Manusia senantiasa membutuhkan Allah Subhanahu wa ta’ala. Jika dibandingkan kenikmatan materi, manusia sejatinya lebih membutuhkan inayah (pertolongan, ihsan) dan pemeliharaan dari-Nya. Ya, manusia memang membutuhkan air, udara, dan berbagai kenikmatan materi lainnya, namun sejatinya mereka lebih membutuhkan keistikamahan rohani dan nutrisi bagi jiwanya. Seorang hamba yang tulus harus senantiasa memohonkan adanya keistikamahan kalbu dan rohani dari Tuhannya.
Berbagai pemikiran seorang hamba seperti, “Bagaimanapun juga selama ini aku telah menjaga diri agar senantiasa berada pada garis lurus, seakan mengisyaratkan ketidakbutuhannya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Perilaku semacam ini merupakan sebuah kekeliruan yang sama sekali tidak boleh terbersit dalam benak seorang Mukmin, karena dapat berakibat pada ilhad (penyimpangan atau rusaknya iman). Padahal sesungguhnya, semua makhluk sangat membutuhkan-Nya di setiap waktu. Meski seandainya manusia telah melaksanakan ibadah dan ketaatan seribu tahun lamanya sekalipun, namun belum tentu semua itu dapat menjadikannya berada dalam keistikamahan. Di atas segalanya, yang perlu dilakukan adalah berlindung kepada Allah Yang Maha Kuasa pada setiap perilaku, sikap, dan kata-kata; seraya meminta keikhlasan dan keistikamahan dari-Nya.
Hal ini harus dilakukan dengan tulus dan berasal dan lubuk hati terdalam. Seandainya seseorang bisa mencapai usia 60-70 tahun, dan jika selama itu ia telah menjalani kehidupan yang bisa membuat banyak orang iri sekalipun, namun tetap saja ia bisa terjatuh pada kesalahan bahkan berbuat kekhilafan. Oleh karenanya, seorang yang beriman harus selalu bertawajuh kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sepenuh hati seraya berkata, “Ya Rabbi.. jangan pisahkan hamba dari hidayah-Mu, meski hanya sedetik pun Janganlah Engkau jatuhkan kata kata, perilaku, pembicaraan, langkah kaki dan gerak tangan bahkan mimik muka hamba sekalipun pada kesalahan, meski hanya sekecil atom. Bahkan seorang hamba harus mampu berkata: “Ya Tuhan, andai hanya sedetik pun hamba akan melakukan kesesatan, maka kumohon segera ambillah amanah (nyawa) yang telah Engkau anugerahkan ini.”
Misalnya. saat kita tengah membaca Al-Qur’an dengan suara keras, yang bermula dengan keikhlasan tanpa riya. Namun kemudian jika terbersit dalam benak “Mungkin bagus juga bila orang yang di luar juga bisa ikut mendengar bacaan ini”. Seandainya kita masih memiliki suara kalbu, maka hendaklah segera berhenti dan mengatakan “Betapa munafiknya hal ini!” kepada dirinya sendiri seraya menundukkan kepalanya untuk kemudian bersujud dan beristighfar. Tidak sepatutnya ia memasukkan keretakan niat sekecil apapun dan pembelokan arah sesedikit apapun ke dalam ibadahnya. Karena ketaatan dalam ibadah hanya dilakukan demi Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebisa mungkin, semua ibadah, khususnya ibadah yang selain fardu, haruslah tidak diperlihatkan atau diperdengarkan pada orang lain. Namun jika pada saat ia beribadah ada orang yang terlanjur melihat atau mendengarnya, maka itu bukan menjadi tanggung jawabnya. Hanya saja dia tetap perlu berkata dalam hatinya, “Andai saja mereka tidak melihat atau mendengarnya.”
Dalam hal meminta keistikamahan dalam hidup dan agar tidak terjatuh dalam kesalahan, seorang hamba harus berdoa dan meminta perlindungan dari Allah Subhanahu wa ta’ala selayaknya seorang mudhthar yaitu orang yang benar-benar tak berdaya dan berada dalam kesulitan. Begitu pula saat beribadah seseorang sepatutnya melakukannya seperti seorang hamba yang benar-benar tak berdaya (mudhthar). Dalam buku “Al-Lama’at” karya Ustaz Badiuzzaman Said Nursi disebutkan bahwa ketika Nabi Yunus Alaihissalam dilemparkan ke dalam lautan dan ditelan ikan besar, beliau berada di tengah-tengah lautan berbadai serta terdesak dalam kegelapan dan terputus dari berbagai harapan. Semua sebab pertolongan seakan membisu. Saat malam, lautan, dan ikan besar seolah bersepakat melawannya bersama-sama, maka beliau pun berbisik, bermunajat pada satu-satunya Dzat yang mampu menguasai ketiganya seketika di bawah titah-Nya, yang bisa mengeluarkannya menuju pantai keselamatan. Saat Nabi Yunus melihat dengan ‘ainul yakin bahwa tidak ada tempat kembali selain Sang musabibul asbab, Dzat Yang Maha Kuasa, maka Beliau pun lalu berlindung kepada-Nya. Seketika rahasia keesaan dalam cahaya ketauhidan pun terkuak ke permukaan.
