• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Wednesday, October 21, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2026Terbaru
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2026
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2026Terbaru
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2026
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Sains IPTEK

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 52)

by admin
22 hours ago
in IPTEK, Kesehatan, Lingkungan, Sains
Reading Time: 4 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Sore Hari Mungkin Menjadi Waktu Terbaik untuk Berolahraga

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa berolahraga pada sore atau malam hari mungkin memberikan manfaat kesehatan tambahan, terutama bagi individu yang mengalami obesitas. Para ilmuwan menganalisis data dari 30.000 sukarelawan berusia 40 tahun ke atas yang tidak memiliki riwayat penyakit kardiovaskular. Dengan menggunakan alat pelacak aktivitas, para peneliti tersebut mengelompokkan peserta berdasarkan waktu mereka melakukan aktivitas fisik aerobik dengan intensitas sedang hingga berat, yaitu pada pagi, siang, atau sore-malam (setelah pukul 18.00). Selama masa pemantauan hampir delapan tahun, mereka yang berolahraga pada sore atau malam hari menunjukkan risiko terendah mengalami penyakit kardiovaskular dan kematian dibandingkan mereka yang tidak berolahraga atau berolahraga pada waktu-waktu lainnya. Pola ini tetap terlihat meski telah mempertimbangkan berbagai faktor lain, seperti usia dan riwayat merokok. Menariknya, berolahraga pada pagi atau siang hari juga memberikan manfaat yang cukup berarti jika dibandingkan dengan tidak berolahraga sama sekali. Namun begitu, manfaat tersebut tidak sebesar yang terlihat pada mereka yang berolahraga di sore atau malam hari. Pola serupa juga ditemukan pada individu dengan diabetes tipe 2, sehingga temuan ini berpotensi memiliki implikasi lebih luas bagi penanganan obesitas dan kondisi terkait. Meski demikian, temuan tersebut tetap menegaskan bahwa aktivitas fisik secara teratur lebih penting daripada sekadar menentukan waktu berolahraga. Bagi mereka yang ingin mengoptimalkan rutinitas olahraga, khususnya para penderita obesitas atau diabetes, hasil penelitian ini memberikan pertimbangan baru mengenai waktu berolahraga yang mungkin lebih menguntungkan. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan hasil-hasil ini guna mengungkap mekanisme potensial yang mendasari hubungan-hubungan yang diobservasi tersebut. Pada akhirnya, pemahaman tentang pengaruh waktu berolahraga dapat membantu pengembangan pendekatan yang lebih personal dalam penanganan obesitas dan diabetes tipe 2.

Sabag et al. Timing of moderate to vigorous physical activity, mortality, cardiovascular disease, and microvascular disease in adults with obesity. Diabetes Care, April 2024.

 

 

RelatedArticles

Apakah Hewan Mengetahui Fisika Penerbangan?

Hantavirus dari Tengah Laut, Peringatan bagi Dunia

Mengungkap Misteri Rasa Pahit

Para peneliti telah mengkaji mekanisme kompleks yang mendasari persepsi rasa pahit dan mengungkap peran reseptor rasa pahit TAS2R14, termasuk bagaimana zat-zat bercita rasa pahit berinteraksi dengan TAS2R14 hingga memicu sensasi pahit pada lidah manusia. TAS2R14 termasuk dalam keluarga reseptor berpasangan protein G (G protein-coupled receptor/GPCR) dan mampu mendeteksi lebih dari 100 jenis zat pahit yang berbeda. Ketika zat-zat tersebut berikatan dengan reseptor TAS2R14, terjadi perubahan konfirmasi pada protein yang selanjutnya mengaktifkan protein G yang melekat padanya. Pengaktifan ini memicu serangkaian reaksi biokimia di dalam sel reseptor pengecap, selanjutnya sinyal diteruskan ke korteks gustatori di otak, tempat rasa pahit dipersepsikan. Menariknya, para peneliti menemukan bahwa kolesterol yang berada pada situs alosterik TAS2R14 membantu mengaktifkan reseptor tersebut dengan menempatkannya dalam keadaan semi-aktif. Penemuan situs baru tempat kolesterol berikatan secara alosterik dengan reseptor yang mendeteksi zat pahit ini merupakan temuan yang unik. Temuan ini memberikan pemahaman berharga mengenai mekanisme molekuler yang mendasari persepsi rasa pahit sekaligus membuka peluang bagi pengembangan intervensi terapeutik yang menargetkan reseptor rasa untuk membantu menangani gangguan metabolisme dan—kemungkinan—berbagai kondisi kesehatan lainnya. Peran kolesterol dalam membantu mengaktifkan TAS2R14 juga memunculkan pertanyaan perihal fungsi reseptor tersebut di bagian tubuh lainnya. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa TAS2R14 juga terdapat di berbagai jaringan di luar lidah, termasuk di serebelum, kelenjar tiroid, dan pankreas. Hal ini mengisyaratkan bahwa reseptor tersebut mungkin memiliki fungsi lain di luar persepsi rasa. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menjelaskan secara jelas peran TAS2R14 pada jaringan-jaringan di luar lidah.

Kim et al. Bitter taste receptor activation by cholesterol and an intracellular tastant. Nature, April 2024.

 

Arktik tanpa Es?

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa Arktik dapat mengalami hari-hari musim panas dengan tutupan es laut yang sangat minim dalam beberapa tahun mendatang, bahkan berpotensi lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa hari pertama Arktik mengalami kondisi “tanpa es” mungkin terjadi lebih dari satu dekade lebih awal dibandingkan perkiraan sebelumnya, terlepas dari skenario emisi di masa depan. Pada pertengahan abad ini, diperkirakan Arktik dapat mengalami satu bulan penuh tanpa es laut yang mengapung selama bulan September, yakni bulan ketika tutupan es laut mencapai titik terendah. Menjelang akhir abad ini, periode tanpa es tersebut dapat berlangsung selama beberapa bulan setiap tahunnya, terutama jika emisi tetap tinggi. Istilah “tanpa es” tidak berarti bahwa seluruh es di Arktik benar-benar hilang. Istilah ini merujuk pada kondisi saat luas es laut di Samudra Arktik kurang dari 1 juta kilometer persegi, atau kurang dari 20% luas minimum musiman pada dekade 1980-an. Saat ini, luas es laut di Samudra Arktik pada titik minimum bulan September masih sekitar 3,3 juta kilometer persegi. Tim peneliti menelaah berbagai proyeksi tutupan es laut yang telah ada dan memodelkan perubahan yang mungkin terjadi di Arktik pada masa mendatang. Mereka memperkirakan bahwa hari pertama dengan kondisi tanpa es di Samudra Arktik dapat terjadi antara dekade 2020-an dan 2030-an, dalam semua skenario emisi. Hilangnya es laut terutama didorong oleh emisi gas rumah kaca yang memperparah pemanasan dan pencairan es di kawasan tersebut. Penurunan tutupan es ini membawa konsekuensi besar bagi satwa Arktik, seperti anjing laut dan beruang kutub. Ekosistem setempat juga berpotensi mengalami perubahan akibat masuknya spesies ikan pendatang. Berkurangnya es laut turut meningkatkan risiko bagi masyarakat pesisir. Ketika es semakin jauh dari garis pantai, daratan menjadi lebih terbuka terhadap gelombang laut yang lebih besar sehingga mempercepat erosi pantai. Meski kondisi Arktik tanpa es pada musim panas tampaknya sulit dihindari, tingkat emisi di masa depan akan menentukan seberapa sering dan berapa lama kondisi tersebut berlangsung. Menjaga emisi tetap rendah menjadi langkah penting untuk mengurangi periode tanpa es yang berkepanjangan ini, sekaligus mempertahankan keunikan lingkungan Samudra Arktik.

Jahn et al. The Arctic could become “ice-free” within a decade. Nature Reviews Earth & Environment, April 2024.

 

 

Tags: Volume 13 Nomor 52
Previous Post

Tanya Jawab Edisi 52

admin

admin

Related Posts

Apakah Hewan Mengetahui Fisika Penerbangan?
Aneka Satwa

Apakah Hewan Mengetahui Fisika Penerbangan?

2 weeks ago
Hantavirus dari Tengah Laut, Peringatan bagi Dunia
Biologi

Hantavirus dari Tengah Laut, Peringatan bagi Dunia

2 weeks ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1427 shares
    Share 571 Tweet 357
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1079 shares
    Share 432 Tweet 270
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    1040 shares
    Share 416 Tweet 260
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    1006 shares
    Share 403 Tweet 251
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    926 shares
    Share 370 Tweet 232

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 52)

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 52)

October 20, 2026
Tanya Jawab Edisi 52

Tanya Jawab Edisi 52

October 20, 2026
Mu’awanah Dimensi Lain Mujahadah di Masa Kini

Mu’awanah Dimensi Lain Mujahadah di Masa Kini

October 13, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2026
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2026
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin