• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Friday, February 27, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025New!!!
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025New!!!
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Budaya Filsafat Ilmu

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

Muhamad Budiawan, S.Si., M.Pd., Gr.

by admin
7 hours ago
in Filsafat Ilmu
Reading Time: 3 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Ilmu pengetahuan modern sering digambarkan sebagai “musuh alami” mitos. Ilmu dianggap rasional, terukur, dan dingin1; sementara mitos sering dicap irasional, takhayul, dan penuh bumbu mistis. Namun demikian, jika menelusuri akar keduanya, garis pemisah itu ternyata tidak setegas yang kita bayangkan. Banyak mitos yang justru lahir dari kepekaan pengamatan para leluhur terhadap alam kemudian dirangkai menjadi cerita dan nasihat yang diwariskan turun-temurun sebagai kearifan lokal. Lalu di kemudian hari, ketika ilmu pengetahuan berkembang dengan metode yang lebih sistematis, sebagian mitos itu terbukti memiliki dasar sangat empiris.

Secara sederhana, ilmu pengetahuan adalah upaya manusia memahami gejala alam melalui metode ilmiah: mengamati, menyusun hipotesis, melakukan eksperimen, menguji bukti, dan memastikan pengulangannya. Sebuah temuan baru diakui sebagai pengetahuan ilmiah jika ia dapat diuji kembali dan menghasilkan hasil konsisten. Namun, ilmu tidak muncul secara tiba-tiba bersama mikroskop dan jurnal ilmiah. Jauh sebelumnya, manusia sudah terlebih dahulu bertanya: “Mengapa hujan turun, mengapa laut ‘melahap’ manusia, mengapa hewan tiba-tiba gelisah, dan mengapa-mengapa lainnya.” Karena pada masa itu belum ada bahasa kimia, fisika, atau neurologi, maka jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut pun dibungkus dalam mitos: kisah tentang dewa, roh, dan makhluk gaib yang berusaha menjelaskan realitas dengan cara yang bisa dipahami orang pada zamannya.

 

Mitos yang Menyimpan Jejak Pengetahuan

RelatedArticles

Fenomena Kajian Relasi Teknologi dan Agama

Kemasan, Hadiah Kenikmatan

Menurut KBBI, empiris berarti pengetahuan yang lahir dari pengalaman, pengamatan, atau percobaan. Jika kita jujur, banyak mitos di Nusantara sebenarnya adalah pengetahuan empiris: “Jika X dilakukan, maka Y akan terjadi”, yang diamati berulang kali, lalu diceritakan dalam bentuk mudah diingat. Sayangnya, karena labelnya “mitos”, sebagian masyarakat modern langsung menyapunya sebagai sesuatu yang sepenuhnya irasional, padahal sering kali di dalamnya tersembunyi logika sains dan pesan keselamatan.

Misalnya tentang orang yang tersesat di hutan, mitos mengatakan bahwa mereka “disesatkan” makhluk halus, dibuat berputar-putar di tempat yang sama, meski merasa sudah berjalan lurus. Dari sudut pandang sains, ada penjelasan yang lebih dekat: tubuh manusia tidak pernah benar-benar simetris. Mata kanan dan kiri berbeda ukurannya, begitu juga telinga, tangan, dan kaki. Biasanya otot yang lebih sering digunakan,  di sisi dominan tubuh, akan cenderung lebih kuat. Saat seseorang berjalan tanpa patokan visual yang jelas, seperti di tengah hutan lebat atau padang luas, perbedaan kecil ini pun membuat langkahnya sedikit demi sedikit cenderung melengkung ke satu arah tanpa disadari. Jika lintasan itu diteruskan pada area yang luas, dia akan berakhir kembali ke dekat titiknya berjalan.2 Bagi yang tidak memahami mekanisme tubuh ini, pengalaman “jalan terus tapi kok kembali ke situ-situ lagi” sangat mudah ditafsirkan sebagai ulah makhluk gaib.

Di sisi lain, nenek moyang kita sebenarnya tidak berhenti pada penjelasan mistis semata. Mereka ternyata juga mengembangkan kearifan lokal praktis, seperti:

  1. Mengamati arah Matahari dan bayangan pohon yang memanjang ke barat saat pagi, memendek di tengah hari, hingga merayap ke timur menjelang senja;
  2. Mengamati lumut yang tumbuh pada sisi paling lembap batang pohon yang memberi isyarat tentang arah yang lebih jarang tersentuh cahaya;
  3. Membuat kompas sederhana dari sebatang jarum yang digosok hingga bermuatan magnet, lalu diletakkan di atas air dengan bantuan daun atau serpihan kayu sebagai pelampung, lalu membiarkan ujungnya menunjuk ke arah utara–selatan seirama dengan medan magnet Bumi.

Semua teknik ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca alam bukanlah warisan gaib, melainkan pengetahuan praktis yang lahir dari kedekatan manusia dengan ruang hidupnya. Di balik kesederhanaannya itu, tersimpan semangat untuk bertahan, bergerak, dan menemukan jalan pulang, sebuah kesadaran ekologis yang kini kembali terasa penting di tengah dunia yang semakin bergantung pada teknologi. Tradisi itu lalu diwariskan sebagai petuah orangtua pada anak yang hendak ke hutan atau mendaki gunung. Di sinilah mitos dan sains saling menyalami: satu memberi bahasa simbolik, yang lain memberi kerangka penjelasan.

 

Tags: Filsafatilmuvolume 12 Nomor 48
Previous Post

Sahabat Sejati

admin

admin

Related Posts

Fenomena Kajian Relasi Teknologi dan Agama
Filsafat

Fenomena Kajian Relasi Teknologi dan Agama

4 years ago
Kemasan, Hadiah Kenikmatan
Filsafat Ilmu

Kemasan, Hadiah Kenikmatan

5 years ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1366 shares
    Share 546 Tweet 342
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1059 shares
    Share 424 Tweet 265
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    994 shares
    Share 398 Tweet 249
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    990 shares
    Share 397 Tweet 247
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    888 shares
    Share 355 Tweet 222

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

February 27, 2026
Sahabat Sejati

Sahabat Sejati

February 26, 2026
Robot yang Dapat Terurai secara Hayati

Robot yang Dapat Terurai secara Hayati

February 26, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin