“(Dia juga mengendalikan) apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berbagai jenis dan macam warnanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.”
Burung beo merupakan hewan menyenangkan dan sangat menarik perhatian karena warna-warna pada dirinya yang cerah. Dari sekitar 332 spesiesnya yang telah diketahui, masing-masing dari mereka merupakan karya seni yang amat menakjubkan. Jika kita perhatikan lebih dekat pada jenis “macau biru kuning”, akan kita saksikan betapa warna-warna yang memikat tersebut tersebar secara simetris ke seluruh bagian tubuhnya. Paruh dan lehernya berwarna hitam, wajahnya berwarna putih dengan hiasan garis-garis hitam halus, dahinya berwarna hijau, sementara bagian punggung dan ekornya berwarna biru, sedangkan bagian bawah sayap dan perutnya berwarna kuning keemasan. Pada bagian yang berwarna hitam terdapat pigmen yang mampu menyerap seluruh cahaya. Sebaliknya, bagian yang berwarna putih tersusun dari struktur yang dapat memantulkan semua warna. Adapun bagian yang berwarna kuning, biru, dan hijau diciptakan sedemikian rupa hingga mampu memantulkan cahaya pada panjang gelombang berbeda dalam cahaya putih.
Kondisi ini dapat terjadi dengan keseimbangan yang sangat halus dan sensitif pada tingkatan atom. Dalam DNA burung beo telah tertanam “kode” untuk setiap warna pada bulunya dan diatur pula bagaimana atom-atom yang mampu memantulkan warna tersebut berkumpul pada bagian tertentu. Dengan cara inilah zat-zat yang disebut sebagai pigmen itu (materi yang memungkinkan kita melihat cahaya dengan panjang gelombang tertentu sebagai warna tertentu) disintesis[1].
Rahasia Warna Hijau
Warna dapat didefinisikan sebagai gambaran yang muncul di otak akibat rangsangan cahaya dengan panjang gelombang berbeda yang ditangkap oleh mata, lalu dipersepsikan oleh jiwa kita. Lantas mengapa sebagian besar tumbuhan berwarna hijau? Mengapa bukan merah atau biru? Bukan pula berwarna hitam yang seharusnya menyerap semua warna, padahal tumbuhan terus-menerus terkena sinar matahari?1
Pigmen klorofil-lah penyebab mengapa tumbuhan tampak berwarna hijau. Ketika klorofil menyerap sebagian besar spektrum cahaya, ia juga memantulkan cahaya hijau sehingga tumbuhan pun terlihat hijau. Di alam semesta yang segalanya berjalan dengan tabir “sebab-akibat”, keberadaan dan pertumbuhan tanaman bergantung pada reaksi fotosintesis yang menghasilkan glukosa sebagai penyimpan energi dan melepas oksigen ke udara. Dan dalam ranah sebab, sumber energi itu ialah Matahari.
Di dalam spektrum cahaya yang tampak dipancarkan oleh Matahari, panjang gelombang yang paling dominan (paling banyak tersebar) adalah warna hijau. Itu artinya warna yang memiliki energi paling besar adalah hijau. Namun, alih-alih menyerap seluruh energi tersebut, ternyata tumbuhan hijau justru memantulkan sebagian spektrum hijau tadi.
Warna sebagai Regulator
Para ilmuwan yang meneliti mekanisme fotosintesis menemukan bahwa tumbuhan menggunakan spektrum hijau sebagai semacam regulator (pengatur).2 Perputaran Bumi menyebabkan sudut datang sinar matahari terus-menerus berubah, posisi cabang dan daun terhadap Matahari juga berbeda-beda, ditambah lagi dengan turunnya hujan dan pergerakan awan, sehingga setiap daun dan sel tumbuhan tidak selalu menerima sinar matahari (energi) dengan intensitas yang sama di setiap saatnya akibat spektrum cahaya yang selalu berubah-ubah. Hal ini dapat diibaratkan dengan alat listrik yang bekerja pada tegangan 220 volt, yang di saat yang sama juga terus-menerus menerima arus listrik yang tidak stabil, sehingga menjadi mudah rusak. Untuk mencegah kerusakan, biasanya akan digunakan alat yang disebut “regulator” guna menyesuaikan tegangan agar…







Discussion about this post