• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Thursday, April 16, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Budaya Resonansi

Ramadan yang Tak Terulang

Abdullah Farid Masyruf

by Abdullah Farid
1 year ago
in Resonansi
Reading Time: 8 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Ramadan muncul di cakrawala dengan detik-detiknya yang sejuk, hangat dan penuh semangat. Semua hati tergerak, emosi menyeruak, dan orang-orang berduyun-duyun menuju tempat peribadatan… berjalan menuju Tuhannya. Dengan datangnya Ramadan, hubungan jiwa menjadi lebih kuat, aspirasi duniawi menjadi lebih menggelegak, dan perenungan Ramadan yang naik-turun pada emosi seperti tombak yang mengaduk-aduk jiwa orang-orang mukmin dengan cinta dan semangat, serta mengobarkan api dalam diri mereka. Dapat dikatakan bahwa Ramadan adalah hari-hari paling mencerahkan, paling tulus, dan paling nikmat sepanjang tahun. Sebagai dinamika internal terpenting dalam kehidupan spiritual kita, Ramadan merasuk ke seluruh relung jiwa, memberi kita kenikmatan yang teramat luar biasa. Pasar-pasar, jalanan, majelis perkumpulan menjelma penuh dengan perasaan alam baka. Napas menara-menara bergema di dalam hati dengan kesenduan bacaan-bacaan Al-Qur’an, masjid-masjid menyeruakkan tangisan hati yang setia pada Sang Makbud. Mulai dari rumah, masjid, sekolah… di mana-mana kegembiraan dan kepuasan tertuju pada Sang Haqq. Jiwa-jiwa yang bersinar dengan ibadah mengungkapkan semua keindahannya. Dengan kalimat-kalimat paling intim, mereka meneriakkan kecintaan dan antusiasme yang keluar dari dunia batin mereka. Orang-orang mukmin ini seolah-olah menerima perintah “Bersiaplah untuk perjumpaan!” sehingga menganggap setiap malam sebagai malam “pertemuan” dan menghabiskan setiap harinya dengan perasaan perjumpaan pada Sang Ilahi yang teramat mendalam.

Kini kita tengah berada di bulan-bulan Rajab dan Syakban, bulan-bulan persiapan bagi kita menyongsong kehadiran bulan mulia, bulan sultan bagi sebelas bulan lainnya: Ramadan. Betapa beruntungnya kita jika dapat menemui Ramadan kembali tahun ini. Namun apakah kita akan memiliki umur untuk dapat menemuinya? Semoga. Kita hanya dapat berdoa: “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Syakban, serta sampaikanlah (umur) kami pada Ramadan.”1 Memang benar, dapat sampai di bulan Ramadan adalah sebuah anugerah tiada terkira. Pasalnya, bulan Ramadan sangatlah berbeda. Atmosfer yang ada di dalamnya benar-benar istimewa. Setiap orang menjadi lebih dermawan, semesta menjadi lebih tenang, dan jiwa kita menjadi lebih sentosa daripada biasanya. Ini karena keberadaan Ramadan membawa berkah, dan setiap orang berlomba-lomba melakukan yang terbaik demi meraih rida Allah ﷻ.

Kita katakan bahwa dapat menemui Ramadan merupakan sebuah anugerah karena betapa banyak orang-orang yang kita kenal di Ramadan tahun lalu yang sebelumnya bersama-sama menjalani Ramadan tetapi kini telah pergi mendahului kita. Betapa banyak dari kawan, tetangga, sanak saudara, hingga kenalan kita yang mungkin saat ini tidak lagi berada di tengah-tengah kita. Mereka telah mendahului kita menuju alam baka. Dan kita hanya sedang berada di garis antrean untuk kelak menyusul mereka. Oleh karenanya, mungkin ini adalah hadiah dari Allah ﷻ bagi kita agar lebih dapat memanfaatkan kehadiran Ramadan dengan sebaik-baiknya.

