Jika kita memperhatikan dunia makhluk hidup dengan kacamata tafakur dan kecintaan pada ilmu pengetahuan, maka akan dapat kita temukan adanya bakat-bakat menakjubkan pada berbagai jenis makhluk hidup yang berbeda-beda. Sedari awal sejarah manusia hingga sekarang, bersamaan dengan akumulasi pengetahuan selama ribuan tahun dari akal pikiran manusia, serta upaya penelitian dan pengembangan yang menghasilkan berbagai penemuan teknologi, dapat kita lihat bahwa sebenarnya hal-hal yang jauh lebih sempurna, lebih estetis, lebih ergonomis, lebih berguna, lebih melimpah, dan jauh lebih murah telah ada diciptakan sejak jutaan tahun sebelumnya.
Mari kita bahas beberapa contoh dari hal ini. Desain hidung lumba-lumba yang memudahkan pergerakannya di dalam air sebenarnya jauh lebih baik daripada desain ujung kapal buatan manusia yang dibuat untuk memudahkan pergerakan benda itu di dalam air. Desain sayap burung camar yang memungkinkannya melakukan manuver di udara jauh lebih baik daripada desain sayap pesawat tempur yang dibuat oleh manusia. Berkenaan dengan ini, tidak ada seorang pun yang berpikir bahwa sayap pesawat terbang terbentuk secara kebetulan atau dengan sendirinya, tanpa ada yang merancang dan membuatnya. Lantas bagaimana mungkin ada orang yang berpikir jika sayap burung camar yang sedemikian hebat itu terbentuk secara kebetulan?
Sekarang mari kita lihat satu contoh hewan dari sekian juta spesies makhluk hidup yang ada di dunia ini, yang sering kita anggap remeh dan mata kita enggan memandangnya: lalat. Mari mengamati apakah jika jutaan manusia yang berkesadaran di dunia ini berkumpul dan bersatu-padu mampu menciptakan seekor lalat atau tidak.
Untuk dapat bertahan hidup, mempertahankan keturunannya, melindungi dirinya, dan memenuhi fungsi-fungsi lain dalam kehidupannya seperti makan, seekor lalat harus memiliki banyak karakteristik. Dan agar karakteristik-karakteristik tersebut bisa ada, maka diperlukan pilihan-pilihan yang sangat teliti dari banyaknya kemungkinan-kemungkinan dengan perhitungan yang sangat presisi.
Seekor lalat mengayunkan sayapnya rata-rata 250 kali per detik. Gerakan ini bukan gerakan melingkar, melainkan gerakan maju-mundur seperti halnya gerakan pada mesin piston1. Bahan kitin yang digunakan dalam struktur sayapnya adalah bahan yang dipilih secara khusus, sangat ringan, fleksibel, dan tahan lama. Sendi yang menghubungkan sayap dengan tubuh juga harus dirancang secara khusus. Kemampuan lalat yang awalnya diam lalu tiba-tiba melompat dari tempatnya dan melakukan manuver yang sangat tajam membutuhkan anatomi tubuh yang sesuai untuk gerakan semacam itu. Sebenarnya piston yang digunakan pada mesin berbahan bakar bensin juga bergerak maju-mundur. Namun piston pada mesin yang dibuat oleh ribuan insinyur selama lebih dari 100 tahun dengan kerja keras tiada henti itu hanya dapat bergerak maju-mundur sebanyak 100 kali per detik. Lalu, siapa gerangan yang memikirkan, mengukur, dan membuat sayap lalat yang bergerak maju-mundur itu menjadi sesuai dengan tegangan? Apakah lalat itu sendiri?







Discussion about this post