Perjalanan dengan kapal pesiar di Atlantik Selatan seharusnya menjadi petualangan yang menyenangkan di tengah lautan dingin dan bentang alam indah. Namun, perjalanan itu justru berubah menjadi pusat perhatian dunia ketika sejumlah penumpang terinfeksi virus langka yang bukan ditularkan melalui nyamuk atau berasal dari kawasan perkotaan yang padat, melainkan dari rodensia (hewan pengerat), sehingga kejadian itu kembali mengingatkan dunia pada penyakit yang jarang menjadi perbincangan publik: hantavirus.
Pada 2 Mei 2026, WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menerima laporan bahwa sekelompok penumpang kapal pesiar mengalami gangguan pernapasan berat. Ada 147 penumpang dan awak kapal yang masih berada di atas kapal, sedangkan 34 orang lainnya telah turun di pelabuhan sebelumnya. Dalam beberapa hari berikutnya, sejumlah kasus baru diduga sebagai infeksi hantavirus. Hingga 8 Mei 2026, tercatat 8 kasus dengan 3 kematian, sehingga menghasilkan CFR (angka kematian kasus/case fatality ratio) sekitar 38%. 6 kasus telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, dan seluruhnya diidentifikasi sebagai infeksi Andes virus (ANDV).
Mengenal Hantavirus
Kasus-kasus tersebut berkaitan dengan hantavirus pulmonary syndrome (HPS), yang juga dikenal sebagai hantavirus cardiopulmonary syndrome (HCPS), yakni penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia) yang menyerang sistem pernapasan dan disebabkan oleh virus dari genus Orthohantavirus. Hingga kini, diketahui ada lebih dari 20 spesies hantavirus yang dapat menginfeksi manusia. Penyakit ini umumnya menyebabkan gangguan pernapasan berat yang dapat berkembang dengan cepat dan berakibat fatal pada sebagian pasien.
Di benua Amerika Utara, sebagian besar kasus HPS dikaitkan dengan Sin Nombre virus, sedangkan di Amerika Selatan ia lebih sering disebabkan oleh Andes virus (Orthohantavirus andesense). Sementara itu, hantavirus yang beredar di Asia dan Eropa umumnya menyebabkan haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS), penyakit yang terutama menyerang ginjal dan pembuluh darah. Berbeda dengan Andes virus, hingga kini penularan hantavirus antarmanusia di kawasan Asia dan Eropa belum pernah dilaporkan dan sebagian besar kasus yang terjadi adalah akibat paparan terhadap ekskreta rodensia yang terinfeksi.
Meski jarang, penularan antarmanusia pada HPS akibat Andes virus pernah dilaporkan, terutama dalam situasi kontak dekat dan berkepanjangan. WHO menyebut bahwa penularan sekunder kemungkinan paling mudah terjadi pada fase…







Discussion about this post