• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Thursday, December 11, 2025
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025New!!!
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025New!!!
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Budaya

Gangguan Kepribadian dan Antisosial

by Alaeddin Hekim. Dr.
10 years ago
in Budaya
Reading Time: 3 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Nilai-nilai pelajaran yang cenderung menurun, sering membolos sekolah, terlebih lagi tak satu aturan pun disukainya. Selalu mempertanyakan, “Mengapa kita harus mematuhi aturan-aturan yang membatasi kebebasan?” Saat sedang mengemudi, ia akan sangat membenci lampu merah dan batas kecepatan, namun ia sangat senang sekali mengikuti kendaraan lain di depannya dengan jarak yang sangat dekat bahkan menakuti pengemudi lain. Seringkali pula merupakan perokok aktif dan peminum berat, serta merasa paling berhak untuk merasakan segala bentuk kesenangan. Ciri-ciri ini biasanya dapat ditemui pada individu yang memiliki gangguan kepribadian antisosial.

Gangguan kepribadian antisosial ini biasanya tampak dalam beberapa bentuk seperti; tidak mau patuh pada aturan, selalu berobsesi untuk segera mewujudkan keinginannya, dan mengabaikan keinginan orang lain. Mereka yang terdiagnosa dengan gangguan ini akan merasa memiliki kekuatan dan kewenangan untuk melakukan apapun diinginkannya. Mereka merasa wajar dan alamiah saja saat mengganggu orang lain dan tidak memiliki rasa bersalah atas tindakan tersebut. Maka hal inilah yang dapat menyebabkan adanya tindakan kriminal yang mereka lakukan. Saat masih kecil, mereka cenderung untuk berbohong, membolos sekolah, dan berbuat kejahatan pada teman-temannya. Tingkat penyalahgunaan narkoba dan konsumsi minuman keras cenderung tinggi di kalangan penderita gangguan ini. Mereka sama sekali tidak peduli dengan pendapat orang lain. Tindakan yang dilakukan hanya didasarkan pada insting naluriah sehingga mereka tidak mengenal adanya hambatan atau penghalang. Orang yang menderita gangguan ini tidak akan pernah bisa belajar dari hukuman atau pengalaman yang menyakitkan. Sebaliknya, mereka akan berusaha keras untuk meyakinkan orang lain untuk mempercayai tindakannya. Seandainya mereka melakukan tindakan kejahatan, maka yang akan disalahkan olehnya adalah masyakarat dan keluarga. Oleh karena bagi mereka penderitaan menjadi antisosial ini merupakan akibat atau hasil dari masyarakat dan keluarganya, penderita merasa kedua pihak inilah yang harus diberikan hukuman. Banyak contoh kasus yang membuktikan bahwa penderita antisosial sering kali menyalahkan orangtuanya, bahkan untuk tahap yang lebih ekstrim ada yang sampai tega menyakiti keduanya.

“Jika aku meyakini sesuatu, maka hal itu pastilah benar,” itulah argumen khas yang sering dipakai oleh para penderita Gangguan kepribadian ini. Bahkan ketika mereka tidak ingin melakukan sesuatu, mereka sangat yakin bahwa sesuatu itu memang tidak layak untuk dilakukan. Ada berbagai macam teori yang berkembang terkait dengan penyebab dari Gangguan Kepribadian Antisosial ini: faktor keturunan/genetika, perlakuan orangtua pada anak (terutama pada tahap awal perkembangan anak), dan ketidakhadiran orangtua atau adanya perilaku patologis. Hubungan orangtua dan anak sangat penting sekali bagi pengembangan nilai-nilai moral, yang berfungsi untuk menyeimbangkan rasa ego pada anak-anaknya. Reaksi seimbang yang diberikan orangtua ketika anak menyakiti temannya, atau selalu mengatakan kebohongan, akan menjadi faktor utama dalam menentukan kepribadian anak tersebut selanjutnya.

Perilaku antisosial juga bisa berkembang dari pembelajaran yang negatif. Misalnya, jika seorang anak berteriak dan menangis saat diminta merapikan kamarnya dan jika akhirnya dengan reaksinya itu ia berhasil memaksa orangtuanya untuk mengalah, maka hal ini mungkin akan membuat anak tersebut mengadopsi sikap tersebut karena ia merasa bahwa reaksinya tadi akan berhasil mewujudkan keinginannya.

