Rokok elektronik merupakan sebuah perangkat yang memanaskan nikotin cair dan perasa sehingga dapat dihirup. Penggunaan rokok elektronik sering disebut sebagai “vaping” karena banyak orang mengira bahwa perangkat ini menghasilkan uap. Padahal, rokok elektronik sebenarnya tidak menghasilkan uap melainkan aerosol yang terdiri dari partikel-partikel sangat kecil yang berbeda dari uap air biasa. Rokok elektronik dikenal dengan berbagai nama: e-cig, vape, vape pen, sistem penghantar nikotin elektronik (ENDS), sistem penghantar nikotin alternatif (ANDS), e-hookah, mod, vaporizer, dan sistem tangki. Terkadang, rokok elektronik juga dikenal berdasarkan nama mereknya.
Cara kerja vape adalah dengan memanaskan cairan di dalam perangkat kecil hingga berubah menjadi aerosol yang kemudian dihirup ke dalam paru-paru. Berbeda dengan rokok biasa yang membakar tembakau, vape memanaskan cairan sehingga menghasilkan partikel yang tersuspensi (tersebar) di udara. Aerosol ini mengandung nikotin, perasa, dan bahan kimia lainnya. Saat dihirup melalui corongnya, partikel-partikel ini masuk melalui tenggorokan hingga mencapai paru-paru.
Rokok elektronik tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang menyerupai rokok, cerutu, pipa, pena, bahkan flash drive USB. Sebagian besar rokok elektronik memiliki komponen berikut ini:
- Kartrid, tangki, atau pod yang berisi cairan (yang dapat diisi ulang).
- Elemen pemanas untuk mengubah cairan menjadi aerosol yang dapat dihirup (aerosol biasanya disebut vapor).
- Baterai sebagai sumber daya elemen pemanas.
- Tombol daya atau kontrol (beberapa aktif secara otomatis saat dihisap).
- Corong untuk menghirup aerosol.
Rokok elektronik tidak mengandung tembakau, tetapi banyak di antaranya mengandung nikotin yang berasal dari tembakau. Oleh karena alat ini menghasilkan aerosol dari cairan, bukan asap dari pembakaran, BPOM Amerika Serikat (FDA) tetap mengklasifikasikannya sebagai “produk tembakau”. Rokok elektronik awalnya dikembangkan sebagai alat bantu berhenti merokok dan alternatif yang dianggap lebih aman dibandingkan rokok konvensional, terutama bagi mereka yang sulit atau tidak mau berhenti menggunakan nikotin dengan tujuan untuk membantu perokok mengurangi konsumsi nikotin tanpa terpapar tar dan racun berbahaya dari asap rokok sehingga dapat menurunkan angka penyakit dan kematian akibat merokok. Namun, sejak pertama kali diperkenalkan oleh Hon Lik pada tahun 2003, seorang apoteker Tiongkok yang membuatnya untuk membantu dirinya sendiri berhenti merokok, harapan tersebut ternyata belum sepenuhnya terwujud. Kini, dia justru menjadi pengguna ganda: merokok sekaligus vaping. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah rokok elektronik benar-benar mencapai tujuannya, atau justru menjadi “kuda troya” bagi kesehatan masyarakat yang membawa risiko dan tantangan baru tak terduga?
Pola Penggunaan
Beberapa kelompok orang dewasa menggunakan rokok elektronik lebih banyak dibandingkan yang lain. Sebagai contoh:
- Penggunaan lebih banyak pada pria dibandingkan wanita.
- Penggunaan lebih tinggi pada kelompok usia dewasa muda (18-24 tahun) dibandingkan kelompok usia yang lebih tua, dan menurun seiring bertambahnya usia.
- Penggunaan lebih umum oleh individu dengan tingkat pendidikan lebih rendah, pendapatan kecil, atau tanpa asuransi kesehatan.
- Penggunaan lebih tinggi pada individu yang mengidentifikasi diri sebagai biseksual dibandingkan pada kelompok heteroseksual.
- Penggunaan lebih tinggi pada orang dewasa yang mengalami tekanan psikologis berat.
Pada tahun 2024, rokok elektronik menjadi produk tembakau yang paling banyak digunakan oleh siswa SMP dan SMA di Amerika Serikat, dengan data sebagai berikut:
- 1,63 juta (5,9%) siswa menggunakan rokok elektronik:
- 410.000 (3,5%) siswa SMP
- 1,21 juta (7,8%) siswa SMA
- Dari siswa yang pernah mencoba rokok elektronik, 43,6%-nya masih terus menggunakannya.
- Di antara pengguna aktif:
- 25,3% menggunakannya setiap hari
- 34,4% menggunakannya setidaknya 20 hari dalam 30 hari terakhir
- 85,6% menggunakan rokok elektronik berperisa (buah, permen, mint, menthol).
- 55,6% menggunakan jenis sekali pakai, 15,6% menggunakan pod/kartrid isi ulang, dan 7% menggunakan sistem tangki atau mod.
Sebagian besar siswa yang menggunakan rokok elektronik sebenarnya ingin berhenti dan telah mencoba melakukannya. Pada tahun 2020, sebanyak 63,9% pengguna menyatakan ingin berhenti, dan 67,4% telah mencoba berhenti dalam satu tahun terakhir.
Mengapa Remaja Menggunakan Vape
Sebagian besar penggunaan tembakau, termasuk vape, dimulai sejak usia remaja. Faktor-faktor yang memengaruhi hal ini antara lain:
- Iklan yang menargetkan remaja: pada tahun 2021, dilaporkan 7 dari 10 siswa SMP dan SMA di Amerika terpapar promosi rokok elektronik. Kebanyakan siswa tersebut melihat iklan rokok elektronik atau promosinya di tempat-tempat penjualan (retail). Dilaporkan pula bahwa para siswa melihat iklan di internet, televisi, live streaming, film, atau media cetak. Sebagai tambahan, sekitar 3 dari 4 siswa (74%) yang menggunakan media sosial melihat tampilan atau konten yang berhubungan dengan rokok elektronik ini.
- Akses yang mudah: harga beberapa produk vape lebih murah ketimbang rokok biasa, sehingga berkontribusi pada pengguna remaja.
- Varian rasa: sebuah studi dari 2013-2015 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja yang menggunakan rokok elektronik pertama memulai dengan berbagai rasa. Ketersediaan rasa yang ditawarkan vape menjadi 10 alasan tertinggi mengapa remaja mencobanya. Pada tahun 2024, tercatat bahwa hampir 9 dari 10 siswa SMP dan SMA yang saat ini menggunakan rokok elektronik dilaporkan paling banyak menggunakan produk dengan varian pilihan rasa buah, permen, dan mint.
- Pengaruh sosial: alasan paling banyak mengapa siswa SMP dan SMA di Amerika mencoba rokok jenis ini karena teman-temannya juga menggunakan. Ada juga alasan karena rasa ingin tahu atau karena ada anggota keluarga yang telah menggunakannya. Remaja sering mendapatkan rokok elektronik dari orang lain. Pada tahun 2021, di antara siswa-siswa sekolah menengah yang menggunakannya:
- 7% dibelikan orang lain
- 7% ditawari orang lain
- 3% mendapatkan dari teman
- 1% membeli sendiri
Penggunaan Ganda
Banyak pengguna muda juga menggunakan produk tembakau lain, termasuk rokok dan cerutu. Mereka ini disebut sebagai pengguna ganda. Pada 2024, lebih dari 1/3 siswa Amerika yang menggunakan produk tembakau juga menggunakan lebih dari satu produk, termasuk 6% siswa SMA dan 38,9% siswa SMP.
Kandungan Ganja
Rokok elektronik juga dapat digunakan untuk menyebarkan zat lain, termasuk ganja. Pada tahun 2016, hampir 1 dari 3 (30,6%) siswa SMA di Amerika yang pernah menggunakan rokok elektronik juga dilaporkan menggunakan mariyuana (Cannabis sativa) yang mengandung zat memabukkan di perangkat tersebut.
Risiko Kesehatan
Istilah “uap” mungkin terdengar tidak berbahaya, tetapi sebenarnya aerosol dari rokok elektronik bukanlah uap air, dan justru membahayakan. Aerosol tersebut dapat mengandung nikotin dan substansi lain yang juga bisa menyebabkan ketergantungan.
- Kandungan nikotin: sebagian besar cairan pada rokok elektronik mengandung nikotin, zat kimia adiktif yang juga ada pada rokok, cerutu, hookah, dan produk tembakau lain, meski kadarnya tidak sama. Terkadang, beberapa label tidak mencantumkan kandungan nikotin yang sesungguhnya. Ada beberapa merek yang ditemukan mengandung nikotin meski mengklaim bahwa produknya bebas nikotin. Otak remaja sangat rentan mengalami ketergantungan nikotin secara cepat. Oleh karena otak remaja masih berkembang, maka secara unik akan rentan terhadap nikotin. Kandungan nikotin pada rokok jenis ini semakin meningkat. Banyak produk kini menggunakan nikotin dalam bentuk garam, yang memungkinkan konsumsi tinggi tanpa merasakan tajamnya rasa asli nikotin. Produk nikotin tinggi mendominasi penjualan unit rokok elektronik AS. Pada Maret 2022, produk dengan kekuatan kadar nikotin 5% atau lebih merupakan 81% dari total penjualan unit rokok elektronik. Dalam beberapa tahun terakhir, harga produk nikotin tinggi turun atau tetap sama, sementara harga produk nikotin rendah cenderung naik.
- Risiko kanker: rokok elektronik mengandung zat karsinogen seperti formaldehida dan asetaldehida, meski efek jangka panjangnya pada perkembangan kanker masih belum jelas.
- Penyakit jantung dan paru-paru: rokok elektronik mengandung bahan kimia berbahaya seperti akrolein dan diacetyl yang diketahui dapat merusak paru-paru. Analisis informasi medis yang dipimpin oleh Johns Hopkins Medicine, yang dikumpulkan pada beragam kelompok terdiri dari hampir 250.000 orang selama 4 tahun, telah secara signifikan mengklarifikasi hubungan antara penggunaan rokok elektronik “eksklusif” dan penyakit paru-paru obstruktif kronik, serta tekanan darah tinggi pada sub-kelompok dewasa berusia 30-70 tahun. Rokok elektronik dan produk sejenisnya telah dikaitkan dengan masalah paru-paru. Penggunaannya dapat meningkatkan risiko masalah pernapasan. Ini termasuk gejala asma yang memburuk, bronkitis yang lebih sering, dan infeksi paru-paru. Nikotin dalam rokok elektronik juga meningkatkan detak jantung, tekanan darah, dan dapat mengiritasi pembuluh darah.
- Vitamin E asetat, terkait cedera paru-paru akibat vaping (EVALI): sebuah wabah EVALI pada akhir 2019 dan awal 2020 membuat ribuan orang dirawat di rumah sakit dan merenggut nyawa setidaknya 68 orang. Sejak saat itu, kasus EVALI semakin menurun, tetapi mereka yang menggunakan vape masih tetap bisa terkena EVALI. Sebagian besar yang dirawat di rumah sakit dengan EVALI parah berusia di bawah 35 tahun dan menggunakan vape yang mengandung THC dari sumber informal, seperti penjual daring atau keluarga dan teman. Namun, EVALI dapat terjadi pada siapa pun yang menggunakan vape dengan kandungan nikotin atau THC. Gejala EVALI meliputi: batuk, sesak napas, nyeri dada, mual, muntah, diare, demam, kelelahan, atau penurunan berat badan. Beberapa orang harus dirawat di rumah sakit, dan beberapa lainnya dilaporkan meninggal karena penyakitnya. Beberapa yang terkena cedera paru-paru ini terkait dengan produk yang diubah, termasuk produk yang mengandung vitamin E asetat. Banyak juga kasus EVALI yang tidak melibatkan penambahan vitamin E. Meski jumlah kasus EVALI telah menurun, tetapi masih ada orang yang didiagnosis dengan EVALI. Kini tengah dilakukan lebih banyak penelitian guna mencari tahu kemungkinan penyebab lainnya.
- Logam berat: rokok elektronik dapat mengandung logam berat seperti nikel, timah, timbal, dan kadmium, yang terbukti dapat mengganggu kesehatan kita.
- Partikel halus: rokok elektronik mengandung partikel sangat kecil (ultrafine) yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru, melewati sistem filtrasi paru-paru.
- Kejang: dilaporkan bahwa beberapa orang, terutama remaja, mengalami kejang setelah vaping yang diduga akibat nikotin. Studi lebih lanjut tentang ini tengah dilakukan.
- Masalah gigi: penelitian juga mulai menunjukkan sebuah hubungan antara penggunaan vape dan bahaya pada gigi dan masalah oral lainnya. Hal ini termasuk kerusakan gigi dan iritasi jaringan mulut, serta membran lain di mulut.
- Paparan pasif aerosol: rokok elektronik membuat orang terpapar aerosol atau uap bekas yang dapat mengandung bahan kimia berbahaya. Para ilmuwan masih mempelajari tentang efek kesehatan dari paparan bekas aerosol rokok elektronik. Aerosol bekas dapat membuat orang lain terpapar nikotin dan kemungkinan bahan kimia berbahaya lainnya.
- Ledakan: telah ada beberapa laporan kasus ledakan rokok elektronik yang menyebabkan kecelakaan serius. Ledakan ini diduga akibat kerusakan baterai atau karena baterai yang tidak digunakan sebagaimana mestinya.
Vape untuk Berhenti Merokok (?)
Rokok elektronik belum disetujui FDA dan Badan Kedokteran Eropa sebagai alat berhenti merokok karena masih kurangnya bukti keamanan dan efektivitasnya. Masih belum ada cukup riset untuk menunjukkan bahwa alat ini dapat membantu manusia lepas dari jerat rokok. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa orang yang menggunakan rokok dan rokok elektronik berbarengan memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker paru-paru dibandingkan mereka yang hanya menggunakan rokok saja. Kedua produk ini tidak boleh digunakan secara bersamaan dan sangat dianjurkan untuk benar-benar dihentikan penggunaannya.
Secara global, berbagai peraturan menunjukkan bahwa:
- 88 negara tidak memiliki batas usia pembelian.
- 74 negara memiliki regulasi yang lemah secara keseluruhan.
- Sekitar 35 negara melarang rokok elektronik.
- Yang lain meregulasikan mereka sebagai konsumen, farmasi, atau produk-produk tembakau.
Pemasaran rokok elektronik sering kali menargetkan kalangan remaja, dengan lebih dari 16.000 varian rasa, kemasan bergambar kartun, dan desain modern yang menyerupai mainan atau gawai teknologi. Yang mengkhawatirkan, di banyak negara, penggunaan rokok elektronik di kalangan remaja melebihi penggunaan orang dewasa. Bahkan, paparan singkat terhadap konten vape di media sosial meningkatkan kemungkinan untuk mencoba produk ini. Salah satu risiko kesehatan masyarakat terbesar adalah bahwa vape dapat “menormalkan kembali” kebiasaan merokok setelah berhasil dikendalikan beberapa dekade sebelumnya. Merokok tetap menjadi penyebab utama kematian yang dapat dicegah, yang telah membunuh lebih dari 480.000 orang setiap tahunnya di Amerika Serikat saja.
Kesimpulan
Berdasarkan berbagai temuan, tidak ada produk tembakau yang benar-benar aman, termasuk rokok elektronik. Sebagian besarnya mengandung nikotin yang sangat adiktif dan berbahaya, terutama bagi remaja, ibu hamil, dan janin. Selain nikotin, aerosolnya juga mengandung zat berbahaya, termasuk bahan penyebab kanker dan partikel sangat halus yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Untuk alasan-alasan ini, vape tidak boleh digunakan oleh remaja, orang dewasa muda, atau ibu hamil. Selain itu, rokok elektronik tidak hanya berisiko bagi penggunanya, tetapi juga bagi orang-orang yang ada di sekitarnya yang terpapar emisi asapnya secara tidak langsung, sekaligus menambah beban pada sistem kesehatan masyarakat dan anggaran layanan kesehatan negara. Kekhawatiran ini kian membesar karena dampak jangka pendek dan panjangnya masih belum sepenuhnya diketahui, serta efeknya bagi kesehatan manusia masih banyak yang belum diketahui sepenuhnya. Hingga pemahaman yang lebih lanjut berhasil didapatkan, bukti-bukti ini menunjukkan betapa pentingnya pencegahan, edukasi, dan pengambilan keputusan yang bijak terkait rokok elektronik.
Referensi:
- American Lung Association. (n.d.). Impact of e-cigarettes on lung health. Diakses pada 09 Oktober 2025, dari: https://www.lung.org/quit-smoking/e-cigarettes-vaping/impact-of-e-cigarettes-on-lung
- Centers for Disease Control and Prevention. (n.d.). E-cigarettes. Diakses pada 09 Oktober 2025, dari: https://www.cdc.gov/tobacco/e-cigarettes/
- American Cancer Society. (n.d.). E-cigarettes and vaping. Diakses pada 09 Oktober 2025, dari: https://www.cancer.org/cancer/risk-prevention/tobacco/e-cigarettes-vaping.html
- Wikipedia contributors. (n.d.). Health effects of electronic cigarettes. Diakses pada 09 Oktober 2025, dari: https://en.wikipedia.org/wiki/Health_effects_of_electronic_cigarettes
- Farsalinos, K. E., & Polosa, R. (2014). Safety evaluation and risk assessment of electronic cigarettes as tobacco cigarette substitutes: A systematic review. Therapeutic Advances in Drug Safety, 5(2), 67–86. https://doi.org/10.1177/2042098614524430
- Hajek, P., Etter, J. F., Benowitz, N., Eissenberg, T., & McRobbie, H. (2014). Electronic cigarettes: Review of use, content, safety, effects on smokers and potential for harm and benefit. Addiction, 109(11), 1801–1810. https://doi.org/10.1111/add.12659
- World Health Organization. (n.d.). Tobacco: E-cigarettes. Diakses pada 09 Oktober 2025, dari: https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/tobacco-e-cigarettes
- Rhode Island Department of Health. (n.d.). E-cigarettes: Know the health risks. Diakses pada 09 Oktober 2025, dari: https://health.ri.gov/tobacco/e-cigarettes-know-health-risks
- American Heart Association. (n.d.). Is vaping safer than smoking? Diakses pada 09 Oktober 2025, dari: https://www.heart.org/en/healthy-living/healthy-lifestyle/quit-smoking-tobacco/is-vaping-safer-than-smoking
- The Lancet Regional Health–Europe. (2024). [Article on e-cigarettes]. The Lancet Regional Health – Europe, 40,https://doi.org/10.1016/j.lanepe.2024.100265
- Gentzke, A. S., Wang, T. W., Cornelius, M., et al. (2022). Tobacco product use and associated factors among middle and high school students—National Youth Tobacco Survey, United States, 2021. MMWR Surveillance Summaries, 71(5), 1–29. https://doi.org/10.15585/mmwr.ss7105a1







Discussion about this post