 

RelatedArticles

Sahabat Sejati

Tiada yang Seindah Rumah

Yang Ramadan Ajarkan

Mungkin ada yang bergumam, apa yang bisa kita lakukan di saat Ramadan. Banyak hal sebenarnya. Selain berpuasa; memperbanyak salat, mendawamkan sedekah, dan melantunkan bacaan Al-Qur’an adalah hal yang harus semakin banyak kita amalkan. Allah ﷻ akan mengganjar amal baik di bulan suci ini lebih banyak daripada hari-hari biasa. Diriwayatkan bahwa di hari-hari biasa, Rasulullah ﷺ adalah seorang yang sangat dermawan. Terlebih di bulan Ramadan, kedermawanan Beliau seperti angin kencang yang memberikan apa saja yang Beliau genggam di tangan.2 Selain itu, hal lain yang bisa kita lakukan di bulan Ramadan adalah membersihkan hati dari berbagai perasaan negatif dan pemikiran kotor. Kita perlu membersihkan hati kita dari berbagai perasaan negatif dan menjernihkan diri dari berbagai dendam dan pemikiran tidak baik terhadap orang lain. Mungkin susah bagi nafsu untuk membuka pintu maaf bagi orang yang telah menorehkan luka di hati. Namun demi menyambut Ramadan dengan hati yang jernih, memaafkan segala kesalahan orang bisa jadi adalah alasan bagi kita mendapat karunia tak terkira di bulan penuh berkah ini. Satu hal yang pasti, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa menjadi pribadi pemaaf akan membuat kualitas hidup kita lebih baik. Kita akan menjadi pribadi yang lebih menghargai kehidupan dan menghayati keberadaan. Segala sesuatu akan menjadi indah bila hati ini dipenuhi perasaan maaf tanpa dendam karena rasa dendam akan memicu datangnya iri di hati, dan perasaan iri akan melenyapkan pahala yang kita miliki.3 Bukankah dosa pertama yang dilakukan adalah rasa iri Iblis kepada Nabi Adam, lalu dilanjutkan oleh Qabil kepada Habil? Rasulullah ﷺ  mengajarkan satu doa yang bisa kita baca di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah kami!”4 Esensi bulan Ramadan terbagi menjadi tiga: 10 hari pertama adalah untuk mendapat rahmat-Nya, 10 hari keduanya adalah untuk mendapat ampunan-Nya, dan 10 hari terakhirnya adalah untuk mendapat pembebasan dari siksa neraka.5 Lihatlah betapa lewat Ramadan ini, Allah ﷻ memberi kita kesempatan yang begitu besar untuk penyucian diri dan penjernihan jiwa. Manusia tempatnya salah. Berdasarkan akhlak Ilahi ini, kita juga berhak menjalani Ramadan dengan hati yang jernih tanpa ada rasa benci, iri, dan dendam.

Ramadan berasal dari kata الرَّمَضُ  (al-ramadhu) dan الرَّمْضَاء (al-ramdhau) yang berarti “panas menyengat”. Dengan demikian, Ramadan berarti “bulan yang membakar dosa”. Dinamakan demikian karena panas yang mungkin muncul akibat rasa lapar dan dahaga yang dialami orang-orang berpuasa. Arti lain dari kata  الرَّمَضُ(al-ramadhu) adalah hujan yang turun di akhir musim panas atau awal musim gugur yang memberi kehidupan pada bumi yang tandus dan membersihkan bumi dari debu. Oleh karenanya, Ramadan dapat berarti “bulan yang mendinginkan hati yang terbakar dan meleburkan dosa-dosa”.

Adapun secara istilah, Ramadan bermakna menahan. Menahan diri dari memasukkan sesuatu ke dalam tubuh dan meredam nafsu dari mengeluarkan unek-uneknya yang ingin melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan. Kita baru akan tahu apa arti empati kepada orang yang kelaparan di saat kita juga benar-benar merasakan rasa lapar itu. Lewat Ramadan pula kita akan memahami apa arti tidak boleh melakukan sesuatu yang sebenarnya diperbolehkan sebelum waktunya tiba. Ramadan mengajarkan bagaimana ketundukan pada perintah Ilahi menjadi fondasi utama dari ketakwaan6.

 

Menanti Ramadan dengan Penuh Kerinduan

Saat Ramadan telah akan berpisah, pemikiran kita mulai dipenuhi rasa rindu pada kedatangannya di tahun selanjutnya. Masih ada 11 bulan lagi untuk Ramadan datang kembali. Namun entah apakah umur kita akan sampai hingga Ramadan tahun depan tiba, semoga Allah ﷻ mengabulkannya. Kita perlu berdoa dan yakin atas pengabulan doa tersebut. Ya, Ramadan memang begitu berbeda, mulia, indah, penuh berkah sehingga sebelum ia berpamitan dan benar-benar akan pergi pun kita telah mulai merindukannya, merindukan kapan kira-kira kita akan bertemu lagi.

Sama seperti perjumpaan pada orang yang kita sayangi yang telah sekian lama tak bersua, lalu saat tiba waktu dia akan pergi kita menjadi begitu sedih bukan karena perpisahannya, tetapi sedih karena memikirkan apakah kita akan dapat kembali bersua. Jika iya, kapan itu akan terjadi. Maka begitu pula dengan Ramadan. Kita teramat merindukan kembali kehadirannya 11 bulan lagi meski kita masih ada di dalamnya. Kerinduan ini begitu membuncah karena rasa takut tidak dapat menemuinya tahun depan, takut tidak dapat meraih segala kebaikan, keberkahan, dan limpahan karunia yang dijanjikannya. Kita tahu persis bahwa umur tidak ada yang tahu. Betapa banyak orang yang di Ramadan tahun lalu kita masih berbuka bersama, mendirikan salah tarawih bersama, berlebaran bersama, tetapi kini mereka sudah tidak lagi ada di tengah-tengah kita. Lalu siapa yang bisa menjamin umur kita akan cukup untuk Ramadan tahun depan? Siapa yang bisa memastikan jika kita akan dapat berpuasa sebagaimana puasa di tahun ini? Tidak ada yang tahu. Oleh karenanya, ini yang seharusnya menjadi pemahaman kita bahwa bisa jadi ini adalah Ramadan terakhir yang kita jalankan, Ramadan yang mungkin takkan terulang.

Dengan memahami kenyataan ini, mungkin kita akan lebih bisa menghayati makna mendalam dari doa yang sering kita panjatkan di atas: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syakban, serta sampaikanlah (umur) kami pada Ramadan.” Kita perlu mengisi Ramadan dengan hal-hal bermakna. Para Sahabat Rasulullah ﷺ sangat ingin jika semua bulan menjadi Ramadan karena kandungan hikmah yang ada di dalamnya.7

Untuk dapat memahami makna ini lebih dalam, kepergian Ramadan dapat kita ibaratkan dengan seorang ibu yang melepas kepergian anak yang dicintai menuju tempat hijrah atau perantauan. Dia melepasnya dengan isak tangis, merindukannya dengan hati terbakar, dan menyambutnya dengan simpul senyuman. Seorang ibu akan begitu menantikan anaknya yang pergi meninggalkannya, serta mendoa sepanjang hari dan malam demi kembali pulangnya sang anak tercinta. Begitulah Ramadan, kedatangannya perlu kita rindukan hingga ia dapat menjadi alasan bagi kita menjalani hari-hari untuk menyambut kedatangannya kembali.8

Ramadan dengan berbagai keindahannya: pahala amal yang dilipatgandakan, rahmat Allah ﷻ yang dilimpahkan, kalbu yang bersenandung riang karena dibukanya pintu maaf dan pintu surga, dilapangkannya kesempatan melakukan berbagai ibadah, kebaikan hati para dermawan yang bertaburan teramat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Ramadan ibarat bulan khusus yang Allah ﷻ siapkan bagi hambanya agar mereka lebih mendekat kepada-Nya dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama-Nya.

