Hampir pada tiap bagian di sepanjang sejarah umat manusia, kita dapat menyaksikan pertarungan antara kebenaran dan keburukan, antara yang haq dan yang bathil. Para nabi yang diutus Allah Subhanahu wa ta’ala kepada manusia sebagai pembimbing menuju hidayah menghadapi berbagai perlawanan sengit dari orang-orang yang tersesat pada tiap-tiap zaman tersebut. Mereka juga memperlakukan orang-orang saleh yang mengikuti jejak para nabi dengan kesewenang-wenangan yang sama. Akan tetapi, sebagaimana masa-masa kezaliman ini akan menjadi kerugian besar bagi orang-orang zalim tersebut di akhirat kelak, begitu pula bagi mereka yang mengabdikan diri untuk memperjuangkan kebenaran di tengah kezaliman tersebut, masa-masa itu juga menjadi sebuah ujian. Pada masa ’Asr al-Sa‘adah1, di saat orang-orang tidak bersalah mengalami penderitaan akibat tekanan kaum zalim selama masa boikot yang berlangsung 3 tahun, para kaum dermawan seperti Sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yang karena kedudukannya di masa itu tidak termasuk yang dikenai boikot, mengerahkan seluruh kemampuan dan segala sumber daya yang dimilikinya untuk membantu sesama.
Istilah “jihad” yang sering digunakan dalam literatur Islam tidak hanya memiliki arti perang di medan pertempuran. Jihad merupakan konsep yang jauh lebih luas daripada itu, mencakup berbagai kegiatan yang dilakukan di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala dan dijalankan demi kemaslahatan umat manusia. Jihad adalah “usaha yang dilakukan seseorang dalam mendidik dan menundukkan nafsunya, suatu upaya seorang berilmu melalui ilmunya, orang yang sehat melalui pengabdiannya, orang yang berkecukupan melalui hartanya, serta segala kesungguhan dan perjuangan kaum muslimin untuk menjaga kehormatan dan martabat mereka.”2
Di setiap zaman terdapat bentuk-bentuk usaha dan mujahadah-nya (perjuangan kesungguhan) yang khas dan berbeda-beda. Sebagaimana dapat kita lihat pada bentuk-bentuk mujahadah yang ada di zaman Rasulullah ﷺ, di zaman kita sekarang pun, menggunakan apa yang kita miliki untuk mengabdi pada nilai-nilai kemanusiaan bersama (universal value), mendukung kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk merealisasikan nilai-nilai itu, bersegera dalam membantu orang-orang yang terzalimi dan tertindas tirani, serta menyuarakan berbagai bentuk ketidakadilan yang menimpa orang-orang tak bersalah ke berbagai penjuru dunia, juga merupakan sebuah bentuk mujahadah.
Di antara bentuk mujahadah yang paling penting di zaman kita saat ini adalah mu’awanah atau saling menolong dan saling membantu satu sama lain karena manusia tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan orang lain untuk menjalani kehidupannya. Lantas, apa saja yang bisa kita lakukan untuk saling membantu satu sama lain? Mari menguraikan hal tersebut sebagai berikut:
Memberi Dukungan Materi
Al-Qur’an memuat puluhan ayat yang membahas tentang infak. Bahkan, perintah berinfak kerap disebut segera setelah perintah salat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya infak dan kedudukannya dalam ajaran Islam. Melindungi dan membantu orang-orang yang tertindas serta mereka yang menjadi korban ketidakadilan merupakan salah satu jalan penting untuk memperoleh limpahan karunia, rahmat, dan rida Allah Subhanahu wa ta’ala. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa orang-orang yang bersegera dalam membantu mereka yang sedang membutuhkan adalah mereka yang berada di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala.
Memberi dukungan materi merupakan praktik yang telah berlangsung sejak masa ’Asr al-Sa’adah. Meski istilahnya kini berbeda, konteksnya tetaplah mu’awanah (memberi bantuan dan pertolongan). Apa pun istilah yang digunakan, membantu mereka yang membutuhkan merupakan tanggung jawab yang perlu kita tunaikan.3
Ketika ada anak-anak yang rela menyerahkan celengan mereka untuk diberikan pada orang-orang yang tertindas, ada para pahlawan yang memiliki semangat itsar dengan mendahulukan kebutuhan orang lain meski diri mereka sendiri membutuhkan, lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang mengorganisasi kegiatan untuk mengulurkan tangan di negara tempat mereka berada demi menjadi penawar bagi luka-luka yang diderita kemanusiaan; serta manusia-manusia dermawan yang…





Discussion about this post