Perempuan dan praktik spiritual kerohanian (tasawuf) tidak banyak diperbincangkan dalam lembaran sufisme. Padahal, ada banyak kisah perempuan hebat yang menyeragkan jiwa-raganya sepenuhnya kepada Allah I semata dan menjadi episode tak terlupakan bagi umat manusia dalam Al-Qur’an. Ada Sayidah Maryam ibunda Nabi Isa ‘alaihi salam, ibu biologis Nabi Musa ‘alaihi salam, serta Asiyah istri Firaun yang mengangkat Nabi Musa ‘alaihi salam menjadi anak. Perempuan lain yang juga tercatat dalam sejarah karena keteguhan jiwanya adalah Siti Hajar, yang dengan ikhlas melepas anak tunggalnya—Nabi Ismail ‘alaihi salam—untuk disembelih karena mengikuti perintah Allah I.
Tasawuf dan Perempuan di Periode Awal Islam
Anggapan bahwa tasawuf adalah dunianya para lelaki barangkali tidak sepenuhnya salah, karena jika menelisik karya-karya yang tersaji hingga kini nyatanya menguatkan demikian. Riwayat-riwayat yang tersampaikan dan tertulis, serta karya-karya yang terbaca, sepenuhnya merupakan dunia lelaki. Nyaris tidak ada karya sufisme yang bisa dikatakan sebagai warisan perempuan sufi, kecuali kisah-kisah kesalehan dan kearifan yang dikisahkan para laki-laki saleh (sufi).
Padahal, sekalipun tidak terlalu banyak, terdapat perempuan-perempuan yang disebut, tepatnya dianggap sebagai perempuan sufi seperti: Aminah ibunda Rasulullahﷺ dan Sayidah Fatimah sang putri yang disayangi kaum muslimin karena kedekatannya dengan Beliau ﷺ. Adapun istri Nabi ﷺ yang lain, seperti Sayidah Zainab binti Khuzaimah, terkenal karena kebaikan hatinya yang gemar menolong hingga diberi gelar Umm al–Masâkîn (ibu orang-orang miskin).1
Di masa Rasulullah ﷺ tercatat nama-nama perempuan yang berperan dalam kehidupan masyarakat dan agama, pun perempuan yang terkenal dengan kesucian jiwanya. Disebutkan bahwa istri pertama Rasulullah ﷺ, Sayidah Khadijah radhiyallahu ‘anha, rela mengorbankan harta bendanya demi perjuangan sang suami. Kekayaan tidak menjadi penghalangnya untuk menyucikan jiwa, sebaliknya menjadi sarana bagi perjuangannya menggapai rida-Nya I. Demikian pula dengan Sayidah Fathimah putri Rasulullah ﷺ yang dalam beberapa cerita dikisahkan bahwa penderitaan menjadi ujian beliau dalam mendekatkan diri kepada Allah I.
Kemuliaan Sahabat-Sahabat perempuan Nabi ﷺ banyak diungkap beberapa ulama seperti: Ibnu Sa’âd dalam kitab al-Thabaqât al-Kabîr jilid VIII2. Perempuan sufi pertama adalah Ummu Harâm putri Milhan yang memiliki hubungan dengan keluarga Nabi ﷺ istri dari Sahabat ‘Ubaidah bin Shâmit radhiyallahu ‘anhu. Setelah bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ, Ummu Harâm sangat ingin mengambil peran dalam perang hingga beliau pun diizinkan dan mendapat persetujuan dari Khalifah Utsmân bin ‘Affan untuk bergabung dengan pasukan yang terjun dalam peperangan di laut. Pasangan suami-istri itu berangkat dari Madinah dan memasuki Damaskus lalu ke Yerusalem beserta beberapa Sahabat lainnya. Mereka diserang orang-orang kafir. Ummu Harâm terjatuh dari kudanya hingga wafat tersungkur dengan membawa kemenangan jiwa. Beliau dimakamkan di tempat itu juga. Karena….





Discussion about this post