Begitulah adanya, seorang hamba yang tulus harus menyebut “Allah” dan mengarah kepada-Nya dengan perasaan bahwa apa pun yang ada sekelilingnya tidak mampu menjadi penolong dan obat bagi permasalahannya selain Allah. Tentu saja, tidak boleh ada maksud dan tujuan lain dalam penyebutan asma Ilahi tersebut. Jika orang yang berputus asa dari segalanya berpaling ke arah satu-satunya pintu yang diharapkannya dapat terbuka, maka rahasia keesaan dalam cahaya ketauhidan akan tersibak baginya
Lagipula, dengan segala keagungan yang dimilikinya, Al-Qur’an telah menyatakan hakikat tentang: Siapakah yang mengabulkan doa orang yang berada dalam kesulitan (mudhthar)? (QS. An-Naml [27]: 62) Siapakah yang menjadikan nyata doa mereka yang tak berdaya? Siapakah yang menjadi penyelamat saat bala musibah menghimpit mereka? Pada saat kita kembali membuka lembaran kenangan masa lalu, pada saat kita seringkali berada dalam kesempitan dan meminta pertolongan dari-Nya dengan berucap “Duhai Tuhanku…”, lalu Dia hadir dengan pertolongan-Nya, maka dengan segenap hati kita semua akan menjawab pertanyaan di atas dengan jawaban “Allahlah yang melakukan semua itu”.
Ya, insan manusia harus senantiasa mengontrol diri dan melihat kekurangan dan kesalahan-kesalahan dirinya. Saat berusaha membenahi kesalahan-kesalahan itu, kita harus lebih mengandalkan Allah dan percaya kepada-Nya lebih daripada niat, tekad, dan usaha kita sendiri. Hendaknya kita tidak lupa bahwa jika berada dalam sebuah pekerjaan tetapi terdapat tujuan dan maksud lain selain rida-Nya, maka sejatinya hal itu telah terkoyak dan ternodai oleh riya.
Seorang manusia haruslah hidup dalam kehati-hatian. la harus mengatur sedemikian rupa fondasi pijakannya, memastikan agar jalan ibadahnya lurus tak berbelok, tak memberi kesempatan kepada setan untuk menggodanya, serta mengatur langkahnya dengan ungkapan ungkapan bermakna kehati-hatian seperti, “Tidak, hal ini mungkin memang terlihat kokoh, namun sewaktu-waktu ia bisa saja roboh. la bisa membuat kakiku terpeleset dan membuat setan menemukan jalannya untuk mengotori pikiranku.” Misalnya, seperti yang telah saya ungkapkan sebelumnya, ketika seseorang berada dalam gelap dan heningnya malam, di sebuah tempat yang sepi seraya berujar, “Ya Rabbi!” sambil menangis, lalu jikalau terbesit di hatinya perasaan: “Mungkin sesaat lagi akan ada orang yang datang dan mendengar tangisku lalu melihat betapa ikhlasnya diriku”. Kiranya terlintas pikiran semacam ini, maka orang itu harus segera menghentikan pinta dan tangisnya, karena daripada ia harus mengotori lembaran suci doa itu, lebih baik ditinggalkan dahulu meski belum selesai sepenuhnya.
Demikianlah, jika kita telaah kehidupan para salafussalih, maka akan dapat kita lihat banyak contoh senada dalam takaran yang sama. Misalnya saja pada sosok Ibrahim bin Yazid An-Nakha’i. Jika ada orang yang mengetuk pintunya saat beliau tengah membaca Al-Qur’an, maka hal pertama yang dilakukannya adalah menghentikan bacaanya, menempatkan Al-Qur’annya ke rak sebelum ia membuka pintu tersebut. Saat anggota keluarganya bertanya mengapa beliau melakukan hal itu, beliau pun menjawab, “Jika mereka melihatku dalam keadaan demikian, maka bisa saja mereka beranggapan bahwa diriku senantiasa membaca Al-Qur’an setiap waktu” dan hal itu pun dianggap olehnya sebagai bentuk riya,
Bisa saja kita beranggapan bahwa kesensitifan ini sebagai sebuah bentuk rasa was was yang berlebihan. Namun yang patut dipahami oleh mukmin sejati adalah bahwa beramal hanya demi rida Allah ta’ala merupakan sebuah permasalahan kehormatan. Dalam hal mengkhususkan Allah di setiap ibadah dan ketaatannya, seorang yang yakin pada Allah dan akhirat harus bertindak sangat sensitif dalam hal ini hingga ke tingkatan waswas dan menganggap hal ini sebagai sebuah kehormatan. Bahkan saat mengatakan kata-kata baik sekalipun, jika dalam kata-kata indahnya tercampur aroma riya yang karenanya terinfeksi oleh perkataan dan perbuatan yang mengandung kesyirikan, maka dia harus segera menghentikan pembicaraannya. Sebagaimana juga pada saat goresan pena menuangkan gubahan sajak seindah mizmar Nabi Daud ‘Alaihissalam sekalipun. Jika dalam niatnya terdapat noda, maka saat itu pula ia harus mematahkan penanya. Harus dipatahkan, karena ia menginginkan keabadian. Seseorang yang menginginkan kehidupan abadi haruslah berusaha menjaga kemurnian pikiran dan perasaannya sepanjang hidup demi tujuan yang luhur dan mulia ini.







Discussion about this post