Adab—yang memiliki arti kecerdasan, tata krama, kesopanan, keindahan sikap, keadaan, dan perilaku seseorang, atau cara memperlakukan orang lain dengan baik, yang oleh para sufi dikenal sebagai upaya untuk menghindari berbagai kesalahan serta memahami faktor penyebab dan pemicu yang menjerumuskan seseorang pada kesalahan tersebut. Mereka mengategorikan adab ke dalam beberapa istilah: “adab syariat”, “adab khidmah”, dan “adab Haqq”.
Adab syariat berarti mengetahui dan menerapkan prinsip-prinsip agama; adab khidmah berarti senantiasa berada beberapa langkah di depan dalam upaya melakukan khidmah atau pelayanan, tetapi berada beberapa langkah di belakang dalam hal imbalan, pengakuan, dan sanjungan. Selain itu juga tidak lalai dalam memanfaatkan sebab dan wasilah yang ada, serta mengetahui bahwa segala kebaikan dan keindahan berasal dari Allah I semata. Adapun adab Haqq adalah menghiasi kedekatan pada Sang Haqq dengan kewaspadaan dan tidak terjebak dalam keteledoran dan ketidaksopanan.
Selain itu, ada pula pendekatan lain berupa: “adab syariat”, “adab tarekat”, “adab makrifat”, dan “adab hakikat”. Adab syariat bermakna mengamalkan dan menjalankan semua sunah Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari, baik yang bersifat khusus maupun yang bersifat umum, baik yang berupa qauli (diucapkan), fi’li (dilakukan), hali (ditunjukkan), maupun taqriri (disetujui). Adab tarekat bermakna penyerahan diri sepenuhnya kepada mursyid dan mualim, cinta yang tulus, pengabdian tanpa henti, konsisten mengikuti khidmah dan majelisnya, serta tidak memberi ruang bagi penolakan di dalam hati. Adab makrifat bermakna menjaga keseimbangan antara kedekatan dan kewaspadaan, kesetimbangan rasa takut (khauf) dan harapan (roja’), serta mempertahankan kesadaran akan karunia-karunia Allah I dan kesadaran akan kelemahan dan kepapaan. Adab hakikat bermakna tidak terjebak dalam pengharapan atas pamrih dan memusatkan pandangan hanya kepada Allah I, tidak terjatuh ke dalam kekhawatiran, serta melindungi mata hati bahkan dari ‘khayalan-khayalan asing atau tentang yang selain-Nya’.
Sebenarnya dalam arti tertentu, tasawuf juga berarti adab; sebuah adab yang mencakup adab khusus di setiap ‘waktu’, di setiap ‘keadaan’, dan di setiap ‘maqam’-nya. Namun demikian, sejauh manusia mampu mewujudkan setiap bentuk dari adab ini ke dalam dunia batinnya, maka sejauh itu pula adab-adab itu akan dapat menjadi lestari di dalam akhlak, sikap, dan perilakunya. Jika tidak, sebagaimana sebuah adab yang tidak bersenyawa dengan keluasan nurani dan kedalaman perasaan tidak akan bertahan lama, maka di hadapan Allah I—Dzat yang menilai manusia berdasarkan dunia batinnya—semua hal tersebut tidak memiliki arti dan nilai apa pun. Dengan ungkapan-ungkapannya yang kaya dan penuh warna, betapa indah…







Discussion about this post