• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Minggu, April 2, 2023
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • M. Fethullah Gülen
    • Dr. Ali Unsal
    • Astri Katrini Alafta S.S. M.Ed.
    • Abdullah Farid
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2022
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • M. Fethullah Gülen
    • Dr. Ali Unsal
    • Astri Katrini Alafta S.S. M.Ed.
    • Abdullah Farid
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2022
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Spiritualitas Artikel Utama

Rasa Tanggung Jawab

M. Fethullah Gulen

by admin
4 minggu ago
in Artikel Utama
Reading Time: 5 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Gerak dan langkah adalah aspek paling penting dalam eksistensi manusia. Sikap tidak bergerak adalah nama lain dari kehancuran dan kematian. Sementara hubungan antara gerak dan tanggung jawab adalah dimensi kemanusiaan pertama. Itulah sebabnya, sebuah gerak atau langkah tidak dapat disebut sempurna jika tidak didisiplinkan dengan tanggung jawab.

Kebanyakan orang mengejar tujuan yang berbeda-beda. Tapi adalah sia-sia jika mengharapkan hasil dari sebuah usaha mengejar tujuan yang tidak diperdalam dengan tanggung jawab. Padahal saat ini mata para oportunis nyalang karena rakus mencari-cari kesempatan, politisi riuh melontarkan janji manis beracun, media massa ramai menyiarkan jargon-jargon, beberapa elit mendadak berubah menjadi malaikat yang rajin membantu masyarakat di tempat bencana, beberapa orang sibuk menjual khutbah demi mengejar uang, pasar saham jatuh bangun dalam bayang-bayang spekulasi setiap siang dan malam, segelintir orang mencurahkan perhatian mereka hanya untuk membela ideologi tertentu, dan kaum bijak bestari hanya menonton berbagai kejadian ini dengan acuh tak acuh.

Inilah saatnya seseorang tampil dan berteriak kepada para ‘jagoan’ yang membela segala kebusukan yang menyebar di seluruh dunia dan kepada mereka yang terlantar: “Hendak kemanakah kalian?!”

Mehmed Akif Ersoy bersyair:

RelatedArticles

Doa – Bagian 1

Iman dari Sudut Pandang Khusus

Adalah keliru jika mereka bilang sebuah masyarakat dapat hidup dalam acuh tak acuh 

Tunjukkan padaku satu bangsa, siapa dari mereka yang selamat tanpa kesalehan?! 

Setelah mendengar puisi itu, banyak yang mengejek penyairnya dengan kata-kata kasar atau bahkan memaki penyair besar itu. Lalu mereka berkata: “Setiap domba digantung dengan diikat kakinya!” dan melontarkan sindiran: “Hanya si penyelamat kapallah yang pantas menjadi nahkoda!” Selain mengejek rasa tanggung jawab yang dinyatakan dalam syair di atas, bisa jadi ada orang-orang yang sama sekali tidak peduli pada segala hal selain dirinya sendiri. Sebuah pepatah berbunyi: “Sama sekali tidaklah penting bagiku seekor ular yang hidup seribu tahun tapi tidak pernah menggigitku.”

Sayangnya, kita akan sering menemukan tanggapan seperti ini ketika kita peduli pada orang lain. Dan lagi, siapakah kiranya orang yang tahu bahwa ketulusan hatinya harus berbalas dengan kata-kata busuk seperti itu!

Tapi tentu saja sikap buruk seperti itu tidak pernah terlintas dalam benak seorang mukmin sejati. Sikap tak acuh seperti itu tentu sama sekali tidak sesuai dengan rasa tanggung jawab yang kita miliki. Karena sebagai bangsa, saat ini kita tengah dikepung oleh sikap tak acuh dan tidak bertanggung jawab. Selama kita masih berada di bawah kepungan sikap dan perasaan ini, maka kita tidak dapat mewujudkan jati diri kita secara utuh baik dari segi perasaan, pemikiran, keimanan, seni, dan kebebasan dalam bertindak.

Saat ini seringkali kita tidak dapat menjaga kehormatan dan kesucian ajaran agama, tidak dapat menyelamatkan bahtera yang kita naiki untuk mencapai tujuan dengan aman sentosa, tidak dapat membangun dunia kita sendiri atau pun hidup berdasarkan kehendak kita agar dapat menjadi pewaris bumi yang siap kembali kepada Allah.

Inilah saatnya bagi kita untuk membuka mata, bertindak berdasarkan pandangan kita sendiri untuk melindungi semua warisan yang hari ini telah kita terima dari khazanah masa lalu. Bersegera memberdayakan segala potensi yang ada dalam diri untuk memperkokoh eksistensi kita. Jika tidak sekarang, maka kita akan segera menyaksikan satu masa ketika kita tidak akan mampu lagi menjaga diri sendiri, termasuk menjaga kondisi kita saat ini.

Di masa lalu, musuh kita adalah kebodohan, kemiskinan, perpecahan, kekolotan, dan sebagainya. Saat ini, musuh kita bertambah dengan munculnya kecurangan, penistaan, dekadensi moral, ketidakpedulian, dan hilangnya gairah untuk maju. Sungguh kami ingin meminta maaf kepada orang-orang yang masih memiliki kejernihan dalam beragama, kemurnian pikiran, dan tekad yang kuat, karena harus mengatakan bahwa generasi muda dan sebagian dari generasi tua banyak di antara mereka yang selama bertahun-tahun terpedaya sehingga salah dalam memilih jalan yang tepat. Mereka pun akhirnya hidup di bawah bayang-bayang kebohongan. Mereka telah tertipu oleh ideologi busuk yang hanya berisi omong kosong.

Meskipun fenomena seperti ini hanya terjadi pada elemen tertentu dari bangsa, tapi bentuk penyimpangan pemikiran dan pergeseran kepribadian ini sudah dapat disebut sebagai bentuk penjajahan atas negeri kita. Penjajahan berupa kebusukan zaman, kelalaian kaum intelektual dan ketidakpedulian masyarakat inilah yang menjadi pembunuh semangat kebangsaan yang telah berhasil memenangi Perang Kemerdekaan.

Saat ini kita memikul tanggung jawab untuk menyuntikkan semangat baru ke dalam tubuh dunia kita. Semangat baru yang berisi keimanan, cinta antara sesama manusia, dan cinta pada kemerdekaan. Persiapkan pula kondisi yang kondusif untuk menanamkan akar moralitas dari sebatang pohon cinta yang akan tumbuh besar dengan ketiga macam pupuk ini. Dengan akar yang kuat, kelak pohon ini akan menumbuhkan tunas baru di taman kehidupan yang luas.

Tentu saja, semua itu bergantung sepenuhnya pada keberadaan para pahlawan yang siap melindungi negeri serta menjaga perjalanan sejarah berikut segala ajaran agama, adat-istiadat, tradisi, dan semua kearifan lokal yang dimiliki masyarakat. Semua itu bergantung sepenuhnya pada para pahlawan yang jiwanya dipenuhi dengan kecintaan pada ilmu, semangat dalam membangun, ikhlas beragama, mencintai bangsa dan negara, dan selalu siap melaksanakan semua kewajiban mereka dengan penuh rasa tanggung jawab. Dengan peran dan kerja keras merekalah pemikiran kita akan terbentuk dan segenap pemahaman kita akan memberi manfaat bagi kehidupan bangsa. Setiap orang akan memiliki semangat pengorbanan yang tinggi demi kemajuan masyarakat. Kesadaran atas pembagian tugas masing-masing pihak dan sikap gotong-royong juga akan tumbuh kembali. Berbagai bentuk hubungan akan membaik: antara majikan dengan pekerja, antara pegawai dengan pemerintah, antara seniman dengan penikmat seni, antara anggota dewan perwakilan rakyat dengan rakyat yang diwakili, antara guru dengan murid, dan seterusnya. Semua akan terwujud satu demi satu.

Sejak bertahun-tahun lalu, inilah landasan dari semua cita-cita dan visi kita. Hal pertama yang menjadi jalan utama menuju realisasi cita-cita kita adalah kesadaran dan etika dalam memikul tanggung jawab. Ketika kita ketahui bahwa kondisi diam dan statis adalah sama saja dengan kematian dan kebinasaan, sebagaimana sikap tidak mau bertanggung jawab dalam gerak adalah sama saja dengan kekacauan, maka tidak ada pilihan lagi selain membangun setiap tindakan kita dengan penuh rasa tanggung jawab. Bahkan seyogianya semua usaha yang kita lakukan harus dilakukan dengan tanggung jawab yang sempurna.

Jalan yang kita tempuh adalah jalan kebenaran. Tugas kita adalah memikul dan menegakkan kebenaran. Tujuan kita adalah meraih rida Allah di setiap kedipan mata kita. Sebenarnya, bersikap seperti ini adalah wujud asli dari kemanusiaan kita dan sekaligus merupakan hikmah dari semua kehendak kita. Kita menyadari bahwa diri ini harus mampu menemukan tujuan hidup, menumbuhkan cinta dalam jiwa, menyadari tanggung jawabnya dan membimbing siapapun yang sudah “bangun dari tidur” ke arah sumber sebuah sistem yang landasannya adalah iman, sumber kekuatannya adalah cinta, dan cahaya yang meneranginya adalah ilmu, seni, akhlak, dan hikmah…

Kita harus sadar bahwa kita adalah budak dari tugas suci yang tidak mungkin kita tinggalkan ini. Inilah awal dari Renaisans global yang kedua. Inilah kerja besar yang kita harapkan dapat menyebar dan berkembang di jalan lurus dan spiritualitas yang dimiliki pada waliyullah, sufi, orang-orang bajik (abrâr), dan mereka yang dekat dengan Allah (muqarrabûn) sejak dulu sampai sekarang.

Setiap masa pasti memiliki keajaibannya masing-masing. Harkat kemanusiaan kembali lahir pada abad ke-enam dengan kemunculan Islam. Keajaiban abad ke-dua puluh satu akan muncul ketika bangsa kita dan semua bangsa yang memiliki hubungan dengan kita menempati kedudukan yang tepat di tengah keseimbangan dunia internasional. Pencapaian ini kelak akan mengubah arah sejarah dunia yang akan bergerak pada poros spiritulitas, akhlak, cinta, dan keluhuran.

Ya. Kita yakin bahwa dengan jihad spiritual yang pantas disebut sebagai “perjuangan ilmu, akhlak, kebenaran, dan keadilan”, kita pasti akan dapat menyatukan kepingan umat Islam yang selama ini terpecah belah di seluruh penjuru dunia, untuk kemudian membangun satu generasi baru yang selama ini hidup tanpa cita-cita mulia dan bagaikan ayam yang kehilangan induk. Ketika hal ini terjadi, itulah yang disebut sebagai “kebangkitan setelah kematian”.

Tags: dinamisgerakimanlangkahmanusia
Previous Post

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 37)

Next Post

Sistem GPS Pada Otak

admin

admin

Related Posts

Doa – Bagian 1
Artikel Utama

Doa – Bagian 1

2 bulan ago
Iman dari Sudut Pandang Khusus
Artikel Utama

Iman dari Sudut Pandang Khusus

6 bulan ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    771 shares
    Share 308 Tweet 193
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    691 shares
    Share 276 Tweet 173
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    649 shares
    Share 260 Tweet 162
  • Syair Rindu Sang Musafir

    635 shares
    Share 255 Tweet 159
  • Buku atau Gadget

    620 shares
    Share 249 Tweet 155

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Kategori

Bulan Terbit

Sinar Matahari

Keseimbangan Luar Biasa pada Matahari

Maret 15, 2023
Otak manusia

Sistem GPS Pada Otak

Maret 15, 2023
Bergerak dinamis

Rasa Tanggung Jawab

Maret 16, 2023
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Berlangganan Majalah
  • Blog
  • Buku Digital
  • Cart
  • Checkout
  • Checkout
    • Purchase Confirmation
    • Purchase History
    • Transaction Failed
  • Dashboard
  • Dewan Penasihat
  • Event
  • FAQ
  • FAQ Tetas Mata Air
  • Form Berlangganan
  • Form Kirim Artikel Semua Membacanya 2022
  • Gallery
  • Hubungi Mata Air
  • Instructor Registration
  • Jenis Pendaftaran
  • Karir
  • Kirim Artikel
  • Kirim Artikel Semua Membacanya 2022
  • Kirim Tulisan
  • Kuis Majalah Mata Air
  • langganan
  • Langganan Individu
  • Langganan Kelompok
  • Liputan
  • Lomba Menulis Artikel
  • Majalah Digital
  • Majalah Mata Air Edisi 1
  • Majalah Mata Air Edisi 2
  • Majalah Tergantung
  • Mata Air dalam Genggaman
  • Mata Air On Air
  • My account
  • Paket Majalah
  • Pembahasan Try Out Cahaya Abadi
  • Pembahasan Try Out Sirah Nabawiyah
  • Pembahasan Ujian Cahaya Abadi
  • Pemenang SM21
  • Penulis
  • Penulis
  • Polling Cover Buku “Hening Sejenak”
  • Privacy Policy
  • Produk Kami
  • Produk Mata Air di Playbook
  • Profil
  • Proposal Landing Page
  • Quotes
  • Redaksi dan Manajemen
  • Relawan
  • Rubrik
  • Rubrik
  • Seminar 1
  • Seminar 2
  • Seminar 3
  • Semua Membaca Kehidupan Rasulullah
    • Kuis 1 Lomba Semua Membaca Kehidupan Rasulullah
    • Kuis 2 Lomba Semua Membaca Kehidupan Rasulullah
    • Kuis 3 Lomba Semua Membaca Kehidupan Rasulullah
  • Semua Membacanya
  • Semua Membacanya 2022
  • Shop
  • Soal dan Kunci Jawaban Fikih Sirah
  • Soal dan Kunci Jawaban Cahaya Abadi 2
  • Soal dan Kunci Jawaban Khulasoh Nurul Yaqin
  • Soal dan Kunci Jawaban Mentari Kasih Sayang
  • Soal dan Kunci Jawaban Sirah Nabawi
  • Student Registration
  • Tentang
  • Terima Kasih
  • Try Out
  • Ujian Final
  • Workshop

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist