Tahukah Anda bahwa satu satunya tempat dimana manusia terbebas dari kuman dan bakteri adalah rahim seorang ibu? Sejak detik pertama kelahirannya ke dunia sebenarnya manusia dihadapkan pada jutaan kuman. Kalau begitu, sebenarnya adakah sistem yang bisa melindungi bayi dari kuman dan bakteri? Bagaimana pula bayi, dengan ketidakberdayaannya tetap bisa bertahan hidup? Kalau pun tugas melindungi bayi ini diberikan kepada orang tuanya, mekanisme seperti apakah yang bisa mereka persiapkan?
Bagi bayi yang baru dilahirkan selain dibutuhkan adanya sebuah sistem perlindungan untuk kehidupannya, diperlukan juga sebuah racikan khusus yang sesuai bagi pertumbuhannya. Karena sebelum sampai pada usia tertentu, sistem pencernaan termasuk pula lambung seorang bayi belum siap untuk mencerna sembarang makanan. Jika tugas menyiapkan makanan khusus bagi bayi ini diberikan kepada orang tuanya, kira-kira makanan seperti apa yang akan mereka siapkan? Tindak pencegahan apa sajakah yang akan mereka lakukan agar makanan tersebut akan sesuai dengan usus maupun lambung bayi? Apakah akan terpikirkan oleh mereka bahwa makanan bayi harus mempunyai fungsi ganda yang tidak hanya memenuhi fungsi mengenyangkan tapi juga merupakan pelindung dari kuman dan bakteri? Pertanyaan-Pertanyaan serupa bisa semakin berkembang.
Jika harus dipersiapkan makanan bagi bayi yang baru dilahirkan, komposisi unsur-unsur berikut harus memenuhi takaran yang tepat: air, protein, asam amino, karbohidrat, lemak, asam lemak, mineral dan vitamin-vitamin (8 grup vitamin A, B, C, D, E dan vitamin K).
Mineral-mineral tersebut bisa dikelompokkan sebagai berikut:
Elemenelemen Struktur Utama: karbon, nitrogen, oksigen, hidrogen
Mineral makro : kalsium, magnesium, sodium, klor, potassium, yang berstruktur dari sulfur
Elemen mikro : zat besi, iod, seng, tembaga, crom, magnesium, selenium, molibdenum, kobalt, flor, nikel, vanadium, silikon
Tubuh manusia yang sebagian besar terdiri dari zat cair memenuhi kebutuhan mineral tubuhnya dari air yang dikonsumsinya. Ketika kehamilan berumur 10 minggu persentase zat cair pada tubuh janin sejumlah 94%, sedangkan pada bayi yang baru dilahirkan persentasenya menjadi 79%. Ketika bayi berumur 3 bulan total zat cair di tubuhnya mencapai 70% sedangkan ketika mencapai usia 1 tahun kandungannya berkurang menjadi 60%. Untuk orang dewasa total cairan dalam tubuh manusia berkisar 55%. Jika pada orang dewasa, cairan yang dikonsumsi dan dikeluarkan dari tubuh setiap harinya sekitar 6% dari berat tubuhnya, sedangkan pada bayi persentase cairan yang masuk dan keluar dari tubuhnya bisa mencapai hingga empat kali lipat lebih banyak daripada yang dibutuhkan orang dewasa yaitu sekitar 25%. Sehingga gejala dehidrasi (kekurangan cairan) kerap terjadi pada anak-anak. Maka makanan bagi bayi yang baru lahir seharusnya memiliki kandungan air yang tinggi. Oleh karenanya sumber air bagi bayi yang dicurahkan dari mata air Sang Maha Penyayang dalam bentuk Air Susu Ibu (ASI) ternyata memiliki kandungan air sebanyak 90%.
