Hai Budi, perkenalkan, aku katak. Pertama-tama, izinkan aku berterima kasih padamu karena telah memberiku kesempatan mengoreksi dan memperbaiki citraku yang telah terbentuk dan bersemayam di pikiranmu. Semoga ceritaku dapat mengubah cara pandangmu yang mungkin jijik padaku karena suatu alasan yang tidak kuketahui apa itu hingga detik ini! Jika sedikit direnungkan, pasti akan kausadari bahwa diriku tidaklah sejelek dan seburuk yang kalian pikirkan, melainkan dalam diriku terdapat banyak keajaiban dan pesona yang mungkin tak terlintas dalam pikiranmu. Aku sangat bangga dan merasa terhormat karena Tuhan telah menjadikanku sebagai salah satu jendela untuk memperkenalkan asma-asma Ilahi-Nya di alam semesta nan luas ini. Namun, tidak apa-apa. Yang terpenting, dengarkan dahulu cerita yang akan kusampaikan, baru kemudian kau bisa menilai diriku sesuka hatimu.
Budi, sebagaimana jamak diketahui, hewan ada yang hidup di darat dan ada pula yang hidup di air. Sementara Tuhan menganugerahiku kedua nikmat ini. Aku memiliki karakteristik biologis dan fisiologis istimewa hingga memungkinkan aku hidup di darat dan di air tanpa menemui kesulitan. Tuhanku juga menganugerahiku kaki belakang yang panjang dengan jari-jari yang saling terkait dengan selaput tipis yang membantuku berenang, membalutku dengan kulit lembut dan halus yang memudahkan paru-paruku bernapas di dalam air.
Memanjat Pohon
Sebagian besar kalian, manusia, mengenal satu spesies kami yang disebut katak kolam (Rana Ridibunda – pelophylax ridibundus) yang sering kalian dengar suaranya menguak di kolam dan rawa. Selain itu, ada pula banyak spesies katak dengan karakteristik berbeda dan organ yang beragam, tergantung pada lingkungan tempat mereka tinggal. Misalnya, ada katak pohon (Hyla Arborea) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dedaunan pohon, yang memiliki kaki berselaput dengan cakram lengket yang lebar di bagian depan jari kakinya guna membantunya menempel pada daun dan memanjatnya. Adapun katak tanah terkenal dengan kaki kuat berbentuk tonjolan yang digunakan sebagai sekop untuk menggali tanah guna mengubur diri dan bersembunyi di bawah tanah untuk beristirahat atau untuk melindungi diri dari bahaya.
Kami, katak, tidak memakan bangkai dan tubuh hewan yang telah membusuk. Kami hanya berburu tubuh hewan yang bergerak seperti cacing dan serangga. Alasannya adalah karena kami tidak memiliki kemampuan untuk melihat mangsa yang diam tak bergerak. Ada dua kondisi yang tidak dapat kami toleransi: yang pertama adalah salinitas, dan yang kedua adalah kekeringan. Oleh karenanya, kami tidak akan pernah mendekati air laut yang asin dan selalu berusaha untuk hidup di dekat air yang tawar dan segar. Adapun pada daerah panas yang didominasi kekeringan, maka kami akan menggunakan batu yang lembab, akar pohon hijau, atau daun pohon basah yang jatuh di tanah untuk bersembunyi di bawahnya…







Discussion about this post