Zaman yang kita berada di dalamnya ini, di samping hal-hal baik dan indah yang dijanjikannya, bagi kita ia juga menjadi zaman yang penuh dengan penderitaan dan keputusasaan. Tak hanya untuk kita sebenarnya… bangsa-bangsa yang pada saat berkenalan dengannya masih belum selesai mempersiapkan kalbu, jiwa, pemikiran, dan ilmunya, bak seorang kekasih yang tertombak tepat di dadanya sebelum sempat menggapai tujuan dan menemukan harapannya, sehingga harapan berubah menjadi keputusasaan, kerinduan berubah menjadi perpisahan, lalu membungkuk meringkuk penuh kesedihan. Khususnya keadaan kemanusiaan kita secara keseluruhan benar-benar memilukan hati.
Ya, selama berabad-abad, ia didepak dari tempatnya sebagai penyeimbang bangsa-bangsa, linglung kelimpungan dan seakan-akan hidup di dunia barzakh disebabkan kesulitan ketika dipaksa menjadi kaki padahal terbiasa hidup menjadi kepala. Dalam perjalanan penuh keputusasaan, yang di dalamnya tak satu pun bangsa ataupun masyarakat mampu ditempatkan dalam bingkainya ini dan yang dilampaui dalam keterasingan dan keasingan, tak ubahnya perkataan seseorang yang kalah di meja judi, dengan pemikiran “mungkin aku akan menang setelah ini”, maka seperti perkataan “sekali lagi, satu kali lagi…”, ia justru terlunta-lunta dari satu kebangkrutan ke kebangkrutan lainnya dengan kondisi jiwa yang menghambur-hamburkan segalanya… Andai saja ia bisa menang setidaknya sekali saja, atau sekiranya ada harapan kecil untuk ia dapat menang…! Namun nihil. Dia selalu kalah dan kalah lagi. Setiap kali kalah, dengan antusiasme yang bertambah, ia menjelma menjadi pemecah rekor sebagai orang yang tertipu oleh permainan yang hasilnya tak menentu…






Discussion about this post