Dalam ASI pun terdapat kandungan sumber protein dalam bentuk zat padat (kasein) dan protein yang bisa diuraikan (whey) yang diperlukan bayi sebagai sumber pertumbuhan dan perbaikan organ-organ tubuhnya. Kasein yang terdapat pada susu ibu lebih halus dan mudah dicerna jika dibandingkan dengan kasein yang terdapat pada susu sapi. Karena sebagian besar protein-protein whey pada ASI diciptakan dengan kekhususan sebagai anti-infeksi maka protein ini berperan sebagai pelindung bagi bayi dari berbagai infeksi. Sedangkan dalam susu hewan tidak terdapat kandungan anti infeksi yang akan mampu melindungi bayi dari infeksi. Bayi yang sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang mengakibatkan mereka belum bisa berjuang melawan infeksi. Oleh karena itu sebagai pelindungnya, diberikan kepada bayi Air Susu Ibu (ASI) yang tidak hanya menjadi sumber makanan tetapi juga sebagai cairan hidup yang mampu melindungi bayi dari infeksi. Karena makrofag dan limfosit yang terdapat pada air susu seorang ibu bersifat hidup maka tidak ada satu cairan makanan pun yang dapat menggantikannya.(WHO 1993, UNICEF,1993 Bagian Pangan H1 OF)
Dalam surah AlQashah di jelaskan tentang Firaun yang kejam dan tidak mempunyai hati nurani kemudian di gambarkan pula bagaimana ia dihukum agar menjadi pelajaran bagi umat manusia. Suatu ketika seorang peramal memberitakan kepada Firaun bahwa akan lahir seorang bayi laki-laki dari keturunan Ismail yang kelak akan menghancurkan kerajaannya. Oleh karena itu, Firaun memerintahkan agar setiap bayi laki-laki yang lahir dibunuh. Ketika perintah itu tengah dilaksanakan, ibunda Nabi Musa AS, sedang hamil. Dan akhirnya Nabi Musa pun lahir. Hal pertama yang difikirkan oleh ibunda Nabi Musa AS, adalah bagaimana menyelamatkan bayinya dari Firaun dan tentaratentaranya. Tepat ketika itu Allah memberikan ilham kepada Ibunda Nabi Musa AS, seperti di gambarkan dalam surah AlQashah ayat 7: “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; ‘Susuilah dia (Musa) beberapa saat, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu takut dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul’.”
Perintah pertama Allah kepada seorang ibu yang tidak memikirkan hal lain selain menyelamatkan bayinya dari Firaun tersebut adalah “ Susuilah dia beberapa saat!”. Jika kita perhatikan tema utama dalam surat ini baik ayat sebelumnya ataupun sesudahnya dengan jelas menerangkan tentang perlindungan kepada bayi. Kiranya mengapa kalimat pertama dari sebuah ayat yang tema utamanya adalah menyelamatkan seorang bayi dari bahaya dibunuh adalah “susuilah dia!”? Karena ternyata bahaya yang menanti bayi tersebut bukan hanya Firaun dan tentara-tentaranya. Dengan kemajuan ilmu kedokteran yang telah kita ketahui saat ini, kita memahami bahwa sistem kekebalan seorang bayi yang baru lahir belum berkembang secara sempurna maka dibutuhkanlah perlindungan terhadap bakteri dan kuman. Bahkan sebelum lahir pun perlindungan dari bakteri dan kuman ini juga ada. Karena sebelum tentara-tentara Firaun menemukan bayi tersebut, ia tetap tidak dapat menghindar dari bahaya bakteri dan kuman. Dalam keadaan dibawah tekanan seperti ini, seorang ibu mungkin tidak bisa memperhatikan aspek kebersihan dan perawatan bagi bayi tersebut, dan hal ini bisa mengakibatkan semakin tingginya resiko bayi tersebut dapat terkena infeksi. Oleh karena itu, Allah SWT mengilhamkan kepada ibunda Nabi Musa AS untuk menyusui anaknya terlebih dahulu. Tentu saja karena ASI adalah sumber makanan bagi bayi yang diciptakan Allah SWT maka selain merupakan sumber makanan yang paling sempurna, ASI dapat pula mencegah infeksi. Sebenarnya tanpa disusui pun Allah tetap bisa menyelamatkan seorang bayi. Namun Allah ingin mengingatkan bahwa haruslah ada sebab bagi terjadinya segala sesuatu atas makhluk yang hidup di dunia ini.
Selain itu, ibu yang sedang berada pada masa menyusui haruslah terbebas dari rasa khawatir dan takut. Jika seorang ibu berada dalam kondisi stress atau di bawah tekanan maka air susunya akan berkurang yang lama kelamaan bisa menyebabkan air susu tersebut tidak terproduksi lagi (WHO1993, UNICEF,1993 Bagian PanganH1 OF). Jika kita perhatikan ayat: “…dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” yang mengikuti kalimat pertama pada ayat tersebut yaitu: “Susuilah!”memberikan rasa tentram pada hati seorang ibu yang sedang risau. Kalimat-kalimat pada ayat tersebut benar-benar sepenuhnya mendukung pernyataan di kalimat pertama: “Susuilah dia beberapa saat!”
Pada tubuh seorang ibu yang menyusui terdapat kandungan hormon proklatin yang tinggi. Hormon proklatin ini selain membantu proses pembentukan ASI juga berfungsi membantu ibu yang menyusui menjadi lebih tenang dan menjaga dari efek negatif stress yang dialaminya. Dalam hal ini bisa dipahami bahwa perintah menyusui bagi seorang ibu tidak lain adalah untuk menenangkan ibu yang sebenarnya berada dalam tekanan dan kekhawatiran yang mendalam. Ide utama tentang proses penyelamatan seorang bayi yang dimulai dengan perintah “Susuilah dia beberapa saat!” ternyata dari berbagai aspek merupakan sebuah mukzijat dan secara ilmiah dalam ilmu kedokteran baru terungkap dalam waktu tiga puluh tahun terakhir bahwa air susu ibu memiliki fungsi perlindungan yang luar biasa.
ASI terbentuk dari gula laktosa yang merupakan karbohidrat yang paling cocok bagi usus bayi. Zat ini sangat mudah dicerna dan mudah diubah menjadi gula darah yang bisa memenuhi perbandingan nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi. Kandungan laktosa yang terdapat dalam ASI tidak terpengaruh oleh jenis makanan yang dikonsumsi sang ibu. Selain itu laktosa juga membantu mempercepat penyerapan kalsium yang ada dalam susu. Salah satu molekul yang menghasilkan laktosa adalah molekul galaktosa, molekul ini bersama – sama dengan beberapa molekul lemak membentuk senyawa yang sangat penting bagi perkembangan otak bayi. Laktosa berperan dalam perkembangbiakkan bakteri baik laktobasilus bifidus yang terdapat dalam usus bayi. Dengan cara ini flora usus bayi akan terdiri dari bakteri-bakteri yang tidak berbahaya tersebut. Pada akhirnya bayi akan terselamatkan dari bahaya diare.
Di dalam ASI juga terdapat lebih dari seratus jenis kandungan gula dalam bentuk partikel kecil yang disebut dengan oligosakarida. Oligosakarida dan unsur- unsur antiinfeksi akan menempel pada bakteri atau kuman-kuman yang berbahaya pada usus bayi untuk mencegah agar kuman-kuman tersebut tidak menempel pada dinding usus sehingga bayi terlindungi dari bahaya kuman-kuman tersebut. Pada bayi yang dilahirkan prematur setelah kandungan laktosa yang terdapat pada ASI mencapai 90%, barulah mukosa bisa diserap oleh darah. Sistem perlindungan yang diberikan melalui perantara oligosakarida yang diperuntukkan bagi bayi prematur yang sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang ini tidak mungkin bisa didapatkan hanya dari usaha sang ibu atau bayi itu sendiri. Sebagian besar kebutuhan sumber-sumber energi bayi akan dipenuhi oleh lemak yang terdapat di dalam ASI. Lemak yang terdapat dalam ASI adalah lemak yang berdiameter kecil sehingga mudah sekali diserap oleh usus bayi. Setiap kali menyusui, saat proses menyusui akan berakhir persentase lemak akan meningkat. Kandungan lemak terakhir yang diminum bayi setiap kali ia menyusui akan memberikan rasa kenyang pada bayi, sehingga bayi akan berhenti meminum susu dan terhindar dari konsumsi yang berlebihan. Dengan cara ini bayi akan terhindar dari obesitas di masa mendatang dan dari bahaya-bahaya lain yang bisa ditimbulkannya. Bahaya -bahaya tersebut misalnya: penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes pada usia dewasa, lemak pada hati, dsb.
Kandungan mineral yang terdapat dalam ASI, tidak terpengaruh oleh pola konsumsi seorang ibu. Semua kebutuhan mineral yang dibutuhkan oleh bayi bisa ditemukan dalam ASI. Dengan menggunakan cadangan mineral yang ada pada tubuh si ibu, maka semua kebutuhan bayi tersebut dipenuhi oleh air susu ibu.
Air susu ibu mengandung vitamin yang dibutuhkan oleh bayi pada bulan-bulan pertama kehidupannya. Selain itu, dalam ASI pun terdapat kandungan zat-zat yang merupakan faktor-faktor perkembangan seperti enzim-enzim dan sepuluh jenis hormon yang hingga saat ini pun ilmu pengetahuan kita masih belum mempelajari secara jelas apa fungsinya. Kandungan ASI pada bayi yang dilahirkan lebih awal atau prematur berbeda dibandingkan ASI bagi bayi pada umumnya, karena ASI tersebut telah disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan bayi prematur yang berbeda.
Pada beberapa minggu awal setelah kelahiran, kandungan protein ASI ibu yang melahirkan prematur akan lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang melahirkan tepat pada waktunya. Karena kebutuhan protein untuk bayi yang lahir tepat pada waktunya sekitar 1g/kg/hari sedangkan bayi yang dilahirkan prematur kebutuhannya sekitar 2 g/kg/hari. Selain itu kualitas protein ASI (kasein dan whey) telah diciptakan sedemikian rupa agar sesuai dengan kebutuhan bayi prematur yang dilahirkan dengan bobot kurang ideal. Dalam ASI (ibu bayi prematur) mengandung 30% kasein dan 70% whey. Persentase ini sangatlah ideal bagi bayi yang dilahirkan prematur.
Kandungan lemak yang terdapat pada ASI adalah sebesar 50% dari kandungan kalorinya sehingga komposisi ini sangat pas, terutama untuk bayi-bayi yang dilahirkan dengan bobot yang kurang ideal. Sistem pencernaan dan penyerapan lemak, berbagai jenis asam lemak dan penataan molekul-molekul trigliserida pada asam-asam lemak tersebut sangatlah sempurna.
Selain itu adanya peringatan oleh enzim lipase melalui garam empedu merupakan salah satu kelebihan yang terdapat pada ASI. Kekhasan dari adanya pengaturan asam-asam lemak pada ASI merupakan sebuah keadaan yang sangat ideal bagi bayi prematur.
Perlu diketahui bahwa bayi-bayi prematur yang mendapatkan ASI akan memiliki fungsi penglihatan yang lebih baik dikarenakan adanya rangkaian asam-asam lemak yang sangat panjang, karoten, taurin dan vitamin E. Semua zat- zat ini terdapat pada ASI dengan kadar dan dosis yang paling tepat.
Pentingnya menyusui selama dua tahun
Sejak dilahirkan sampai berumur sekitar dua tahun, susu ibu sebagai makanan dasar bayi menjadi unsur yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan energi harian dan menjadi sistem kekebalan pada bayi. Pada tahun kedua, jika seorang bayi mendapatkan satu liter ASI setiap harinya maka bayi tersebut telah memenuhi dua per tiga kebutuhan energi dan protein serta semua kebutuhan vitamin A dan C nya melalui ASI tersebut.
Jika bayi mampu mengkonsumsi hingga 1,5 liter ASI perhari, maka sebagian besar kebutuhan makanannya telah terpenuhi. Oleh karena itu jika memungkinkan seharusnya ASI diberikan hingga bayi genap berusia dua tahun.
Pada tahun-tahun terakhir ini, ilmu kedokteran baru menyadari betapa pentingnya ASI. Pada tahun 1960an telah dimulai kampanye besar-besaran bagi susu formula. Hampir setiap hari penemuan tentang kandungan yang tidak terdapat dalam ASI akan tetapi terdapat dalam makanan bayi buatan tersebut ditayangkan di televisi-televisi terutama di Amerika. Tujuan dari kampanye ini adalah agar ibu-ibu tidak menyusui bayinya dan melahirkan sebuah generasi yang merupakan hasil dari susu formula. Dan kesemuanya ini dilakukan dengan mengatasnamakan ilmu pengetahuan.Pada tahun 1980an ASI disarankan cukup diberikan hanya selama empat bulan. Setelah empat bulan dinyatakan bahwa ASI hanya berupa cairan dan tidak bisa menjadi makanan.
Pada tahun 1986 ASI mulai disarankan untuk diberikan selama enam bulan. Barulah sejak tahun 1993 ASI disarankan untuk diberikan selama dua tahun. Ini membuktikan peran ASI di tahun kedua sebagai sumber makanan bayi telah terbukti. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Alquran:“Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya.” (Q.S AlBaqarah: 233)
Baru dalam waktu sepuluh tahun terakhir ilmu kedokteran bisa menemukan pentingnya memberikan ASI selama dua tahun, sedangkan Alquran berabadabad sebelumnya telah memberitahukan hal tersebut. Sekarang jika kita berfikir secara objektif, selain Allah SWT tidak ada yang lebih mengetahui permasalahan ini dan 1400 tahun lalu saat ilmu pengetahuan dan kedokteran masih sangat minim, Allah SWT telah memberitahukan manusia tentang hal ini. Karena ASI diciptakan olehNya, maka tidak diragukan lagi bahwa Allah SWT lah yang paling tahu berapa lama ASI harus diberikan. Ungkapan yang sama terdapat dalam surat lain dalam Alquran yang menguatkan keterangan tentang pentingnya memberikan ASI selama dua tahun: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibubapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu.” (Q.S Lukman: 14)
Dr. Veli Karabuğa







Discussion about this post