Oleh karena, Ramadan begitu berbeda dari bulan-bulan lainnya. Salat, zakat, puasa yang dilakukan di bulan ini sangatlah berbeda dan tak sama dengan salat, zakat, dan puasa yang dilakukan di waktu-waktu lainnya. Kita bisa saja puasa di hari-hari biasa, tetapi pahalanya tidak setara dengan puasa Ramadan. Kita bisa saja salat puluhan rakaat di hari-hari biasa, tetapi mereka tidaklah setara dengan salat tarawih di bulan Ramadan. Bahkan meski ibadah haji tidak boleh dilakukan di bulan Ramadan pun, umrah yang dikerjakan di bulan Ramadan memiliki pahala yang setara dengan haji di bulan Zulhijah.9 Oleh karenanya, Ramadan begitu berbeda.

Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa salah satu amalan yang dapat menggugurkan dosa dan meninggikan derajat kita adalah menunggu datangnya waktu salat setelah usai menjalankan salat “وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ”10.  Sehingga dengan makna yang sama, menanti kehadiran Ramadan tahun depan setelah Ramadan tahun ini usai juga adalah sebuah wasilah bagi Allah ﷻ menganugerahkan rida-Nya.

 

Kala Ramadan Berpamitan

Pepatah Arab mengatakan: “القُرْبُ حِجَاب” yang berarti “kedekatan adalah tirai”. Ia bermakna bahwa memiliki kedekatan dengan sesuatu atau seseorang tidak menjamin kita menjadi mengetahui dan memahami esensi serta urgensinya. Betapa banyak orang yang hidup di zaman Nabi ﷺ tetapi ingkar kepadanya? Betapa banyak orang yang dekat dengan ulama tetapi justru miskin ilmu dan pengetahuan? Dalam versi lain, kita juga memiliki pepatah yang semakna, “Ibarat ayam yang mati di lumbung padi.” Peribahasa ini sangat sesuai menggambarkan orang yang tidak dapat memanfaatkan Ramadan sesuai porsinya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Betapa banyak orang yang puasa tetapi tiada mendapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Betapa banyak orang yang salat malam tetapi tiada mendapat apa-apa kecuali rasa kantuk dan lelah semata.”11

Yang perlu kita takuti adalah ketidakmampuan kita memanfaatkan Ramadan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita menjadi salah satu dari tiga orang paling merugi sebagaimana yang Rasulullah ﷺ sampaikan. Diriwayatkan bahwa suatu ketika saat Rasulullah ﷺ naik ke atas mimbar untuk berkhotbah, Beliau mengucap “amin!” tiga kali. Saat khotbah selesai, para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, hari ini kami mendengar sesuatu darimu yang belum pernah kami dengar sebelumnya; Engkau mengucap ‹amin!› tiga kali ketika menaiki mimbar. Apa hikmah dari hal ini?” Nabi berkata: “Pada saat itu, Jibril ‘alaihi salam datang dan berkata, ‘Celakalah orang yang orangtuanya telah mencapai usia senja, tetapi dia tidak menghormati hak-hak mereka dan tidak mengambil kesempatan untuk mendapat pengampunan dengan merawat mereka dengan sebaik-baiknya. Semoga hidungnya dijerembabkan ke tanah!’ Aku berkata ‘amin!’. Pada langkah kedua, Jibril berkata: ‘Celakalah orang yang tidak mengucap selawat dan salam kepadamu saat namamu disebut di suatu kesempatan. Semoga hidungnya dijerembabkan ke tanah!’ Aku berkata ‘amin!’. Dan pada langkah terakhir, Jibril berkata, ‘Celakalah orang yang menjumpai Ramadan, tetapi tidak memperoleh pengampunan dari Allah!’ Aku berkata ‘amin!’.”12