RelatedArticles

Tiada yang Seindah Rumah

BUTON : Satu dari Empat Pusat Dunia

Pendidikan bagi Pribadi Antisosial

Orangtua memiliki tanggung jawab besar dalam membantu anak-anak mereka mengatasi gangguan ini. Mereka harus bekerja keras untuk memastikan bahwa anak telah memiliki hubungan yang sehat dengan keluarga dan masyarakat di lingkungan sekitarnya, dan mereka juga harus menetapkan tujuan yang ingin dicapai. Bersosialisasi dengan orang lain, mengunjungi tetangga dan orang sakit, menghadiri pemakaman, menyapa orang lain, mengajari mereka untuk menolong orang miskin, dan berkegiatan lain yang bermanfaat bagi pengembangan kepribadian seorang anak.

Keluarga juga perlu untuk menghadirkan kondisi yang nyaman dan damai guna mengembangkan sikap bertanggung jawab pada diri anak bila kelak pada gilirannya ia menjadi orangtua. Membina hubungan keluarga yang langgeng pun penting agar dapat melindungi terjaganya generasi selanjutnya. Orangtua harus mampu mendukung anak-anak mereka bila tiba saatnya akan membina keluarganya sendiri.

Beramal dengan sikap suka membantu sesama juga dapat mencegah berkembangnya perilaku antisosial ini. Definisi beramal dengan membantu pada konteks ini adalah tindakan altruisme di mana seseorang belajar untuk dapat berempati dengan orang lain. Penekanan pada kata beramal memiliki banyak sekali bentuk dalam kehidupan agama, yang memungkinkan orang-orang dari strata sosial manapun dapat ikut andil di dalamnya. Misalnya, Nabi Muhammad ﷺ pernah mengutarakan bahwa beramal dapat dilakukan dengan hal terkecil yaitu tersenyum atau dari keinginan seseorang untuk tidak merugikan orang lain.

Menetapkan tujuan yang lebih tinggi dalam hidup juga berguna untuk mengatasi kecenderungan seseorang melakukan tindakan kekerasan. Bila seseorang memiliki tujuan hidup maka ia akan mampu mengembangkan hubungan yang kostruktif dengan orang lain.

Salah satu aspek yang sulit dari gangguan kepribadian ini adalah kecenderungan penderitanya untuk mengonsumsi alkohol dan narkoba. Hal ini jelas tidak mudah untuk dilawan karena alkohol dan narkoba memberikan keberanian dan agresivitas yang lebih besar, meski untuk waktu yang singkat. Perlawanan terhadap prinsip-prinsip sosial yang sudah ada di masyarakat dapat menimbulkan ketidakseimbangan yang lebih besar lagi.

Siraman rohani juga diperlukan untuk menghilangkan kecenderungan yang mengarah pada gangguan antisosial. Dalam agama Islam sudah jelas tercantum bahwa masing-masing kita akan bertanggung jawab di akhirat atas perbuatan kita di dunia, dan bahwa segala perbuatan kita diamati dan dicatat oleh Allah Subhânahu wa ta’âla, terlebih lagi kita wajib hidup dalam keseimbangan tanpa melanggar hak-hak orang lain.

 

Penulis : Alaeddin Hekim

Tags: 2016Alaeddin HekimBudayaPsikologiVolume 3 Nomor 9
Previous Post

Di Balik Kisah Engûr, İneb, Üzüm dan İstafil

Next Post

Bagaimana Seharusnya Guru Bertanya Pada Murid

Alaeddin Hekim. Dr.

Alaeddin Hekim. Dr.

Related Posts

Tiada yang Seindah Rumah
Resonansi

Tiada yang Seindah Rumah

2 months ago
BUTON : Satu dari Empat Pusat Dunia
Sejarah

BUTON : Satu dari Empat Pusat Dunia

2 months ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1348 shares
    Share 539 Tweet 337
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1053 shares
    Share 422 Tweet 263
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    981 shares
    Share 392 Tweet 245
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    978 shares
    Share 392 Tweet 244
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    872 shares
    Share 349 Tweet 218

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 47)

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 47)

November 5, 2025
Tanya Jawab Edisi 47

Tanya Jawab Edisi 47

November 5, 2025
Gigi, Hikmah Bermahkota

Gigi, Hikmah Bermahkota

November 5, 2025
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin