Wangi sabun mandi dan parfumku cukup semerbak sore ini. Peci kebesaran warisan Bapak memakan sebagian kepalaku yang baru saja disisir klimis oleh Ibu. Tampak jernih hitam-legam rambut tebalku, padahal cepak rambut Bapakku. Konon katanya, aku mewarisi tebalnya rambut kakek, kakekku yang sudah tak lagi kutahu. Ketika Bapak lahir, kakek sudah berpulang. Wajar jika aku hanya tahu siapa itu kakek dari dongeng Bapak sebelum tidur malam. Kuraih sepeda onthel-ku berbarengan dengan panggilan riuh kawan-kawan yang kudengar di luar pintu. Sarung pertama milikku tergulung melingkari leherku. Berkali-kali Ibu berpesan agar dilipat yang rapi. Namun aku lebih suka seperti ini, meniru abang-abang yang suka meronda, membangunkan sahur tiap pagi dan mengajar ngaji tiap senja. Kukayuhi pedal sepeda, dengan kedua tanganku yang sibuk berjuntai ke bawah. Di depanku duduk kawanku memegang penuh kendali sepeda. Aku hanya bertugas mengayuh. Aku percaya sepenuhnya padanya, dan dia juga percaya kepadaku.
Surau kampung tidak jauh dari rumah sebenarnya. Namun, kami suka berputar-putar terlebih dahulu. Ada tujuh anak yang bersepeda bareng denganku. Jarak rumah kami berjauhan satu sama lain. Bahkan ada yang jauh sekali, dekat dengan kaki gunung. Meski begitu, desa ini tak lagi luas bagi kami. Berhektar-hektar sawah milik Pak Joko kami arungi, begitu pula sungai-sungai mengalir bersih, jalan-jalan setapak desa yang ada saja sayuran liar tumbuh di sisi-sisinya, tanah kosong lapang tak bertuan, gudang Bulog di pinggiran kota, pasar-pasar kecil kampung tempat pasar malam yang suka ramai dibuka, serta pekuburan tua, yang konon kata bapak adalah milik orang-orang China.
Itu dia surau kami. Terlihat kilau gentengnya sudah jernih warnanya. Baru beberapa hari lalu direnovasi pemerintah setempat. Alhamdulillah. Terdengar Pak Komar bersuara di speaker yang sudah jelas sekali perlu diganti. Sepertinya alat itu tidak termasuk dalam rincian perbaikan beberapa hari lalu. Atau mungkin, memang bibir Pak Komar yang sudah tidak kuat lagi mengalunkan suara?
Surau kecil ini sudah puluhan tahun berdiri. Kata Bapak, dulu kakekku imam surau ini. Bapak tak melanjutkan jejak kakek, karena lebih senang keluar berpetualang. Masa muda Bapak dihabiskan di kota. Namun, nyatanya kehidupan desa selalu memanggil bapak untuk






Discussion about this post