Allah ﷻ membebankan taklif kepada manusia yang di dalamnya terdapat beberapa tanggung jawab dan kesulitan. Meski dimensi ujiannya berbeda-beda, tetapi hikmah dan tujuan Ilahi dalam taklif ini adalah agar hamba tersebut mendapat ampunan dan pemaafan. Namun, jika seorang hamba gagal memenuhi kewajibannya, dia tidak akan dapat sepenuhnya mengambil manfaat dari nikmat yang Allah ﷻ anugerahkan, serta akan dikenai hukuman berdasarkan kadar kelalaiannya. Dalam hadis di atas, disebutkan bahwa pemanfaatan Ramadan dengan sebaik-baiknya adalah salah satu dari tiga taklif yang Allah ﷻ embankan kepada manusia demi meraih rida-Nya.

Semoga kita dijauhkan dari menjadi orang yang merugi di bulan yang penuh berkah ini. Di saat ganjaran amal perbuatan dilipatgandakan, jangan sampai kita tidak mendapat apa-apa. Kita perlu sedikit memaksa nafsu agar dapat mengakselerasikan dan memantaskan diri dengan Ramadan di bulan Rajab dan Syakban ini. Bulan Rajab adalah saatnya kita menanam amalan-amalan yang selanjutnya kita siram di bulan Syakban sehingga dapat kita panen hasilnya nanti di bulan Ramadan. Semoga Allah  ﷻ senantiasa memberi kita kesempatan untuk dapat menjumpai Ramadan-Ramadan selanjutnya bersama orang-orang yang kita sayangi dan penuh dengan penghambaan mendalam kepada Ilahi Rabbi.

 

Referensi:

  1. Thabrani, al-Mu’jam al-Awshaṭ, j. IV, hlm. 189; Abu Nu’aim, j. VI, hlm. 269; Musnad, j. I, hlm. 259.
  2. Bukhari, Bad’u al-Wahyi, 5-6; Shaum, 7; Manaqib, 23; Bad’u al-Khalq, 6; Fadail al-Qur’an 7; Adab, 39.
  3. Abu Daud, Hasad, 4903.
  4. Tirmidzi, Doa Rasulullah, 3513.
  5. Ibnu Khuzaimah, al-Sahih, 3/191; al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, 3/306.
  6. al-Baqarah, 2/183.
  7. al-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, 2/388; al-Haitsami, Majma’ al-Zawaid, 3/141. لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ لَتَمَنَّى الْعِبَادُ أَنْ يَكُونَ شَهْرُ رَمَضَانَ سَنَةً
  8. https://fgulen.com/tr/eserleri/oruc/gelecek-ramazani-istiyakla-bekleme (Diakses: 30 Januari 2025)
  9. Bukhari, Jaza’ Sayd, 26; Muslim, Haji, 222.
  10. Muslim, Thaharah, 41; Tirmidzi, Thaharah, 39.
  11. al-Darami, Riqaq, 2762; Ahmad, Musnad Abi Hurairah, 1690.
  12. al-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, 19/144; al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, 2/215.
Tags: berbagimajalah mata airmata air magazineramadanvoluVolume 11 Nomor 42volume 12 Nomor 45
Previous Post

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 44)

Next Post

Menuju Hari Esok Gemilang

Abdullah Farid

Abdullah Farid

Related Posts

Sahabat Sejati
Resonansi

Sahabat Sejati

6 months ago
Tiada yang Seindah Rumah
Resonansi

Tiada yang Seindah Rumah

6 months ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1385 shares
    Share 554 Tweet 346
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1067 shares
    Share 427 Tweet 267
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    1005 shares
    Share 402 Tweet 251
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    993 shares
    Share 398 Tweet 248
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    900 shares
    Share 360 Tweet 225

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

March 3, 2026
Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

March 3, 2026
Sahabat Sejati

Sahabat Sejati

March 3, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin