Sebuah hadis kurang lebih bermakna: “Bertafakur sesaat lebih baik daripada ibadah nafilah (ibadah sunnah) selama setahun.” Lalu, bagaimana jalan, kaidah, dan cara bertafakur? Adakah wirid dan zikir khusus? Ayat apa saja yang menyerukan kita untuk bertafakur? Apakah doa dalam hati bisa dianggap tafakur?
Ketika pertanyaan di atas terlontar, jawabannya sudah menyertai. Benar bahwa ada hadis daif yang menyebutkan bahwa tafakur sesaat lebih baik daripada ibadah nafilah (sunnah) selama satu tahun. Namun, sejumlah ayat Al Quran menguatkan hal tersebut: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kekuasaan Tuhan bagi mereka yang berakal.”
Ya. Tatanan dan sistem mencengangkan yang di dalamnya berlangsung gerakan matahari dan bulan merupakan tanda-tanda kekuasaan Tuhan bagi mereka yang berakal. Pada ayat tersebut ada sebuah ajakan yang jelas untuk bertafakur dan berpikir. Rasul صلى الله عليه وسلم bersabda, “Celakalah bagi orang yang membaca ayat itu dan tidak mau memikirkannya.”
Ummul mukminin Ummu Salamah r.a. bercerita bahwa ketika ayat tersebut turun atau ketika membaca ayat tersebut, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menangis. Pada suatu malam, beliau membaca ayat itu dalam shalat tahajud dan menangis tersedu-sedu. Ayat di atas dan sejenisnya dianggap sebagai pengantar, penuntun, dan pembuka jalan tafakur. Ayat-ayat ini mengandung berbagai petunjuk khusus dalam menerangkan dimensi-dimensi pemikiran dalam Islam.
Hanya saja, makna tafakur harus diketahui. Pertama-tama tafakur harus bersandar pada berbagai pengetahuan pendahuluan. Jika tidak, tafakur yang bodoh dan buta tidak akan menghasilkan apa-apa. Tafakur yang tertutup semacam itu hanya mendatangkan kejemuan lalu manusia tidak lagi bertafakur. Karena itu, sangat penting bagi manusia untuk mengetahui objek dan bahan perenungan dan tafakurnya secara baik. Hendaknya berbagai hal yang ia jadikan objek perenungan hadir dan tampak di benaknya. Dengan kata lain, ia harus memiliki pengetahuan pendahuluan mengenai objek itu agar ia bisa berpikir secara tersusun dan sistematis.
Apabila ia mengetahui sesuatu yang rasional tentang bulan, bintang, gerakan, dan hubungannya dengan manusia, juga ia mengetahui aktivitas menakjubkan sel-sel yang membentuk manusia berikut gerakannya, ketika ia berpikir tentang semua hal itu dalam kondisi demikian, kita bisa menyebut itu sebagai proses “tafakur”. Adapun orang yang mengingat sesuatu secara perasaan sastrawi mengenai gerakan matahari atau bulan tidak bisa kita sebut sebagai orang yang sedang bertafakur, namun hanya sebagai orang yang mempunyai inspirasi dan daya khayal tinggi. Demikian pula kita tidak bisa menisbahkan tafakur kepada kaum naturalis, yaitu mereka yang menisbahkan segala sesuatu kepada alam. Adapun hanya sebagian kecil dari sejumlah penulis dan penyair terkenal di era materialist ini yang layak disebut pemikir, bisa Sebuah hadis kurang lebih bermakna: “Bertafakur sesaat lebih baik daripada ibadah nafilah (ibadah sunnah) selama setahun.” Lalu, bagaimana jalan, kaidah, dan cara bertafakur? Adakah wirid dan zikir khusus? Ayat apa saja yang menyerukan kita untuk bertafakur? Apakah doa dalam hati bisa dianggap tafakur? TANYA-JAWAB dihitung dengan jari. Jumlah yang kecil itu pun telah diperangi dan dinafikan. Sayangnya masyarakat tidak diizinkan mengenal mereka dan mereka tidak diperbolehkan terkenal.
Pada era tersebut ada segelintir orang yang berusaha menguak alam eksistensi dan esensi segala sesuatu. Namun, mereka sama sekali tidak mampu mencapai hakikatnya. Benar bahwa ketika orang membaca syair pujangga naturalis serta ungkapan mereka tentang gemericik air, tetesan air hujan, desir pohon, dan kicau burung, ia akan merasa seolah-olah berada di surga. Akan tetapi, karena mereka tidak mampu merasakan kehadiran akhirat dan karena mereka menjadi musuh masa lalu dan tidak memahami masa kini, mereka tidak menggapai hasil apa pun. Mereka tetap berada dalam wilayah alam lahiriah tanpa bisa menembus di balik tirai alam itu. Mereka tak ubahnya seperti musafir yang menaiki sampan kecil dengan hanya satu dayung yang mengitari diri sendiri di lautan luas tak bertepi. Seluruh sisi pemikiran mereka tampak tertutup. Apa yang mereka sebut sebagai proses berpikir hanya membuat mereka putus asa dan sakit hati di hadapan ketertutupan dan kebuntuan. Tentu saja metode berpikir semacam itu tidak mendatangkan manfaat apa-apa.
Untuk merenung dan bertafakur, pertama-tama harus ada sejumlah maklumat dan pengetahuan pendahuluan, pengetahuan tentang hakikat kondisi sekarang, penyusunan konstruksi pemikiran yang sesuai, serta kecenderungan dan upaya keras untuk mencari hakikat kebenaran. Orang yang mampu bertafakur dengan cara ini secara terus-menerus dapat menggapai cakrawala baru. Ketika cakrawala baru itu dijadikan sebagai permulaan untuk mendapatkan konsep pemikiran yang lain, ia dapat sampai kepada berbagai kesimpulan baru dan pada kedalaman pikiran yang lebih jauh. Selanjutnya, ia mampu mengubah pemikirannya yang memiliki satu atau dua dimensi menjadi pemikiran yang memiliki tiga, empat atau lebih banyak dimensi. Artinya, ia memiliki dua sayap di alam pemikiran hingga sampai kepada tingkat manusia sempurna.
Jadi, landasan pertama bagi tafakur adalah kebiasaan membaca dan menelaah kitab alam. Kemudian, manusia membuka dada dan hatinya untuk menerima berbagai ilham Ilahi, serta akalnya untuk menerima prinsip syariah yang fitri dan untuk melihat alam lewat lensa Al Quran sebagai terjemahan suci dan tuturan terbaik yang termaktub bagi kitab alam. Itulah syarat-syarat tafakur. Jika tidak, pandangan yang dangkal terhadap segala sesuatu, pengetahuan bahwa planet ini adalah venus, lenyapnya matahari akan begini, dan Planet Mars di posisi sekian, serta berbagai pengetahuan yang hanya dilihat secara materi dan tidak memiliki tujuan semacam itu tidak bisa disebut tafakur dan tidak akan mendatangkan hasil apa pun. Selain itu, kelayakannya untuk mendapatkan ganjaran sangat diragukan.
Yang menjadi sebab tafakur sesaat lebih baik daripada ibadah nafilah setahun adalah bahwa manusia, ketika bertafakur sesaat secara benar dan produktif, dapat menguatkan dasar-dasar keimanannya sehingga cahaya makrifat dalam dirinya muncul dan cinta Ilahi dalam hatinya bersinar. Dengan begitu, ia sampai kepada kerinduan spiritual dan terbang di angkasanya.
Demikianlah siapa pun yang meniti jalan tafakkur dapat sampai kepada tingkatan yang tidak bisa dijangkau manusia lain yang tidak bertafakur. Dengan kata lain, orang yang bertafakur mendapatkan pencapaian yang besar. Adapun orang yang tidak mampu menghadap pada Allah dengan perasaan dan pemahaman tersebut, kalaupun ia mengarahkan wajahnya ke timur dan barat selama seratus tahun, tidak akan mampu mencatat satu langkah pun untuk maju ke depan. Apa yang dilakukannya pun tidak bisa menyamai proses tafakur sesaat yang benar tersebut. Namun, bukan berarti ibadahnya selama setahun akan sia-sia. Allah Subhânahu wa ta’âla tidak akan menyia-nyiakan atas setiap rakaat dan sujud yang dilakukan: “Barang siapa melakukan amal kebaikan seberat biji atom pun, niscaya ia akan melihat [balasan]-nya, dan barang siapa melakukan amal keburukan seberat biji atom pun, niscaya ia akan melihat [balasan]-nya.”3 Setiap orang akan mendapatkan imbalan atas perbuatannya. Atas landasan itulah seseorang menunaikan tugas pengabdiannya dan membangun hubungan antara dirinya dengan Allah Subhânahu wa ta’âla. Hanya saja, ia tidak sampai kepada tingkat yang bisa diraih lewat tafakur, tingkat tafakur sesaat yang menyamai seratus tahun ibadah.
Ada pertanyaan lain: Adakah wirid atau zikir khusus yang menjadi landasan atau sarana tafakur? Apakah wirid atau zikir tertentu bisa meluaskan tafakur manusia?
Hal ini juga bergantung pada kadar kesadaran dan pemahaman saat wirid dan zikir diucapkan. Ia sama seperti menelaah kitab alam. Doa yang terwujud dengan kesadaran dan munajat khusyuk yang penuh dengan kesadaran bisa membuka sebagian besar kunci dalam diri manusia. Hanya saja, kami tidak bisa menyebutkan dari mana dan bagaimana memilih wirid dan zikir semacam itu, sebab wirid dan zikir beragam sesuai dengan penerimaan dan kesiapan serta kadar keimanan dan keyakinan seseorang. Karena itu, siapa yang mau bisa membaca wirid al-jawsyân, al-awrâd al-qudsiyyah, al-ma’tsûrât, atau berbagai wirid lainnya yang dibaca oleh Syaikh al-Syadzili, Syaikh al-Jailani, Ahmad al-Rifa‘i, atau Ahmad al-Badawi. Ketika membaca wirid yang diajarkan oleh para tokoh itu, hendaklah merasa seolah-olah berada di samping atau dekat dengannya, sehingga tidak akan pernah puas dengan nikmatnya kerinduan yang memenuhi kalbu. Betapa aku berharap semua orang membaca wirid dapat mengambil manfaat darinya, karena dengan wirid mereka bisa memperbarui dan menguatkan hubungan dengan Allah Subhânahu wa ta’âla.
Pertanyaan lainnya adalah apakah membaca ayat-ayat yang mengajak tafakur dalam hati sudah bisa disebut tafakur?
Jika manusia tidak memahami apa yang dibacanya, ia tidak bisa sejalan dengan dan tidak bisa menghayati apa yang dibacanya. Ia memang mendapat pahala, tetapi aspek tafakur tidak terkandung. Tafakur terambil dari kata fikr (pikir), yaitu proses menggabungkan dan mengubah sebagian kejadian dan sebagian lainnya serta melakukan komposisi dan kombinasi. Benar bahwa menetapkan hubungan sebab akibat serta menguatkan hubungan antara hamba dan Khalik termasuk tafakur. Hanya saja, wirid-wirid yang tidak mengantarkan kepada hubungan suci semacam itu tetap tidak bisa dianggap sebagai tafakur namun semoga tetap mendapatkan pahala. Untuk dianggap sebagai tafakur, harus dilihat sejauh mana wirid itu membangkitkan ruh dan hati serta sejauh mana ia menguatkan hubungan kita dengan Allah Subhânahu wa ta’âla.
Kita berdoa kepada Allah Subhânahu wa ta’âla agar Dia memberikan taufik-Nya. Tidak lupa kami ingin menyebutkan bahwa tafakur termasuk hal langka dalam kehidupan kita dewasa ini. Jika kita katakan bahwa manusia pada masa kini sangat lalai dalam urusan ini, sama sekali tidak berlebihan.
Referensi:
- Q.S. Âl ‘Imrân: Ayat 190 – 191.
- Tafsîr Ibn Katsîr, I, 164.
- Q.S. al-Zalzalah: 7 – 8.







Discussion about this post