• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Friday, January 16, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025New!!!
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025New!!!
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Budaya Seni

Ebru : Melukis Di Atas Air

Dr. Musa Saracoglu

by Musa Saracoglu
7 years ago
in Seni
Reading Time: 5 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Setelah ‘’Kalimat-kalimat sakral’’ selesai dirangkai dalam ekspresi sebuah tulisan, maka ia akan berjumpa dengan sebuah seni bercita rasa halus lainya. Sebagai hasil dari pertemuan  indah semacam ini, maka beberapa seni seperti Ebru, Tezhib [1], ilustrasi, dan penjilidan pun mulai terwujud. Seni Ebru sampai pada puncaknya pada abad ke-16 Masehi, yakni ketika peradaban Kesultanan Utsmani tengah berada dalam periode paling gemilangnya.  Selanjutnya seni ini pun menjadi jalan mulus bagi pengenalan  karya seni yang unik ini.

Sebagai bagian dari salah satu kesenian nasional Turki, Ebru dihasilkan dengan cara memindahkan lukisan pada sebuah kertas khusus, yakni sebuah desain yang dibentuk dengan menaburkan pewarna pada air yang pekat. Sebenarnya masih menjadi perdebatan tentang akar kata ‘’Ebru’’ itu sendiri. Ada yang mengatakan bahwa Ebru berasal dari kata ‘’ebr’’ (mirip awan), ‘’ab-ru’’ (permukaan air) dalam bahasa Persia, atau ‘’ebre’’ (bergelombang) dalam bahasa Chagatai. Dikarenakan penampakannya yang berwarna-warni dan berpola khas, maka ia dikenal dengan sebutan marmor papier, papier marbre, atau marbled paper dalam bahasa Inggris dan Eropa, serta waraq al-mujazza dalam bahasa Arab, yang berarti kertas marmer.

RelatedArticles

Asmaul Husna dan Karya Seni

Seni Ebru yang diyakini berasal dari Bukhara (Uzbekistan, Asia Tengah) ini, sampai ke wilayah Anatolia dan Istanbul pada abad ke-18 atau ke-19 melalui Iran, lewat Jalur Sutra. Sebagaimana seni buku lainnya, Ebru mengalami perkembangannya di Istanbul dan mencapai kematangannya pada abad ke-16, lalu mengalami masa kecemerlangannya pada abad ke-17. Karya-karya Ebru yang dibuat di Istanbul pada masa itu cukup untuk memenuhi semua pesanan yang datang dari berbagai negara di Eropa.

Karya Ebru tertua yang pernah ada kini berada di perpustakaan Universitas Istanbul. Diperkirakan bahwa karya tersebut dibuat sebelum tahun 1519 M. Potongan lain Ebru yang dipercaya telah dibuat pada tahun  1539 M kini disimpan di Istana Topkapı, Istanbul. Sangat sulit untuk  menelusuri informasi tentang seniman Ebru di periode awal (kecuali seniman Ebru yang ada pada periode akhir Kesultanan Utsmani) dikarenakan tidak adanya tradisi membubuhkan tanda tangan seniman pembuat di karyanya pada masa itu. Syebek Mehmet Efendi, Hatip Mehmet Efendi, Syeikh Sadık Efendi, Nafiz Efendi, dan Hezarfen Ethem Efendi merupakan nama-nama seniman Ebru kenamaan yang hidup pada periode awal Kesultanan Utsmani. Sementara nama-nama seperti Necmettin Okyay, Sami Okyay, Sacit Okyay, Abdul Kadir Kadri Efendi, dan Mustafa Duzgunman merupakan para seniman Ebru yang hidup pada periode awal terbentuknya Republik Turki. Kini, di era ketika kesenian Ebru menjadi semakin terkenal seperti saat ini, terdapat banyak sekali seniman Ebru kontemporer yang dapat kita temui di Turki. 

Pada periode awal, seniman Ebru membuat sendiri hampir semua alat yang mereka gunakan. Bahan-bahan  yang digunakan adalah kertas, kitre (suatu bahan yang mirip getah, dibuat dari empedu sapi), meja, bensin, perlengkapan jarum, sisir, pewarna, dan sikat. Pewarna yang digunakan pada seni Ebru adalah zat anti air. Pada Ebru tradisional digunakan pigmen-pigmen tanah. Pigmen tersebut ditumbuk pada dasar marmer dengan menggunakan batu ukiran tangan yang disebut ‘’destezeng’’. Kemudian bahan-bahan itu ditaruh ke dalam sebuah mangkuk lalu dicampur dengan air dan empedu. Campuran itu lalu dibiarkan selama beberapa waktu hingga mencapai kekentalan yang diinginkan. Masa menunggu ini bisa mencapai beberapa minggu hingga beberapa tahun, bergantung pada  tipe dan kualitas pewarnanya. Dikarenakan tingkat kesulitan dalam mempersiapkannya itulah, maka teknik ini hampir benar-benar telah digantikan dengan produk-produk siap pakai.  

Ebru dikategorikan berdasarkan desain dan motif yang digunakannya. Berbagai gaya motif Ebru dapat dihasilkan dengan cara memainkan zat warna di atas permukaan air. Gaya-gaya Ebru tersebut antara lain  adalah motif ‘’pasang’’, ‘’syal’’, ‘’bergaris’’, ‘’bülbül yuvası atau sarang burung bulbul (menggambar spiral dari arah luar ke dalam)’’, ‘’hatip (menggambar lingkaran konsentris dengan tetesan air )’’ dan ‘’bunga’’. Berbeda dengan gaya Ebru yang lainnya, Ebru Battal dibuat tanpa memanipulasi warna sama sekali  dan memindahkannya ke kertas secara langsung. 

Untuk dapat menentukan keindahan sebuah karya Ebru, maka terdapat 3 sudut pandang yang harus dipertimbangkan. Hal tersebut adalah hav, nimbus, dan desainnya. Hav merupakan ketinggian teknik pewarnaan di permukaan air. Ia akan terasa seperti beludru saat disentuh menggunakan jari. Hav terbaik hanya didapatkan dengan teknik pewarnaan yang terbuat dari tanah. Nimbus adalah lingkaran putih berkilau di sekitar tiap tetes pewarnaan. Hal ini dapat dihasilkan dengan adanya zat empedu  yang ditambahkan ke dalam zat warna. Sedangkan desain adalah tampilan keseluruhan Ebru, yang tersusun dari distribusi warna, perpaduan, bentuk, serta letak dan ukuran motif. Di zaman modern  ini, terdapat banyak sekolah Ebru. ‘’The Turkish Art of Ebru’’ merupakan salah satu contohnya. Ratusan seniman Ebru mempertunjukkan karya seni Ebru dengan gaya khas mereka masing-masing.  Kini, kebanyakan seniman Ebru mempraktikkannya sebagai sebuah seni yang mandiri. Selain itu, Ebru juga digunakan bersama-sama dengan seni miniatur, kaligrafi, tezhib, dan bentuk seni lainnya seperti lukisan. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir pembuatan Ebru untuk penjilidan buku mulai menurun. 

Terdapat berbagai argumen yang memperbincangkan tentang hubungan antara Ebru tradisional dengan Ebru modern. Ketika beberapa seniman Ebru lebih sensitif dengan keberadaan sekolah tradisional, maka justru sebagian yang lain lebih bebas dalam penggunaan alat dan tekniknya. Sebenarnya tak ada gunanya memperdebatkan mana yang lebih baik. Terdapat ratusan seniman Ebru di seluruh dunia yang mempraktikkan seni ini sesuai dengan gaya yang mereka inginkan. Apakah pekerjaannya dikagumi atau tidak, itu tergantung pada para pecinta seni. Mungkin saja sebuah teknik atau sekolah yang saat ini tidak terlalu menarik perhatian, akan dapat lebih diminati di masa depan. Di masa kini, Seni Ebru telah mengalami periode kebangkitannya. Baik di Turki maupun di negara-negara lain di dunia, minat pada seni Ebru ini semakin meningkat.  Bersamaan dengan kenyataan bahwa terdapat banyak seniman Ebru yang semakin terlatih, maka terdapat pula banyak peningkatan teknik dan sekolah-sekolah Ebru baru yang muncul.

Keterangan :

  1. Tezhib adalah seni mendekorasi atau ilustrasi bagian pinggir halaman Al-Qur’an atau buku-buku penting dengan lukisan motif floral. Warna yang menonjol biasanya warna emas dengan kombinasi warna-warna lainnya.

Ditulis oleh : Dr. Musa Saracoglu

Diterbitkan pada Majalah Mata Air Vol. 6 No. 23

Tags: ebrulukisanMusa SaracogluSeniVolume 6 Nomor 23
Previous Post

Anakku Banyak (N)akal

Next Post

Ayah… Ibu… Dongengi Aku!

Musa Saracoglu

Musa Saracoglu

Related Posts

Asmaul Husna dan Karya Seni
Seni

Asmaul Husna dan Karya Seni

1 year ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1356 shares
    Share 542 Tweet 339
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1055 shares
    Share 423 Tweet 264
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    987 shares
    Share 395 Tweet 247
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    982 shares
    Share 393 Tweet 245
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    878 shares
    Share 351 Tweet 220

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 47)

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 47)

November 5, 2025
Tanya Jawab Edisi 47

Tanya Jawab Edisi 47

November 5, 2025
Gigi, Hikmah Bermahkota

Gigi, Hikmah Bermahkota

November 5, 2025
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin