Mopangarapina metingarapina lipu.
Moneyatina bemo humbanina kota siymban Gowa ateluwe stobungen tee malingu sare simbapuyana.
Soopado maka moto penena gunana. Temola bina ampadeyana ilipu. Asadaa daan sakiaiya zamani Owalanda indamo tee dimbana.
Kaapaaka karana tongko indapo Tee Walanda ipiya malona yitu Adika timbu tajagani taranate Tajagani Gowa tongkona adika bara.
Samatangkana loji imataneyo Amarosomo kota isukanayo.
Amatangkamo mboorena lipu siy Akosaremo labu rope labu wana
Yang berkehendak menundukkan negeri.
Yang berniat menyerang benteng seperti Gowa, Luwu, dan Tobungku dan segala yang disebut mau menyerang dan menundukkan.
Akan tetapi, ringkasnya yang teramat gunanya dan yang terlebih gunanya di negeri tetap selama-lamanya
zaman Belandalah yang tidak ada bandingannya.
Sebab waktu belum ada dengan Belanda beberapa waktu lalu, musim Timur kita menjaga Ternate,
menjaga Gowa pada waktunya musim Barat.
Setelah kuat loji di Timur Teguh, tertiblah benteng di Barat sudah kuat kedudukan negeri ini.
Bernamalah berlabuh haluan, berlabuh buritan.
Bait di atas adalah kutipan kabanti[1] atau syair berjudul Ajonga Inda Malusa (Pakaian yang Tidak Luntur) karya Haji Abdul Ganiyu, yang diperkirakan ditulis pada pertengahan abad ke-19 dalam bahasa Wolio, bahasa kaum penguasa di kesultanan Buton[2] pada masa itu. Yang dimaksud dengan “berlabuh buritan” pada bait di atas adalah akhir dari proses panjang yang dialami Buton untuk melepaskan diri dari ancaman Ternate, sedangkan “berlabuh haluan” adalah akhir dari upaya untuk melepaskan diri dari ancaman Gowa. Dengan kata lain, maksud yang terkandung pada ungkapan tersebut adalah kondisi Buton yang sudah aman. Ibarat sebuah perahu, ia dengan tenang dapat menempatkan sauhnya, baik di bagian buritan maupun haluan.
Alam Buton
Sejauh ini, sejarah Buton hanya dilihat dari perspektif Gowa dan Ternate. Itulah mengapa ketika kita tetap berpegang pada pandangan hegemonik saja, sejarah Buton sungguh terabaikan dari peta penyelidikan sejarah Indonesia. Berbicara mengenai sejarah bagian timur Indonesia, pada umumnya perhatian akan tertuju pada Gowa/Makassar, Bone, Ternate, atau Tidore. Meski sesungguhnya keberadaan Buton juga penting dan berperan di dalam perkembangan sejarah di wilayah itu.
Penduduk Buton sangat beragam asal usulnya1, antara lain dari Toraja, Bugis, dan Makassar yang diklasifikasi menjadi lima kelompok besar: orang Buton di Pulau Buton, orang Muna di Pulau Muna, orang Moronene yang mendiami Poleang dan Rumbia, orang Kabaena yang mendiami Pulau Kabaena, dan penduduk yang mendiami Kepulauan Tukang Besi. Oleh sebab itu, orang Buton merupakan kelompok sosial heterogen dengan beberapa bahasa berbeda. Selain itu, terdapat pula kelompok orang yang dikenal dengan sebutan orang Bajo, Bajau, atau Bajao, etnis yang memiliki karakteristik maritim kental dan tersebar hingga pantai timur Sabah, Kepulauan Sulu, Selat Makassar, pantai timur Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara.
Buton terletak di bagian tenggara Pulau Sulawesi, berada dalam jalur pelayaran yang menghubungkan Makassar dan Maluku. Dilihat dari sudut pandangnya sendiri, Buton menganggap kedudukannya tidak lebih rendah dari kekuatan-kekuatan politik mana pun. Dalam pandangan dunianya, sebagaimana terungkap dalam tradisi lokal, Buton menganggap dirinya satu dari empat pusat “dunia”, selain Negeri Rum, Ternate, dan Solor. Ini boleh dikatakan sebagai kebebasan kultural (cultural freedom), yakni dasar pijak yang menentukan sikap dan jawab atas persoalan yang muncul dari lingkungannya yang bersifat struktural. Di pihak lain memang persepsi, sikap, dan tindakan tidak selamanya dapat….







Discussion about this post