‘Segenap semesta adalah sebuah kitabullah agung.
Huruf mana pun yang kautelusuri,
pada Allah-lah maknanya ‘kan terhubung.’
Recaizade Mahmut Ekrem
Bagi mereka yang tahu bagaimana cara memandang diri sendiri dan lingkungan sekitarnya, keindahan-keindahan memesona dalam ruh entitas yang senantiasa datang dalam gelombang arus mengalir ke mata, meresap setetes demi setetes ke relung-relung sukma, keselarasan yang bersemayam dalam hakikatnya, serta kepuitisan yang terpancar dari maknanya memiliki kekuatan sedemikian kuat dalam menggugah hati untuk mencintai, mengasihi, dan menaruh perhatian, sehingga tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa bagi mereka yang telah mampu merasakan kenikmatan batin yang bersifat ladunni ini, seakan tiada lagi sesuatu di dunia ini yang tersisa untuk dapat mereka nikmati. Segala sesuatu yang mereka lihat dan baca seakan menyuguhkan cawan-cawan cinta bagi mereka, menggelorakan perasaan kemanusiaan, dan menyalakan semangat yang tak pernah padam ke dalam ruh mereka.
Di hadapan sebuah pandangan dan penghayatan yang tampil dalam gaya ungkapan yang berbeda seperti ini, seluruh alam semesta beserta segala isinya, benda dan peristiwa yang telah terurai bahasanya, semua yang hidup maupun yang tak bernyawa seolah-olah disinari cahaya-cahaya menyihir yang turun ke atasnya… ruang seakan-akan melampaui batas-batas dimensinya dan berubah menjadi sesuatu yang berbeda; waktu kian mendalam dan mencapai keindahan ukhrawinya. Tatkala segala sesuatu mulai mengekspresikan dirinya dengan cara yang begitu indah dan memikat, sehingga saat rasa cinta, kasih, dan keterkaitan kita kepada Sang Pencipta semakin menguat, hingga mulai melantunkan bagi kita kidung-kidung renjana perjumpaan dengan-Nya.
Dalam kondisi ketika perasaan kita bergelora oleh luapan semangat, perasaan dan intuisi yang berubah, cakrawala pemahaman kita yang menjadi semakin dalam dan luas, kita sering kali melepaskan diri dari berbagai kesibukan dan perhatian sehari-hari, lalu mengarahkan pandangan kepada apa yang ada di balik semua peristiwa itu. Dengan keluasan jiwa yang kita dapatkan dengan melampaui hal-hal lahiriah, kita merasakan jagat raya yang setiap hari kita lihat dan saksikan serta alam tempat kita diciptakan sebagai huruf, kata, dan syair yang mengalir dari pena Sang Kekasih, lalu melantunkannya dalam hati. Kita mendengarkannya penuh gelora seperti mendengarkan alunan nada yang keluar dari seruling-Nya; kita menyaksikannya seperti renda-renda indah yang terajut dari jarum-Nya, lalu menyambutnya dengan rasa takjub dan penuh penghargaan. Selanjutnya, segala yang kita jumpai itu kita cium berkali-kali, kita letakkan di atas kepala sebagai bentuk penghormatan, kita sesap wanginya, lalu diusapkan ke mata-wajah kita dan dalam koridor menuju perjumpaan dengan-Nya, kita mengalami detik-detik tak terlupakan, seolah-olah berada dalam perjumpaan yang begitu dekat. Saat itulah kita menyadari bahwa….







Discussion about this post