-organisme lainnya, dipahami bahwa dari-Nya cahaya itu berasal yang menerangi semesta tanpa asupan energi dari luar.
Keajaiban dan Keunikan
Jika kau sudah benar-benar tahu bahwasanya tak ada satupun cahaya yang berada di alam materi ini, mulai dari cahaya lilin hingga cahaya matahari, melainkan berasal dari sentuhan api. Maka kau akan meyakini bahwa sumber segala cahaya yang darinya kristalku menerangi gelapnya alam wujud berasal dari keagungan Allah yang Ia anugerahkan kepada semua makhluk. Untuk memahami makna ini lebih dalam, tinggalkan pembahasan tentang bentuk luarku dan mulailah melirik esensiku. Karena sesungguhnya rahasia yang disembunyikan oleh kristalku akan mengantarkanmu pada hakikat mengapa bumi bersinar dengan cahaya. Jika kau mencermati pembentukan kristal-kristal ini, maka akan kau temukan bahwa ia terbentuk atas fitur simetris. Sifatnya menunjukkan adanya keharmonisan keindahan kristal dalam dualisme susunan memukau, perancangan teliti yang terkuak dari semua tingkatan melalui poros kristal atau pusatnya. Sekiranya sebuah cahaya menembusnya, maka ia akan terpancarkan ke berbagai arah. Kau akan takjub saat menyadari bahwa esensi kristalku merupakan refleksi dari susunan atom dan susunan dasar atomku pun simetris. Kesimetrisan kristal yang darinya bersinar cahayaku ini, sesungguhnya muncul dari kesimetrisan atomku yang menentukan kepositifannya sehingga molekul yang membentuk berbagai macam kristal menjadi asal bagi materiku.
Inilah yang ditambahkan pada susunanku, yakni sifat dualisme yang meliputi segala hal mulai dari atom, kristal, batu, gunung, hingga bumi yang ujung-ujungnya simetris di sekitar pusatnya dan terdapat pada inti di dalamnya. Segala yang ada dan hidup, mulai dari tumbuhan, hewan hingga manusia, tak lain berasal dari tanah bumi yang bahan-bahannya terbentuk dari kristalisasi tambangku terhadap tubuh yang berasal dari keselarasan dualisme ini. Kesimetrisan yang kau temukan simbolisasinya pada bentuk kubus Ka’bah Al-Musyarrofah ini merupakan asal sistem kristal yang menjadi komponen bagi setiap benda padat di muka bumi ini. Ini merupakan satu dari banyaknya rahasia substansiku yang kuceritakan padamu untuk menunjukkan ke-Esaan Sang Pencipta serta menambahkan sifat dualisme bagi segala hal selain-Nya, hingga semua komponen-komponen itu memancarkan keesaan entitas Sang Pencipta. Sehingga dengan cahaya-Nya ia menerangi semesta dan hal itu menjadi bukti bagimu bahwa sesungguhnya Dialah cahaya di atas segala cahaya, dan jika bukan karena cahaya-Nya, maka kebenaran tidak akan tampak dalam gelapnya semesta ini.
Interaksiku dengan benda-benda yang berubah-ubah dapat menjadi pelajaran bagimu. Aku terbentuk dari kohesi antar penyusun bahan tambang atau bagian-bagiannya maupun dualismenya. Atas kehendak Tuhan kemudian aku berkoherensi dan mengeras kemudian terjadilah erosi dalam diriku sehingga membuatku melemah, terfragmentasi dan dekomposisi. Lalu susunanku dipindahkan bersama arus angin dan air hingga akhirnya sampai ke tempat rendah yang menjadi habitatnya, lalu ia pun berkoherensi lagi dan rangkaianku pun mengeras lalu kembali menjadi lunak seiring berjalannya zaman sesuai dengan kondisi tempat tersebut.
Perumpamaan Rabbaniah
Kala Allah menganalogikan hati orang-orang yang membangkang dengan diriku, Ia mengungkapkan bahwa sesungguhnya hati mereka bertambah keras melebihi diriku, karena dalam diriku masih terdapat kelembutan serta kekhusyuan seiring berjalannya waktu dan dengan interaksiku pada tempat. Yang terpenting lagi adalah interaksiku pada air yang merupakan sebuah elemen berpengaruh pada proses kematanganku, sebagaimana dalam firman Allah: ”Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras bagaikan batu, atau bahkan lebih keras daripadanya. Sesungguhnya di antara bebatuan itu ada yang darinya mengalir sungai, dan darinya yang lain terpancar dan mengeluarkan air, dan ada pula lainnya yang turun disebabkan ketakutannya pada Allah.8
Hati pembangkang lebih keras daripadaku karena tertutupi hijab yang menjadikannya tidak dapat menerima berbagai pengaruh positif dari luar meski ia berada pada waktu yang lama dan tempat sekitarnya berubah sekalipun. Bahkan bisa saja seratus persen kebalikan dariku, saat waktunya bertambah lebih lama, maka ia bertambah lebih keras, sebagaimana dalam firman Allah: ”Belum tibakah waktu bagi orang-orang yang berimanuntuk mengkhusyukkan hatinya mengingat Allah dan (mematuhi) kebenaran yang telah diturunkan (kepada mereka), dan agar mereka tidak (berperilaku) seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya, kemudian mereka pun melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang fasik.9
Begitulah wahai manusia, saat Allah mendatangkan perumpamaan ini dengan menjadikan air sebagai bahan perubahan dalam mensifatiku dan bukti yang menjelaskan bahwa diriku dapat menerima perubahan, di situlah Allah ingin menunjukkan dampak wahyu terhadap ‘sejuknya’ hati melalui penyebutan atas dampak air ketika melunakkan batu. Lantas Ia menambahkan pula sifat lunak seiring berjalannya waktu atas bentuk dan jenis-jenisku, yang mana Allah runtutkan dalam 3 pokok bahan asalku dan kini bisa kau temukan faktanya dalam dalam penelitian ilmiah. Allah menjadikan jenisku yang darinya air dapat dipancarkan, dikenal sebagai batu dalam (Magmatic) yang memancarkan air saat ia mendidih dari gunung berapi sebelum mengeras di atas permukaan sungai dari air panas dan sungai dari pencairan tambang yang berbeda-beda. DijadikanNya pula jenisku yang retak sehingga darinya keluar air yang disebut batu berubah (Metamorphic) akibat dari tekanan horizontal antara potongan permukaan atau hasil dari penggerusan yang muncul dari sentuhan cairan yang naik dari dalam bumi. Kau dapat juga menemukannya dalam batu tanah yang ketika jatuh beban ke atasnya, maka ia akan mengering dengan memancarkan air darinya dan membentuk seperti daun yang tipis (Schistosity). Dijadikan-Nya jenisku yang dapat turun, dikenal sebagai batu endapan (Sedimentary) yang saat ia bertambah banyak (Compaction), maka seiring waktu akan berkurang ukurannya di bawah tekanan beban berlebih di atasnya dengan memancarkan airnya dan membendung celahnya, maka ia akan turun sesuai kadar reaksi dengan berat beban yang ada di atasnya.
Hal ini memberikan bukti nyata wahai manusia bahwa diriku memiliki aktivitas tersembunyi yang menunjukkan pergolakan tak terlihat sebagai reaksiku terhadap lingkungan di sekitarku. Melalui keimananmu pada kitabullah, maka kau dapat mengetahui hakikat ini melalui apa yang diungkapkan dalam kitab-Nya, mulai dari tanda-tanda gerakan kehidupan dalam segala hal yang diciptakan Allah dengan bukti bahwa segala hal yang kamu anggap mati dan padat kelak di hari kiamat akan menjadi saksi bagimu atas apa yang telah kau lakukan di hidupmu sebagaimana yang diungkapkan dalam firman Allah: ”Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, maka pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka akan menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka lakukan”. (Fussilat: 20).
Kemudian dengan pengetahuanmu, kau dapat merasakan bahwa susunanku terdiri dari partikel-partikel yang masing-masing darinya tersusun dari atom-atom yang saling terpaut dalam susunan yang teliti. Atom di dalamnya membentuk susunan lingkaran memukau yang terdapat pada pusat intinya. Padanya terdapat bahan berkilau yang menjadi pusat kekuatanku, dan di sekitarnya terdapat elektron yang berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Putaran yang menjadi rahasia aktifitasku ini arahnya sama dengan arah perputaran bumi pada porosnya, perputaran bulan pada bumi, perputaran bumi dan bulan pada matahari, serta perputaran semua planet dalam orbitnya yang mengitari matahari-mataharinya, bahkan putaran itu juga mengingatkan kita pada orang-orang yang sedang thawaf saat berhaji mengelilingi kabah ke arah yang sama.
Dari Batu Kita Belajar
Wahai manusia, dalam rahasia-rahasia menakjubkan yang kusembunyikan dalam komposisiku ini, apakah terlihat bagimu isyarat-isyaratku menunjukkanmu pada keteraturan menakjubkan yang menyingkap tentang rahasia semesta dan wahyu Ilahi? Sesungguhnya jika kau renungkan ucapanku ini, maka akan kau temukan banyak makna yang tersingkap. Namun semua itu berada di sekitar satu rahasia saja yang menunjukkan bahwa tasbihku bukanlah sebuah hal yang luar biasa, akan tetapi merupakan hal lumrah yang terjadi di semesta ini. Sedangkan hal yang luar biasa itu adalah bahwa jika kau dengan perasaan dan akalmu wahai manusia, dapat memahami hal-hal yang muncul pada tingkat getaran suara yang tidak dapat ditangkap oleh inderamu. Oleh karenanya aku memintamu untuk menuju padaku dengan indera ruhmu, karena dengan interaksiku denganmu akan menjadikanku merekam setiap partikel-partikel kecil debuku yang tanganmu sentuh dan kakimu melangkah di atasnya.
Allah berfirman: ”Sungguh Kami menghidupkan orang-orang yang mati dan mencatat apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas (yang mereka tinggalkan)”.10 Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan: ”Diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal bahwasanya tanah di sekitar masjid mengalami keretakan yang membuat Bani Salimah berniat untuk pindah ke tempat lain yang dekat dengan masjid, lalu disampaikan hal tersebut pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Beliau pun bersabda: ”Wahai Bani Salimah menetaplah kamu pada rumahmu yang sekarang, karena jika kau menetapinya, maka jejak kaki dan langkah-langkahmu ke masjid akan ditulis sebagai sebuah pahala”.11 Penjelasan ini merupakan isyarat bahwa diriku menyimpan rekaman setiap atom kecil atas anak manusia baik di saat mereka bergerak maupun saat mereka diam. Maka dari itu berhati-hatilah pada setiap langkahmu dan setiap apa yang kau lakukan dalam hidupmu.
Sebagaimana yang kau ketahui dalam sirah nabawiyah bahwa Rasulullah dulu banyak mencium batu Hajar Aswad, yang mana dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazzali rahimahullah disebutkan bahwasanya: Sahabat Umar bin Khattab ra. mencium batu Hajar Aswad lalu berkata: ”Aku tahu bahwa dirimu tidak dapat memberikan manfaat maupun madharat. Jika bukan karena diriku melihat Rasulullah menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” Lalu beliau pun menangis hingga sesenggukan. Saat menoleh ke belakang, ia melihat sahabat Ali ra. lalu berkata: ”Wahai Abu Hasan (Ali) di sinilah kita akan mendapatkan pelajaran dan doa-doa kita akan terkabul.” Lalu Ali ra. pun berkata: ”Wahai Amirul Mukminin… justru sebaliknya batu itu (Hajar Aswad) dapat memberi manfaat dan madharat.” Umar lalu bertanya ”Bagaimana bisa?” Ali pun lalu menjawab ”Sesungguhnya saat Allah mengambil sumpah dari manusia, Ia lalu menulis pada mereka sebuah kitab yang kemudian batu itu mendiamkannya seribu bahasa. Sesungguhnya dia akan menjadi saksi bagi mukmin dengan kesetiaannya dan menjadi saksi bagi kafir dengan pembangkangannya.”12 Dan inilah rahasia dari ucapan orang-orang ketika menyalami batu Hajar Aswad saat melakukan thawaf: Ya Allah (anugerahkanlah kepada kami) iman pada-Mu, pembenaran pada kitab-Mu, dan kesetiaan pada janji-Mu.
Wahai manusia, sesungguhnya Ia yang mewujudkanku bagimu dan menguasaiku untukmu tidak menciptakanku sia-sia, akan tetapi setiap atom dari atom-atomku dan setiap yang terbentuk darinya berinteraksi denganmu dan bersanding dengan keberadaanmu melalui rahasia keesaan tasbih yang aku, kau, dan juga semua makhluk di alam semesta ini ucapkan, melalui pula rahasia kesaksian khusus yang ditanggungkan padaku atas dirimu. Ketahuilah bahwa Allah memeliharamu, bahwasanya ceritaku ini menjadi bukti bagi hakikat keyakinanmu. Wahai manusia yang memiliki pikiran dan penglihatan, aku juga makhluk sepertimu, dikuasai untukmu, dan menjadi saksi atasmu, sebagaimana yang kuungkapkan padamu pada menit-menit yang tidak kau ketahui rahasia-rahasianya, dan oleh karenanya suatu saat nanti aku akan berbicara atasmu dengan kabar-kabar yang kurekam dari jejak-jejak yang telah kau lalui.
Penulis adalah pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan, Universitas Ibnu
Thufail/ Maroko
Referensi :
- Syarh Taniah al-Buzidi fi al-Khamrah al-Azaliyah, Ahmad bin ‘Ajibah (W 1224 H), Dar al-Rasyad, Kasablanka 1998.
- Kitab al-Washaya, Ibnu ‘Arabi, h 22.
- Al-Washaya li Ibni ‘Arabi al-Hatimi (W 638 H), Dar al-Jil, Beirut 1998.
- Al-Isra: 44
- Al-Zalzalah: 4-5
- An-Nur: 35
- An-Nur: 35
- Al-Baqarah:74
- Al-Hadid: 16
- Yasin: 12
- Tafsir al-Quran al-’Adzim Ibnu Katsir (W 774 H), Dar al-Fikr, Beirut, h 542.
- Ihya Ulumuddin, Abu Hamid al-Ghazzali (W 505 H), Dar al-Ma’rifah, Beirut, j 1, h 242.





Discussion about this post